murniramli

Berangkat Haji

In Islamologi, Renungan on Desember 7, 2009 at 7:01 am

Hari Sabtu, 5 Desember 2009 pkl 3.10 sore, alhamdulillah saya mendarat di bandara Chubu, Nagoya setelah selama kurang lebih dua minggu berkesempatan menunaikan ibadah haji.

Hari Ahad, 6 Desember 2009 teman-teman di Nagoya membuat saya terharu dengan acara syukuran kepulangan saya. Keluarga Pak Roni memprakarsai dan bapak ibu yang semoga semuanya dirahmati Allah, membawa penganan sangat istimewa.

Hari Senin, 7 Desember 2009 pkl 9.20 saya mulai mengajar kembali dengan suara yang hampir hilang dan badan masih lemah. Hari ini ada dua mata kuliah yang harus saya sampaikan dengan selang istirahat hanya 5 menit. Mahasiswa kelas kedua meminta saya bercerita tentang pengalaman haji. Saya katakan suara saya habis, dan menjanjikan minggu depan akan membawakan foto-foto dan bercerita.

Hari ini juga, pkl 13.10 saya berjanji menemui Professor untuk melengkapi isian administrasi penyelesaian disertasi. Sangat mengagetkan saya karena saya disambut dengan sangat hangat, disertai dengan beberapa lembar informasi tentang Jeddah, Mecca dan Medina yang sengaja dicari Prof dari internet. Ternyata keberangkatan saya sangat mengkhawatirkan beliau, apalagi ada bencana banjir di Jeddah. Saya serahkan oleh-oleh coklat kurma dan relief masjidil haram. Beliau mengucapkan terima kasih berulang-ulang sambil mengatakan, “Kalau tidak karena kepergian Murni san ke sana, kami tidak akan pernah tahu tentang negeri Arab”

Sebelum berangkat haji, tgl 17 November, satu jam sebelum ke bandara, saya masih sempat menyetorkan draft disertasi lengkap ke Prof dan mengirimkan email buru-buru, mengabarkan kalau saya harus segera terbang. Hari ini seharusnya saya menyetorkan isian formulir disertasi, tapi karena kemarin saya sakit, hari ini juga masih batuk, maka isian masih kosong melompong. Prof tampaknya prihatin sekali, jadi beliau memberikan contekan isian mahasiswa yang sudah lulus :D  dan besok kami membuat janji konsultasi lagi.

Pergi haji adalah misteri. Setelah mulai menabung sejak tahun 1995 untuk keperluan ini, saya baru bisa menunaikannya setelah 14 tahun. Sebenarnya saya terhitung mampu dari segi biaya sejak tahun 2005. Tetapi almarhum bapak dan mamak lebih berhak berangkat terlebih dahulu, maka saya ikhlaskan tabungan saya untuk beliau berdua pada tahun 2006. Tahun 2007 dan 2008 saya pun dicukupkan dari segi harta untuk berangkat, tetapi Allah belum meluangkan waktu dan menguatkan tekad dan niat saya.

Keputusan untuk berangkat haji tahun ini sangat mendadak. Tiba-tiba saja saya ingin berangkat, dan sebulan menjelang pendaftaran haji saya tidak tahu mengapa saya mulai sering menangis tiba-tiba. Akhirnya saya menelepon ibu saya, meminta ijin dan memohon doa darinya. Saya mendaftarkan diri di sebuah biro travel haji di Jepang pada tanggal 15 September, dan pada waktu yang hampir bersamaan mencari tiket pesawat Jeddah Nagoya. Semuanya dimudahkan Allah. Berkali-kali saya bertakbir dan talbiyah mensyukuri nikmat Allah atas kelancaran perkara ini.

Selanjutnya selama menunggu keberangkatan haji, boleh dikatakan saya tidak punya banyak waktu banyak belajar tentang haji. Rutinitas menulis disertasi, berkonsultasi ke Prof, dan bekerja membuat saya lalai melakukan persiapan. Mamak di rumah mengirimkan buku-buku haji, dua orang teman menghadiahkan buku haji yang saya baca sepanjang perjalanan ke tempat kerja.Saya bertanya-tanya segala sesuatunya kepada teman yang berangkat tahun lalu. Tetapi selalu saja saya merasa tak siap.

Ada sebuah misteri yang saya pikir akan dirasakan oleh semua orang yang akan menunaikan ibadah haji. Saya selalu tiba-tiba menangis tatkala membaca doa-doa, riwayat dan manasik haji. Saya tiba-tiba terisak ketika mengumandangkan kalimat talbiyah. Karena malu dengan penumpang lain di dalam kereta, maka kebanyakan buku-buku haji akhirnya saya baca di rumah. Saya ceritakan kepada teman yang juga akan berangkat, tentang pengalaman ruhaniah ini, dan dia mengucapkan berkali-kali subhaanallah, sambil mendoakan semoga Allah melancarkan segala urusan kami. Teringat saya ucapan seorang teman yang berangkat haji tahun lalu, “Jika Allah sudah memanggil maka siapakah yang dapat menolak panggilanNya”. Saya merasa menjadi bagian dari orang yang dipanggil oleh Allah, dan tak bisa menahan diri untuk segera memenuhi panggilanNya.

Menjelang keberangkatan saya semakin intens menelepon mamak, dan berkali-kali beliau menasihati agar senantiasa meminta ampun, jangan takabbur, dan selalu berzikir kepadaNya. Menjelang keberangkatan saya terserang batuk selama berhari-hari dan sembuh total saat hari H.

Seminggu sebelum keberangkatan, beberapa teman membekali makanan ringan, menjahitkan jubah, mengingatkan beberapa perlengkapan haji, dan tentu saja mendoakan dan menitipkan doa.Saya semakin tidak bisa berkonsentrasi pada masalah haji, karena harus menuntaskan disertasi. Saya tidak tidur pada tanggal 16 Nov malam karena harus menyelesaikan bagian kesimpulan, bagian yang paling memberatkan dari disertasi.Malamnya teman datang membantu mengepak semua barang bawaan saya. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua.

Pada hari H, 17 Nov pkl 11.00 saya ke kampus untuk mengeprint disertasi sebanyak 200-an halaman. Jari-jari saya bekerja sangat cepat memperbaiki halaman daftar isi, dan mulut saya tak berhenti membaca kalimat talbiyah. Laa haula walaa quwwata illa billah. Kalau tidak karena pertolongan Allah, maka saya tak akan menyelesaikan disertasi itu tepat jam 12.30, satu jam sebelum keberangkatan ke bandara. Saya berlari pulang ke rumah, mandi bersiap-siap. Pukul 13.30, sejumlah teman datang menjemput dan kami berangkat ke bandara.

Penerbangan saya cukup panjang hari itu. Berhenti sejenak di Taipei, lalu transit di Hongkong, lanjut ke Dubai, berhenti sejam, dan diteruskan ke Jeddah. Di Hongkong saya bertemu dengan teman mahasiswa, suami istri dari Osaka yang menjadi mahrom saya selama haji. Dalam penerbangan saya kembali menangis saat membaca buku-buku sejarah haji. Penerbangan dari Dubai ke Jeddah sangat berkesan. Tatkala pilot Cathay Pacific mengumumkan bahwa 30 menit lagi kita akan melewati miqot, maka bersegeralah jamaah laki-laki bergantian masuk kamar mandi dan keluar dengan pakaian ihrom-nya. Sepuluh menit menjelang miqot, seorang brother dari Mesir memberikan ceramah singkat, kemudian menuntun semua penumpang secara bersama dan bersemangat membaca niat umroh dan mengucapkan kalimat talbiyah. Penerbangan kami hari itu disertai oleh rombongan saudara-saudari muslim Kamboja dengan seragam kerudung pink. Sebagian besar mereka mengeluarkan buku catatan bertuliskan huruf Khmer, dan mulai membaca lafadz talbiyah. Kedengaran aneh di telinga. Saya menangis dan memohonkan kasih sayang Allah agar lisan kami dimudahkan melafadzkan kalimat-kalimat ini. Sambil berurai air mata, saya tuntun ibu tua yang duduk di sebelah saya untuk melafadzkannya.

Menginjakkan kaki di bandara Jeddah, menyadarkan saya awal dari sebuah ibadah yang menuntut keikhlasan, kesabaran dan ketawakkalan. Detik-detik ini dan selanjutnya harus dilalui dengan tanpa amarah dan gerutuan. Yang harus keluar dari mulut kami hanyalah kebesaran dan pujian kepada Allah. Maka, sekalipun otak kadang-kadang tak bersambungan lagi dengan hati (karena keletihan badan), tetapi mulut secara reflek terus berkomat-kamit membaca talbiyah, sekalipun lama kelamaan hanya tinggal gerakan saja, tanpa suara.

Pengecekan imigrasi, pengambilan bagasi dan lain-lain urusan di bandara Jeddah menurut teman yang berangkat tahun lalu, akan memakan waktu 6 jam-an. Saya tak ingat berapa lama kami menunggu hari itu, tetapi saya tidak merasa sangat lama dan bosan menunggu, hingga seseorang menggiring kami, rombongan dari Jepang untuk menaiki sebuah bis menuju maktab di Mekkah.

Di sebuah pusat haji antara Jeddah dan Mekkah, bis berhenti, dan seseorang membagikan air zam-zam yang merupakan kelegaan bagi kami yang belum sempat makan siang di Jeddah. Saya meneguknya dan membaca doa, memohon Allah memberikan kekuatan kepada kami dengan air suci ini.

Hampir semua penumpang bis terlelap termasuk saya. Saya terbangun saat menjelang daerah Mekkah, dan sesaat membaca doa memasuki kota Mekkah.Ada sedikit kesalahan tentang pengantaran rombongan kami ke maktab. Kami terlantar di maktab 92, tempat salah satu rombongan Jepang dari biro travel yang lain. Sekitar pukul 10.00 malam kami tiba di maktab yang sebenarnya, maktab 88. Alhamdulillah, Allah memudahkan kami dengan kondisi pondokan yang tepat berada di dekat Masjidil Haram. Saya tak henti mengucapkan takbir dan talbiyah, membaca doa tatkala menara-menara Masjidil Haram yang tinggi menjulang mulai tampak di pelupuk mata.

Alhamdulillah hamba sudah Engkau ijinkan melihatnya Ya, Allah….

Catatan hari pertama, 17-18 November 2009

About these ads
  1. Alhamdulillah. Insya Allah, hamba Allah yang baik akan selalu disayang dan dibantu Allah melalui hamba-hamba yang lain….

  2. ikut terharu bu..saya sampai merinding. semoga ibu menjadi haji yang mabrur. doakan saya juga bisa naik haji ya bu

  3. Subhanallah..
    Sangat mengharukan sekali.
    Semoga tahun depan saya di ijinkan untuk melaksanakan ibadah suci ini.
    Amiin…..

  4. Salam Takzim
    Membaca dengan hikmad, menjadi berkaca-kaca nih, sungguh saya jadi ikut terharu bunda
    Salam Takzim Batavusqu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 171 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: