murniramli

Arti Upacara 17 Agustus bagi kami di Nagoya

In Renungan, Serba-serbi Indonesia on Agustus 19, 2007 at 1:19 pm

Hari ini warga Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang komisariat Nagoya (PPIJ Nagoya) menyelenggarakan upacara 17 Agustus. Bagi saudara-saudara kami di Indonesia, upacara barangkali bukan hal yang aneh, bahkan mungkin agak membosankan. Tapi kami yang tinggal di Jepang selama 3-4- atau 5 tahun menganggap ini sebagai kelangkaan.

PPIJ Nagoya tercatat sudah sejak lama tidak mengadakan upacara 17-an, kami baru mengadakannya lagi tahun lalu. Tahun ini sekalipun direncanakan secara mendadak, tapi kami ingin sekali upacara.

Upacara yang kami adakan jangan dibayangkan seperti upacara di Indonesia. Upacara kami tak dilengkapi pengibaran bendera, tak ada dentuman meriam dan bunyi sirine ketika pembacaan detik2 proklamasi, tak ada paskibra yang membawa merah putih dengan gagah. Tapi kami tetap serius. Kami serius berbaris, berdiri, menyanyikan Indonesia Raya, mendengarkan pesan Inspektur Upacara, menyebut sila-sila Pancasila, medengar pembukaan UUD 45, juga hikmat berdoa.

Upacara 17-an bagi kami di Nagoya adalah sebuah bentuk kerinduan terhadap tanah tumpah darah kami. Sebuah pendaman kecintaan akan tanah kelahiran kami. Semuanya terharu ketika menyanyikan dan menikmati syair-syair lagu Indonesia Raya, tak ada yang peduli apakah ini asli atau palsu. Yang pasti lagu kebangsaan itu memiliki kedalaman arti sebuah perjuangan dan martabat bangsa.

Upacara bendera bagi anak-anak adalah pengalaman berharga yang mungkin tak akan diperolehnya di bangku sekolah di Jepang. Mereka kebingungan mengapa orang harus berbaris ? Mengapa kita harus menyanyikan Indonesia Raya ? Mengapa ayah-ayah mereka begitu serius bernyanyi ? Upacara 17-an hari ini barangkali dapat menjadi kenangan tersendiri bagi mereka kelak, ketika mereka sudah paham apa arti kata `MERDEKA`

Sebagaimana orang2 di Indonesia merayakan 17-an dengan aneka lomba, maka kami pun demikian. Tahun ini lomba dibagi atas 3 kategori, lomba anak (memasukkan paku ke dalam botol, balap kelereng dan kipas balon), lomba ibu2 (mengupas apel), dan lomba bapak2 (memasak). Semua bergembira ketika berlomba, menyoraki, menyemangati para peserta lomba. Anak-anak yang tak punya pengalaman lomba 17an begitu bersemangat berlomba dan menunggu-nunggu hadiah dibagikan. Ibu-ibu yang biasanya berkutat di rumah, dag-dig dug mengupas apel, dan bapak-bapak yang biasanya hanya menunggu dimasakin, kali ini unjuk kebolehan berkreasi dengan masakan andalannya.

Semua bekerja sama. Ibu mengajari bapak berlatih memasak, bapak menyoraki anak bertanding, anak menyoraki ibu mengupas apel. Upacara 17-an bagi kami di Nagoya artinya : KEBERSAMAAN.

Sekalipun sangat sederhana, kami sangat menikmati 17-an tahun ini.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA !

About these ads
  1. Merdeka!!

    murni : merdeka juga !!!

  2. Walaupun negeri kita tercinta ini sudah merdeka selama 62 tahun ternyata masih banyak lho mbak anak-anak bangsa kita yang terenggut kemerdekaannya.
    Seminggu ini disurat kabar dan tv (http://Liputan6.Com) memuat terus berita tentang seorang anak kecil bernama Zulkidah berumur 9 tahun dari Sanggau Kalimantan Barat yang sejak umur 4 tahun disiksa habis-habisan oleh orangtua angkatnya. Terakhir dia ditemukan warga kampungnya dikunci di kamar mandi selama 4 hari tanpa diberi makan dan minum. Dia masih hidup karena minum air di bak mandi. Anak itu ditemukan dengan luka parah disekujur tubuhnya dan badan yang kurus kering. Aduh nak….kasihan sekali hidupmu…ketika anak-anak laen yang sebayamu bersuka cita mengikuti lomba 17 Agustusan…engkau justru berjuang meregang nyawa untuk mempertahankan hidupmu yang penuh luka. Semoga kemerdekaan yang sebenar-benarnya segera menghampiri hidupmu…

    Mbak masih ada beberapa lagi cerita memilukan tentang anak-anak bangsa kita yang teraniaya bahkan mungkin masih banyak namun tidak terekspos media…

    Kalo di Jepang ada nggak ya mbak anak-anak yang teraniaya seperti si kecil Zulkaidah??..

    murni : kasus penyiksaan anak juga ada di Jepang.
    Orang tua angkatnya barangkali menderita penyakit mental, bagaimana mungkin orang dewasa tak punya hati kepada anak kecil.

  3. Hiduplah Indoensia Raya… Merdeka!!!!!

    Jadi sedih baca koment nomor dua.

  4. eh… pengumuman, saya juga lomba masaknya loh….
    horee…..
    juara satu tidak penting, yang penting
    mengalahkan juara bertahan
    horee……
    Tahun depan ? (hemm… bisa ikutan ngga ya.., Oom anto, pernah saya kalahkan juga :-), sudah menunggu di apartement thamrin).

    murni : padahal dimenangin o juri biar ga punduh :D , soalnya pake daging yg radha mahal hehehe

  5. Merdeeeka
    Sekali merdeka tetap merdeka
    selama hayat masih dikandung badan

  6. % Gunawan
    Oom…cepetan pulang ya. Saya udah latihan masak terus niiih :)

  7. Cak Gun, untuk urusan masak emang saya sengaja mengalah: dengan pak effendy karena dianya tahun depan nggak bisa ikut lagi, jadi dikasihlah kesempatan menang. kalau sama cak Gun, karena nggak enak, kan sama temen lama. salam/siap bertarung tahun depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 154 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: