murniramli

Mengapa harus ada sekolah ?

In Penelitian Pendidikan, Renungan on Maret 11, 2008 at 2:02 pm

Jika anda ditanya pertanyaan seperti itu, apa jawaban yang akan anda berikan ?

Belum ada yang menanyakan hal itu kepada saya, dan saya juga belum bertanya kepada siapapun selain kepada anda yg membaca ini :D

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala saya saat menulis bagian pendahuluan thesis yang tidak maju2 karena terlalu banyak konsep :D

Saya kemudian merefreshingkan otak dengan membaca beberapa pendapat, mengapa dibuat sekolah ?

Kata sekolah menurut om wiki berasal dari bahasa Greek, scholeion, yang artinya institusi yang diselenggarakan untuk mendorong siswa belajar di bawah pengawasan guru.

Jadi jika dibuat story-nya berdasarkan definisi tersebut, sekolah diselenggarakan karena anak harus belajar. Untuk belajar diperlukan pengawas, yaitu guru. Kenapa tidak orang tua ? Karena orang tua harus mencari uang untuk keperluan keluarga, sehingga harus ada orang yg dibayar untuk mengawasi proses anak belajar.Lalu kenapa harus dilembagakan dalam bangunan sekolah ? ya, sebenarnya sebuah kamar juga bisa menjadi sekolah seperti model one-room school jaman baheula, tp jumlah orang tua yang tidak sanggup mengajari sendiri anaknya semakin bertambah dan anak-anak yang datang ke sekolah semakin banyak, maka kelas pun bertambah dan jadilah sekolah !

Lalu, kenapa harus belajar ?

Murid2 saya di SD Bhinneka menjawab, supaya kita pintar ! Lalu, kalau sudah pintar, tidak usah belajar ? kejar saya. Ya…belajar yang lainnya :D  Belajar bagi mereka punya tujuan yang jelas, yaitu sampai PINTAR. Jika sudah pintar di satu bidang, maka harus belajar bidang lain. Tapi saya tidak tahu apakah murid2 saya mengerti apa itu pintar ? :D

Manusia menurut historinya belajar secara informal melalui keluarga, alam dan lingkungannya. Lalu kegiatan belajar mengajar melembaga menjadi sebuah badan non formal karena adanya orang yang memiliki ilmu lebih ketimbang yang lainnya, yaitu guru, alim ulama, padhita, atau yang lainnya. Ilmu yang lebih itu kebanyakan adalah tentang pemahaman hidup atau nilai-nilai hidup.

Lalu kenapa sekolah menjadi milik negara atau dikontrol negara ?

Barangkali karena pendidikan tidak bisa dilepaskan dengan politik. Tapi, dengan berubahnya status sekolah menjadi status milik negara, maka belajar di sekolah menjadi tidak menyenangkan :-(   Karena sekolah-sekolah di bawah pengelolaan negara menjadi seragam seluruh negeri. Bahkan yang dipelajari pun sama.

Sekolah-sekolah mengacaukan esensi belajar kata Ivan Illich dalam Deschooling society (1971), anak-anak dididik dengan ketidakjelasan apakah mereka belajar untuk sebuah nilai rapor atau belajar untuk mengetahui sesuatu, mahasiswa dibingungkan dengan tujuan akhir kuliah, apakah untuk mendapatkan gelar atau membuat mereka matang dalam keilmuannya.

Jadi haruskah sekolah dihapuskan ?

Saya pikir tidak. Tetapi yang harus diubah adalah esensi pengajaran dan pendidikan di dalam sekolah. Sekolah diselenggarakan untuk mendidik anak agar memahami kehidupan orang-orang di sekitarnya, agar anak-anak termotivasi belajar lanjut terhadap sebuah ilmu yang ditekuninya.

Sekolah dibuat bukan untuk keperluan negara, tetapi untuk mencerdaskan rakyat. Sekolah yang dibuat untuk semata keperluan negara, adalah sekolah-sekolah yang tidak mengenal keberagaman, tetapi keseragaman. Sekolah yang dibuat untuk keperluan negara bertujuan untuk mencetak pekerja, bukan untuk melatih anak menjadi orang dewasa.

Jadi, mengapa harus ada sekolah ? :D

About these ads
  1. menurut saya, sekolah hanya sebuah tempat yang dilegalkan. krn disini (Indonesia) harus legal, kalo ngga’ legal susah. Boleh Putus Sekolah asal Tidak Putus Belajar. salam kenal

    murni : salam kenal juga :-)

  2. salam kenal aja

    murni : salam kenal juga

  3. Bener tuh, yang penting belajarnya. Percuma belajar bertahun-tahun tapi tidak belajar.
    -salam kenal :)

    murni : percuma sekolah bertahun-tahun tapi tidak belajar :-)
    salam kenal

  4. Jadi ingat gambar yang memperlihatkan guru yang mengajar murid-muridnya dibawah naungan pohon besar. Hahaha…nostalgia kali yah.

    Sekolah memang berkorelasi dengan pematangan ilmu. Mengajar logika dan hal-hal yang penting (walau nggak semua hal terpenting dalam hidup bisa didapat di sana)…

    Baca sedikitlah opiniku kalau sempat di : http://bisma.wordpress.com/2008/02/01/seandainya-pendidikan-kita/

  5. Sekolah memang telah membingkai kita dalam kotak-kotak “identitas” atau “cap derajat pengetahuan kita” dan dengan itu telah menjadi “alat untuk persaingan” dalam menjalani hidup. Cobalah lihat opininiku di:

    http://erfathgaraudy.blogspot.com/2008/03/sekolah.html

  6. Erfath yang kritis,

    Tulisannya sudah saya baca, menarik sekali karena jarang ada anak sekolah (14 tahun) yg mempertanyakan kenapa harus sekolah.
    Saya sudah hampir 22 tahun bersekolah tanpa pernah bertanya kenapa sy harus sekolah hehehe…
    Tp saya tdk pernah merasa malas ke sekolah sekalipun ini seakan membelenggu. Kenapa ? krn teman2 semua sekolah, jadi tak ada yg bisa kuajak bermain (^_^)

    Erfath yg pemikir,
    belajar sbgmana hidup,semestinya memang tdk perlu dikotak2kan.Keberadaan sekolah semestinya bukan untuk membatasi keinginan belajar kita tetapi mendorong kita u belajar lebih banyak lagi di luar sekolah, sebab jam belajar sekolah hanya separuh dari 24 jam waktu yg kita punya.

    Pelajaran yg diberikan alam, sikap perilaku orang2 di sekitar kita sebenarnya lebih memberikan makna yg dalam kpd proses pemahaman ilmu yg diajarkan di sekolah.

    Btw, jk merasa terkungkung dg sistem ijazah per ijazahan, atau formalitas sekolah, maka nikmati saja ilmu yg didapat di sekolah. Kalau gurunya tdk membuatmu puas belajar, belajarlah dari sumber yg lain yg bisa kau jangkau. Anggap saja sekolah sbg wahana melatihmu untuk menjadi manusia sosial yg tertib (^_^), sebab di rumah belum tentu kau akan patuhi ayah ibu.

    Ijazah hanya selembar kertas yg menjelaskan bahwa kita sdh melewati fase sekolah. Jk ini tdk ada, maka jk kita masuk fase bekerja, tak ada yg mampu menjelaskan apa yg kita bisa. Jika kita ingin belajar lagi, tak ada yang menguraikan apakah 1 + 1 sudah pernah kita pelajari.makanya dibuatlah ijazah sebagai cap kemampuan basic kita.
    Tp tentu saja perusahaan tdk bodoh. Ijazah hanya sbg lembar hitam di atas putih yg menjelaskan kemampuan dasar pelamar kerja, kemampuan yg lainnya tentu akan dia uji lebih cermat lagi.

    Pekerjaan hanya sebagian yg berkorelasi dg sekolah. Karenanya sekali lagi, jangan bersekolah krn bercita2 mendapat pekerjaan yg wah. Tetapi bersekolah seharusnya krn ingin mjd orang yg berilmu.
    Pekerjaan apapun jika seseorang bisa mengamalkan ilmu yg diperolehnya bukankah juga mrpk sumbangan untuk sebuah kemajuan besar ?
    Sebab tdk semua orang harus menjadi dokter, sekalipun semua anak bercita2 menjadi dokter atau orang tuanya menginginkannya. Ada yang harus berprofesi sebagai tukang buat obat, tukang bersih-bersih di rumah sakit, tukang sampah, dll, kecuali jk manusia semakin sedikit jumlahnya di bumi, dan kita harus membuat robot untuk menjalankan pekerjaan2 itu, spt yg tjd di Jepang sekarang.
    btw, saya membuat tulisan di atas bukan untuk membubarkan lembaga sekolah dan menjadikan anak2 benci sekolah, tp agar sekolah makin benar menjalankan fungsinya

    ok, saya yakin kamu tdk bosan sekolah. sebab ketahuilah kehidupan di luar sekolah lebih membosankan (^_^)
    btw, bangun jam 05.30 bukannya sdh kesiangan u menunaikan sholat subuh (^_^)

  7. JIKA Andreas Harefa dengan bukunya “menjadi pembelajar sejati” lebih memilih drop out kemudian melacurkan diri dalam sekolah kehidupan…dan ternyata belajar di sekolah kehidupan menjadikan dirinya lebih bermakna….. tetapi bagi saya sekolah adalah TEMPAT BERSILAH UKUWAH…Kalau ga di IPB mungkin saya juga kenal ama Murni…., di sekolah saya belajar bagaimana berpikir (materi yang diajarkan di sekolah mungkin sudah banyak yang lupa, tetapi bagaimana berpikir..sistematis, kritis, holistik, dll itu diajarkan di sekolah). Saya ingat ketika di IPB….dosen-dosen selalu bilang cara berpikirmu harus sistematis dan holistis….terus diulang-ulang…. sekolah juga mengasah keperdulian saya….saya ingat, ketika di SMA guru saya menyuruh saya menggambar 3 pohon (mangga, nangka, dan pinang) tetapi luar biasa dari menggambar tersebut kita belajar empati, keperdulian, kecintaan pada alam, kebesaran alloh, dll (terlalu banyak jika diceritakan), sekolah juga mengajarkan pada saya tentang berbagi (saya dari keluarga kecil, yang masing-masing diberi barang sendiri-sendiri, jadi relatif sulit berbagi). Jika ivan illovich memandang SEKOLAH ADALAH PENJARA KEHIDUPAN… maka wajar karena ia hidup di Uni Sovyet…bagi saya yang hidup di Indonesia…SEKOLAH IBARAT GARAM… DAN KEHIDUPAN ADALAH SAYURNYA…dan para guru adalah pembuat garamnya….Orang-orang yang mengatakan sekolah tidak perlu dan sekolah adalah penjara, saya yakin mereka adalah orang yang trauma pada gurunya, jadi guru mereka tak berhasil membuat garam. Alhamdulillah saya selalu punya guru pembuat garam yang baik disetiap jenjang….Guru yang kemudian menginspirasi hidup saya sekarang….SO…SEKOLAH INDAH, JIKA KETEMU GURU INSPIRING….

  8. memang sudah saatnya menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar. bagaimana caranya?semoga para guru mengerti….

  9. Terima kasih atas balasannya “pak” atau “bu” murni? he..he maaf! karena ibu tak tampak wajahnya.. kecuali hanya setangkai bunga..
    Maksud saya, sekolah secara “formal”telah memasung “kesempatan” seseorang untuk menunjukkan kemampuannya dalam satu “posisi tertentu”. Koran kemarin membuktikan itu. Melalui UU Pemilu yang baru disyahkan DPR yang mensyaratkan minimal sarjana S1 bagi calon presiden… MAKA KITA UCAPKAN INNALILLAHI WAINNAILAIHI RAJIUN bagi BU MEGA…. Dengan “CAP IJAZAH S1″ dia dianggap tak layak jadi PRESIDEN… Sekalipun waktu telah membuktikan bahwa beliau pernah dan mampu jadi presiden..
    Btw, saya bangun jam 5.30.masih boleh subuh kan?

  10. Nak Erfath yang pinter…

    Kalimatnya bagus sekali : ‘memasung kesempatan’ Tp apkh benar sekolah yang memasung secara formalitas kesempatan orang duduk di posisi tt atau manusialah yg memasung seseorang u tdk bisa menduduki posisi tt :D

    Saya ingin tahu bgm sehrsnya mnrt Erfath pendidikan atau sekolah itu hrs diselenggarakan ? Lalu jk sekolah dikatakan membuat formalitas baru yg menghalangi orang berkedudukan, maka baiklah, mari kita coba abaikan itu. Lalu kita pikirkan kriteria apa yg harus dibuat o seorg pembuat keputusan u memilih pegawai/pekerjanya ? Apk kita pakai saja kriteria jaman batu bhw seseorang mjd raja/penguasa krn kekuatannya, atau hartanya atau keturunan ?

    Anggaplah Erfath pemilik sebuah bisnis. Bgm Erfath memilih calon pekerja scr terukur, bgm menilai pelamar dg curiculum vitae yang hanya menyebutkan saya pernah belajar di Mbah anu di gunung Kidul ?

    Bukankah akan lebih praktis dan mudah dipahami oleh semua manusia di seluruh dunia, jk di CV-nya seorang pencari kerja menuliskan saya lulus pendidikan dasar 6 tahun, pendidikan menengah 6 tahun dan pendidikan tinggi 4 tahun. Sebab kita punya pemahaman yg sama dg term2 tsb.

    Termasuk kriteria S1 u menjadi presiden, saya pikir memang hrs ada batasan/parameter yg dipakai sebagai dasar seleksi untuk menentukan siapa yg berhak menduduki jabatan tt. Prinsip ini sama dg kriteria seleksi alam thd makhluk di muka bumi, yg kriteria seleksinya ditentukan oleh Allah secara prerogratif.

    Kriteria capres yg ada seperti jujur, mampu, bisa, bertakwa, adalah kriteria yg sulit diukur, dan hanya diketahui oleh org2 dalam skala kecil saja. Hanya org dekat Bu Mega saja yg mengetahui sikap perilaku dan kemampuan Ibu Mega yg sebenarnya. Yg kita saksikan selama ini saat beliau mjd presiden, bukanlah kemampuan personalnya tp kemampuan org2 di balik layar (think thank)nya. Kasihan sebenarnya, karena kadang2 beliau harus melakukan sesuatu yg mungkin bukan keinginannya tp keinginan sekelmpk orang. Tdk hanya Ibu Mega, tp presiden yang lain sama juga.
    Mampu atau tidaknya Bu Mega mjd presiden sangat tdk bisa diclaim tanpa analisa kemajuan dalam bentuk angka dan kualitas.

    Tdk hanya capres yg akan distandardisasi kriterianya dg mempergunakan academic background, tp guru pun skrg sdh ditetapkan hanya lulusan S1 yg bisa menjadi guru. Jk tdk dmk, maka tidak akan lahir anak2 secerdas Erfath, jk gurunya hanya lulusan kursus Mbah anu.

    Saya pribadi mempersyaratkan capres harus lulusan S2, bukan S1 lagi, bahkan kalau perlu ada tambahan pernah kuliah ketatanegaraan :D
    Kenapa ? Krn saya sepaham dg pandangan umum ttg kemampuan org 2 yg bersekolah hingga S2, sebab saya sendiri sdh melewatinya :D

    btw, jam 07.00 pagi pun org masih boleh sholat subuh kan ? (sdh diajari kan ttg keringanan ini di pelajaran agama ? :D )
    tp mestinya sdh diajari juga bhw sholat subuh waktunya sebelum matahari terbit. setlh mthr terbit kira2 15 menit mk itu sdh waktunya sholat dhuha (pelajaran SD) :D
    Kecuali saya di Jepang, boleh kadang2 pada bulan tt sholat subuh jam 5.30 (ini sdh diajarkan juga kan di IPA ?)

    OK, selamat berlajar !

  11. Sekolah yah?
    Kenapa harus sekolah?
    Dulu saya sekolahnya pindah-pindah karena ikut orang tua
    Tapi itu semua menyenangkan
    Saya bukan orang yang rajin belajar disekolah, karena belajar dapat dimana saja
    Tapi ketika disekolah bertemu teman2, jajan, dimarahi ibu guru, nakal, ujian, memberikan kesan tersendiri yang akan selalu dikenang sepanjang hayat,
    Yah karena sekolah tempat berkumpulnya banyak orang dengan berbagai karakter, sekolah tempat kita tumbuh.
    Sekolah bukan cuma ditempat yang dilegalkan pemerintah, tapi juga tempat yang dimana kita bisa belajar dari siapa saja..
    Saya sangat mencintai sekolah, begitu banyak kenangan diciptakan
    Begitu banyak ukhuwah yang dijalin disana
    terlalu sulit untuk melupakan bahwa sekolah adalah tempat yang asyik walaupun terkadang ingin tidak kesekolah tetapi ketika dirumah sendiri terasa sepi, selalu ingin kesekolah.

  12. Bu Murni yang sabar…

    Justru dengan kriteria yang dibangun secara formal oleh sekolah itulah kita jadi terkotak-kotak dalam derajat, jenjang, kekhususan keahlian dan sekaligus penegas ketidaktahuan pada bidang lain.

    Alangkah eloknya kalau “ijazah formal” itu tidak dikeluarkan oleh lembaga sekolah tetapi oleh institusi independen yang dilengkapi alat ukur tertentu sesuai dengan kriteria yang diinginkan” Dengan ini setiap orang tanpa dibedakan dari manapun ia memperoleh pengetahuan kalau ingin diteguhkan kemampuannya datanglah ke lembaga idependen itu dan minta diuji sesuai kriteria yang diinginkan.

    Sebagaimana terjadi pada Hussein Tabataba’i, yang memperoleh gelar Doktor Honoraris Causa pada usia 5 tahun. Ayatullah Mohsen Qiraati, Mufassir Kontemporer Iran mengakui kehebatannya sebagaimana dikatakannya :
    “Saya telah menggeluti Al-Quran selama lebih dari 20 tahun, namun kini kembali menjadi murid yang harus menulis catatan di buku pelajaran. Apa pun yang ia (Husein) katakan, saya catat. Saya dengan bangga menyatakan diri sebagai murid dari guru yang masih berusia 5 tahun ini!”

    Juga Ayatullah Hashemi Rafsanjani secara implisit menegaskan bahwa sekolah nonformal yang dilakukan Husein telah meruntuhkan mitos metoda alih pengetahuan formal yang selama ini dipandang paling benar : “Sayyid Husein memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan para peneliti seharusnya melakukan penelitian mengenai bagaimana metode Husein dalam menghafal dan memahami Al-Quran.” .

    Atau kisah STEPHEN WOLFRAM, a new kind of physicist.
    Ketika masih sekolah menengah di Eaton, Inggris, ia belajar sendiri fisika tingkat advanced pada usia 12 tahun. Saat umurnya baru 15 tahun makalahnya
    di bidang fisika teori sudah muncul di jurnal fisika. Tak betah belajar dari guru dan dosen, ia lalu melahap berbagai buku teks kelas berat.

    Pertama kali kuliah di Oxford, ia masuk semester satu. Sangat tidak menarik baginya, ia langsung menghadiri kuliah semester enam. Juga tidak cukup menarik, ia lalu memutuskan tidak pernah masuk kelas lagi. “Saya dapat mengetahui berbagai hal jauh lebih cepat dan lebih mendalam dengan membaca daripada mendengar dosen ngomong,” begitu alasannya menyebut kuliah sebagai
    kegiatan buang waktu. Hebatnya, ia mampu menghasilkan puluhan makalah di bidang kosmologi dan fisika partikel yang dimuat pada jurnal-jurnal fisika kelas tinggi.

    Tidak sampai tamat S1 dari Oxford, ia langsung direkrut oleh raksasa fisika peraih nobel dari California Institute of Technology (Caltech), Murray Gell-Man, tahun 1978 dan masuk program doktor. Di kampus ini, di mana Richard Feynman, fisikawan legendaris lainnya bermukim, Wolfram juga tampak kurang tertantang. Agar ia betah, maka program doktor khusus diberikan
    padanya. Dalam tempo setahun saja, ia mendapat PhD pada usia 20 tahun tanpa harus membuat disertasi, tetapi cukup membundel ulang enam makalah terbaiknya. Pergaulan intelektual tingkat tinggi antara doktor remaja Wolfram dengan fisikawan dewa sekelas Feynman dan Gell-Man tampaknya sanggup membuatnya kerasan selama 10 tahun di Caltech. Tapi, akhirnya ia bentrok
    juga dengan administratur institut itu perihal komersialisasi temuan-temuannya.
    Usia 31, ia diterima di Kampus Einstein yang legendaris, The Institute for Advanced Studies di Princeton. Wolfram tercatat sebagai anggota termuda institut itu sepanjang sejarah. Tapi, kampus penelitian paling bebas di dunia ini pun ternyata tidak sanggup menyediakan ruang bagi
    kebebasan gerak dan independensi intelektual yang dituntut Wolfram. Akhirnya tahun 1986 ia mendirikan Wolfram Research Inc, institusi penelitian pribadinya. Di sinilah ia menggabungkan bisnis dan riset secara bebas yang
    berpuncak pada lahirnya mahakarya TNKS yang menggemparkan itu. Dalam rangka mengembangkan TNKS, Wolfram harus pula mengarang Mathematica- sebuah sistem software yang digunakan untuk keperluan komputasi teknikal dan pemrograman simbolik. Ini persis seperti Newton yang harus mengarang dulu kalkulus diferensial agar bisa menjelaskan gravitasi dan Einstein yang harus mengonstruksi dulu sebuah aljabar empat dimensi agar bisa menjelaskan relativitas.

    Bedanya, kedua pendahulu Wolfram itu cuma ilmuwan murni yang hidup dari dana negara sedangkan Wolfram sekaligus entrepreneur
    kawakan yang pandai mencetak uang dalam setiap langkahnya menuju puncak sains tertinggi.

    KISAH Wolfram tampaknya tak pernah dibayangkan orang ketika memikirkan fisika. Bagi awam, fisika adalah ilmu esoteris yang tak jelas manfaat praktisnya. Sarjana fisika biasanya tak berduit. Pekerjaannya biasanya dosen. Otak mereka dipenuhi atom-atom, galaksi-galaksi,
    dan persamaan-persamaan matematika yang eksotis. Konon Einstein sendiri pun pernah mengatakan, “Science is a wonderful thing
    if one does not have to earn one’s living at it.”
    Kisah ini juga menginspirasi. Jadi ilmuwan tidak perlu takut dengan formalitas ijazah. Dengan pengetahuan mampu mandiri dan menjadi orang terkaya baru di dunia.

  13. Nak Erfath yang hebat !

    Saya kagum dengan bacaan-bacaanya.
    Kisah yang diajukan di atas adalah orang-orang dengan kemampuan khusus (gifted person).
    Saat ini sedang ramai dibicarakan ttg pendidikan untuk gifted children di banyak negara, termasuk Indonesia.
    Makanya ada kelas akselerasi, dan saya pikir Efrath bisa masuk ke kelas ini karena kejeniusannya.

    Saya tidak tahu berapa persen pastinya anak2 yg demikian (sangat jenius), tetapi saya yakin jumlahnya kecil. Untuk mereka pendidikan sekolah memang tidak cocok. Atau kalau boleh saya katakan, sekolah belum mampu memberikan yang terbaik untuk mereka.

    Kalau kita runut, diskusi kita memang melebar, sehingga barangkali ada baiknya kita fokuskan kepada pendidikan untuk orang kebanyakan, sekalipun memang akan mengabaikan si brilian.

    Saya mencoba meluruskan kembali arah diskusi kita, kira-kira kesimpulan sementaranya begini :
    Erfath : tdk setuju dg formalitas sekolah atau tidak setuju dg adanya sekolah
    Murni : Setuju ada sekolah tetapi tdk setuju dg pengelolaan pendidikan di sekolah yg terlalu memihak kepentingan negara (saya sebut di tulisan lain, obsesi negara), dan bukan kepentingan murid

    Erfath : ijazah sekolah tidak penting, yg penting ada ijazah yg dikeluarkan lembaga independen ttg keahlian seseorang.
    Murni : ijazah sekolah penting, selama konsensus universal masih mengakuinya.

    Erfath : mencontohkan orang2 sukses bekerja tanpa melewati urutan sekolah formal
    Murni : Contoh tersebut tidak berlaku untuk orang awam, shg tidak bisa dijadikan alasan untuk generalisasi.

    Kira-kira demikian arah diskusi kita.
    Sekarang mari kita fokuskan kepada pembicaraan sekolah dan ijazah untuk orang-orang awam.
    Memang sudah menjadi sunatullah bahwa ada anak yg diberi talenta tertentu. Imam Syafii pun sama dengan Husein, menghafal dalam usia sangat muda, tetapi bedanya dia tidak mendapat Doctor Honoris Causa, tetapi semua orang mengakui kepandaiannya. Sebagaimana kita mengakui kebrilianan Imam Bukhari, pengumpul hadits yang tiada bandingannya hingga kini.
    Mereka semuanya tidak punya ijazah. Tapi karya-karyanya demikian banyak sehingga kita tdk bisa menyangsikan kemampuannya.
    Seandainya Universitas sudah ada pada waktu itu, maka mereka pastilah akan memperoleh honoris causa, atau bahkan menjadi professor yang tidak perlu melewati seleksi.

    Pembicaraan terhadap mereka yg brilian harus dikhususkan ke wacana khusus, sebab pendidikan untuk mereka memang tidak bisa disamakan dengan anak2 rata-rata. Kalau dalam kurva sebaran normal mereka adalah kelompok ujung kurva.

    Sekarang kembali kepada orang2 normal. Bisakah mengatakan kepada semua ilmuan bahwa mereka tidak perlu takut dg formalitas ijazah ? Atau dg kata lain, mereka tdk usah menempuh pendidikan post graduate, cukup mengandalkan ‘keilmuan’nya saja u melamar pekerjaan di zaman sekarang ?
    Saya pikir ilmuwan kebanyakan tetap akan mempertaruhkan waktu, tenaga dan uang untuk menempuh pendidikan lebih tinggi.
    (Menarik untuk mensurvey orang2 apk mereka yakin dapat kerja tanpa ijazah :D )

    Ide pemberian ijazah kepada lembaga independen menarik, barangkali ini yg mau diusung di Sekolah Bertaraf Internasional di Indonesia yg mengadopsi model Ujian Cambridge misalnya.
    Spt halnya ijazah TOEFL untuk kemampuan berbahasa Inggris, atau nihongo noryoku shiken (bahasa Jepang). Atau sertifikat yg diberikan kpd luluasan SMK atas keahliannya merakit peralatan elektronik misalnya. Ini pernah saya tulis tentang ujian keahlian SMK di Jepang.

    Saya sangat setuju dengan adanya ijazah independen yg khusus menilai kemampuan khusus seseorang. Tp ijazah sekolah adalah penilaian thd kemampuan basic/standard yang seharusnya dimiliki oleh semua orang yang bersekolah.

    Saya luaskan pembicaraan dengan tema baru homeschooling, karena ini ada kaitannya ttg keberadaan sekolah. Org tua yg merasa anaknya tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah, atau karena pendidkan di sekolah tdk memberikan yg terbaik kpd putra-putrinya, terpaksa menyekolahkan anaknya di rumah. Dan terbukti, anak2 tsb berkembang dengan sangat baik bahkan melebihi kemampuan anak2 di sekolah biasa.
    Namun, sangat disayangkan bahwa tdk semua orang tua dapat menjalankan homeschooling untuk putra2nya. Karenanya mereka mengirim anak2nya ke sekolah, sebagaimana sudah saya ungkap pada tulisan di atas.
    Para ahli dan pelaksana homeschooling juga mengakui, bahwa mereka tdk mengatakan sekolah tidak bagus, tetpi sekolah belum mampu memberikan yg terbaik u anak2.
    Jadi, sekali lagi homeschooling pun hanya exceptional yg tidak bisa disentuh masyarakat pd umumnya. Kembali kita harus memikirkan bagaimana agar sekolah dapat menyamai pendidikan yg diberikan kepada2 anak2 yg homeschooler, atau dg kata lain bgm sekolah dapat mendidik anak2 dengan baik untuk tujuan anak, bukan untuk kepentingan orang tua apalagi negara.
    Ini menjadi main point bagi kami yg bergerak di dunia pendidikan.

    Terima kasih atas masukannya dan selamat belajar !

  14. Terima kasih bu, atas kesediaannya untuk terus menjawab komentar saya.

    Sebetulnya tulisan saya terinspirasi oleh kenyataan sehari-hari yang saya temui tentang berbagai hal yang kemudian terkait dengan pertanyaan: “apa dan bagaimanakah keterkaitan (sekolah formal) dengan ukuran kemampuan seseorang serta hak-hak dan kewajiban yang menyertainya?”.

    Sebagaimana juga tulisan awal ibu yang dimulai dengan pertanyaan Mengapa harus ada sekolah? yang didalamnya memuat wacana sekolah yang saling dikontradiksikan dan direlasikan: pengawas-keluarga, belajar-pintar, negara-rakyat, formal-non formal dst. Satu ciri berpikir untuk lahirnya pencerahan baru.

    Saya beruntung komentar saya ditanggapi oleh Bu Murni yang kandidat doktor..
    Terima kasih ya bu….

  15. Nak Erfath yang baik,

    Terima kasih juga sudah menuliskan persepsi dan pandangan yang sangat apik tentang pemaknaan sekolah. Pembaca tulisan saya menjadi lebih paham dan kaya wawasan dengan tambahan ini.

    Saya lebih beruntung karena bisa berdiskusi dengan anak jenius yang insya Allah Indonesia tidak perlu khawatir nantinya.

    Terima kasih juga sudah intens berkunjung,
    Salam hangat u ayah dan bunda, serta adik2
    (ternyata ayahanda seorang dosen ya, saya sudah ngintip blognya, gaya paparannya persis sama dengan Nak Erfath-like father like son)

    Selamat belajar.

  16. Karena kita masih memerlukan sertifikasi (tanda kelayakan). Ada nilai-nilai yang bisa distandarkan dalam sertifikasi itu. Nilai-nilai yang diharapkan bisa memenuhi standar lainnya, semisal kelulusan. :D

  17. Sekolah? Saya tak suka ke sekolah. Tapi, saya mau sekolah karena mematuhi orang tua. Belajar? Saya tak suka apa yang diajari Bapak/Ibu guru. Tapi, mau apa lagi…, kalau tak dipelajari dan dipahami, nanti nilai ulangan jelek; orang tua menjadi malu. Kini, saya menjadi peneliti dan pengajar. Saya mempelajari apa yang saya mau, tetapi saya mengajar apa yang kurikulum mau. Dan, saya menghidupi istri dan anak dengan berdagang.

    murni : di Bangladesh ada sebuah program bantuan kpd orang miskin yg diberikan kpd orang tua berdasarkan kehadiran anak di sekolah. Saya tdk tahu apakah ini ada gunanya. Tp datanya menunjukkan angka melek aksara meningkat dengan program ini.
    Seandainya orang tua tidak ada, atau tidak ada yang harus ditakuti dan dibuat malu, apakah anak akan tetap berangkat sekolah ya ?

    Saya mungkin agak berbeda dengan Bapak karena saya sangat mencintai sekolah, sehingga saya masih sekolah sampai sekarang, dan kalau bisa seterusnya saya mau sekolah sambil bekerja :D seperti dulu.
    saya mungkin tidak sama dengan Bapak yg berhasil sudah menemukan `ilmu` di luar lembaga sekolah. Saya masih haus mencarinya di lembaga sekolah.

  18. Meskipun belajar dapat dilaksanakan dimana saja, kalo menurut saya sekolah masih tetap diperlukan, apalagi budaya malas masyarakat kita yang relatif masih kuat, jadi belajar masih harus diprogram, dimotivasi, diawasi, sebagaimana di sekolah. Yang penting bagaimanapun juga sekolah harus dapat membangun budaya bagi para lulusannya untuk mau dan mampu belajar terus, dalam berbagai lingkungan hidupnya.
    Saya tetap melihat bahwa sekolah selain harus dapat memenuhi kebutuhan pribadi, tapi sekaligus akan memenuhi kebutuhan orangtua maupun negara.

    murni :setuju dalam beberapa hal :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: