murniramli

Selamat Tahun Baru Hijriah (?)

In Islamologi on Januari 21, 2007 at 8:03 am

Beberapa orang teman mengirimkan ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah. Saya jadi terpekur, sudah muharram rupanya ! Tapi kenapa perasaan tidak seperti melewati tahun baru masehi yang gegap gempita ? Apakah muharram harus disambut dengan kegembiraan atau justru kesedihan ?

Tanda tanya di dalam judul tulisan di atas mencerminkan dua hal ketidakpahaman saya , yaitu apa makna tahun baru dalam Islam ? dan perlukah mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah ? Untuk menjawab kedua pertanyaan ini saya merasa perlu belajar sejarah Islam.

Ada satu pertanyaan mengganjal yang selalu saja muncul ketika muharram datang, apakah mengucapkan `Selamat Tahun Baru Hijriah` menjadi kebiasaan yang dijalankan Rasulullah dan sahabatnya dulu, sehingga kita pun harus mengikutinya sebagai sunnah ? Atau itu hanya kita ucapkan sebagai pengganti ketidakbolehan mengucapkan selamat tahun baru masehi, karena itu adalah kebiasaan non muslim ? (mohon maaf bagi rekan2 yang tidak sependapat).

Penetapan almanak dalam Islam dikatakan dimulai pada masa Rasulullah SAW, tetapi sebagian ulama juga mengatakan sejak masa Umar bin Khattab. Sebelumnya orang Arab menandai tahun barunya dengan adanya peristiwa hebat yang terjadi saat itu. Misalnya kelahiran Nabi SAW disebut tahun gajah, karena pada saat itu terjadi penyerbuan pasukan gajah Abrahah ke Ka`bah. Ketika Muhammad diangkat menjadi Nabi, orang Makkah menggunakannya sebagai patokan perhitungan tahun baru. Kemudian tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau menggunakan patokan hijrahnya sebagai awal tahun dalam Islam. Lambat laun orang Arab pun menggunakan tahun hijrah sebagai dasar penanggalan mereka.

Rasulullah ketika menulis surat kepada kaum Nashrani Bani Najran, beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk menulis penanggalan dalam surat sebagai tahun ke 5 sesudah hijrah. Tetapi banyak buku sejarah yang menyatakan bahwa Umar bin Khattablah, pada tahun 638 M, yaitu 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah yang menetapkan kalender hijriah yang berdasarkan sistem lunar sebagai basic penanggalan Islam. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa seorang utusan khalifah berkunjung ke Yaman, dan mengatakan bahwa orang Yaman menuliskan tanggal dalam surat-suratnya, maka khalifah memerintahkan pembuatan penanggalan. Riwayat yang lain mengatakan bahwa seorang penguasa protes terhadap surat yang dikirim khalifah karena tidak jelas mana surat yang ditulis duluan mana yang belakangan, sebab tidak ada tanggal.

Sejak awal penanggalan bangsa Arab telah menggunakan sistem lunar, demikian pula kalender Islam.  Hal ini berkaitan dengan beberapa ketentuan dalam Al-Quran dan hadits Nabi SAW, misalnya : penetapan awal dan akhir ramadhan, ibadah haji, iedul Adha, dll. Hadits Nabi tentang puasa :

`Berpuasalah ketika engkau melihat bulan (awal bulan ramadhan) dan berbukalah (jangan berpuasa) ketika engkau melihat bulan (awal bulan syawal)`

Juga tentang awal bulan, QS 11:189 , `Mereka bertanya kepadamu tentang bulan baru. Katakanlah bahwa dia adalah tanda waktu-waktu tertentu`.

Lalu pada bulan muharram apa yang sebaiknya dilakukan umat Islam ?

Pencarian saya di internet membawa saya pada kesimpulan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat tidak mengucapkan `Selamat Tahun Baru hijriah` (dalam bahasa Arab). Tidak seperti halnya iedul fithri yang dianjurkan untuk mengucapkan :

Aid mubaarak, aid saidun, kullu aamin wa antum bi khair. Taqabbalallaahu minna wa minkum shiyaamana wa shiyaamakum.

Pada bulan Muharram, beliau justru memperbanyak ibadah, misalnya puasa Asyuro (pada tanggal 10 Muharram). Mengenai puasa ini terdapat silang pendapat apakah sunnah muakkad (ditekankan) atau ghairu muakkad (tidak ditekankan). Dalam salah satu hadits Bukhari Muslim disebutkan :

“Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa”.

Hadits lain menyebutkan : Dari Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari).

Imam Hanifah menjadikan kedua dalil di atas untuk sampai pada kesimpulan bahwa puasa yang diwajiblan pertama kali bagi umat Islam adlaah puasa Asyura. Sedangkan Imam Syafii dan jumhur ulama yang lainnya berpendapat bahwa ramadhan lah puasa wajib pertama bagi umat Islam, berdasarkan dalil :

“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.”

Wallahu a`lam bi shshawaab

Adapun kata muharram berasal dari kata `harrama` yang mengalami perubahan bentuk menjadi  yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun`. Bentukan`muharraman` berarti yang diharamkan. Apa yang diharamkan ? Perang atau pertumpahan darah ! Sebagaimana disebutkan Allah dalam QS . At Taubah : 36

` Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada 12 bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat 4 bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan`

Demikianlah, bulan muharram semestinya tidak dimaknai sebagai awal tahun baru saja, tapi perlu dipahami sebagai bulan yang penuh barokah sebagaimana bulan lainnya, bulan diharamkan melakukan peperangan, pertumpahan darah, bulan yang mengingatkan kita kepada perjalanan panjang hijrah Rasulullah SAW beserta 70 orang pengikutnya ke Medinah.

Wallahu `a`lam bishshawaab.

Sumber :

1. http://www.sidogiri.com/modules.php?name=News&file=article&sid=442

2. http://www.alinaam.org.za/library/calendar3.htm

About these ads
  1. Salam kenal juga (^_^)

  2. Numpang nimbrung nih Mbak… (Hehe, kali ini bener kan?)

    @ Luthfi
    Maksudnya setuju yg mana?

    @ murniramli
    Saya juga sudah lama terperangkap dalam paradigma bahwa tahun baru hijriah ditetapkan mulai dari saat Rasul hijrah. Maksud saya, sudah mulai ditetapkan sejak waktu Rasul hijrah, namun pada kenyataanya (sejarahnya) ditetapkan penghitungannya setelah beliau wafat dengan berdasarkan pada hijrahnya beliau ke madinah.
    .
    Banyak pula ustad-ustad yang salah kaprah dengan memanjatkan doa akhir dan awal tahun (doa pergantian tahun) akan tetapi pada sistem penanggalan masehi (malam 1 Januari setiap pergantian tahun masehi/syamsiah). Semoga ini tidak kita jadikan kebiasaan.
    .
    Satu lagi, jika memang PERGANTIAN BULAN ditandai dengan pergantian fase bulan (dari hilang menjadi tampak dan sebagainya, maaf saya kurang ilmu di situ) maka menurut kenyataan, PERGANTIAN HARI pada penanggalan hijriyah ditandai dengan terbenamnya mentari dan munculnya bulan bukan? Tapi, banyak juga yang salah kaprah bahwa pergantian hari pada penanggalan hijriyah ditandai dengan waktu tertentu (jam tertentu, semisal jam 12 malam).
    .
    Padahal kita tahu, jika penanggalan masehi (yang notabene berdasarkan peredaran matahari) berpatokan pada terbenamnya matahari, maka sudah selayaknya pergantian hari pada sistem penanggalan masehi juga berpatokan pada matahari, bukan pada jam tertentu bukan? Bukankah jam itu ditemukan oleh orang Yunani/Persia, yang juga membagi lingkaran menjadi 360 derajat? Maaf, kalau saya salah.
    .
    Selanjutnya, untuk pembagian waktu dalam sehari (24 jam, saya lupa,apakah pembagian waktu dalam satu hari dan pembagian lingkaran ditemukan oleh peradaban yang sama), ada hal yang tidak saya mengerti. Konvensi 0 derajat bujur itu bagaimana asal muasalnya sih? Perhitungan ngawur yang saya lakukan bersama teman sewaktu SMA: ada kecepatan tertentu agar seseorang dapat terus berada pada jam yang sama. Saya sudah lama ga belajar fisika, kalo ga salah 24 jam dibagi lingkar bumi (dasarnya garis 0 derajat lintang saja) dengan asumsi orang tersebut bergerak ke barat dan tepat secara sempurna bergerak berhimpit dengan garis khatulistiwa (0 derajat lintang).
    .
    Tapi, kami berdua lupa ada pembagian waktu berdasarkan garis bujur (khayal), di mana setiap sekian derajat (saya lupa, kalo tidak slah 30 drajat ya?), wilayahnya waktunya berada pada jam yg sama. Dengan selisih antara setengah atau 1 jam tiap “wilayah” bujur itu. T_T Hancurlah perhitungan absurd itu.
    .
    Dari smua hal di luar Islam yang saya utarakan di atas (pembagian hari jadi 24 jam, garis bujur, perbedaan waktu dsb), apakah mungkin kita menggantikan sistem penanggalan kita yang masehi (sun based) dengan sistem penanggalan hijriyah (moon based)??
    .

    Memang, astronomi menjadi sesuatu yang mengagumkan namun sangat disayangkan, kata guru saya, mahasiswa astronomi semakin lama semakin sedikit, dan semakin tahun tesnya semakin sulit, bener ga sih?
    .
    Hehe, kok jadi kepanjangan.. CMIIW. Tapi, tulisan Anda bagus. Salam buat orang2 Jepang ya? :-)
    .
    Ganbatte ne!

  3. Pramur :
    maaf, ga sanggup nyampein salamnya (^_~)

  4. tahun baru hijriyah sebaiuknya diperingati, toh imlek, masehi, caka juga diperingatio ;lago pula dalam agama kita, semua yang kita lakukan adalah ibadah, mau e-e-k (maaf) aja ibadah apalagi memperingati tahun baru hijriyah, tuh gugus berpikir kita yang pas tentang islamuna

    murni : Pak/Bu, tolong saya dikoreksi jika salah.
    Kata ibadah asalnya dari abada-ya’budu-ibaadah – aabid, yang kalau diterjemahkan kira-kira maknanya adalah menghamba atau patuh sebagai hamba atau segala sesuatu yang semakna dg kata dasar “hamba”
    Yg saya pahami, ibadah yg kita lakukan harus sesuai yg dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
    jadi alasan memperingati hari besar dsb, bukan karena agama lain juga memperingatinya, lalu kita pun melaksanakannya, tapi krn memang itu ada contohnya dari Nabi SAW.

    Jika semua yg kita lakukan adalah ibadah, maka apakah orang yg mencuri juga dapat disebut beribadah ?
    Yg saya pernah pelajari justru spt ini :
    “segala sesuatu yg kita kerjakan akan bernilai sebagai ibadah (kepada Allah) jika memenuhi tiga persyaratan, yaitu diniatkan untuk mengabdi kepada Allah dg membaca basmalah, mengikuti syariat yang dituntunkan, dan mempunyai tujuan meraih ridho-Nya”

    Sekali lagi ini hanya pemahaman saya yg terbatas ttg ibadah, apatah lagi ttg syariat Islam yang maha dalam maknanya.
    Gugus berfikir saya ttg Islam baru sebatas seperti yg bisa saya uraikan dlm tulisan di atas.

    Mohon maaf jika ada salah kata dan terima kasih sudah berkunjung di blog saya :D

  5. [...] – saya sertakan link yang juga memuat tentang tahun baru Hijriah. Ulasannya bagus dan memikat. http://murniramli.wordpress.com – Ra, dengan ini saya menyatakan PeeR sudah saya kerjakan [...]

  6. Assalamu’alaikum. Makasih ya dah nambah wawasan aku. Wassalau’alaikum.

  7. Tradisi mengucapkan selamat tahun baru hijriyah di kalangan umat Islam perlu ditumbuh kembangkan sebagai upaya mempopulerkan kalender hijriyah yang dimiliki umat Islam. Bahwa ucapan ini tidak terdapat dalam tradisi Nabi dan para sahabat bukan berarti tidak diperbolehkannya kita melakukan hal ini. Lagi pula, kalender hijriyah ditetapkan setelah rasululloh wafat.Pertanyaan kalimat apa yang harus diucapkan kepada teman atau saudara dalam memberikan ucapan selamat? mari kita buat sebagus dan seindah mungkin biar bisa dicontoh teman2 yang lain.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: