murniramli

Melek Aksara

In PAUD, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan, Serba-serbi Indonesia on September 10, 2012 at 3:09 am

Ketika disertasi selesai saya tuliskan dalam bahasa Jepang, academic advisor saya di Nagoya Univ, berkata, “Bukankah ini sebuah kebahagiaan, dari tak bisa membaca dan menulis huruf Jepang ketika pertama kali saya menjumpai Murni san, hingga sekarang Anda bisa menuliskannya dalam kalimat-kalimat ilmiah sebagaimana orang Jepang biasa melakukannya?”

Ya, adalah nikmat tiada tara, ketika kita dapat membaca dan menulis dalam bahasa selain bahasa ibu. Dan pun adalah pemberian Allah yang tiada tara, kemampuan membaca dan menulis aksara. Coba saja kita lihat, anak-anak yang baru saja dapat mengeja huruf, bukankah dia akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berulang-ulang membaca tulisan. Jika ada buku bacaan di depannya, maka tentulah dia bersemangat membacanya seakan tanpa ingin berhenti.

Melek aksara akan mengantarkan manusia pada ketinggian derajat. Dia akan membawa manusia pada golongan orang-orang berilmu yang lebih tinggi derajatnya daripada orang yang tak berilmu. Karenanya, dalam semua agama, diperintahkan penganutnya untuk menjadi orang yang berilmu.

Program memberantas buta huruf sudah berlangsung sejak nusantara berpenghunikan manusia. Sebelum mengenal abjad alphabet, orang-orang di nusantara telah belajar membaca dan menulis sesuai dengan abjad dan aksara yang mereka kenal di dalam etnisnya. Sekalipun simbol-simbol yang mereka pergunakan tak dikenal di suku-suku yang lain, tetapi mereka telah melek aksara sebenarnya. Tidak semua orang dalam suku tersebut yang mampu membaca simbol-simbol itu, oleh karena itu, dari dulu hingga kini, orang yang bisa membaca aksara tetaplah dianggap sebagai orang yang memiliki kelebihan dan derajat tertentu.

Pada masa orang-orang Eropa mulai mencari rempah ke negeri-negeri kerajaan di nusantara, pada dasarnya orang-ornag di nusantara bukanlah orang-orang buta huruf, sehingga mudah dikelabui. Tetapi “orang-orang nusantara yang melek huruf” hanya segelintir saja, yaitu dari kalangan bangsawan. Oleh karenanya, tipu daya kompeni hanya berjalan dengan baik di kalangan penduduk nusantara yang buta huruf.

Penjajahan membawa budaya barat yang dianggap penduduk nusantara sebagai budayanya orang hebat dan terpandang, sehingga banyak dari kalangan bangsawan yang menginginkan dididik ala barat. Maka, itulah awal interaksi dengan huruf-huruf alphabet romawi yang kita kenal dewasa ini. Abjad itu kemudian disepakati sebagai abjad internasional yang ke manapun kita pergi, tulisan yang kita buat dapat dibaca oleh penduduk belahan dunia yang lain.

Sejalan dengan semakin kuatnya pengajaran alphabet romawi di sekolah-sekolah di tanah air, maka terkikislah pengajaran abjad suku. Anak-anak sekarang tak lagi sama dengan orang tuanya yang memahami abjad suku, dan juga abjad internasional. Beruntunglah isu mulok bahasa daerah masih diajarkan di tanah air. Namun, sungguh berat bagi anak-anak perantau yang harus mengikuti ayahnya berkelana, seperti halnya saya dan adik-adik. Kami tak lagi mengenali aksara Bugis yang menjadi aksara suku kami tatkala Bapak harus pindah ke Jawa, dan kami “terpaksa” mempelajari aksara Jawa yang menjadi pelajaran wajib di sekolah pada masa itu. Anak-anak Indonesia di Jepang yang mengikuti orang tuanya, menghadapi masalah yang sama. Mereka juga lebih paham menulis dalam huruf hiragana, katakana, dan kanji dibandingkan huruf-huruf dalam bahasa ibunya.

Lalu, di mana dan bagaimana sebaiknya anak-anak seperti itu dididik agar tetap tahu dia aksara sukunya? Atau pertanyaan yang paling mendasar sebelum pertanyaan itu adalah, apakah perlu mengajari mereka aksara sukunya?

Perlu tidaknya mereka diajari bahasa daerah sangat tergantung pada manfaat apa yang akan mereka peroleh dengan mempelajarinya. Jika kelak dia akan berkomunikasi dengan keluarga kakek neneknya yang masih berbicara dengan bahasa sukunya, maka si anak perlu diajari bahasa ibunya, di lingkungan keluarganya seandainya dia tak mendapatkannya di sekolah. Saya termasuk korban yang tidak memperoleh didikan cukup baik bahasa ibu, tetapi sangat beruntung karena almarhum Bapak, mamak, dan kakak adik, masih menggunakan bahasa Bugis di rumah, sehingga sedikit banyak saya masih bisa berkomunikasi dengan keluarga di kampung. Saya kira, keluarga adalah tempat melatihkan komunikasi bahasa ibu secara informal, bahkan mungkin secara praktis, ia lebih baik daripada sekolah.

Melek akasara yang ditekankan pada anak-anak tempo dulu dengan anak-anak masa kini sangat berbeda penekanannya. Apabila dulu, melek aksara ditekankan pada dua kategori yaitu melek abjad alphabet (karena ini berlaku nasional), dan melek huruf Arab (ini secara informal dalam keluarga Islam menjadi kewajiban), maka kini banyak orang tua yang “mendesakkan” ke kepala anak-anaknya untuk melek aksara (dalam arti luas membaca, menulis, dan berkomunikasi) asing.

Jikalau anak hendak hidup dalam dunia yang memang akan menggunakan bahasa asing tersebut, maka tidak menjadi masalah menjejalinya dengan aksara tersebut. Tetapi jika dia hendak hidup di lingkungan yang notabene tak menggunakan bahasa asing tersebut, maka alangkah baiknya mengajarinya bahasa yang akan dipakainya berkomunikasi dengan teman-temannya.

Banyak orang tua yang pulang dari luar negeri menyayangkan kalau kemampuan literasi anak terhadap bahasa asing akan hilang jika tak dipelihara dengan senantiasa menggunakan bahasa tersebut di rumah. Tetapi, orang tua juga perlu memahami kontradiksi dan konflik batin yang terjadi dalam diri anak ketika dia berinteraksi dengan teman-temannya, dan dia tak mampu berkomunikasi dengan bahasa yang dipergunakan kebanyakan temannya. Memang, tidak semua anak akan mengalami konflik batin, sebab ada juga yang lancar-lancar saja melaluinya. Tetapi, sebagai orang tua, pernahkah kita berpikir bahwa ini sebenarnya murni bukan keinginan anak, tetapi keinginan kita?

Saya tidak menentang orang tua yang memperkenalkan anak-anaknya dengan aksara apapun yang dia maui, asalkan itu tak dilakukan dengan paksaan. Tetapi sebanyak apapun aksara yang diperkenalkan, maka hendaklah yang pertama kali dipahamkan kepada anak-anak, terutama kaum muslimin adalah aksara yang dipakai untuk mempelajari agamanya, yaitu aksara Arab agar ia terampil membaca Al-Quran, dan fasih lisannya membaca ayat-ayat dan doa-doa.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: