Saya sedang mengerjakan terjemahan paper seorang peneliti Jepang tentang bahasa yang terancam punah di Indonesia Kajiannya sangat memukau dan membuat saya sebagai orang Indonesia merasa malu dan tiba-tiba saja saya rindu bahasa Bugis dan kampung halaman di Bone.
Kalau mengenang bahasa-bahasa yang saya sudah pelajari, maka bahasa Bugis adalah bahasa ibu yang beberapa kosa katanya masih melekat di kepala.Tapi jika diukur dari kemampuan bicara, saya lebih pandai berbahasa Jawa daripada bahasa Bugis.
Sekarang rasanya hampir 70% kosa kata bahasa Bugis saya hilang, dan saya lebih pandai berbahasa Jepang daripada bahasa ibu saya.
Dulu, mamak sering menyanyikan lagu ini (saya kutip dari sini)
Labuni essoe
Labuni essoe turunni uddanie
Wettunnani massenge’ ri tau mabelae
Mabelani laona tengnginana taddewe’
Tekkarebanna pole, teppasenna poleWaseng magi muonro ri dolangeng
Temmulettutona temmurewetonaIyami ripuada idi tea iyya tea
Idi temmadampe iyya temmasenge
Idi temmadampe iyya temmasengeAjamua mupakkua menreppa ri cempae
Uanrei buana na mecci elo’mu
Uanrei buana na mecci elo’muMecci elo manre cempa
Waena kalukue mappasau-sau dekka
Waena kalukue mappasau-sau dekkaArtinya seperti ini :
Telah Rembang Petang
telah rembang petang telah datang kenangan
saatnya kukenang tentang engkau di kejauhansungguh jauh engkau pergi melupakan pulang
tak ada kabar datang, tak ada pesan datang
gerangan mengapa engkau tinggal di angan-angan
sampai tak sampai, kembali tak kembalibegini saja kita katakan; engkau tak ingin, aku tak ingin
engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamu
engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamutetapi janganlah engkau lakukan, jika kupanjat pohon asam
dan aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu
dan aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu
jika kering liurmu ingin mencicipi buah asam
segelas air kelapa menghapus seluruh haus segelas air kelapa menghapus seluruh haus
Lagu ini selalu dinyanyikan mamak saat kami minum teh di sore hari.
Kalau direnungi artinya lagu ini adalah bentuk kerinduan kepada kampung halaman, atau kerinduan seseorang kepada kekasihnya yang pergi merantau, atau kerinduan seorang anak kepada ayah yang sedang pergi.
Beruntunglah kakak dan adik saya yang masih pandai bercakap bugis, karena bapak dan mamak masih menggunakannya di rumah.
Bahasa daerah mulai dimasukkan sebagai muatan lokal di beberapa sekolah di Indonesia, tetapi bagaimanapun juga kedudukannya masih bahasa kedua setelah bahasa Indonesia, padahal di daerah terpencil, di suku minoritas, bahasa daerah adalah satu-satunya bahasa pengantar setempat.
Semestinya ada upaya untuk melestarikan ini di sekolah. Ayo, belajar bahasa daerah !
thanks sudah mengunjungi blog tanah bone, blog itu memang sengaja saya buat agar orang2 bone yg sedang berada diperantauan terutama yg lahir dan besar di daerah rantau dapat mengetahui tentang kampung asalnya…… salam kenal dari saya mbak, agatu kareba?? tega monro kampo’ta di bone??
Terima kasih juga sudah meninggalkan komentar,
Alhamdulillah, baek-baek sajaka
kamponna bapakku Ujung Lamuru, kamponna emmaku Taddagae
dan saya lahir di Ujung Pandang
Jawabannya aga kareba mah baji-baji uni…
Kalo baek-baek mah betawi punye…
murni : ooh, gitu ya
assalamu’alaikum… he… goggling “tanah bugis” menghantarkanku ke blog ini. Tulisan ini pas banget ama yang aku rasakan. Alm Ibuku orang Bone dan Alm Bapak orang Sinjai, Lahir dan besar di Surabaya, Sekolah Penerbangan di Tangerang, Kerja di Irian dan sekarang terdampar di Medan Sumatera Utara he…
Tapi ada suatu hal yang saya rasakan sekarang ini.. “darah bugis” is calling.. ada kerinduan yang begitu besar untuk kembali ke Bugis. Ingin rasanya menghabiskan sisa waktu di tanah Bugis tapi… ah.. biar Allah aja yang nentuin jalan hidup ini. Insya Allah bulan depan (February) pengen nengokin ponakan di BTN Pepabri Watampone. Lebih bisa berbahasa jawa dari Bugis… sekarang bahasa bugisku lebih payah dari bahasa Inggris he… bisa kualat nih lupa ama bahasa sendiri. Ok. Salam Kenal… mungkin kita bisa saling ber email ria. aku di: get2herman@yahoo.com. atau http://www.iatcamedan.org. tks
wa alaikum salam,
salam kenal juga, Pak Herman.
ya, karena tdk dipakai, maka lambat laun bahasa ibu menghilang