murniramli

Masjid harus bersih

In Islamologi, Renungan on September 18, 2007 at 6:18 am

Setiap hari Ahad, ada acara buka puasa bersama di masjid Honjin, Nagoya.  Biasanya beragam muslim dari berbagai negara berdatangan menikmati menu berbuka yang juga internasional.  Saya sangat suka dengan kondisi ini.  Seandainya dapat, setiap hari kami berkumpul di masjid.

Seperti biasa, masjid sengaja dialasi dengan tikar plastik agar karpetnya tak kotor dengan remah-remah makanan.  Karena ruang masjid untuk wanita tak lebih besar daripada kamar dormitory saya, maka kami tumplek blek di ruangan itu.  Tapi Allah senantiasa melebarkan majlis bagi hamba-Nya, sehingga berapapun muslimah atau anak-anak yang masuk ke ruang itu terasa cukup dan tak membuat kami sumpek.

Jika ke masjid saya selalu memaksakan diri mengikuti tarawih berjamaah, sebab kesempatan ini bagi saya sangat langka.  Kampus cukup jauh dari masjid, sehingga untuk tiap hari ke sana tidaklah mungkin sebab, saya masih harus bekerja kadang-kadang di malam hari.

Sehabis shalat tarawih biasanya semua pulang, dan saya paling menikmati kegiatan terakhir : bersih-bersih masjid.

Saya tak tahu kenapa saya sangat menyenangi, melipat mukenah yang bergelantungan, mengeringkan lantai tempat wudhu, menyikat dinding-dindingnya, mencuci piring-piring wadah makan dan sendok agar bisa digunakan lagi di acara selanjutnya.

Setiap mengerjakan ini  saya selalu teringat sebuah kisah seorang yang masuk Islam dan bermaksud menebus dosa-dosanya dengan datang ke masjid di jam-jam tertentu, menyapu dan mengepel lantainya, dan menyikat kamar mandinya. Kisah itu sangat menginspirasi diri saya tentang amalan kecil untuk menghapus dosa yang menggunung.

Saya beruntung karena masih sendiri, sehingga tak ada halangan untuk berlama-lama di masjid, selama masih ada kereta untuk pulang.  Muslimah yang lain barangkali sudah disibukkan dengan urusan mulia, mempersiapkan sahur untuk keluarga, sehingga mereka harus cepat-cepat pulang.

Masjid Honjin, walaupun kecil tapi sangat bersih.  Dulu saya suka datang di siang hari, dan menghabiskan waktu hingga berbuka.  Kebersihan ruangannya juga semilir angin yang masuk melalui kisi-kisi jendela, membuat mata saya selalu berat, dan biasanya saya langsung tertelungkup, tidur.

Saya bukan orang yang pembersih sekali, tapi sangat menyenangi kebersihan.  Setiap saya pulang dan kecapekan, kamar biasanya berantakan dan tak akan sempat dibereskan jika ada kerja pagi, tapi saya paling tak tahan dengan saluran pembuangan yang kotor.  Maka walaupun terlambat, bagian-bagian ini biasanya selalu sempat saya bersihkan.

Dulu, entah siapa yang mengatakan kepada saya, bahwa untuk mengetahui apakah tuan rumah adalah orang yang bersih atau tidak, maka lihat saja kamar mandinya :D   Karenanya saya paling rajin mengeringkan tempat wudhu di masjid yang selalu becek, atau menyikat toilet :D

Saya juga punya kebiasaan `buruk` menyikat wastafel di tempat saya bekerja, mister donut, padahal sudah ada pegawai yang bertugas melakukan ini.  Tapi menurut saya, bagian wastafel yang lama-lama akan menghitam jika tak rajin disikat, selalu luput dari perhatian pegawai itu.  Jadi, 2 kali dalam seminggu biasanya saya gosok.  Sebenarnya sudah pernah saya sampaikan ke Manajer kalau bagian itu selalu luput dari gosokan, tapi mungkin berkali-kali pula dia mengingatkan si pegawai, dan berkali-kali pula si pegawai lupa.  Jadi, karena saya merasa suka, maka saya gosok saja setiap saya masuk toilet.  Bagi saya, sebuah kebahagiaan jika pembeli yang memanfaatkan toilet merasa puas dan nyaman membuang hajatnya, seperti halnya saya yang sangat menikmati toilet bersih dan harum :D

Majid, apalagi, adalah tempat kita menghadapNya.  Kekotorannya akan membuat ketak-khusyuan kita mendoa, bau yang tak sedap membuat kita `lupa` bacaan sholat.  Jadi, sekecil apapun masjid, dia harus bersih.  Membersihkannya bukan tugas takmir atau imam masjid, tapi adalah kesempatan bagi orang yang ingin menghapus dosa.

About these ads
  1. Honto ni, Sugoi da yo!
    Pantas saja Mbak Murni kangen dengan rumah (..seperti tanggapan atas comment saya…) karena saya yakin, “rumah”pun pasti merindukan anda, sejatinya “Rumahmu adalah surgamu”.
    Kami tunggu kepulangannya di Indonesia untuk membangun “Indonesia yang Bersih”.
    Gambarimasho.

  2. ass..
    hehhe.. kayaknya walaupun ngga mirip ama hobinya dg toilet…cmiiw, yang jelas aku setuju bgt ma ‘kamar mandi’,,, bagi saya, insya Alloh klo punya rumah,, meski ruang tamu, kamu tidur atopun hal lain sangat diperlukan,.. bagi saya yang utama sekali adalah kamar mandi yang nyaman…, pokoknya klo bisa malah didesain sedemikian rupa sehingga bikin betah n penuh inspirasi…hahhaha….maka dari itu jika perjalan jauh, sy hampir selalu milih tempat makan ataopun masjid yang kamar mandinya bersih, airnya banyak, dan menyenangkan.. persoalan makan,,, insya Alloh klo dah lapar apa aja jd kenyang… kekkee….dan solatpun lebih mantap dengan kebersihan badan yang kita yakin bersih dari najis(airkencing, dan kotoran) karena kamar mandi nya baik…. just for share,,,,

    murni : Pak atau Bu, saya memang penggemar toilet yg bersih, tapi ndak demen ngendon lama2, sambil berinspirasi ;D
    Di WC/toilet, kata Nabi banyak syaithonnya, jd mending jangan lama2 di situ :D

  3. hahahha…. :) jdi pengen tertawa terbahak2…. emang bener ada syetan nya… tp khan udah doa masuk wc ya khan,,,hehhee… setan sih dimana2 juga buanyak… :) tp yang penting wc tetep bersih… hehe…. btw, kalo idul adha kayak gini di sana rame ngga yah…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 172 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: