murniramli

Sekolah nasional bertaraf internasional

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia on Juni 11, 2007 at 1:11 pm

Ada 3 hal pokok yang dijadikan sebagai rencana strategis pendidikan menengah di Indonesia (Renstra Mendiknas 2005-2009), akses sekolah, sekolah berbasis keunggulan lokal dan sekolah nasional bertaraf internasional.

Program yang disebut belakangan menurut saya sangat ambisius dan sudah termakan habis oleh paham privatisasi pendidikan era neo liberalism. Saya melihat kebijakan itu tumpang tindih dan seakan dibuat tanpa analisa mendalam atau dibuat untuk sekedar memperbaiki nama baik di mata dunia, tapi tidak berefek apa-apa kepada kualitas pendidikan anak bangsa kebanyakan, tetapi hanya membuat kelompok elit baru dalam dunia pendidikan.  Kebijakan ini sudah dituliskan pula dalam pasal pengelolaan pendidikan di UU Sisdiknas 2003.  Sewaktu UU ini akan diberlakukan, protes banyak muncul tentang hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan agama, tapi kita gagal mengkritisi masalah lain yang diungkap di dalamnya, termasuk SNBI.

Ketertinggalan pendidikan Indonesia dibandingkan negara-negara lain merupakan momok yang membuat wakil pemerintah tidak bisa berdiri tegak di forum-forum internasional.  Oleh karenanya harus ada upaya mengharumkan nama bangsa melalui pendidikan.  Dan itu sudah dicapai oleh anak-anak cemerlang yang berhasil meraih 13 medali emas dalam olimpiade sains dan math di tahun 2004.  Tahun 2007, pemerintah mentargetkan harus memperoleh 20 medali emas.  Suatu prestasi yang membanggakan memang, dan saya mendukung usaha Pak Yohannes Surya untuk menggali potensi anak-anak ini.  Perkara mereka kemudian ditawari sekolah ke luar negeri adalah pembahasan yang lain.

Saya membedakan antara Sekolah Internasional (SI) dengan Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI).  SI adalah sekolah yang diperuntukkan untuk anak-anak asing yang mengikuti orang tuanya ke Indonesia.  Sedangkan SNBI adalah sekolah untuk anak-anak Indonesia yang diselenggarakan dengan kurikulum lokal tapi bertaraf internasional.  Maaf, definisinya agak kacau.

Tahun 2004 telah bermunculan sekolah-sekolah swasta yang mengadopsi kurikulum dari Singapura, Australia, Cambridge Univ, bahkan sebuah sekolah di Semarang mengadopsi kurikulum Turki. Seperti biasa karena levelnya international maka bahasa pengantarnya harus bahasa Inggris, dan SPP-nya harus dikalkulasi dengan dolar, rupiah sudah tidak laku di sini !  Guru-gurunya pun didatangkan khusus dari negara asalnya.  Supaya tetap dapat diakui keberadaannya di negara RI, tentunya sekolah-sekolah ini harus menggunakan kurikulum nasional.  Ya, menurut wakasek sebuah sekolah yang saya wawancarai, mereka memang tetap mengacu kepada kurnas sekedar untuk meloloskan siswa di UAN, tetapi buku-buku, metode pembelajaran semuanya menjiplak dari negara asalnya.  Target sekolah ini tentu saja orang tua yang menginginkan anaknya bersekolah ke luar negeri, yg menurut laporan ada sekitar 2500 anak yang ingin bersekolah ke luar negeri setiap tahunnya.

Pertanyaannya adalah apakah pemerintah menelorkan program SNBI sebagai alasan untuk menyaingi swasta untuk mengeruk keuntungan besar dari dunia pendidikan ? Ada pemeo yang mengatakan bahwa jika ingin mendadak kaya maka bangunlah sekolah.  Atau pemerintah sebagaimana yg dinyatakan beberapa pejabatnya berupaya untuk mendidik anak-anak supaya mampu berkompetisi di dunia internasional ?

Jika demikian, apakah sekolah-sekolah nasional bermutu yang tersebar di setiap kota/daerah tidak mampu mencetak anak-anak yang mampu bersaing di luar ? SMA 8 Jakarta yang saya datangi kemarin menunjukkan daftar universitas asing yang melamar siswa-siswa berprestasinya.  Lulusan SMA 2 Madiun sebagian demikian pula, sudah dilamar sejak mereka belum lulus.

SNBI diawali dengan membuka kelas-kelas internasional, yang tentu saja dengan biaya masuk yang wah, plus SPP yang bikin kepala orang tua berdenyut-denyut.  Tetapi bagi yang beruang lebih, ini bukan masalah, yang penting anak mendapat pendidikan yang bermutu.  Dalam hal ini kebanyakan orang tua di Indonesia sudah tergiring (sangat tergiring) kepada opini sekolah mahal=sekolah bermutu.  Orang tua harus kembali ke sekolah, mereka harus belajar lagi untuk tidak mudah tergiring.

Kelas-kelas internasional itu sudah memecah belah antara yang kaya dan miskin. Bahwa ada efek psikologis dalam perkembangan anak antara yang belajar di kelas internasional dan kelas reguler, sekalipun diakui oleh kepala sekolah, mereka belajar dengan normal. Ya, anak-anak memang gemar belajar.  Anak-anak Indonesia jika guru sudah datang, maka mereka akan duduk tenang mendengar, menyalin semua yang di papan. Mereka akan segera lupa atau malah tidak sempat berfikir apakah mereka kelas reguler atau internasional.  Tapi status SNBI diberlakukan di semua jenjang pendidikan, sehingga kemungkinan akan ada SD bertaraf internasional.  Saya yakin anak-anak SD lebih peka dengan pengkotak-kotakan ini.

Dengan dalih meningkatkan pamor daerah, pemerintah pusat sebenarnya menekan pemerintah daerah untuk menyisihkan budget daerah untuk pengembangan SNBI.  Bukan tidak kecil dana yang dibutuhkan untuk ini, dan uang yang seharusnya bisa dipakai si miskin supaya bisa tetap bersekolah, dipakai untuk membiayai si kaya supaya bisa bersekolah mahal. Jadi mengapa saya katakan program SNBI kontradiksi dengan akses ke sekolah, pun tidak sejalan dengan sekolah berbasis keunggulan lokal.

Sekolah-sekolah internasional sebenarnya merupakan bentuk penjajahan baru negara-negara barat ke negara-negara berkembang.  Dengan dalih menyetandarkan dengan mutu internasional, maka kita sudah dijajah dengan keharusan mengambil kurikulum mereka, mengundang guru2 mereka.  Kepayahan semakin bertambah bagi guru-guru kita yang masih belum kelar juga disertifikasi.

Daripada menghamburkan dana dengan sekolah yang tidak memihak kepada rakyat banyak, lebih baik budget pendidikan dimanfaatkan untuk perbaikan mutu guru dan mutu pendidikan secara massal.  Bukankah keberhasilan pendidikan menurut UNESCO, world bank, atau badan dunia yang lain, dinilai berdasarkan prestasi anak secara massal, bukan keberhasilan satu dua anak.

Jika alasannya untuk mengundang orang asing untuk mengakui sekolah tersebut dan mengirim anaknya bersekolah di situ, maka harus diingat masih banyak anak yang ingin bersekolah di Indonesia tapi tidak bisa karena keterbatasan dana.  Jika bahasa Inggris menjadi kunci utama berkompetisi, maka tambahkan saja jam pelajaran baru dan ajarkan siswa supaya fasih berbahasa, bukan saja fasih menjawab soal-soal UAN. Tidak perlu membuka SNBI.

Jangan sampai terjajah lagi ! Orang (=bangsa) yang cerdas tidak akan terjebak untuk yang kedua kalinya.

About these ads
  1. Ehmmmm … saya selalu miris jika ngomong soal pendidikan

    murni : demikian pula saya, Pak. Tp kalau adem-adem saja, mungkin ga seru bagi pemerintah krn ga ada counterpart-nya :D

  2. Jadi pada dasarnya, SBKL dan SNBI itu dikotomis (bertolak belakang) dan tidak malah bersimbiosis untuk saling menunjang to ya Mbak? Padahal ini ada di Renstranas :-(. Saya paham dengan apa yang Mbak Murni resahkan.

    murni : Mas Sany, kalimat terakhirnya mirip kalimat pejabat-pejabat :D
    Tak doakan mbesok jadi pejabat :D

  3. “Daripada devisa diambil negara lain, lebih baik ttp sekolah di dlm negeri dg label SNBI”, barangkali itu dasar pemikiran orang pemerintah .

    murni : ngitung devisanya ga tahu saya, Pak. Saya justru mendorong orang belajar ke luar negaranya, supaya banyak hal yang bisa dipelajarinya, tidak sekedar ilmu tapi budaya. Dengan cara ini kita bisa lebih memahami pemikiran, kebiasaan, pandangan hidup orang lain. Tetapi kita tetap manusia Indonesia, atau saya tetap orang bugis, muslim, sekalipun berada di tengah penduduk Vatikan…welwh ga nyambung, maap, Pak (>_

  4. SMUku (SMA Negeri 2 Tinggimoncong) juga masuk, salah satunyakan karena bahasa pengantarnya…

    murni : bisa share bagaimana sistem pengelolaannya ?

  5. kebetulan mba, sekolah tempat saya mengajar bertetangga dengan RSBI (rintisan sekolah berstandar internasional). Jurang perbedaannya sangat kentara. Mereka baru mendapatkan 800 juta dari pemerintah sedangkan kami cukup puas menjadi penonton. Padahal sekolah kami tidak mempunyai laboratorium apapun. Tak punya sambungan internet dan jumlah komputernya pun hanya 6 unit. Sekolah kami bukan sekolah pinggiran, karena hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari kantor bupati. Dukungan bupati terhadap sekolah tetangga begitu besar. Beliau bersedia memberikan bangunan, tanah dan menyetujui pembongkaran bangunan sekolah yang masih berstatus cagar budaya. Kini semua kelas di RSBI sudah dilengkapi CCTV, dan masing-masing akan dipasang LCD projector. Para guru mendapat kursus bahasa Inggris serta wajib mengikuti TOEFL. Selain itu, beberapa guru yang tidak bergelar S1 dimutasi dari sekolah tersebut. begitulah mba RSBI di kotaku.

    murni : memang proyek yang bombastis sekali.

  6. saya sudah lulus, ngak terlalu tau banyak tentang keadaan sekarang
    Info terbaru sih…
    , bahasa pengantarnya Bahasa Inggris, jadi semua gurunya dikursuskan.
    Terus sekolah saya kebetulan berasrama, jadi tingkat komunikasinya memang berkembang.
    Trus kelasnya mobile….
    Infonya gak lengkap, coz dah lama gak ke sana…

    murni : maksih infonya

  7. Wah.. tulisan ini membuat saya tdk yakin utk memilih sma 3 madiun yg mulai menjd SBI. Dgn NUN yg sy peroleh, saya bs dgn mudah lolos masuk sma 2 madiun. Tp, sy sangat tertarik dgn program internasional yg sy pikir bs membuat wawasan sy lbh maju. tp, dg tulisan ini sy harus mulai berpikir ulang. :( menurut anda bagaimana?sekolah mana yg menurut anda harus sy pilih?

    murni : baru lulus dari SMP 1 ya ? Selamat ya :D
    Saya lulusan SMP 1 th berapa ya…th 86 sepertinya, trus ngelanjutin ke SMA 2.
    Kurikulum yg dipakai di SBI adalah kurikulum nasional (KTSP) bedanya hanya bahasa pengantarnya bahasa Inggris.
    Saya ngga tahu kalau ke depan kurikulumnya ngimpor dari luar juga seperti sekolah swasta internasional.
    Milih sekolah dengan nilai bagus seperti ananda bukan hal yang susah. Mau masuk yang SBI atau yang sekolah berstandar nasional sama saja. Wawasan bisa diperluas dengan banyak baca dan nginternet :D Jk bertujuan melanjutkan ke luar negeri stlh lulus SMA, maka sekolah nasional pun sudah banyak yg membuktikan lulusannya bisa bersaing di luar negeri tanpa harus mengubah statusnya menjadi sekolah internasional.
    Bagi anak SMA, menurut saya yang harus dikuasai selama di SMA adalah ilmu2 dasar yang akan dikembangkan di PT. Carilah sekolah yang dapat memenuhi ini, dan senantiasa memotivasi ananda untuk maju.

  8. Waduuuh… ga nyangka saya nanya senior. jadi malu (>_
    Makasih atas sarannya. Saya sudah putuskan untuk masuk SMA 2 yg telah terbukti kualitasnya. Terima kasih sebelumnya, senior. Ini benar2 blog yg bagus dan membangun.

  9. oiya,,numpank tanya nih,,
    kebetulan sekolah saya ada “kelas internasional”nya juga,
    kebetulan juga, saya salah satu muridnya.
    mau tanya, undang2nya yg mengatur SNBI ini apa yah?
    saya kurang jelas dengan program ini.
    budgetnya juga kurang jelas.
    masalahnya, bulan oktober ini, saya akan ujian igcse nya.
    mohon informasi nya, agar kami nanti tidak salah jalan.

    murni : Dasar hukumnya : UU Sisdiknas 2003, Renstra Jangka Panjang Diknas 2005-2009, PP-nya saya ga tahu.
    Ujian IGCSE berarti berdasrkan model Cambridge ya ?
    Wah, saya sendiri tak begitu jelas dg ujian ini. Apk ini sama dg sistem TOEFL, yang berlaku scr internasional, jadi artinya anak2 yg lulus IGCSE bisa disejajarkan dg lulusan secondary school di negara lain ??? Maaf, saya tak tahu banyak hal ini

  10. wah mbak murni, saya barusan aja kirim imel mempertanyakan peraturannya .. ternyata udah pernah ditulis di sini. Saya baca2 dulu nih sekarang. makasih ya.

    murni : sudah ta bales emailnya, mba

  11. Hi,….
    saya sangat terkesan dengan ulasan Bpk. mengenai pendidikan di Indonesia ada satu hal yang ingin saya tanyakan. saya warga negara Indonesia suami dan anak-anak saya warga negara Canada, karena suatu hal saya berencana tinggal sementara di indonesia untuk 1- 2 tahun, Apakah anak – anak saya bisa masuk sekolah local swasta dengan standar International?, apa harus masuk special sekolah international ? terimah kasih atas bantuannya
    Rara

    murni : salam kenal Bu Rara.
    Saya perempuan Indonesia :D
    Masuk sekolah lokal swasta dg standar internasional bisa, Bu,
    Pergaulannya dg anak2 Indonesia akan lebih banyak, itu salah satu keuntungannya.
    Kalau dimasukkan ke sekolah internasional, pergaulan dengan rekan2nya dari negara lain akan lebih luas.
    Kalau standar pembelajaran, tergantung sekolahnya saya pikir.

  12. thanks infonya…jadi aq bisa nyelesaiin makalah ttg sbi

    murni : alhamdulillah
    ada juga tulisan di sini : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=312722&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2=

    semoga bermanfaat

  13. SNBI adalah impian pejabat, tapi ditingkat grassroot adalah sebuah kemustahilan, ditambah lagi dengan biaya pendidikan yang bukannya berkurang malah melangit.
    Kami yang dari golongan tertindas hanya mampu mengenyam pendidikan diantrian paling belakang, dengan kondisi sekolah dan sarana pendukung lainnya yang serba memprihatinkan.
    Tapi terus terang saya kagum dengan pemerintah, yang kepingin menyelesaikan semua masalah pendidikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. yang ujung-ujungnya justru menimbulkan berlipat-lipat masalah lagi.
    Wassalam.

  14. Berkaitan dengan SNBI, saya sangat setuju kalau SBNI itu harus dicermati jangan sampai menimbulkan eksklusifisme di sekolah akibat adanya kelas-kelas internasional yang memiliki fasilitas lebih, perhatian lebih dsb. Tetapi bukan berarti pengembangan SNBI harus dihapus. Saya Sebaiknya kita tidak perlu langsung menolak tetapi mari dikaji ulang konsepnya, dicermati pelaksanaannya apa kurang dan lebih, baru kita memberikan komentar dan saran-saran yang membangun. Saya pikir kita kurang arif kalau merespon terlalu cepat tanpa melakukan itu semua.

    Kita sadar benar bahwa pendidikan kita kualitasnya masih jauh di bawah kualitas pendidikan negara-negara lain, oleh karenanya kita perlu berupaya dengan berbagai strategi dan cara bagaimana kualitas pendidikan terus ditingkatkan dengan salah satunya mengembangkan sentra-sentra excelent (SNBI) yang dapat dijadikan contoh dan motivasi bagi sekolah lain untuk mengejarnya, sekaligus menjadi pedoman bagi pemerintah, masyarakat, penyusun anggaran pendidikan, dsb bahwa kalau kita ingin memberikan layanan pendidikan yang berkualitas kepada anak didik bukan hanya asal-asalan dengan biaya, fasilitas dan profesionalisme guru apa adanya, tetapi perlu dirancang dengan baik sebagaimana SNBI tersebut.

    Saya pikir SNBI bukan sekolahnya anak-anak kaya tetapi sekolah-sekolah untuk anak terbaik prestasi tanpa harus membedakan latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan orang tuanya. SNBI harus dapat menampung anak-anak berprestasi tadi dari mana saja asalnya, kota, desa dan daerah terpencil. SNBI harus dapat diakses bukan hanya oleh anak dari daerah dimana SNBI berada, tetapi dapat diakses oleh anak-anak dari daerah lain yang kebenaran diwilayahnya tidak ada SNBI. Jika anak tsb secara akademis dia mampu, maka pemerintah pusat maupun daerah harus dapat memberikan dukungannya agar mereka dapat memasuki SNBI dengan biaya yang gratis, karena mereka adalah aset berharga bagi pembangunan bangsa di masa mendatang. Saya pikir wajar anak dari keluarga mampu harus membayar lebih, sedang yang tidak mampu gratis, memang sebaiknya semua gratis tetapi apa daya dana pendidikan kita belum memadai. Pada anak-anak yang demikian malah bukan hanya gratis di tingkat SNBI saja, malah kalau bisa pemerintah menyediakan anggaran untuk pendidikan lanjut mereka di dalam maupun di luar negeri, dengan tidak mengabaikan anak-anak lain yang bukan berasal dari SNBI.

    Kalau mereka diajar dalam bahasa Inggris karena mereka memang sudah memiliki modal untuk itu dengan demikian mereka diharapkan anak-anak dapat mengakses pengetahuan dan berkomunikasi secara internasional dengan teman-temannya atau guru di seluruh dunia untuk perkembangan kemampuannya. Hal ini bukan berarti kita harus mengabaikan mereka yang lain di sekolah yang lain, mereka juga harus diajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya agar pada suatu saat mereka memiliki kemampuan seperti temannya di SNBI walaupun dalam proses belajarnya sekarang tidak menggunakan bahasa Inggris, sehingga mereka memilik akses terhadap pengetahuan dan berkomunikasi secara internasional.

    Mari kita kaji konsep dan cermati pelaksanaannya, berikan saran bagaimana sebaiknya SNBI dikembangkan, sehingga hal-hal negatifnya dapat kita hilangkan setidaknya kita minimalisirnya agar perjalannya benar-benar menghasilkan pemimpin pembagunan bangsa yang cerdas, profesional, bertanggung-jawab, bermoral di masa mendatang.

  15. Pak Cecep yang saya hormati,

    Terima kasih atas masukannya.
    Saya melakukan interview kepada kepsek, guru, siswa sekolah internasional di Semarang dan Madiun saat pulang kemarin.
    Tujuan interview itu sebenarnya u mempertajam analisis saya dalam penyusunan thesis.

    Apa yg Bapak uraikan di atas memang demikianlah sebaiknya. Bhw SNBI atau masih RSBI tdk menjadikan sekolah sbg institusi elit yg hanya dijangkau oleh golongan tt.

    Setiap sekolah yg saya wawancarai memang mempunyai dana beasiswa atau menggunakan subsidi silang untuk mendanai anak yg tak mampu. Tapi itu jumlahnya sangat kecil.
    Sekalipun sdh masuk, anak2 itu tetap tidak bisa bersaing dg teman2nya yg notabene punya dana u mengikuti kursus bahasa Inggris, atau menggunakan fasilitas internet di rumah.

    Siswa2 yg saya wawancarai memang sangat bersemangat dg pembelajaran dg bahasa Inggris bahkan beberp siswa menjawab sangat memaklumi keterbatasan guru dari segi menyampaikan bahasa Inggris.

    Penelitian saya memang belum sampai meneliti apa efek penggunaan bahasa Inggris dalam peningktan kemampuan akademik siswa jika alat ukurnya misalnya nilai ulangan atau ujian.
    Insya Allah akan saya lanjutkan penelitian ini.

    Setelah melihat kenyataan di lapang, saya lebih bisa memahami kesulitan pengelolaan SNBI, stress yg menimpa guru dan kepala sekolah.

    Saya juga mencoba mengcross check pandangan siswa dan guru sekolah reguler. Ya, kita bisa mengatakan barangkali mereka iri, sehingga jawaban yg saya dapatkan cenderung negatif.

    Pak Cecep,
    Jika sudah dibangun dan direncanakan sekitar lebih dari 100 sekolah bertaraf intl di tahun 2008, maka kami sebagai rakyat memang tidak bisa berkata apa2.

    Sya mempunyai hipotesis bahwa proses internationalisasi sekolah di Indonesia adalah bentuk privatisasi pendidikan publik dan terseret arus nekolim/neo-liberalisme
    Keduanya kelihatannya sulit berfihak kepada si miskin.

    Sebagai negara yg masih membangun bidng pendidikannya, mengapa kita tidak menyediakan sekolah publik yg bisa diakses oleh semua anak, entah mau dibuat int`l atau tidak ?
    Jk memang hendak menggunakan bhs Inggris sbg bhs pengantar dg alasan anak2 dapat berkomunikasi dg temannya di luar negeri, mengapa tdk diwajibkan saja penggunaannya di semua sekolah ?

    Saya meneliti ttg SMA/SMK dg alasan krn level sekolah ini yg angka partisipasinya paling rendah (48%). Saya tdk tahu apakah pemerintah tertarik menyekolahkan semua anak usia SMA agar paling tidak APK mencapai 90%.
    Dg SNBI, saya tdk yakin ini akan tercapai.

    Tp bagaimanapun,
    terima kasih atas saran dan masukannya yang positif mendukung SNBI. Saya pun tidk akan memposisikan diri sbg orang yg menentangnya 100%, tp saya belum punya data u mendukung sepenuhnya.

    Saya berharap punya kesempatan lagi u melihat langsung sekolah2 tsb. Sayang akses saya tidak terlalu baik.
    Pak Cecep barangkali bisa membantu ?

  16. Mas Murniramli, terima kasih tanggapan yang diberikan pada tulisan saya. Kalau kita membuka forum diskusi seperti tujuannya hanya satu agar kita dapat memberikan sumbangan pikiran bagaimana pendidikan di negara kita bisa meningkat terus kualitasnya, bukan untuk terjebak dalam salah – benar. Perlu mas ketahui mestinya siswa yang sekarang ini bersekolah di SBI dianjurkan juga mengikuti ujian bertaraf internasional secara optional, misalnya dengan Cambridge System atau yang lainnya selain ujian nasional. Kenapa demikian, saya pernah mengamati sebuah sekolah SBI yang hanya mengikuti siswanya ujian bertaraf internasional, waktu dia ingin menaftar masuk perguruan tinggi dalam negeri ditolak karena persyaratannya harus menyertakan ijazah ujian nasional. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian pemerintah untuk mengaturnya. Karena lulusan SBI tujuannya bukan untuk melanjutkan perguruan tinggi di luar negeri tapi melainkan memiliki pengetahuan dan keterampilan, dan kemampuan lain yang setara dengan anak-anak lulusan dari sekolah terbaik di dunia. Kalau memang lulusan SBI dapat melanjutkan sekolah ke luar negeri itu pun perlu didukung.

    Mengenai hipotesis anda, barangkali perlu diteliti dalam perjalanannya SBI kedepan. Tetapi kalau saya cermati hakekatnya justeru tidak begitu, melainkan kita ingin menyediakan pendidikan yang relatif murah bagi anak-anak yang berprestasi dengan sistem subsidi silang. Yang kaya membayar relatif mahal dibandingkan temannya yang lain, tetapi lebih murah jika dibandingkan dengan biaya di sekolah-sekolah yang dikembangkan oleh lembaga asing yang sekarang mulai menjamur dan memang peruntukannya dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga mampu. Lalu bagaimana dengan simiskin yang berprestasi, solusinya adalah SBI yang dikembangkan oleh pemerintah untuk menampungnya dengan biaya gratis dari pemerintah dan sedikit subsidi mungkin dari orang tua yang berkecukupan dan mampu. Oleh karena dengan memahami ini tentunya kita masyarakat harus ikutserta memberikan masukan dan kontrol agar apa yang mas takutkan akan terjadinya privatisasi pendidikan yang mengarah kepada nekolim/neo-liberalisme dapat dihindari dan tidak pernah terjadi.

    Memang mas kalau diperhatikan di lapangan pelaksanaan SBI seringkali dimaknai oleh sekolah itu sendiri maupun orang-orang di luar sekolah, seolah-olah SBI adalah model sekolah yang tujuannya dapat menarik bayaran tinggi dari siswanya, itu keliru. Makanya pemerintah pusat memberikan bantuan dana yang relatif kecil/besar sangat kontekstual agar penyelenggaraan SBI tidak semata-semata membebani masyarakat dengan biaya lebih dan itu ditawarkan kepada orang tua yang mau untuk membayar lebih, sementara bagi yang tidak mampu dapat gratis. Yang terpenting perlu digarisbawahi bahwa yang dapat masuk ke SBI adalah anak-anak yang berprestasi, bukan karena sanggup bayar mahal siapa saja dapat masuk SBI walaupun tidak berprestasi, ini yang harus dikontrol.

    Mengenai bahasa Inggris, sebaiknya anak-anak kita memang tidak perlu kursus atau bimbingan belajar lagi, tetapi proses di sekolahlah semestinya membekali mereka untuk mampu ber bahasa tersebut. Tapi kenyataan sekolah tidak mampu membuat anak kita seperti itu, anak masih perlu kursus, perlu ikut bimbingan belajar dan sebagainya. Saya sebagai orang tua berpikir dari pada harus membayar untuk kursus bahasa Inggris anak saya atau membayar bimbingan belajar yang relatif mahal, lebih bayar relatif lebih kepada sekolah yang bisa menjamin anak saya tidak perlu kursus atau bimbingan belajar di luar, karena sekolah mampu memberikan layanan terbaik tapi nyatanya sekolah belum mampu seperti itu. Oleh karenanya pengembangan SBI harus dapat memberikan contoh terbaik bagi pengembangan sekolah-sekolah lain. Mas kalau ada sekolah (SMA) yang belum punya laboratorium mestinya sekolah segera mengajukan pengadaannya apakah kepada pemda atau pemerintah pusat melalui Diknas, jangan mereka hanya menunggu saja dan saya yakin hal seperti akan dapat perhatian segere. Kelemahan kita juga mas sering kali kita tidak punya data tentang profil sekolah secara komplit, sehingga dalam perencanaan seringkali hanya berdasarkan perkiraan, bukan didasarkan data riil di lapangan. Ini juga menjadi kendala.

    Jika di SBI menimbulkan keirian antar siswa, inilah yang sudah saya duga dan pengamatan sayapun seperti itu. Sebaiknya SBI tidak dikembangkan di beberapa kelas saja melainkan dikembangkan di seluruh sekolah, jadi terjadi pemilahan.Kalau kemampuan sekolah untuk sekaligus mengembang SBI untuk semua kelas belum bisa, lakukan secara bertahap tetapi tidak ekslusif. Proses rintisan ini bukan menyediakan kelas khusus dengan fasilitas lebih, guru-guru pilihan yang terbaik, dsb, berbeda dengan kelas lain. tetapi yang terpenting adalah bagaimana kelas ini mulai melaksanakan kurikulum yang diadaptasi dari kurikulum yang mendasar setara dengan kurikulum di sekolah-sekolah terbaik di dunia. Pengertian adaptasi memberikan peluang agar ciri khas bangsa, keunggulan lokal, dsb tidak hilang dari kurikulum tersebut. Biasakan anak mulai menggunakan bahasa asing, paling tidak untuk pembelajaran bahasa asing di kelas, misalnya pelajaran bahasa inggris benar-benar diajarkan dengan bahasa inggris 100%, bukan pakai bahasa indonesia 100%, setidaknya 50% – 50%, sehingga anak terbiasa dengan membaca, menulis, berkomunikasi dengan bahasa inggris. Pelajaran lain kalau anak dan guru belum siap kenapa harus dipaksakan, tetapi harus mulai walaupun mungkin di kelas pelajaran tersebut penggunaan bahasa asing baru 10% yang lainnya masih bahasa indonesia, tetapi secara berkelanjutan perlu ditingkatkan. Gurunya belajar, siswanya belajar tentunya suatu saat guru siap dengan mengajar mengunakan bahasa asing demikian juga siswanya. Semua berproses, tetapi tetap terus komit dan diusahakan terus ditingkatkan. Dan anak-anak lain yang bukan di kelas SBI juga dapat mengakses peralatan, buku, diajar guru, dsb sama seperti anak-anak SBI. Hanya bedanya siswa SBI diberikan optional mengikuti ujian akhir bertaraf internasional, selain UN.

    Mas Murni dalam pengembangan pendidikan Indonesia paling tidak ada dua hal yang perlu dilaksanakan, yaitu peningkatan akses agar anak-anak usia sekolah dapat bersekolah sehingga angka partispasi meningkat; kedua peningkatan mutu dengan berbagai upaya di seluruh sekolah. Sementara pengembangan SBI adalah salah upaya untuk peningkatan mutu tersebut tetapi memang khususnya bagi kelompok anak-anak yang memiliki prestasi, sehingga potensi mereka berkembang cepat dan optimal agar kita dapat menyiapkan sumberdaya manusia yang berprestasi dalam waktu cepat untuk pembangunan bangsa. Sementara anak lain dikembangkan juga kualitasnya (mutlak, tidak boleh diabaikan) tetapi waktunya disesuaikan dengan kecepatan mereka dalam belajar. Dengan kata lain sekolah lain selain SBI juga harus dikembangkan terus kualitasnya, sehingga suatu saat dapat mencapai level SBI. Ada kemungkinan SBI yang sekarang jika mereka tidak dapat menghasilkan siswa-siswa berkualitas, ya sebaiknya dihapus dari daftar SBI, kembali seperti sekolah biasa. Jadi bukan hanya nama bertaraf internasional, tetapi benar-benar harus menunjukkan kinerja yang memang level internasional. Oleh karena itu, pencermatan, pengamatan, monitoring, dan evaluasi SBI perlu terus dilaksanakan agar pengimplementasian dapat mencapai tujuan pengembangannya.

    Saya senang jika dapat membantu mas Murni melakukan pengamatan.

    terima kasih

  17. Pak Cecep yang saya hormati,

    Saya bukan laki2, tapi asli perempuan :D

    Terima kasih atas pencerahannya.
    Saya sama dengan Bapak, tdk suka berdiskusi untuk mencari salah benar tetapi senang berdiskusi karena saya bisa belajar mendengar dan memahami pendapat orang lain.

    Saya, terus terang memang belum bisa mengakses perundangan yg menjelaskan juklak SBI di lapangan. Shg saya tidak bisa scr signifikan melihat dan menganalisa kemauan pemerintah dan kemauan rakyat/sekolah.

    SBI memang lebih tepat dikatakan sbg kemauan atau ambisi pemerintah ketimbang kemauan rakyat.
    Sya menyangsikan adanya jajak pendapat, menanyai orang tua/guru ttg rencana pelaksanaan SBI ini.
    Ya, barangkali sudah melalui DPR saat memutuskan RUU Sisdiknas 2003. Tp saat isu sisdiknas ini ramai, yg mencuat hanya masalah dimuat tidaknya pendidikan agama. Rakyat tidak dimelekkan dg klausul penting pasal per pasal.
    Rakyat biasa memang tidak akan peduli dg masalah ini, sebab mereka mungkin baru sampai kepada memikirkan masalah perut. Tp kenapa para pakar di IKIP tdk mengkritisinya juga ?
    Sayang juga, saya tdk diberi ketertarikan thd pendidikan pada tahun2 itu :D

    Pak Cecep, spt saya tulis pada jawaban sebelumnya. Yg sudah lahir tdk bisa kita matikan. SBI sudah kadung lahir, tp dia ibaratnya seorang anak bule yg lahir di tengah keluarga Indonesia :D
    Maaf perumpamaannya kurang tepat barangkali.
    Cuma, saya ingin menghimbau, jika memang kebijakan baru akan dibuat, maka tolong ajaklah kami berdiskusi. Ajaklah para guru/orang tua di lapangan berdiskusi, jangan hanya berdiskusi dg wakil2 yg duduk di Dewan. Mohon maaf, jika saya belum bisa mempercayai mereka.
    Seandainya Dewan bisa dipercaya, semestinya pendidikan di Indonesia tidak akan disalip oleh Malaysia !!
    (mohon maaf, jika saya menggampangkan masalah dg perumpamaan spt itu)
    Sekalipun kata sepakat tidak bisa didapat dg mengajak rakyat berdiskusi, tp paling tidak kita tahu apa sih yang dimaui rakyat ?

    Kembali ke masalah SBI,
    Saya ingin menganalisa statement Bapak, bahwa SBI didirikan u menjadi sekolah bagi anak2 yg berprestasi dg sistem subsidi silang.

    Saya barangkali masih harus belajar untuk bisa memahami konsep ini.
    Jika memang pemerintah ingin menyediakan pendidikan untuk si miskin berprestasi dg pola subsidi silang, mengapa hrs membuat SBI ? Apakah sekolah2 yg selama ini ada tidak bisa melaksanakan hal yg sama ?
    Bukankah dulu BP3 juga menarik sumbangan dari ortu dg besaran yg berbeda, yg tujuannya u subsidi silang ?

    Jika memang ingin membuat sekolah untuk anak berprestasi, maka kita perlu mendefinisikan siapa mereka. Apk kita sepakat jk prestasi yg kita maksud adalah penilaian berdasarkan hasil raport/NEM atau kita punya kriteria lain, misalnya IQ super.

    Pendidikan menurut saya adalah hak yang harus dinikmati oleh siapa saja, tanpa melihat kapasitas otaknya. Sekolah2 dibangun untuk mendidik agar anak-anak menjadi dewasa melalui pembelajaran formal, sebab dia bisa juga menjadi dewasa mll pembelajaran informal (keluarga dan lingkungan).

    Sekolah2 kita kelihatannya sudah bergeser arah. Tidak lagi difungsikan u mendidik kedewasaan,perkembangan alami anak, tetapi mulai diarahkan u melahirkan pekerja, entah untuk negara atau untuk keperluan negara lain/dunia.
    Barangkali pendapat sya terlalu kuno, tp saya sangat iri dg sekolah2 di jepang yg saya kunjungi selama kurang lebih 3 tahun ini, sebab mereka dididik dg pendidikan yg manusiawi, bukan pendidikan ala robot, sekalipun Jepang pembuat robot ulung :D
    Ya, memang ada sisi positif dan negatif dalam setiap model pendidikan. Atau barangkali saya terlalu idealis mengharapkan keseimbangan pendididkan raga, jiwa dan akal yg semestinya dikembangkan di sekolah2 kita yg tengah ‘dipaksa atau terpaksa’ mengikuti keinginan dunia/negara adi daya (?).

    SBI saya pikir juga tidak mungkin mjd pendidikan gratis u si miskin. Jika memang ingin dijadikan spt dmk, saya meragukan apk pemerintah bersedia mendanainya, atau kembali muncul pemikiran lain, apakah pemerintah hanya di kemudian hari hanya akan mengkonsentrasikan pendanaan ke SBI dg dalih sekolah gratis u si miskin, dan mengabaikan sekolah umum atau swasta yg didanai oleh masy di daerah urban/pedesaan yg terengah2 mendanai operasional sekolahnya ?

    Lalu jk SBI mnrt Bapak ditujukan u melahirkan SDM yg cepat (krn siswa berprestasi mk mendidiknya juga bisa dg cepat dilakukan (?)), maka saya juga belum bisa memahami ini.
    Apalagi dg tambahan bhw anak2 yg lain juga dikembangkan di sekolah biasa sesuai dg kemampuannya (kecepatan berfikirnya).

    Benarkah demikian kenyataannya ?
    Fakta yg saya temui di lapang, yg dipilih mjd SBI adalah SMA yg notabene tdk diminati siswa berprestasi/brilian. Siswa brilian lebih memilih SMA yg bukan SBI, krn SMA tsb sudah sejak dulu lulusannya dilamar oleh Univ bergengsi.

    Kalau memang itu tujuan pebentukan SBI, yaitu untuk mencetak SDM dg cepat, maka kita kembali terjebak kpd konsep sekolah sebagai pabrik pekerja. Semestinya yg dikembangkan u menghasilkan TK handal adlh sekolah kejuruan.

    Saya juga belum bisa memahami bahwa SBI diadakan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
    Jika definisi mutu pendidikan yg dimaksud mengacu kpd konsep UNESCO/world bank/lembaga dunia, maka pendidikan di sebuah negara dianggap bermutu jika angka melek huruf meningkat, angka partisipasi tinggi, tdk ada diskriminasi antara pendidikan u girls/boys, pendidkan diselenggarakan dg fasilitas memadai, guru memiliki standardisasi, payment guru setara dg pay u profesi akademik lainnya, atau yg terbaru, memasukkan pendidikan internasionalisasi (bukan sekolah internasional) dalam kurikulum pendidikan, dan partisipasi masyarakat yang tinggi.

    Mutu pendidikan memang disebutkan di dalam Sisdiknas 2003, tp saya tak berhasil menemukan konsep mutu pendidikan yg ingin dikembangkan di Indonesia. Mungkin ada penjelasan dalam PP atau peraturan lain. Saya belum berhasil menemukannya.

    Jika SBI dianggap sbg peningkatan mutu pendidikan, maka jika saya coba memformulasikan mutu yg dimaksud adalah :
    1. penggunaan bahasa internasional dalam pembelajaran
    2. fasilitas IT,
    3. ruang kelas ber-AC
    3. kurikulum internasional
    4. ujian internasional
    5. standar internasional atau lebih tepatnya standar lembaga/negara tertentu.

    Itu analisa sempit saja.
    Jika anak2 di SBI diajar dg model pengajaran yg sama spt anak2 di SMA unggulan lainnya, hanya bahasanya saja bahasa Inggris dan fasilitas pembelajarannya saja yg lux, maka saya justru melihat kita belum menyentuh akar permasalahan
    mutu pendidikan kita.

    Secara gampang, jk kita memakai data TIMMS atau PISA untuk menilai ranking pendidikan kita di tengah negara2 dunia, maka prestasi anak2 Indonesia secara kumulatif (bukan perorangan) masih jauuuh( nomor 34 dari sekitar 40 negara). Prestasi itu adalah kemampuan memahami reading comprehension dalam bahasa ibu (bahasa Indonesia), kemampuan berhitung, dan kemampuan analisa masalah.

    Jadi permasalahannya ada pada peningkatan mutu pembelajaran yg terkait dg mutu guru, yg saya pikir tdk terselesaikan dg pendirian SBI, tetapi melalui program sertifikasi yg sedang berlangsung.

    Jika yg diusung oleh SBI adalah masalah fasilitas yg berstandar internasional, saya sebenarnya sangat bingung atau boleh dikatakan malu ketika menyampaikan ini di depan guru2 di Jepang, sebab sekolah publik di perkampungan/pedesaan di Jepang mempunyai fasilitas yg sama dg SBI kita, bahkan lebih baik, tetapi sekolah2 itu tidak dikatakan sekolah internasional.

    Memang kemampuan bahasa Inggris siswa kita lebih baik darpd kemampuan anak2 Jepang, tetapi kemampuan analisa dan memahami masalah, kemampuan pemahaman literatur anak2 Jepang secara kumulatif lebih baik drpd anak2 kita. Yg kalau saya amati, bukan karena konsep internasional yg diusung tp seperti saya kemukakan di atas, sekolah untuk mengembangkan jiwa, raga, dan otak anak sesuai lingkungan tumbuhnya (daerahnya).

    Jadi, jika boleh mengusulkan maka beberp poin berikut ingin saya sampaikan kpd pemrth selaku pengatur rakyat :

    1. Seragamkan fasilitas sekolah. Jk memang sekolah harus punya LCD, harus punya lab lengkap, hrs punya perpus yg memadai, maka limpahkan pengelolaan pendidikan kpd pemda, dan percayakan bahwa komite sekolah dan pengelola sekolah bisa melakukannya.
    Pemerintah hrs membuat standar fasilitas sekolah, shg tdk sembarangan sekolah bisa berdiri dg fasilitas yg tdk layak. Mungkin sdh ada, jadi tinggal jujur melaksanakannya.

    Kalau Bapak mensinyalir banyak sekolah yg tidak melaporkan keperluannya akan kebutuhan lab, maka saya juga bisa mengajukan kasus sekolah yg yg mengajukan proposal pembuatan lab ke DEPAG dan DIKNAS tp belum medpt respon apapun.

    Jadi, tdk perlu menyalahkan sekolah/kepsek krn tdk melapor, tp pemerintahlah yg harus turun melihat rakyatnya, apa kebutuhan rakyatnya. Bukankah kami memilih mereka u keperluan itu ?

    2. Jika memang bahasa Inggris ingin dipakai sebagai bahasa pengantar, maka tetapkan saja untuk semua sekolah di Indonesia, publik maupun swasta. Tdk usah diberlakukan diskriminasi.
    Kita uji cobakan saja dulu untuk tiga mata pelajaran wajib, misalnya bahasa Inggris, math dan sains (fisika, bio, kimia)
    3. Jika ingin setara dg sekolah internasional, masukkan saja kriteria spt apa sekolah internasional itu dalam standar pendidikan nasional kita. Shg masyarakat tidak dibuat bingung dg adanya standar ganda dan dualisme dalam pendidikan kita.
    4. Jika anak2 brilian ingin dididik secara khusus, maka buka saja kelas2 u anak2 berprestasi di sebuah sekolah (di SMP dulu saya mengalami hal yang sama). tp bukan kelas akselerasi. Tp kelas yg materinya lebih berat dari segi cakupan.
    5. Kembalikan fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan, bukan pabrik pekerja.
    Sekalipun anak2 hrs menghadapi society yg kompetitif, mereka tetap harus dididik untuk mjd makhluk sosial, yg menghargai kehidupan bersama, bekerja sama, bukan yg lebih suka berkompetisi.

    Barangkali pemahaman saya sangat dangkal dan naif ttg pendidikan, Pak, dibandingkan dg Bapak yg sudah makan asam garam di bidang ini. Jadi, usulan dan ocehan panjang lebar saya, saya sendiri tidak tahu apakah bisa dilaksanakan atau tidak.
    Hanya seperti kata Nabi SAW : jangan sampai masuk ke lubang biawak untuk yang kedua kali, maka saya hanya berfikir sederhana seperti itu sja, untuk membantu pendidikan di Indonesia.

    Sekali lagi, senang sekali dengan kunjungan Bapak ke blog saya, semoga tidak bosan mengajari saya dg ilmu. terima kasih.

  18. Yang lebih ironis, ujian dari University of Cambridge ini sering disalahmaknakan sedemikian rupa sehingga alih-alih masyarakat mengeti esensinya, pemahamannya menjadi semakin jauh. bahkan khalayak sampai tidak tahu bahwa untuk mengambil ujian apapun yang diselenggarakan oleh 3 badan penguji dari University of Cambridge, kita tidak harus sekolah dan tidak perlu bayar ini/itu kecuali uang ujian yang resmi dari penyelenggara. Memprihatinkan….

    Ines Setiwan
    (eclectic homeschool mom of one)

  19. kalau idenya sih kayaknya bagus, jika yang dibayangkan konsumennya adalah orang-orang yang hidup dengan pola pikir dan budaya yang memang sesuai dengan konsep snbi yang sekarang berubah jadi rsbi (rintisan sbi). ihik..ihik…ihik kok jadi berubah jadi rsbi sih, e………mungkin pemerintah mulai ragu-ragu akan keberhasilan program yang katanya dianggap unggulan tapi kenyataannya terlalu muluk.
    kalau snbi atau apalah namanya dimulai dari gedung baru, seleksi tenaga edukasinya baru, seleksi muridnya baru itu mungkin bisa diharapkan bisa terwujud. lah ini …. sekolah yang sudah mapan puluhan tahun kemudian dipaksakan untuk menerapkan segalanya baru, sementara tuntutan perubahan mendasar yang dituntut adalah perubahan sikap dan mental, dan itu tentu saja butuh waktu dan proses panjang. dan aneh bin ajaib lagi angkatan pertama rintisan yang diuji coba belum tahu nasib keberhasilaanya e malah udah ditambah sekian ratus sekolah rsbi baru, dengan alasan target!!!!, ……….padahal masyarakat udah sangat gamblang alasan utama……..pendekatan proyek………………emangnya gua pikirin!!!!

  20. Saya pingin ikut ngomong tentang SBI, saya tidak tahu tentang kurikulum semua terserah pengelolah yang penting, sekarang bangsa indonesia harus pinter tidak hanyak bahasa ingris, kalau perlu arab, cina, jepang bahasa apapun supaya kita faham dengan teknologi , budaya yang masuk keindonesia dan tidak dibodohi atau dibohongi begitu aja kok repot, karena tidak mengerti bahasa bangsa tidak bisa berdiplomasi, tidak bisa berdebat pokoknya kalahan.

  21. kenapa di indonesia tidak menyediakan sekolah prasmanan saja??? supaya calon siswa bisa memilih sendiri menunya?! kan jadi lebih enak.. gak yaa!!!

  22. Btw, apa mbak murni tau info ttg penggunaan bahasa inggris sbg media instruksi di kelas? bisa berupa alamat website atau judul buku, dsb. Oya, saya pernah ngadakan observasi di sebuah kelas yg bertaraf internasional. Kebetulan saya masuk di kelas 1 SD-nya. Wuuiihhhh….mereka dah pada cas cis cus ngmong pake bhs inggris. Waktu itu saya sempet melongo, karena kebetulan mayoritas murid2 saya (waktu itu saya sedang praktik ngajar di SMP negeri kelas 2) tidak semampu murid2 kls 1 SD itu. Ketika saya tanyakan pada guru SD tsbt tyt para murid TK itu tidak punya latar belakang pddkn bhs inggris sama sekali. Great n salut bt sang guru. Thanks.

    murni : Mbak Lina, salam kenal.
    Saya tidak punya buku atau web yg dimaksud.
    Menarik sekali dg kelas bertaraf internasional di SD tsb, kalau boleh tahu di mana itu ya, Mba ?

  23. Salam kenal mbak Murni,
    Berbicara maslah SNBI, tentulah sangat menarik pada masa ini, karena pemerintah pada saat ini sedang gencar-gencarnya menggulirkan sekolah yang bertaraf internasional, dan daerah diberi kewenangan untuk mengembangkan pendidikan yang bertaraf internasional. Kalau boleh saya berpendapat adanya sekolah SNBI/atau sekolah yang ingin mengajukan menjadi SNBI tentunya benar-benar harus menyiapkan segala fasilitas sarana dan prasarana maupun SDMnya untuk menunjang pelaksanaan SNBI. Dalam hal ini SDM juga memegang peranan yang sangat penting selain sarana dan prasarana yang dimiliki. Apakah kita akan menghilangkan (maaf kalimatnya kasar) guru-guru yang mungkin belum memenuhi kriteria bertaraf internasional (jika sekolahnya menajdi sekolah SNBI). Karena dalam kenyataanya SNBI dibentuk dari sekolah-sekolah yang sudah berdiri lama, bukan sekolah yang baru berdiri. Saya pikir SNBI asyik-asyik saja selama dalam pelaksananya tidak ibarat orang membangun rumah kemudian tanpa dirawat. Maka rumah itu akan merana (wah ngelantur ya..) artinya pemerintah bolehlah membuat SNBI karena cita-citanya mulia, yaitu untuk memberikan pendidikan yang berstandar internasional, namun hendaknya pemerintah juga tidak membiarkan begitu saja, monitoring, evaluasi dan pendampingan hendaknya tetap dilakukan. (bukanya tidak percaya pada sekolah…) karena dalam suatu organisasi agar organisasi itu tetap eksis hendaknya fungsi monitoring, pendampinag serta evaluasi harus tetap di jalankan. Dan satu lagi yang amat penting hendaknya meskipun sekolah bertaraf internasional, budaya, budi pekerti, sopan santun, serta nilai-nilai luhur adat ketimuran masih harus tetap di jaga dan dilestarikan, sehingga anak-anak atau para generasi muda tidak tercabut dari akar kebudayaanya sendiri. Karena terlena dengan embel-embel iternasional sehingga melupakan tata krama, dan sopan santun yang harus selalu melekat dalam diri masyarakat kita, terutama generasi muda Indonesia. Jayalah pendidikan di Indonesia.

  24. apakah SMKN 2 singkawang termasuk sekolah bertaraf internasional

  25. Mba murni yang baik…..
    Saya miris sekali mendengar ada sekolah nasional dan sekolah bertaraf internasional ini memang betul memilah dan memilih anak-anak Indonesia yang punya uang dan yang tidak. jadi terjadilah jurang yang dalam memisahkan diantara mereka. Kalau dipikir ironis sekali ya , sementara orang /pejabat mendengung-dengungkan sekolah gratis tetapi kok sekarang ini sekolah bukannya tambah murah atau gratis bahkan tambah mahaaaal. Bagaimana bangsa ini mau dibawa ? Rakyat menderita secara ekonomi juga pendidikan.

  26. Di kota saya ada 2 RSBI, yang menjadi permasalahan adalah khusus guru-guru matematika dan IPA yang mengajar di kelas RSBI yang dikursuskan. sementara RSBI, Pengajarannya masih sama dengan sekolah nasional yang lain. hanya berbeda fasilitas dan bahasa pengantarnya.

  27. gini ne mb murnie…
    kbetulan aku tuw guru plus mahasiswa semester akhir…
    gi mau nyusun thesis ne tentang readiness nya sekolah2 di Indonesia tuk ikut andil dalam tren mode sekarang SSI sekolah berstandar internasional.
    kira-kira punya masukan gak?
    tentang apa c SSI tu ndiri?
    bukannya kalau satu sekolah sudh punya cap sebagai SSI dia harus mengikuti kurikulum luar ya?
    kira-kira kurikulum luar itu sendiri seprti apa?
    apakah cuma pelajaran ipa atau math yang dirubah bahasanya ke bahasa inggris gt?
    soalnya aku nemuin banyak banget sekolah yang mencap diri mereka SSI tapi mapelnyacm pelajaran yang dirubah bahasanya aja?
    kirim email ya mbak…
    wait so soon for that
    but thanks a lot anyway:)

    murni : Mba Febrie,
    ttg SBI sudah ada buku panduannya yg ada di masing2 sekolah.
    Apakah sdh pernah mengunjungi, mewawancarai kepsek SBI ?
    Jika ingin mengetahuinya lebih jauh silahkan menghubungi sekolah SBI sbg langkah awal penelitian anda.
    Buku Panduan kalau tdk salah ada di DIKNAS.
    Saya sendiri tidak punya.

  28. Saya punya rumah di dkt SMA 3 AE, dasar tsiswanya itu tidak tahu adat. jalan keningar yang sempit kok di lalui sepeda motor dengan keepatan tinggi.
    trus apa siswanya itu apa bener orang kaya, kok pelit banget.

  29. selamat dan suskses atas reuni sma3 angkatan 88 pada tgl. 03 oktober 2008 di Jl. H. Salim Madiun!

  30. saya harus betekon untuk mendapat pmr 7a saya betekat untuk nendapat semua sakjet umtuk mendapat A

  31. HAIII?SALAM BEKENALAN SAYA NABILAH SAYA DARIPADA LUBOK MERBAU SAYA BERSEKOLAH DI LUBOK MERBAU SAYA DARI TINGGKATAN 2.SAYA INGIN MENCARI TEMAN KALAU AWK SEMUA SUDI KAWAN KOOL SAYA 0174338805

  32. HAIIII…SAYA FARAH SAYA INGIN MENCARI KAWAN SEJATI
    SAYA TINGGAL DI FELDA LUBAK MERBAU

  33. […] Tulisan Menarik lain tentang dunia pendidikan bisa dilihat di: Sekolah nasional bertaraf internasional […]

  34. salam kenal mba’…..saya berterima kasih sekali mba membuat tulisan ini. kebetulan saya sedang menulis thesis tentang “the investigation of the implemantation of SBI”. ada fokus dr thesis tersebut adalah saya mau melihat persepsi guru science dan murid kelas internasional tentang penggunaan b inggris sbg alat komunikasinya. seandainya mba punya informasi yang lebih mendalam tentang hal tersebut, saya sangat berterima kasih sekali jika mba mau meng-emailkannya ke mery.novikawati@gmail.com

    murni : salam kenal juga.
    Wah, mestinya kalau Mba Mery sedang meneliti ini, pastilah lebih banyak datanya daripd saya yg berada di Jepang. Saya belum secr detil meneliti SBI, baru tahap pemanasan, Mba. Saya agak kesulitan memperoleh data di lapang, krn berada di Jepang. Mungkin Mba Mery yg bisa dapat lebih banyak. Mohon dishare ya

  35. betul, untuk apa bikin SNBI jika kita menjadi terpecah. Ada baiknya kita membelajarkan anak didik kita dengan kurikulum kita, ya… yang pasti harus ada revisi dan inovasinya.

  36. pak kok saya gak bisa hubungi no hp bapak

    pak saya dah dapet bukti yang sangat nyata yaitu
    PLTPS (Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut)

    pasang surut terjadi dari gaya kekal (gravitasi bulan dan matahari) yang menyebabkan energi kekal, yaitu gerakan naik dan turunnya air laut. dari hal itu bisa menciptakan energi baru yaitu energi listrik.

    kata pak santoso kepala departemen fisika UI, kita boleh mempresentasikan penemuan ini di UI.

  37. Salam kenal, saya ibu Indonesia :P, kalau di daerah bekasi apa sudah ada SDN yang bertaraf Internasional, taun depan anakku udah harus masuk SD. Dan saya baru pindah ke bekasi bulan ini, thx

  38. kalau saya kok ya tak terlalu tertarik dengan embel-embel internasional.

    sebenarnya kualitas sebuah sekolah tidak hanya dilhat dari kurikulum, tapi juga keseriusan baik sekolah maupunguru-gurunya.

    saya lebih memilih sekolah swasta yang sekarang mulai unjuk gigi bersaing dengan sekolah negeri, bahkan beberapa sekolah swasta di kota saya lebih cepat berkembang dan menyesuaikan diri dengan kemajuan baik teknologi maupun kurikulum.

    murni : Ndaru, alumni SMA 3 kah?

  39. Disekolahku SMP Neg.1 Samboja Kukar Kaltim proyek SNBI ini malah seolah olah djadikan ajang cari duit bagi kepsek dan konco-konconya..mereka gak peduli apa dan bagaimana SNBI ini yang penting dana ngucur cur cur….dibagi habis…bles..gak tau apa hasilnya…
    Mau sekolah lokal kek,sekolah sawah kek, sekolah alam kek, yg penting pembinaan akhlak jgn diabaikan….buat apa bikin sekoah mahal2 kalo toh keluarannya gak jelas

  40. coba deh,……. smpn di Jakarta yang ada rsbi, justru yang passing grade yang tinggi, jika buka 9 kelas, tahun ini rata-rata rsbi buka 6 kelas, jadi 3 kelas penerimaan secara reguler, yang heran standar rsbi tahun ini justru ini (?), maksud saya jika tahun sebelumnya nilai raport minimum 7,5 (kalau ndak salah tolong dicek) untuk matapelajaran MIPA, B. Ind. th. 2009 menadji cukup 7.
    Jadi kesempatan anak-anak yang nilai uan-nya tinggi untuk dapat smp unggulan tentunya berkurang, di rsbi biaya spp dan uang masuknya mahal, kembali pada paradigma jika tidak ada uang walaupun pandai di Indonesia semakin sulit mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik, tragisnya itu sudah dimulai dari sejak dini,……….

    Siapa yang setuju ?, jika saya salah tolong dikoreksi,
    calon pemimpin Ind. dimasa datang, yang cerdas dan pandai, yang berakhlak, yang menghayati, mengerti, peduli penderitaan rakyat, adalah yang menyadari untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik, haruslah berjuang,…. bukan karena semata mampu secara finansial,……

    buat apa mendirikan sbi diseluruh kabupaten, habis-habisin dana, sementara banyak sekali sekolah yang laboratorium saja ndak punya,…

  41. Kenapa banyak diselenggarakan SBI termasuk di sekolah-sekolah negeri di banyak kota di Indonesia? Aku kira itu satu cara untuk menyiasati sekolah gratis yang sudah dicanangkan supaya bisa kembali menarik dana dari orang tua murid bahkan dengan jumlah yang lebih besar. Kalau soal mutu jangan ditanya, masih sama saja dengan yang reguler, menggunakan kurikulum pendidikan nasional yang sering berubah-ubah. Jadi SBI dengan kurikulum seperti yang sekarang berlaku ibarat barang produki lokal yang mutunya masih diragukan kemudian diberi label kualitas ekspor agar bisa dijual dengan harga tinggi.
    Gimana kalau saya katakan demikian masalah SBI ini, anda setuju ngga?

  42. Ibu,

    Saya kira Ibu harus melihat permasalahan ini dengan lebih bijaksana. Toh untuk sekolah- sekolah negeri yang menyelenggarakan Kelas Internasional, mereka tetap memberikan beasiswa atau subsidi bagi siswa- siswa mereka yang ingin bersekolah (tentunya bukan di kelas internasional, di kelas biasa, akan tetapi tetap dalam sekolah yang sama).

    kelas internasional di sekolah- sekolah negeri hanyalah suatu piliha alternatif bagi siswa- siswa yang (mungkin) berniat untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Kan mengapa tidak kita mengakomodir kebutuhan masyarakat seperti itu? kan yang penting, kelas internasional hanyalah suatu alternatif pilihan.

    saya memandang dari sisi positifnya, guru- guru di sekolah tersebut tergerak untuk memiliki kesadaran akan pentingnya mempelajari bahasa asing dan melihat bahwa di luar sana, Indonesia memang MASIH JAUH TERTINGGAL. suka atau tidak suka, anda harus menyadari, memahami dan mau membuka diri demi perbaikan- prbaikan ke depan.

    Mohon anda tidak melihat hanya dari segelintir anak yang tembus olimpiade, dan tidak melulu mengkritisi sesuatu yang berasal dari luar indonesia. adanya kelas internsional bukan suatu bentuk penjajahan apalagi pengkotak- kotakan, karena sifatnya hanya berupa alternatif.

    sekian

  43. @Bapak/Ibu White :
    Saya sudah mencoba mempelajari perundangan dan mewawancarai tiga sekolah yg menerapkan ini di Indonesia (kepsek, wakasek, guru dan siswa), tapi saya belum bisa seperti Bapak/Ibu White yang bisa memandang ini sebagai sebuah kebaikan untuk pendidikan nasional.

    Mengenai beasiswa yg diberikan kepada anak yg tidak mampu dan menurut Bapak tetap diberikan oleh RSBI, sekalipun bukan untuk kelas internasional, apakah ini tidak sama dg diskriminasi yg diterapkan di Indonesia jaman Belanda dulu ? Kita semakin meng-elit-kan pendidikan yg seharusnya menjadi milik semua anak bangsa.

    Jika Bapak/Ibu mengatakan Pemerintah memakai alasan untuk memberikan jalan kepada siswa yg ingin bersekolah ke luar negeri dg membuka kelas internasional. Maka pertanyaan saya apakah pemerintah punya data detil berapa anak yg ingin melanjutkan ke luar negeri pasca SMA, sbg dasar untuk membuka kelas internasional atau RSBI ?

    Lalu, mengapa kelas internasional atau RSBI identik dg bahasa Inggris? bagaimana dg anak2 yg memilih sekolah ke Jepang, Cina, Korea ? Maksud saya esensinya bukan pada “bahasa”, tp kedalaman ilmu dan dasar ilmu yg standar dipahami di seluruh dunia.

    Saya setuju guru-guru harus ditumbuhkan kesadarannya untuk perbaikan metode pengajaran, tp tdk setuju jika kelas internasional atau RSBI hanya untuk menyadarkan mereka pentingnya bahasa asing. Bukankah ini terlalu buang budget kalau cuma sekedar agar guru dan siswa bisa bercas cis cus bahasa Inggris ? Bukan ini kan tujuan RSBI/kelas internasional ?

    Permasalahan ketertinggalan pendidikan Indonesia dg negara lain bisa berbeda2 tergantung dari mana kita melihatnya. Saya baru menekuni pendidikan di Jepang dan baru sekitar 5 tahunan rutin mengunjungi sekolah2 di Jepang krn terkait dg studi saya. Kesimpulan saya, tidak ada ketertinggalan materi belajar yg diajarkan di SMA di Jepang dan SMA di Indonesia. Dan jangan lupa, lulusan SMA Indonesia bisa bersaing dg sangat baik memasuki Univ. di Jepang dan mereka bukan dari kelas internasional tp dari kelas reguler yg memang otaknya encer. Ini jk kita melihat dari segi cakupan materi belajar/kurikulum, saya bisa menyimpulkan kita tidak tertinggal.

    Ketertinggalan kita adalah pada fasilitas dan kesempatan. Bidang seni dan sport, serta eksperimen. dipelajari dg fasilitas yang memenuhi standar di Jepang. Anak-anak di Jepang sudah belajar memainkan alat musik sejak SD, dan membaca not balok dg sangat baik. Dan ini berlaku sama di seluruh negeri. Sementara di Indonesia, pelajaran seni hanya berjalan baik di beberapa sekolah. Anak-anak di Jepang mempunyai kelas berenang karena kolam renang ada di semua sekolah, sedangkan di Indonesia hanya sekolah elit yg memilikinya.
    Dan pemenuhan semuanya dilakukan Jepang sejak th 60-an ketika kondisi negaranya masih dalam keadaan pemulihan perang. Seharusnya pemenuhan fasilitas sekolah menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya.

    Tujuan utama pengajaran adalah siswa mengerti dan bisa mengembangkan diri dg dasar ilmu yg diberikan . Itu yg disampaikan oleh beberapa guru yg saya wawancarai di Jepang. Jadi bukan pada internasional atau tdknya bahasa yg dipakai.
    Apa gunananya menggunakan bahasa Inggris, jk ternyata anak2 tdk memahami materi pelajaran.

    Saya bukan orang yg tdk mau membuka diri ke depan. Kalau saya bukan orang yg mau membuka diri, saya tidak mungkin menerima tawaran bersekolah ke Jepang. Setiap orang harus maju, dan saya guru yang ingin maju. Tapi untuk “maju” demi segelintir orang memang mudah diputuskan,tapi “maju” untuk semua warganegara, bukankah perlu pemikiran yang lebih matang dan diikuti dengan data yang meyakinkan ?

    Saya mengakui bahwa tulisan saya ttg RSBI kurang kuat karena tdk dilengkapi data akurat, tp saya juga sudah mencoba mencari data akurat yg melatarbelakangi pemerintah mengambil keputusan membolehkan kelas internasional dan RSBI, dan tidak menemukannya.

    Saya meneliti sejarah pendidikan menengah di Indonesia, dan terus terang banyak keputusan/UU/ peraturan hukum yang menarik sebagai sebuah upaya memajukan pendidikan menengah, tp banyak pula yg tak ada alasan jelas dan hanya sekedar diadakan.

    Saya tidak bergerak secara serius dalam penelitian ttg RSBI, tetapi berharap ada peneliti yang berkecimpung di bidang ini dan mau membagi hasil penelitian ttg SWOT RSBI atau kelas Internasional di Indonesia. Barangkali Bapak White sudah melakukannya, mungkin bisa membaginya kepada saya, agar saya bisa memperbaiki pandangan thd program ini.

    Jadi, sebagaimana Bapak/Ibu White bebas mengemukan pendapat ttg sisi positif kelas internasional yg anda yakini, maka saya pun bebas menyampaikan sisi negatif menurut pemikiran saya.

    Tdk usah dipermasalahkan siapa yg benar, tp yg perlu kita saling hargai adalah kebebasan berpendapat. Bukankah kita sama-sama berfikir kemajuan pendidikan Indonesia untuk “semua anak Indonesia” bukan untuk “segelintir anak Indonesia “?

    Mohon maaf jika ada salah kata.
    murni ramli

  44. […] internasional itu sudah memecah belah antara yang kaya dan miskin. Sehingga akan ada efek psikologis dalam perkembangan anak antara yang […]

  45. wah keren artikelnya…
    setelah baca2 dari atas sampe omelan2 yang ada…
    ternya RSBI ada baik ada buruknya dan memang harus sperti itu..
    sya rasa marilah kita kembali ke diri masing2 bgaimana cara memandang agar lbih baik kdepan…. sori nhe agak menasehati dan sok tau. :D
    .INDONESIA JAYA.

  46. ada sebuah sekolah internasional dijakarta yang sama sekali anti indonesia, karena haus dengan tenaga pengajar dari luar mereka banyak mengimpor guru dari filiphina, ga salah tuh filiphina gak jauh beda dengan indonesia malah mungkin kita lebih maju dibeberapa hal dari mereka, guru-guru lokal indonesia hanya dijadikan asisten mereka, benar-benar diperlakukan seperti warga negara kelas 2, dan dilarang keras menggunakan bahasa indonesia dilingkungan sekolah,,,,hhhhhh mengahwatirkan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 169 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: