murniramli

Apakah Bangsa Jepang Sudah Disiplin Sejak Dulu ?

In Renungan, Sejarah, Serba-Serbi Jepang on Februari 2, 2012 at 10:45 pm

Bagi orang yang berkecimpung dengan dunia kejepangan, banyak hal yang selalu menjadi pertanyaan tentang keunikan masyrakat Jepang. Sewaktu saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Jepang, saya masih ingat beberapa ustadz di pesantren saya dulu menceritakan kisah-kisah yang mereka dengar tentang kedisiplinan orang Jepang. Pun ada di antaranya yang telah berinteraksi dengan beberapa professor di Jepang (pesantren Darul Fallah Bogor pernah diteliti oleh seorang pakar Jepang pada era 70-an, beliau sudah meninggal), menyampaikan betapa kerasnya mereka bekerja. Saya berangkat pada waktu itu dengan titipan pertanyaan : mencari kenapa bangsa Jepang bisa sedisiplin itu?

Kedisiplinan sudah mulai tampak ketika kami (rombongan mahasiswa dari berbagai negara yang memperoleh beasiswa pemerintah Jepang) disambut di bandara saat petugas dengan sopan meminta kami berbaris rapi mengantri menunggu giliran pemeriksaan keimigrasian. Dan keluar dari bandara, lalu dalam menjalani hidup selama kurang lebih 7 tahun, saya sehari-harinya berhadapan dengan pemandangan orang-orang Jepang yang mengantri di mana-mana, bekerja serius tanpa banyak mengobrol, datang tepat waktu, pulang tepat waktu, mematuhi jam kerja yang sudah ditetapkan, membungkuk hormat kepada konsumen, dan banyak lagi sikap yang unik, karena tidak saya jumpai di tanah air pada waktu itu. Persis sama seperti yang digambarkan oleh para ustadz saya di pesantren.

Saya semakin terbebani dengan titipan pertanyaan ustadz. Saya tanyakan kepada professor dan orang-orang Jepang, mengapa mereka seperti itu? Jawaban yang saya dengar macam-macam. Ada yang mengatakan sudah dari sononya begitu; sejak kecil kami sudah belajar tentang hal itu; bahkan ada yang balas bertanya, “Bukankah dengan disiplin dan bekerja keras lebih banyak manfaatnya daripada kerugiannya?” Pertanyaan balik ini seakan menjadi bentuk keheranan : kok pertanyaan seperti itu kamu tanyakan? Bukankah itu perbuatan baik? Perbuatan baik tidak perlu dipertanyakan mengapa ia harus dilakukan, karena semua sudah mengerti alasannya….untuk kebaikan pula.

Jawaban-jawaban itu kalau saya sampaikan kepada ustadz, tentulah belum memuaskan. Maka mulailah saya mempelajari bagaimana orang Jepang dididik. Sebab, ada benang merah yang tanpa sadar menyambungkan cerita-cerita yang saya dengar dari orang Jepang tentang kedisiplinannya, dan itu adalah pendidikan. Saya berkesempatan mendatangi Institusi penyelenggara pendidikan anak usia dini di Jepang (hoikuen dan youchien), SD, SMP, SMA dan beberapa SMK. Dari guru-guru dan kepala sekolah, saya biasanya dioleh-olehi satu amplop besar pamflet, brosur, dan handbook sekolah. Saya adalah mahasiswa asing biasa, dan merasa sangat asing dan jengah dengan penghormatan yang diberikan kepsek dan guru-guru kepada kami. Kepsek menunggu kami di pintu masuk bangunan sekolah, lalu dia dan stafnya membungkuk sepertiga badan mengucapkan salam, dan  mempersilakan kami mengganti sepatu dengan slipper yang sudah dikeluarkan dari box-nya. Sikap seperti itu hampir seragam, di sekolah manapun yang pernah saya kunjungi di seantero Jepang. Saya semakin yakin bahwa sikap disiplin itu dibangun di sekolah. Tetapi saya belum dapat memformulasikan seperti apa pendidikan Jepang itu. Barulah setelah program doktor saya memasuki tahun ketiga, saya berani mengeluarkan konsep Pendidikan Tiga Dimensi (Tubuh-Jiwa-Otak) di Jepang, yang sudah beberapa kali saya ulas dalam blog ini.

Konsep di atas boleh jadi salah, sebab saya adalah manusia biasa. Namun, saya meyakininya sebagai sebuah konsep yang paling tepat menggambarkan pendidikan di Jepang apabila dilihat secara makro dan menyeluruh, dari jenjang PAUD hingga pendidikan tinggi. Bahwa pendidikan hendaknya dimulai dengan pembentukan tubuh yang sehat, dan selanjutnya diikuti dengan pengenalan karakter dan norma melalui pendekatan hati dan pembiasaan, dan diakhiri dengan pengembangan otak yang didasarkan pada rasa ingin tahu yang tinggi. Model pendidikan tsb tidak dilaksanakan secara terbalik, yaitu otak-hati-tubuh, atau hati-tubuh-otak. Saya kira masih perlu saya membuktikan dan menganalisa konsep ini ke depan, dan boleh jadi akan berubah.

Tetapi apakah konsep tersebut sudah mampu titipan pertanyaan ustadz?

Belum. Saya kira dengan pendekatan mempelajari konten pelajaran di sekolah tidak memadai untuk memahami mengapa orang Jepang memiliki etika disiplin dan etos kerja yang tinggi. Maka tergeraklah saya untuk menyusuri sejarah orang Jepang. Saya berasumsi bahwa kedisiplinan dan etos kerja Jepang bukanlah karakter gen yang diturunkan, tetapi perilaku yang muncul karena faktor lingkungan, alam, dan sebuah pengalaman/perubahan sejarah. Asumsi tersebut berkembang karena pada faktanya, generasi tualah yang tampak lebih disiplin dan merupakan pekerja keras. Adapun pada generasi mudanya, banyak saya temukan fakta-fakta ketidakdisiplinan dan “kelembekan” dalam bekerja. Saya memutuskan untuk menanyai orang-orang tua Jepang yang berusia antara 70-80 tahun. Selain itu, saya pun mulai menekuni buku-buku ajar yang dipakai di Jepang pada masa Meiji (sebelum perang). Pertanyaan di kepala semakin bertambah, apakah kedisiplinan dan etos kerja orang Jepang adalah materi ajar yang diberikan sejak istilah persekolahan dikenal dalam masyarakat Jepang? Jika ya, dari mana sumbernya?

Dari penelusuran sejarah, saya mulai memperoleh titik terang dan bisa meraba-raba jawaban pertanyaan dari mana kedisiplinan dan etos kerja itu bermuara. Banyak pakar yang menuliskan bahwa konsep disiplin dan etika bekerja adalah salah satu bentuk pengejewantahan prinsip bushido yang dipegang teguh oleh para samurai Jepang. Prinsip bushido yang berkembang dari ajaran Konfusianisme tersebutlah yang terus dipegang dan dilaksanakan oleh masyarakat Jepang hingga dewasa ini.

Pendapat di atas terbantahkan oleh sebuah kajian menarik yang dilakukan oleh Prof. Takehiko Hashimoto mengenai sejarah “Japanese Clock” dan Sikap Disiplin Waktu Orang Jepang yang dimuat dalam sebuah jurnal pada tahun 2008. Juga tulisan Tetsuro Kato dalam Look Japan pada tahun 1995 menggambarkan ulasan menarik tentang sikap moral orang Jepang pada masa lampau. Hashimoto memaparkan bahwa menurut analisa laporan yang disampaikan oleh beberapa orang Eropa yang datang ke Jepang pada masa awal atau menjelang masa Meiji, orang Jepang bukanlah pekerja yang mematuhi waktu dan serius bekerja. Mereka dilaporkan lebih santai, senang minum-minum, dan ketika sistem perkeretaan diperkenalkan, keterlambatan selama 30 menit adalah hal yang lumrah. Hari libur lebih banyak dibandingkan dengan para pekerja Jepang saat ini, yang umumnya hanya mengambil cuti seminggu dalam setahun. Pada masa Meiji, pekerja Jepang banyak yang libur dan mencutikan diri pada perayaan-perayaan yang erat kaitannya dengan budaya dan agama.Absen dari pekerjaan juga cukup tinggi (20%), sangat berbeda dengan kondisi orang Jepang saat ini yang sakit pun tetap berangkat bekerja (absen 0%). Mereka juga dengan mudah berhenti bekerja, dan tidak menunjukkan etos kerja di Jepang yang terkenal saat ini, yaitu bekerja semur hidup atau hingga pensiun di sebuah perusahaan/instansi.

Hashimoto mengaitkan kelahiran sikap disiplin dengan masuknya sistem mechanical clock di Jepang, sementara Kato berargumen bahwa kedisiplinan mulai lahir pasca perang dunia, yaitu ketika Jepang kalah dalam peperangan, dan merasa tidak ada jalan lain untuk bangkit kecuali berdisiplin dalam bekerja dan mengutamajan kerja keras. Maka wajarlah, dengan asumsi ini, banyak orang tua di Jepang bekerja siang malam, bahkan tidak pulang ke rumah, ketika mereka masih kuat bekerja. Generasi yang merasakan akibat langsung peperangan adalah generasi yang tertempa dan tidak mau lagi masuk dalam penderitaan yang sama. Untuk itu mereka memegang teguh prinsip bekerja keras dan penuh kedisiplinan.

Saya sudah menemukan jawaban, bahwa sikap disiplin dan bekerja keras orang Jepang bukanlah karakter yang dilahirkan/diwariskan secara genetik. Mereka dulunya sama dengan negara-negara tidak berkembang dan berkembang yang dapat kita saksikan dewasa ini, adalah bangsa yang tidak disiplin. Karena trigger kondisi peranglah yang mendorong mereka untuk bangkit.

Lalu, setelah bangkit dan menjadi leading inovation country in the world, apakah mereka menurun semanangat disiplin dan kerja kerasnya? Jawabannya tidak, karena konsep moral ini telah berhasil ditanamkan dan “dikawal” dengan ketat agar senantiasa terwariskan dengan baik, yaitu melalui jalur pendidikan sekolah.Memang tidak dikatakan bahwa Jepang memberikan pelajaran agama kepada para siswa sekolah, tetapi konsep disiplin dan etos kerja keras adalah nilai-nilai yang diakui bersama sebagai bagian dari konsep bushido yang harus disampaikan dari masa ke masa.

Selanjutnya, muncul pertanyaan baru, bagaimana konsep bushido (lahir pada era Tokugawa-sebelum Meiji) diaplikasikan pada era Meiji dan masa-masa sesudahnya? Saya mengasumsikan bahwa konsep bushido tetap dipegang kokoh oleh kalangan prajurit. Bagaimana dengan masyarakat awam atau non-samurai pada masa itu? Saya masih mencari jawabannya:-)

 

 

 

 

About these ads
  1. http://online.wsj.com/article/SB122548483530388957.html

    ini adalah artikel yg dimuat di wall street journal, tentang para pekerja muda di jepang yang
    ogah di-promosi, karena takut tanggung jawab jadi berat. mereka memilih gaji rendah dan tanggung jawab juga ringan, supaya bisa pulang kerja tepat waktu.
    Slacker Nation? Young Japanese Shun Promotions
    ‘Hodo-Hodo’ Favor Humdrum Jobs Even as Recession Looms

    TOKYO — Hidekazu Nishikido, a 24-year-old agent at a staffing company, recently got promoted to help manage a small group of employees. The new job means a higher salary and a better title.

    But he isn’t happy about it. Now he often works past 10 p.m., leaving him less time with his girlfriend. So Mr. Nishikido flatly told his bosses at R-live Inc. he isn’t interested in further promotions.

    “My job is important, but it’s not what makes me tick,” Mr. Nishikido says.

    In a country once proud of its success-driven “salarymen,” managers are grappling with a new phenomenon: Many young workers are shunning choice promotions — even forgoing raises — in favor of humdrum jobs with minimal responsibilities.
    The Hodo-Hodo Work Force
    {if djIsFlashPossible} The version of Adobe Flash Player required to view this interactive has not been found. To enjoy our complete interactive experience, please download a free copy of the latest version of Adobe Flash Player here {else} This content can not be displayed because your browser does not support the Adobe Flash player required to view it. {/if}

    Even as Japan faces a sharp recession, civil servants are opting out of career-advancing exams and information-technology workers are flocking to headhunters to switch to less-demanding careers. A study this year by the consulting firm Towers Perrin found just 3% of Japanese workers say they’re putting their full effort into their jobs — the lowest of 18 countries surveyed.

    That’s prompting companies to craft delicate strategies to nudge young workers up the corporate ladder. “I tell them to break news of promotions gently,” says Makoto Iwade, a lawyer who advises companies on labor relations. “They should feel employees out first to see if they’re ready. Don’t shock them.”

    Employment experts have begun to call these workers hodo-hodo zoku, or the “so-so folks.” They say these workers, mostly in their 20s and early 30s, are sapping Japan’s international competitiveness at a time when the aging country must raise its productivity to keep the economy growing.

    “They’ll ruin Japan with their lax work ethic,” says labor consultant Yukiko Takita. “They’re supposed to be leaders of the next generation.”

    Japan’s once widespread practice of lifetime employment used to make loyal workers unlikely to reject promotions. In the 1990s, the country began grappling with the emergence of “freeters,” young workers who hop from one casual job to the next. But the so-so folks are an even greater concern because, as full-time employees, they’re at the heart of corporate Japan, Ms. Takita says.

    Signs of hodo-hodo are widespread. The Tokyo Metropolitan Government, a destination for the city’s elite, says only 14% of eligible employees took higher-level exams for management positions in 2007 — down from 40% three decades ago. The electronics giant Sanyo Electric Co. says it’s having an increasingly harder time filling demanding management positions like supervisors for overseas factories.

    Information-technology job consultants at Intelligence Ltd., one of Japan’s top recruitment agencies, report a recent rise in people looking to switch jobs not to get ahead, but to get out of positions they say are too demanding. “They find responsibilities a chore,” says consultant Yoshihiko Fujita.

    In a sign of the times, “Otaryman,” a comic-book series about a less-than-driven salaryman, has become one of this year’s surprise hits. In the book, the protagonist passes his days worrying about his colleagues’ files spilling onto his desk rather than trying to impress bosses. “He just plods along (in) life, and has very small ambitions,” says Makoto Yoshitani, the series’s 28-year-old author. “I think people my age find that comforting.”

    Some authors even have started condoning this laid-back approach. “Slow Career: Job Survival for People Not Rushing Career Advancement” is one popular tome, with chapters like “Forget goals, just stay true to yourself” and “Not everybody needs to become a leader.”

    Chiaki Arai, who has written about the hodo-hodo phenomenon in newspapers, blames Japan’s economic woes during the long slump in the 1990s and early 2000s. He says young workers saw older generations throw themselves into their work, only to face job and pay cuts as companies restructured. Now, young employees are cautious about giving too much of themselves — even if it means less money or prestige, Dr. Arai says.

    Moreover, getting a promotion no longer means getting such a big pay raise. The wage difference between managerial and rank-and-file positions has shrunk over the past decade as companies cut compensation amid restructuring. In 2005, division managers were paid about 2.2 times the rank-and-file worker, down from about 2.7 times in 1985.

    With management posts increasingly harder to fill, Sanyo recently started holding compulsory career-training retreats for workers turning 30. At the retreats, executives give pep talks “to remind them their best years are still ahead,” says Jun Nakamura, Sanyo’s head of human resources. “We want to tell this generation that though it’s been tough, they shouldn’t give up yet.”

    Dai-ichi Mutual Life Insurance Co. is finding it so hard to identify managerial candidates that it has turned to the clerical workers it calls office ladies to fill positions. Promoting these women — most of whom are in their 40s and joined the company in a non-career track — would have been unthinkable 10 years ago, employment experts say. “I never imagined I’d be called on for a management post,” says Saori Kakegawa, a participant in the program.

    Law firms say the trend has companies scrambling to seek legal counsel on whether they can fire employees who refuse promotions. CyberAgent Inc., 4751.TO +6.75% a Tokyo-based Internet advertising agency, is offering the unambitious a different way out. The company puts these workers on a “specialist” track where they can remain rank-and-file employees but have similar salaries as managers. This ensures the company “doesn’t lose qualified employees by pressuring them to accept promotions,” says Tetsuhito Soyama, general manager for personnel at the company.

    Tsugumi Uemura, a public-relations worker at the company, opted out of the management track in April in part because she didn’t feel ready. “I want to be a different kind of role model,” says Ms. Uemura, who is 30.

    For older-generation managers, and even some younger ones, the hodo-hodo mentality is difficult to understand.

    Miya Matsumoto, manager of the laid-back Mr. Nishikido, says she’s tried everything — from screening success-themed films like “The Devil Wears Prada” to throwing after-work drinking parties — to push her subordinates to be more ambitious. But her team members rarely show interest in bigger responsibilities, she says. She recently caught one of them napping on a train during work.

    The 31-year-old Ms. Matsumoto says she threw herself into her job, often staying overnight in the office to get work done. “Don’t you want to get ahead? Don’t you want to get rich and drive a nice car?” she prodded Mr. Nishikido recently.

    But Mr. Nishikido says he finds Ms. Matsumoto’s enthusiasm off-putting. He says he was especially turned off when he learned she had left her sick baby at home with her husband to come to the office (Ms. Matsumoto says work emergencies sometimes must come first.)

    “That’s definitely not the life I want,” Mr. Nishikido says. “No way.”

    Write to Hiroko Tabuchi at hiroko.tabuchi@wsj.com

  2. […] Apakah Bangsa Jepang Sudah Disiplin Sejak Dulu […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 172 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: