murniramli

Karena cita-cita itu setinggi langit

In Renungan on Mei 27, 2008 at 1:09 pm

Gantungkan cita-citamu setinggi langit, begitu yang sering disampaikan Bapak/Ibu guru saya dulu. Saya tidak paham arti kalimat itu selain bahwa setinggi langit itu sama dengan menjadi doktor, insinyur, pengacara, pejabat, dan beberapa profesi prestigious lainnya.

Belum pernah terpikir bahwa cita-cita setinggi langit itu adalah menjadi guru. Apalagi profesi yang dipandang kebanyakan orang sebagai profesi rendah.

Jika saya ditanya oleh murid-murid, kenapa cita-cita harus setinggi langit, sekarang saya tahu jawabannya.

Cita-cita setinggi langit adalah sesuatu yang absurd karena tidak ada yang tahu berapa tingginya lagit yang seakan memayungi bumi. Dan karenanya mempunyai cita-cita setinggi langit adalah sesuatu yang tidak ada batasnya.

Ketika seorang anak mengatakan saya ingin menjadi supir truk, maka guru tidak boleh tertawa.  Karena itulah cita-cita.  Bagi si anak barangkali saat itu yang menjadi idolanya adalah supir truk.  Yang ada di dalam mimpinya, supir truk adalah yang terjago, karena mobilnya besar dan gagah.  Guru harus mengatakan: Nak, itu cita-cita yang mulia.  Kalau engkau sudah menguasai seluk-beluk truk-mu, cobalah rancang truk yang bisa nyaman dipakai, cobalah buat truk yang tidak boros bahan bakar yang bisa membantu Pak tani mengangkut hasil panennya ke pasar dengan murah dan mudah. Gantungkan cita-citamu setinggi langit, Nak !

Bahwa menggantungkan cita-cita ke langit adalah sesuatu yang mustahil, apalagi menggapainya. Tetapi spiritnya mengajarkan bahwa langit adalah sesuatu yang membutuhkan kerja keras untuk menggapainya.  Sebagaimana kenapa selalu dikatakan surga itu di langit Allah.  Begitulah, karena surga adalah tempat yang membutuhkan kerja keras untuk memasuki apalagi menghuninya selamanya.

Karena cita-cita kita setinggi langit, maka kita seharusnya tak boleh kehabisan semangat dan keyakinan kepadaNYa untuk mencapainya. Ketika telah menjadi guru, inginkanlah menjadi guru yang lebih baik, lebih mulia.  Ketika sudah menjadi Professor, maka jadilah professor yang tawaddhu dan mulia. Yang karenanya bukankah hidup ini akan menjadi senantiasa bergerak dan bersemangat.

About these ads
  1. Betul…selucu apa pun cita-citanya…jangan ditertawakan. Traumanya bisa sampai gede lho…

    Semangat terus!

  2. ngga terima…ngga terima… masa mau jidi supir truk kok disuruh merancang truk dan membuat bahan bakar murah ? gimana ini… supir truk ya… supir truk. Jadi supir truk yang baik, patuh pada peraturan lalu lintas, supir yang lihai he..he…
    Di sini anak-anak yang selesai TK atau taman bermain (hoiku-en) setelah menerima piagam akan mengucapkan cita-citanya… biasanya semua ingin jadi olah ragawan (pemain base ball atau sepak bola). Yang perempuan biasanya penjual bunga atau roti.
    wassalam,
    gunawan

    murni : ya….namanya juga setinggi langit :D

  3. Suatu saat anak saya yang baru 5 tahun saya ajak ngobrol biar tidak ngantuk. Dia duduk di depan saya di motor. Barusan dari rumah mbahnya dan di sana nonton berita kebakaran di Jakarta. Dia bilang cita-citanya ingin jadi pemadam kebakaran biar bisa selamatkan orang. Saya bilang, “Bagus, saya setuju.” Beberapa saat kemudian saya sambung, “Tapi mungkin bagus juga jika kamu bisa membuat rumah yang tidak bisa terbakar. Jadi tidak perlu ada korban kebakaran yang harus ditolong.” Mendengar itu dengan bersemangat dia bilang, “O ya, ya. Itu lebih bagus.”
    Bagi saya memotivasi sangat penting dilakukan oleh orang tua dan guru. Saya berusaha melakukan hal itu. Akibatnya anak saya sering menambah cita-citanya seiring dengan inspirasi yang ia dapatkan. Ia pernah ingin jadi guru (seperti bapaknya), ia ingin menjadi ustadz (seperti bapaknya juga), ia ingin jadi ilmuwan (karena sering melihat saya mengutak-utik sesuatu), dan terakhir ia juga ingin menjadi pelatih lumba-lumba (yang ini saya belum tahu dari mana inspirasinya).
    Pendek kata saya selalu mendukung apa pun yang dicita-citakannya. Saya cuma bilang, “Asalkan bermanfaat bagi orang banyak. Asalkan bukan jadi penjahat.”
    Dan sorot matanya selalu memancarkan rasa puas dan optimis.

  4. sy mengajar playgroup dmn fantasi benar2 masih terjaga, imajinasi juga, cita2nya seperti menjadi barbie, ultramen dsb, sebagai guru kita jgn sampai menyepelekan, hrs terus menjunjung tinggi harga diri anak agar mjb percaya diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: