murniramli

Makalah Seminar Menggali Nilai-Nilai Perjuangan Pahlawan Diponegoro

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Oktober 8, 2011 at 10:55 pm

MODEL INTERNALISASI NILAI-NILAI PERJUANGAN 

PANGERAN DIPONEGORO DI UNIVERSITAS DIPONEGORO

Murni Ramli

Fakultas Ilmu Budaya UNDIP
Anggota Tim Internalisasi Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro di UNDIP

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Menggali Nilai-Nilai Perjuangan Pahlawan  Diponegoro sebagai Materi Pendidikan Karakter Bangsa

Kerjasama UNDIP, ANRI, Kemenbudpar,

Semarang 8 Oktober 2011

Sejalan dengan upaya pemerintah dalam membangun karakter bangsa dan membangkitkan kembali kesadaran terhadap national identity yang sudah mulai pudar di kalangan anak bangsa, perguruan tinggi perlu memainkan peran yang signifikan sebagai lembaga pendidikan tinggi dan sebagai pencetak sumber daya manusia yang handal yang akan menjadi agen pembangunan. Selama ini, perguruan tinggi cenderung dikonotasikan sebagai lembaga yang berorientasi pada bidang akademik saja, dan bahkan terkesan mengabaikan pendidikan moral dan pembinaan karakter mahasiswa.

Pelaksanaan pendidikan karakter, kebangsaan dan moral di perguruan tinggi semakin melemah dan bahkan pelan-pelan pudar dengan dihapuskannya MK Pancasila dan Pendidikan Kewiraan di beberapa universitas sebagai MKDU karena dianggap kurang relevan, sementara ragam bidang ilmu yang perlu disampaikan kepada mahasiswa terus berkembang. Namun tidak hanya itu, faktor maturity mahasiswa juga dapat menjadi inhibitor dan stimulus dalam pembinaan karakter mahasiswa. Karena dikategorikan sebagai kelompok usia dewasa, dosen tak jarang menganggap mahasiswa sebagai orang yang selayaknya sudah tahu tentang perilaku dan karakter orang dewasa yang berbudaya, sehingga kadang-kadang tidak peduli dengan pola perilaku mahasiswa.

Tetapi pada kenyataannya, banyak mahasiswa yang tidak mendapatkan pemahaman yang memadai tentang norma dan nilai-niai moral semasa mengenyam pendidikan menengah atau boleh jadi mahasiswa tersebut tinggal di lingkungan keluarga yang kurang kondusif dalam menekankan aspek pendidikan moral. Oleh karena itu, banyak kita dapati mahasiswa yang masih kekanak-kanakan, kurang dapat bersikap sebagaimana manusia berbudaya lainnya, dan kurang siap menghadapi kehidupan bersama di lingkungan kampus dan masyarakat sekitarnya.

Pada wacana yang lain, universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi diharapkan dapat melanjutkan fungsi institusi pendidikan yang telah dijalankan oleh pendidikan dasar dan menengah, yaitu sebagai kawah candradimuka untuk mempersiapkan SDM unggul yang terampil, memiliki intelektualisme tinggi, cara berpikir yang matang, dan juga berbudaya dan bermoral. Oleh karena itu sudah selayaknya, masing-masing perguruan tinggi merancang sebuah model pembinaan mahasiswa berkarakter yang sistematis, holistik dan terpadu, serta berlandaskan nilai-nilai yang mengakar yang dimiliki oleh universitas bersangkutan.

Dalam upaya tersebut, perlu disadari bahwa pembinaan karakter sekelompok orang tidak dapat berlangsung dengan baik, apabila tidak disiapkan lingkungan pendukung yang baik pula. Lingkungan pendukung proses pedidikan di perguruan tinggi penulis kelompokkan menjadi lingkungan yang bersifat materi (sarana dan prasarana), lingkungan manusia yaitu orang-orang yang ikut serta dalam kegiatan pendidikan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi, dan lingkungan legalisasi atau aturan hukum, yaitu kebijakan dan perundangan yang mendukung pelaksanaan proses pendidikan.

Universitas adalah sebuah organisasi yang harus mengedepankan kerjasama antarsivitas akademikanya. Pemberian otonomi luas kepada pengelola perguruan tinggi untuk mengembangkan institusinya harus disikapi sebagai peluang untuk menjadi lebih terbuka dalam menyiapkan atmosfer pendidikan bagi para mahasiswa, dan meramu materi dan pokok-pokok ilmu yang perlu ditransferkan kepada para mahasiswa dalam proses pendidikan.

Pembinaan mahasiswa dan sivitas akademika yang berkarakter di kampus perlu memperhatikan dimensi-dimensi yang saling berkaitan, yaitu dimensi isi, waktu, proses dan tempat. Dalam dimensi isi, akan ditekankan pada materi dan substansi apa yang harus disampaikan dan diinternalisasikan. Apakah cukup dengan mengcopy paste aturan dan ketetapan pemerintah, atau perlu menggali lebih dalam lagi potensi nilai yang ada? Dimensi waktu bermakna kapan proses pembinaan harus diselenggarakan. Apakah di awal, pertengahan, akhir tahun akademik, atau sepanjang tahun akademik. Termasuk dalam hal ini, berapa lama proses tersebut perlu berlangsung? Dimensi proses menjelaskan tetang bagaimana kegiatan pembinaan harus dilakukan, dan siapa yang menjadi pelaku utama penggerak kegiatan? Dimensi tempat menekankan pada di mana kegiatan tersebut sebaiknya dilangsungkan? Apakah di tingkat prodi, jurusan, fakultas, atau universitas? Juga termasuk di dalam cakupannya, apakah kegiatan perlu diselenggarakan pula di luar kampus.

Universitas Diponegoro dengan statusnya sebagai penyandang nama besar Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro, merasa terpanggil untuk menyusun sebuah pola pembinaan mahasiswa berkarakter yang berlandaskan pada nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro. Untuk menindaklanjuti langkah tersebut, Rektor telah membentuk sebuah tim di bawah koordinasi Pembantu Rektor III pada bulan Juli 2011. Tim tersebut terdiri dari 4 orang dosen dengan bidang keahlian sejarah dan pendidikan, untuk merumuskan sebuah model pembinaan dan internalisasi nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro di kalangan sivitas akademika UNDIP.

Makalah ini akan memaparkan kinerja tim dan kegiatan uji coba internalisasi nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro yang telah dilakukan pada bulan September 2011 di delapan fakultas di UNDIP. Selain itu akan dibahas pula rencana program internalisasi di tahun-tahun mendatang.

  1. A. Persiapan Awal Program Internalisasi Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro

Sejak dibentuk dengan SK Rektor pada bulan Juli 2011, Tim Internalisasi Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro, yang terdiri dari Prof. Dr Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum (Ketua), Dr. Yety Rochwulaningsih, M.Si (anggota), Drs. Supriyo Priyanto, MA (anggota), dan Dr. Murni Ramli, M.Si (anggota), segera bekerja cepat untuk menyusun model internalisasi.

Langkah-langkah yang ditempuh pada tahap persiapan adalah sebagai berikut :

  1. 1. Eksplorasi dan penggalian sumber-sumber yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan materi ajar
  2. 2. Perancangan strategi pembelajaran
  3. 3. Penyusunan materi ajar dan buku panduan tutor
  4. 4. Penyusunan kuesioner untuk peserta dan tutor
  5. 5. Pelatihan tutor (TOT)

Kegiatan eksplorasi dan penggalian sumber-sumber sejarah sebagai bahan acuan penyusunan materi ajar dilakukan dengan mengkompilasi data-data penelitian tentang Pangeran Diponegoro yang telah dilakukan oleh Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sejarah UNDIP sejak tahun 1996, baik oleh dosen secara personal maupun dalam bentuk tim. Selain itu, sebagai sumber bahan ajar juga dipergunakan beberapa literatur utama dan literatur penunjang yang merupakan karya ilmiah baik yang sudah dibukukan dan dipublikasikan, maupun sumber-sumber yang berbentuk dokumen dan naskah. Untuk itu, tim telah mendapatkan dukungan dan bantuan yang sangat berharga dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk memperoleh sumber-sumber tersebut, baik dalam bentuk dokumen tertulis maupun foto.

Sumber-sumber yang tersedia merupakan data kompilasi sejarah kehidupan Pangeran Diponegoro sejak masa kanak-kanak hingga wafatnya yang tentunya akan sangat menyulitkan untuk disampaikan secara keseluruhan kepada target (mahasiswa dan sivitas akademika). Oleh karena itu, sumber-sumber tersebut selanjutnya dipelajari dan dianalisa untuk menggali nilai-nilai, pesan, sikap dan karakter Pangeran Diponegoro yang sebaiknya dijadikan panutan dan nilai-nilai yang akan diinternalisasikan kepada seluruh jajaran sivitas akademika UNDIP.

Sejalan dengan upaya ini, pada tanggal 23 Juli 2011 diselenggarakan Seminar Nasional di Jakarta oleh  Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kemendiknas bekerjasama dengan LIPI, UNDIP, Perpustakaan Nasional, ANRI, Badan Kerjasama Kebudayaan/Kesenian Indonesia (BKKI), dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendiknas. Seminar tersebut bertema “Meneruskan Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai Semangat Pembangunan dan Pendidikan Karakter Bangsa”. Dalam kesempatan tersebut, Tim mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan hasil pengkajian nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro, dan dalam kesempatan yang sama, Rektor UNDIP juga menyampaikan visi dan misi UNDIP dalam pembinaan mahasiswa dan sivitas akademika yang berkarakter.

Berdasarkan pertimbangan dan konsultasi dengan Rektor UNDIP, diputuskan untuk menyelenggarakan uji coba internalisasi dengan sasaran mahasiswa baru UNDIP tahun 2011 dengan memanfaatkan momen rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru yang diselenggarakan pada 23-25 Agustus 2011.

Mengingat sempitnya waktu yang tersedia, tim dengan segera menyelenggarakan rapat-rapat untuk membahas model dan strategi internalisasi dan pembelajaran yang disusun berlandaskan prinsip mengutamakan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan sisi afektif, kognitif, dan psikomotorik peserta. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang didominasi oleh ceramah dan indoktrinasi dan juga melupakan aspek pelibatan peserta, harus dihindari.

Dengan pertimbangan tersebut, disepakati untuk menyusun sebuah DVD pembelajaran yang berisikan biografi ringkas Pangeran Diponegoro beserta nilai-nilai yang akan disosialisasikan. Pemaparan dalam bentuk audio visual dianggap lebih menarik dan akan menggugah peserta untuk ikut berpikir dan terlibat dalam proses pembelajaran. Biografi ringkas Pangeran Diponegoro dibagi dalam empat babak, yaitu :

  1. I. Masa Kanak-Kanak dan Remaja
  2. II. Masa Dewasa
  3. III. Masa Menjadi Panglima Perang
  4. IV. Masa Penangkapan dan Pembuangan

Penjabaran kisah kehidupan Pangeran Diponegoro yang disampaikan dalam DVD dengan durasi 25 menit dilengkapi dengan narasi yang menyoroti scene tertentu yang mencerminkan nilai-nilai, sikap moral dan perilaku yang patut diteladani. Nilai-nilai yang ingin ditekankan, selain disampaikan dalam bentuk narasi, juga dituliskan dalam kalimat pendek dan ditampilkan di dalam tayangan. Proses pembuatan DVD Mewarisi Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro berlangsung dalam waktu dua minggu.

Untuk membantu tutor dalam memahami kegiatan secara keseluruhan, disusun pula buku panduan yang berisikan tutorial pelaksanaan kegiatan, tutorial pengantar pemutaran DVD, narasi yang disampaikan dalam tayangan DVD, dan tutorial kesimpulan.

Adapun strategi pembelajaran yang akan diaplikasikan mengedepankan peran aktif peserta, sehingga waktu untuk berdiskusi dialokasikan lebih besar. Metode pembelajaran diupayakan untuk memotivasi mahasiswa dalam berpendapat dan berusaha menggali nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro.

Secara lengkap strategi pembelajaran diuraikan dalam langkah pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :

  1. 1. Pengarahan oleh tutor selama 10 menit tentang maksud, tujuan dan urutan pelaksanaan kegiatan, serta pengantar pemutaran DVD/CD. Semua narasi yang akan disampaikan oleh tutor telah disusun oleh tim dalam bentuk slide presentation. Tutor dapat menambahkan penjelasan jika masih tersedia waktu. Tutor juga diminta untuk mengarahkan para peserta agar memperhatikan dengan seksama penayangan DVD dan mencatat bagian-bagian penting, sebagai persiapan melakukan diskusi.
  2. 2. Pemutaran DVD selama 25 menit. Untuk keperluan ini, ruang perkuliahan perlu dilengkapi dengan LCD, laptop/komputer dan sound system yang memadai.
  3. 3. Diskusi kelompok selama 30 menit. Kelas dibagi menjadi empat kelompok, yang masing-masing akan mendiskusikan satu babak kehidupan Pangeran Diponegoro yang ditayangkan dalam DVD. Masing-masing kelompok dengan koordinasi ketua kelompok melakukan disukusi untuk menggali nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro, menganalisa dan mengaitkannya dengan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, dan aktualisasinya dalam kehidupan mereka sebagai warga kampus, warga masyarakat, dan warga negara.
  4. 4. Diskusi kelas selama 20 menit. Masing-masing kelompok diwakili oleh juru bicara menyampaikan hasil diskusi kelompoknya, dan setelah semua kelompok tampil, dilakukan tanya-jawab.
  5. 5. Kesimpulan yang disampaikan oleh tutor selama 5 menit. Narasi kesimpulan yang akan disampaikan oleh tutor juga telah dipersiapkan oleh tim dalam bentuk slide presentation.
  6. 6. Pengisian kuesioner yang berlangsung selama 5 menit.

Kegiatan selanjutnya adalah pelatihan para tutor yang akan menjadi mediator kegiatan. Berhasil atau tidaknya kegiatan sangat tergatung kepada kemampuan tutor dalam mengarahkan dan memediasi kegiatan. Dalam kegiatan uji coba diputuskan untuk menggunakan tutor yang sedikitnya menguasai materi biografi Pangeran Diponegoro, oleh karena itu dosen-dosen dari Jurusan Sejarah menjadi pilihan pertama, dan beberapa dosen tambahan dari jurusan lain di Fakultas Ilmu Budaya UNDIP dipilih untuk menjadi tutor. Pelatihan berlangsung selama dua kali pertemuan, masing-masing selama satu setengah jam dengan agenda pertama pada pertemuan pertama adalah penjelasan umum kegiatan, detil pelaksanaan, dan masukan terhadap materi ajar.  Adapun TOT kedua diselenggarakan untuk melatih para tutor dalam menyampaikan materi, dan sekaligus membagikan perangkat pembelajaran berupa buku panduan, DVD Mewarisi Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro, DVD panduan tutorial, dan kuesioner. Selain itu juga dibagikan kepada para tutor, makalah yang disusun oleh Tim Internalisasi mengenai Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro, dan sumber literatur lainnya.

  1. B. Pelaksanaan Uji Coba Internalisasi Mewarisi Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro 2011

Untuk menguji model internalisasi yang telah disusun dilakukan program uji coba pada bulan Agustus dan September 2011 dengan sasaran mahasiswa baru UNDIP tahun 2011. Karena keterbatasan tutor, maka program uji coba tidak dapat dilaksanakan serentak di semua fakultas dan untuk semua mahasiswa baru UNDIP yang berjumlah 9,000 orang. Uji coba dilakukan terhadap mahasiswa Program D3 dan S1 di delapan fakultas, dengan peserta berjumlah 200 orang mahasiswa per fakultas. Namun, dalam program uji coba ini, terdapat dua fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang menginginkan uji coba diterapkan untuk semua mahasiswa baru 2011 yang diterima di fakultas tersebut. Adapun detil pelaksanaan uji coba selama bulan Agustus dan September ditampilkan dalam Tabel 1.

Jumlah peserta yang mengikuti uji coba hingga bulan September 2011, mencapai Pada tahun 2011, Universitas Diponegoro memiliki 11 fakultas yang menyelenggarakan 118 program studi dengan jumlah mahasiswa sebanyak 52,542 orang. Separuh lebih dari jumlah total mahasiswa tersebut adalah mahasiswa program S1 dan D3 (Tabel 2).

Tabel 1. Kondisi Peserta, Waktu, dan Tempat Pelaksanaan Uji Coba (2011)


Tabel 2. Jenjang dan Program Studi di UNDIP (2011)

Sumber : Website UNDIP, akses 3 Oktober 2011

B.1. Pengamatan Umum Pelaksanaan Uji Coba

Pelaksanaan Uji Coba pada tahap pertama (24 Agustus 2011) diselenggarakan dalam dua periode, yaitu pukul 09.00-10.30 dan pukul 11.00-12.30. Secara umum penyelenggaraan kegiatan uji coba berjalan lancar dan dapat dimulai tepat waktu. Karena perlu mempersiapkan pemutaran DVD, maka tutor diharapkan hadir di ruang kelas 10-15 menit sebelum kegiatan dimulai. Tim Internalisasi selalu memantau kegiatan uji coba, sehingga dapat segera mengetahui apabila terjadi keterlambatan tutor, kendala teknis, dll. Dalam kasus uji coba pertama, terjadi pergantian tutor satu kelas karena keterlambatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Tim Internalisasi menggantikan tutor yang terlambat, sehingga kegiatan uji coba dapat dimulai dengan keterlambatan yang masih dapat ditolerir (5-10 menit).

Kondisi ruang kelas yang dipergunakan umumnya sudah dilengkapi dengan LCD, namun masih banyak ruangan yang tidak dilengkapi dengan komputer dan sound system yang memadai. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, tutor telah diingatkan untuk membawa laptop masing-masing. Selain itu, di beberapa kelas, suasana gerah dan cukup panas dirasakan peserta karena ruangan yang kurang memiliki sistem AC yang memadai, sementara jumlah peserta melebihi kapasitas (lebih dari 100 orang per kelas).  Kendala lain yang ditemukan di kelas-kelas besar adalah LCD yang berkapasitas rendah, sehingga hanya mampu menampilkan gambar yang kurang terihat dengan jelas oleh peserta.

Tutor telah berusaha mengikuti dan mematuhi waktu dan urutan kegiatan sebagaimana yang disampaikan dalam TOT, namun beberapa tutor mengalami kesulitan untuk mengatur peserta dalam kegiatan diskusi, terutama kelas-kelas dengan jumlah peserta lebih dari 100 orang. Idealnya, diskusi kelompok diselenggarakan di ruang kelas yang berbeda untuk masing-masing kelompok, namun  hal ini tidak dapat dilakukan karena tidak tersedianya ruangan-ruangan tersebut. Oleh karena itu, diskusi kelompok berlangsung tidak begitu nyaman, dan tidak semua mahasiswa dapat terlibat aktif dalam diskusi.

Kegiatan pemutaran DVD di beberapa kelas tidak berjalan mulus karena ada beberapa komputer yang macet, sehingga perlu diputar ulang. Pemutaran ulang menyebabkan bertambahnya waktu yang terbuang, dan juga berkurangnya konsentrasi dan keseriusan mahasiswa.

Di beberapa kelas yang memadai dari segi luasan, kenyamanan, dan fasilitasnya, para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Banyak di antara mereka yang terlihat serius mencatat sambil menonton DVD yang diputarkan, dan memberikan applaus meriah saat pemutaran selesai. Para peserta pun relatif aktif dalam diskusi kelompok. Bahkan di beberapa kelas, mahasiswa menyetujui perpanjangan waktu hingga satu jam dari waktu yang disediakan (90 menit) demi melanjutkan diskusi kelas yang semakin bersemangat. Pada kelas yang penulis bimbing, mahasiswa bahkan meminta diskusi dan seminar lanjutan terkait dengan nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro dan kiprah generasi muda untuk mewarisinya.

Setelah uji coba pertama pada bulan Agustus 2011, dilakukan uji coba kedua, ketiga dan keempat yang berlangsung pada hari Sabtu dan Jumat. Pihak FISIP bahkan telah menugaskan kepada mahasiswa baru untuk membuat makalah tentang Pangeran Diponegoro, sehingga informasi tentang Pangeran Diponegoro telah mereka ketahui. Namun, tampaknya belum mengarah pada penekanan nilai yang perlu diteladani. Sehingga, saat kehidupan Diponegoro ditayangkan dan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan diskusi, mereka tetap bersemangat mengikutinya.

B.2. Hasil Kuesioner

B.2.1. Kuesioner Peserta

Kuesioner yang disebarkan pada uji coba tahap pertama, kedua, ketiga dan keempat adalah sebanyak 1070 eksemplar, dan hanya 996 exemplar yang dapat diolah karena ketidaklengkapan data isian. Kuesioner dibagikan pada saat diskusi kelompok atau diskusi kelas, dan peserta diminta mengisinya selama 5 menit setelah kegiatan Kesimpulan oleh tutor selesai dilaksanakan.

Kuesioner untuk peserta terdiri dari 22 item pertanyaan yang dikelompokkan berdasarkan urutan kegiatan. Item no.1 hingga 5 adalah pertanyaan-pertanyaan terkait sesi pengarahan kegiatan oleh tutor. Pertanyaan ke-6 hingga 10 adalah pertanyaan untuk menanyakan sesi pemutaran DVD, pertanyaan no.11 hingga no.15 diajukan untuk mengetahui tanggapan peserta terhadap sesi diskusi. Sementara pertanyaan nomor 16 hingga 18 adalah pertanyaan terkait dengan sesi simpulan, dan empat pertanyaan terakhir (no.19 hingga 22) adalah pertanyaan yang diajukan untuk menanyakan sikap dan harapan peserta. Dalam setiap kelompok, pertanyaan terakhir adalah pertanyaan terbuka untuk menanyakan kesan dan komentar peserta pada setiap sesi. Sementara pertanyaan lainnya disusun dalam bentuk pilihan tertutup yang dibuat berdasarkan skala Likert (4 skala).

Hasil uji validitas dan reabilitas terhadap alat survey (pertanyaan kuesioner) menunjukkan nilai yang valid dan realible untuk semua pertanyaan. Oleh karena itu, hasil kuesioner ini dapat dipergunakan untuk melihat respon dan penilaian peserta terhadap kegiatan uji coba internalisasi.

B.2.1.1. Pengarahan Tutor

Sesi pengarahan yang disampaikan oleh tutor di awal kegiatan internalisasi dianggap oleh sebagian besar peserta jelas, mudah dipahami, disampaikan dalam waktu yang memadai,dan peserta menjadi tertarik untuk menyimak kisah Pangeran Diponegoro (Tabel 3 dan Tabel 4). Sebagian besar komentar yang ditulis oleh peserta berisikan respon positif terhadap arahan tutor. Sekalipun demikian, ada juga komentar negatif, misalnya tutor berbicara cepat dan penjelasan terburu-buru, atau pembicaraan terlalu meluas.

Tabel 3. Tingkat Penilaian Peserta Terhadap Urutan Kegiatan Uji Coba Internalisasi

Ket : A,B,C,D adalah berdasarkan Skala Likert

Tabel 4. Prosentase Tingkat Penilaian Peserta terhadap Urutan Kegiatan Uji Coba

Beberapa komentar yang dituliskan dalam kuesioner dapat dikelompokkan menjadi komentar yang bersifat positif dan negatif. Beberapa komentar tersebut ditampilkan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Komentar Peserta terhadap Kegiatan Uji Coba

Kegiatan Komentar Positif Komentar Negatif
Pengarahan Tutor Pengantar cukup jelas dalam memoderatori jalannya diskusi, terbukti dengan semuanya tepat waktu, slide yang ditampilkan pun mudah dipahami, dan saya semakin tertarik mengikuti jejak Pangeran Diponegoro dengan cara belajar dg sungguh-sungguh di UNDIP untuk mencapai mimpi saya (FPIK-47)  Sesi pengantar cukup singkat, jadi masih banyak yang belum saya ketahui (FPsi-26)Tutor dalam menyampaikan sangat cepat sehingga sulit untuk dipahami (FIB 193)
Pemutaran DVD Penggambaran dalam CD menarik, mudah dipahami, tidak membuat bingung (FKM 88) Tutor (narasi ?) pada CD terlalu cepat, sehingga cukup sulit untuk dipahami (FIB 185)Suaranya kurang begitu jelas (FIB 2007)

Penayangan CD terputus-putus dan diulang-ulang sehingga mengurangi kekhitmatan dari isi yang disampaikan oleh pemutaran CD tsb (FISIP 147)

Diskusi Diskusi berjalan dengan baik dan efektif (FPIK 95) Kurang efektif karena terlalu ramai (FIB 193)Kurang baik karena terlalu banyak mahasiswanya, jadi diskusinya kurang efektif (FISIP 149)
Kesimpulan Sangat jelas karena memuat poin-poin yang tidak bertele-tele (FPsi 44)  Sesi kesimpulan sangat menarik dan saya piker kesimpulan dari tutor kurang lengkap (FKM103)
Sikap Kegiatan hari ini  cukup memberikan motivasi bagi diri sendiri (FPIK 116)Baik, memberikan pengaruh positif terhadap cara belajar saya (FIB 215)

B.2.1.2. Sesi Pemutaran DVD

Penayangan kisah kehidupan Diponegoro dalam bentuk DVD mendapatkan tanggapan dan penilaian yang beragam dari para peserta. Peserta sebagian besar menganggap penjelasan dengan media DVD menarik atau sangat menarik, mudah dipahami, dan peserta cukup mudah menyarikan nilai-nilai yang terkandung di dalam perjuangan Diponegoro. Penyajian gambar, narasi, dan tulisan dalam DVD oleh sebagian besar peserta dianggap sudah jelas atau cukup jelas. Namun, dalam bagian komentar, beberapa peserta menuliskan komentar negatif tentang gambar yang buram, tulisan yang kurang menarik, dan narasi yang panjang.

B.2.1.3. Sesi Diskusi

Diskusi secara umum dapat terlaksana dengan efektif/cukup efektif, dan dianggap menarik/cukup menarik oleh peserta. Peran tutor sebagai moderator yang mengantarkan diskusi kelas juga dianggap baik, dan presentasi setiap kelompok juga dinilai efektif/cukup efektif. Pada bagian komentar, banyak peserta yang menuliskan ketidakefektifan terjadi pada kelompok diskusi yang pesertanya besar, dan juga waktu diskusi yang kurang memadai. Akibat keterbatasan waktu, di beberapa kelas, kegiatan Tanya-jawab pasca presentasi kelompok tidak diselenggarakan. Hal ini cukup mengecewakan peserta.

B.2.1.4 Sesi Kesimpulan

Para peserta sebagian besar menilai penyampaian kesimpulan oleh tutor sangat mudah/mudah untuk dipahami, dan menganggap apa yang disampaikan tutor telah menyarikan nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro. Pada bagian komentar, hampir semua peserta menuliskan bahwa kesimpulan dalam bentuk slide presentation mudah dipahami, dan tutor telah mampu menjelaskan secara lengkap dengan penambahan contoh perilaku sehari-hari yang menambah pemahaman peserta.

B.2.1.5. Sikap dan Harapan (Komentar Umum)

Dalam kelompok ini ditanyakan kepada peserta apakah program penanaman nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro perlu diberikan kepada semua sivitas akademika di UNDIP (pertanyaan no.19), apakah mereka terinspirasi dengan kisah Diponegoro (item no.20), dan mampu meniru perilaku dan menerapkan nilai-nilai juangnya dalam kehidupan sehari-hari (item no.21). Kurang lebih 80% peserta menyatakan perlu, dan 95% terinspirasi dengan kisah Diponegoro, dan 66 % akan berusaha menerapkannya.  Pada bagian komentar, peserta menekankan perlunya meneruskan kegiatan ini, dan bahkan menjadikannya sebagai kegiatan rutin kemahasiswaan. Komentar lain menggarisbawahi perlunya perbaikan kegiatan terutama tentang isi DVD yang ditayangkan.

B.2.2 Form Isian Tutor

Selain kuesioner yang dibagikan kepada peserta, semua tutor juga mendapatkan form isian tutor yang berisikan penilaian kegiatan dan catatan selama proses pembelajaran di dalam kelas berlangsung. Ada enam item yang terdiri dari : tempat dan waktu pelaksanaan, urutan pelaksanaan (apakah sesuai juklak atau tidak), permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan (ruang, peralatan, DVD, peserta, waktu, dll), penilaian terhadap respon peserta, dan komentar serta saran tutor tentang kegiatan ini.

Tutor telah mengikuti juklak kegiatan dan menyelenggarakannya sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan. Pada bagian permasalahan, banyak tutor yang melaporkan kondisi pencahayaan ruangan yang terlalu terang sehingga penayangan DVD menjadi kurang maksimal; sound system yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga narasi dalam DVD terdengar sayup-sayup.

Masalah waktu yang kurang menjadi sorotan utama hampir semua tutor. Harapan agar waktu kegiatan dapat diperpanjang dari 90 menit menjadi 120 menit diusulkan oleh para tutor. Demikian pula pengurangan jumlah mahasiswa per kelas untuk mengefektifkan jalannya diskusi.

Secara umum semua tutor menilai peserta merespon kegiatan cukup baik dan mampu menyarikan nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro secara lebih mendalam dan luas, melebihi apa yang disimpulkan dalam slide presentation yang ditampilkan. Adapun komentar, saran, dan permasalahan yang disampaikan oleh tutor dalam form isian tutor ditampilkan dalam Tabel 6.

Tabel  6. Rangkuman Komentar, Saran dan Permasalahan yang Diusulkan oleh Tutor

Hal Komentar
Urutan Kegiatan -Sesuai dengan juklak-Tidak sesuai juklak karena waktunya agak pendek, sehingga perlu ditambah terutama karena ada gangguan teknis penayangan DVD

Agak berubah karena soal tek nis, sehingga molor hingga jam 10.45

Permasalahan -Laptop macet, peserta terlalu banyak, waktu terlalu singkat, sound system kurang jelas-Teks tidak terbaca oleh mahasiswa karena ruangan terlalu besar dan LCD kurang memadai

-Peserta datang terlambat, bahkan ada yang terlambat setelah kegiatan berjalan 40 menit

-Laptop yang disediakan tidak dilengkapi dengan speaker

-Back sound di dalam DVD terlalu keras, sehingga suara narasi kalah dengan back soundnya

-Perlu tambahan waktu

-Peserta terlalu besar

-Kurang waktu untuk diskusi kelas

 

Respon mahasiswa -Sangat baik,-Mahasiswa sangat antusias menyaksikan tayangan DVD Diponegoro

-Mahasiswa minta tambahan waktu untuk diskusi kelompok

Saran Sebelum hari H, hendaknya ada sosialisasi kepada calon pesertaSaya mengusulkan agar nilai-nilai juang dan karakter P.Diponegoro dijadikan Mata Kuliah Umum (untuk semua mahasiswa baru UNDIP)

MK bisa diusulkan ke rektor agar mulai tahun depan dijadikan sebagai mata kuliah baru

  1. C. Analisa Kegiatan Uji Coba dan Langkah Kegiatan Internalisasi Mendatang

Pelaksanaan uji coba internalisasi nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro di UNDIP telah berlangsung di delapan fakultas, dengan sasaran mahasiswa D3 dan S1. Masih tersisa tiga fakultas yaitu, Fak. Ekonomi, Fak. Teknik, dan Fak. Hukum yang belum menyelenggarakan uji coba. Diharapkan tahun ini, kegiatan uji coba dapat berlangsung untuk mahasiswa baru di semua fakultas.

Berdasarkan pantauan umum, hasil kuesioner dan form isian tutor, diperoleh respon yang positif terhadap keberlanjutan kegiatan internalisasi nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro, dengan catatan perbaikan perlu dilakukan di beberapa bagian. Beberapa perbaikan yang perlu dilakukan terkait dengan strategi pembelajaran ditampilkan dalam Tabel 7.

Tabel 7. Perbaikan Strategi Pembelajaran Internalisasi Nilai-Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro

No Kegiatan Perbaikan
Metode Waktu
1 Pengarahan tutor
  1. a. Materi arahan dalam bentuk slide presentation perlu diperbaharui dari segi isi dan penampilan.
  2. b. Tutor lebih mengarahkan peserta untuk berkonsentrasi memperhatikan tayangan DVD, dan memberikan gambaran ringkas tentang apa yang akan ditayangkan, serta apa tugas mahasiswa terkait dengan kegiatan diskusi.
Waktu diperpanjang, dari 10 menit menjadi 15 menit.
2 Pemutaran DVD
  1. a. Materi dan substansi DVD perlu diperbaiki dengan menambahkan foto/gambar yang lebih jelas, narasi yang lebih ringkas, dan tulisan yang lebih eye catching
  2. b. Sebelum kegiatan berlangsung, perlu ada pengetesan terhadap semua perangkat pemutaran DVD (computer/laptop, sound system, LCD)
  3. c. Ruangan tempat pemutaran adalah ruangan yang dapat diatur pencahayaannya.
Waktu tetap (25 menit)
3 Diskusi
  1. a. Diskusi kelompok maksimal diikuti oleh 10 orang peserta per kelompok sehingga akan lebih mendorong keaktifan peserta. Oleh karena itu pengelompokkan berdasarkan empat babak kehidupan Diponegoro (A. Masa Kanak-kanak dan Remaja, B. Masa Dewasa, C. Masa Menjadi Panglima Perang, D. Masa Penangkapan dan Pembuangan) perlu diperbaharui dengan cara : menugaskan dua kelompok untuk membahas satu babak kehidupan Pangeran Diponegoro. Dengan demikian, terdapat 8 kelompok kecil beranggotakan 10-13 orang.
  2. b. Kelompok-kelompok yang membahas materi yang sama perlu menggabungkan hasil diskusi mereka sebelum maju dalam diskusi kelas.
  3. c. Pembentukan kelompok dilakukan berdasarkan posisi duduk dan bukan berdasarkan absensi, karena akan memakan waktu yang banyak untuk mengumpulkan anggota kelompok. Pembentukan kelompok dapat berdasarkan barisan duduk.
  4. d. Apabila diskusi kelompok berlangsung dalam ruangan yang sama, maka waktu untuk pembentukan kelompok (termasuk pengaturan kursi dalam posisi melingkar) perlu ditambahkan.
  5. e. Saat berlangsung diskusi kelompok, tutor hendaknya memperlihatkan kembali slide awal tentang inti resume yang harus didiskusikan oleh masing-masing kelompok.
  6. f. Resume yang dibuat oleh masing-masing kelompok

harus ditulis dalam secarik kertas.

  1. g. Pada sesi diskusi kelas, masing-masing juru bicara kelompok (setelah penggabungan 2 kelompok yang membahas satu tema) menyampaikan hasil resumenya selama lima menit.
  2. h. Setelah empat presentasi disampaikan, dilakukan sesi tanya-jawab. Apabila berlangsung kondisi vakum dan mahasiswa tidak aktif, tutor harus berinisiatif menyodorkan tema diskusi yang terkait, dan menanyakan pendapat dari masing-masing kelompok.
Waktu berubah,Diskusi kelompok 30 menit

Diskusi kelas 30-45 menit

4 Simpulan
  1. a. Materi slide presentation perlu diperbaiki dengan menambahkan penjelasan tentang nilai-nilai juang Diponegoro.
  2. b. Tutor tidak sekedar menayangkan slide presentation, tetapi perlu menambahkan penjelasan yang terkait dengan kekinian.
Waktu  tetap (5 menit)
5 Lain-lain
  1. a. Ruangan harus memiliki kelengkapan yang memadai untuk pemutaran DVD
  2. b. Ruangan harus memiliki kenyamanan bagi para peserta (dilengkapi dengan AC) dan pencahayaan yang baik.
  3. c. Kursi yang dipergunakan peserta adalah kursi yang dapat dipindah-pindahkan, apabila diskusi kelompok berlangsung dalam ruangan yang sama
  4. d. Tutor perlu mendapat bantuan dari mahasiswa BEM dalam pelaksanaan kegiatan, terutama pada saat diskusi berlangsung
  5. e. Sosialisasi kepada peserta perlu dilakukan untuk menghindari keterlambatan hadir.
  6. f. Kegiatan TOT perlu dilakukan lebih praktikal dengan melibatkan langsung para tutor sebagai peserta

Kegiatan internalisasi nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro di tahun-tahun yang akan datang perlu direncanakan dengan sistematis dan disinkronkan dengan konsep pendidikan karakter yang sedang digodok oleh DIKTI. Universitas Diponegoro sebagai salah satu institusi yang mengharapkan lulusan dan sivitas akademikanya memiliki karakter yang khas, menyadari bahwa nilai-nilai perjuangan Diponegoro adalah salah satu sumber yang dapat digali lebih jauh.

Sebagaimana disampaikan di bagian pendahuluan bahwa kegiatan pembinaan karakter di institusi perguruan tinggi memerlukan pengkodisian lingkungan yang mendukung. Salah satunya adalah lingkungan manusia. Oleh karena itu kegiatan internalisasi nilai-nilai perjuangan Diponegoro yang tahun ini hanya merupakan uji coba kepada sebagian mahasiswa baru di beberapa prodi, di masa mendatang perlu dirumuskan sebagai sebuah kegiatan yang menyeluruh.

Adapun rencana dan gambaran pelaksanaan di tahun 2012 adalah sebagai berikut :

No Kegiatan Metode Waktu
1 Pendataan calon peserta internalisasi.Beberapa komponen sivitas akademika yang perlu mendapatkan pembekalan nilai-nilai juang Pangeran Diponegoro adalah sebagai berikut :

  1. 1. Pejabat struktural
  2. 2. Dosen
  3. 3. Staf Administrasi dan operasional kampus
  4. 4. Fungsionaris mahasiswa (BEM dan HM)
  5. 5. Mahasiswa lama
  6. 6. Mahasiswa baru

 

Menggunakan data base mahasiswa dan pegawai UNDIP Januari–Februari 2012
2 TOTDiperlukan tutor dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu, pada tahap awal perlu dilakukan pemilihan tutor di masing-masing fakultas, baik dari kalangan dosen, staf operasional, maupun fungsionaris mahasiswa. Dilakukan berkala di tingkat universitas Maret-April 2012
3 Pelaksanaan Internalisasi Penyelenggaraan internalisasi dapat dilakukan berbarengan dengan momen tahunan universitas, misalnya untuk mahasiswa baru, kegiatan diselenggarakan bersamaan dengan Masa Orientasi Mahasiswa Baru. Untuk para dosen/pegawai baru UNDIP dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pra jabatan di level universitas, dll. Adapun untuk mahasiswa lama, materi internalisasi nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro dapat dimasukkan sebagai salah satu substansi dalam MKDU Pendidikan Pancasila.  TentativeMahasiswa baru : Agustus-September 2012
4 Pembuatan Sesanti UNDIP Dengan kegiatan internalisasi yang “wajib” diikuti hanya sekali saja, maka tentu saja nilai-nilai yang sudah dipelajari dapat hilang dari ingatan. Oleh karena itu untuk memasyarakatkan nilai-nilai tersebut, perlu disusun sebuah sesanti/pedoman tentang karakter UNDIP yang dipasang di seluruh lingkungan kampus. Sesanti atau pesan moral tersebut akan menjadi pengingat dan rambu-rambu tentang sikap dan perilaku yang seharusnya dimiliki oleh sivitas akademika UNDIP.

 

Menggabungkan nilai-nilai perjuangan Diponegoro dan nilai-nilai lain yang dianggap sesuai dengan visi dan misi UNDIP Oktober 2012
5 Pendirian PUSDOKIN DIPONEGOROUntuk menjadikan UNDIP sebagai sumber pengkajian Diponegoro dan sekaligus menyediakan berbagai referensi, literatur bagi sivitas akademika UNDIP Pendataan ulang hasil penelitian dan koleksi sumber-sumber kajian 2012
  1. D. Kesimpulan

Kegiatan pembangunan karakter di lembaga pendidikan tinggi adalah hal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi mengingat semakin besarnya tuntutan masyarakat terhadap lulusan yang tidak saja memiliki intelektualisme tinggi, tetapi juga dibarengi dengan sikap dan perilaku yang baik. Selain itu, praktek amoral, penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan, juga menjadi penyakit masyarakat yang menjangkiti dunia pendidikan tinggi, sehingga harus ada upaya perbaikan dan pembinaan moral yang terus-menerus.

Kegiatan uji coba internalisasi nilai-nilai perjuangan Diponegoro di UNDIP pada tahun 2011 dengan sasaran mahasiswa baru UNDIP mendapatkan respon yang positif, dan dengan strategi pembelajaran yang tidak membosankan, kegiatan ini mampu membangkitkan semangat dan kebanggaan kepada para mahasiswa sebagai salah satu penyandang nama besar Diponegoro. Kurangnya informasi yang dimiliki oleh mahasiswa tentang kehidupan dan perjuangan Diponegoro menyebabkan program internalisasi nilai-nilai juang Diponegoro menjadi wahana belajar dan sarana memenuhi keingintahuan mahasiswa.

Sekalipun model internalisasi ini dikhususkan penerapannya di UNDIP, tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan sebagai model dan acuan pembinaan karakter di berbagai lembaga pendidikan di semua jenjang.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 169 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: