Kementerian Pendidikan Jepang (MEXT) punya survey khusus untuk mendata berapa banyak guru-guru Jepang yang tidak layak mengajar atau sering disebut `指導力不足教員(shidouryokufusokukyouin), yang kira-kira artinya guru dengan kemampuan membimbing terbatas.
Survey ini diadakan sejak tahun 2002 dengan dasar pemikiran meningkatnya jumlah kriminalitas di kalangan pelajar Jepang. Berapa banyak guru-guru yang tidak layak mengajar menurut MEXT ? Ini hasil survey di tahun 2004 :

Hasil survey menunjukkan semakin tua semakin ngga layak. Sebanyak 50% guru yang tidak layak mengajar berumur 40 tahun ke atas, padahal umur rata-rata guru di Jepang adalah 42 tahun. Sedangkan guru-guru yang berumur 50 tahun ke atas terdapat 34 % yang ngga layak. Guru-guru mudanya, berumur 20 tahun atau 30 tahun-an ternyata masih fresh dan masih ingat teori-teori mendidik dengan benar (^_^).
Kalau dilihat berdasarkan sekolah, datanya seperti ini :

SD (小学校)sebanyak 49%, SMP(中学校)sebanyak 28%, dan SMA (高等学校)sebanyak 15%. Sekolah untuk anak cacat (特殊教育諸学校)kelihatannya memiliki guru-guru yang lumayan tertraining dengan baik.
Data survey ini dipakai oleh MEXT untuk memberlakukan pembaharuan sertifikasi mengajar bagi guru yang mulai diujicobakan tahun 2007. Pembaharuan ini berupa kewajiban untuk merenew sertifikat mengajar setelah 10 tahun dengan mengikuti training yang diadakan oleh The Board of Education atau mengambil kredit di Perguruan Tinggi yang sudah ditentukan oleh MEXT.
Bagaimana hasilnya kelak ? kita tunggu saja.
10 Tanggapan
Maret 23, 2007 pukul 12:41 pm
Indonesia bagaimana? sulit gak kalau cari data seperti di atas untuk indonesia?
Salam.
murni : sepertinya ngga susah, Pak. Asal ada i`tikad baik dan dana tentunya (^_^)
Maret 23, 2007 pukul 5:19 pm
Kriteria guru layak-enggaknya apa Bu? Kalau di Indonesia, semakin tua semakin berpengalaman, dan sepertinya xxxxxx xxxxx xxxxx dibanding yang muda (?????)
murni : maaf, lupa ditulis kriterianya…
kriteria ngga layak, berbeda di setiap provinsi, misalnya :
sakit fisik atau mental, atau sedang mengikuti training, kualitas mengajar berdasarkan evaluasi guru (kyouin hyouka) yg dilakukan oleh siswa, kepsek dan ortu mendapat score rendah, ngga peka dg perubahan masyarakat, materi mengajar monoton, tdk berkembang sesuai perubahan jaman, kemampuan membimbing, mengasuh rendah, pemarah dan bikin siswa stress, laporan ttg tindakan amoral guru diterima dari ortu ataupun siswa, dll
Maret 24, 2007 pukul 4:10 am
Dan, guru2 laki2 ternyata lebih tak layak :-(. Mungkin penilainya banyak prianya ya? he..he..
murni : tadinya mo dibahas juga data ttg ini, Pak, tp kayaknya krn jumlah guru laki2 lebih banyak dr perempuan,
maka hasilnya spt itu. Tim penilai jelas para pria berkuasa (‘へ‘)
Maret 25, 2007 pukul 6:02 am
Menjadi guru itu memang ga semudah yang dibayangkan. Mesti peka dalam segala hal
murni : setuju, Bu Yuyun
Maret 25, 2007 pukul 1:01 pm
Numpang nimbrung nih Mbak…
Kalo di SMP saya dulu, ada (maaf, saya tidak tahu kebenarannya, mungkin cuma rumour) semacam “aturan tidak resmi” bahwa guru yang sudah melewati batas usia tertentu, walaupun belum masuk usia pensiun, sehendaknya tidak mengajar lagi…
Pertanyaan saya mirip mathemaicse. Kalau di Jepang, apakah ada sertifikasi untuk guru?
murni : ada. pernah saya tulis di sini http://murniramli.wordpress.com/2006/12/21/mendidik-guru-di-jepang/
Maret 30, 2007 pukul 3:31 am
Kalau guru dari Indonesia mau menjadi guru di Jepang kira-kira apa saja yang harus dipersiapkan !
Misal guru SMA bidang studi Bahasa Indonesia !
murni : hmm…yg pasti harus bisa bahasa Jepang.
Biasanya di sekolah negeri, foreigner hanya bisa menjadi guru bahasa Inggris, itupun harus yg native speaker. Sekolah swasta biasanya menerima selain yg native.
mata pelajaran lain yg diajar oleh foreigner, belum pernah dengar.
April 4, 2007 pukul 6:06 am
wah salut mbak murni masih sempat jawab pertanyaan dari visitor, saya setuju dengan beritanya sampean mbak. Bener kalo makin tua makin sering lupa, makin banyak pikiran, ada baiknya kita mencontoh sistem mereka toh sudah terbukti hasilnya kan?
murni : yang patut dicontoh barangkali sistem pendataan yang bagus ttg keguruan
April 12, 2007 pukul 3:20 am
ngomongin soal jepang, enak gak ya klo jadi guru di jepang, atau sekolah di jepang……tapi bagaimana caranya ya?,oya soal guru,kayaknya banyak sekali guru guru di indonesia yang gak competen.apalagi guru Sd.yang megang hampir seluruh mapel.gimana mo bagus ngajarnya kalo gak ngeh sama ynag di ajarkan.biasanya juga guru sd itu banyak ynag mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. la wong gak bisa bhs inggris di suruh jadi guru bahasa inggris.y amuridnya gak pinter2 jadinya.klo begini caranya…siapa yang mau di salahkan klo pendidikan di indo gak maju2.betul tidak???????????
murni : mba Andri, guru SD memang memegang satu kelas, bukan mapel. Dia dididik spy bisa mengajar semua mata pelajaran.
Guru juga manusia yg berjuang antara idealisme dan tuntutan duniawi (ngebela guru neeh…^_^)
Juni 11, 2007 pukul 10:22 am
tulisan asik dibaca, mba …
aq guru smp, liat rekan2 guru rasanya emang musti harus kudu berbenah. tapi pemerintah qt masih suka diskriminatif sama guru di sekolah swasta. apa di jepang status guru dibedakan antara pns dan non pns, antara yang ngajar di sekolah negeri dan swasta ?
murni : mengenai status tidak beda. tp gaji jelas beda.
Juni 11, 2007 pukul 12:08 pm
tuh sih kalau dijepang. kalau di indonesia mungkin datanya justru lebih banyak kali bu. YANG MUDA YANG NGGAK DI PERCAYA ! TANYA KENAPA????
mungkin itu adalah yang tepat bu.
murni : malah banyak guru muda yg kreatif di Indonesia.
Tinggalkan Balasan