murniramli

Menikmati Pergantian Musim di Indonesia

In Belajar Kepada Alam, Serba-serbi Indonesia on Januari 7, 2013 at 9:29 am

Ada banyak tanda-tanda alam yang barangkali luput dari pengamatan banyak orang. Padahal kalau diperhatikan sungguh indah hidup ini. Sewaktu tinggal di Jepang, karena musim berganti empat kali dalam setahun, maka tanda-tanda alam yang berubah setiap pergantian musim kentara sekali. Menjelang musim panas, suara tonggeret (cicadas) adalah tanda alam yang sangat menyolok, saat matahari menyinari kota-kota di Jepang dengan kuatnya. Memasuki musim gugur, hujan terus-menerus, daun-daun pepohonan  menguning dan memerah, angin bertiup kencang. Masuk ke musim dingin, pepohonan gundul, dan hawa mendadak dingin. Pasca musim dingin, kuncup dan tunas baru bermunculan,  sakura memutihkan kota dan desa di Jepang.

Apakah di Indonesia tak ada tanda-tanda alam yang semenarik itu?

Ada. Tidakkah Anda perhatikan alam sekitar belakangan ini? Saya mengamatinya sejak memasuki musim hujan lalu, sekitar bulan Oktober. Pada pergantian musim kemarau ke musim hujan, angin bertiup kencang, menggugurkan bunga-bunga kecil pepohonan jalan. Yang sangat kentara adalah bunga-bunga angsana. Kalau berjalan kaki di sepanjang deretan angsana, cobalah hirup dalam-dalam, pasti Anda akan mencium bau harum bunga angsana. Lalu, dibantu dengan angin yang bertiup, bunga-bunga kecilnya berguguran, membuat “salju kuning” di udara, dan permadani lembut kuning di jalan-jalan dan trotoar. Wah, indah sekali ! Saya merasa seperti berada di taman yang dipenuhi daun-daun icho (ginko) yang membentuk permadani kuning seperti yang pernah saya rasakan di Jepang.

Lalu, perhatikanlah pada bulan Desember atau menjelang tahun baru, pohon-pohon kersen, pohon mengkudu memutih. Kalau didekati, warna putih itu adalah kupu-kupu kecil yang datang mengincipi madu bunga-bunga kecil kersen yang juga putih, atau bunga mengkudu yang kecil dan harum. Saya sangat menikmatinya setiap kali berjalan sekeliling kompleks rumah yang banyak sekali tumbuh kersen, atau takjub melihatnya sepanjang perjalanan bolak-balik Solo-Madiun.

Tidak hanya itu, pemerhati hutan pasti akan terpaku melihat daun-daun jati yang habis dimakan ulat sekitar awal-awal musim hujan. Saya mengamatinya di sepanjang hutan di Ngawi, sembari melihat pohon jati yang baru tumbuh menghijau setelah meranggas di musim kemarau, daun-daunnya pun tinggal tulang karena dikrokoti ulat-ulat.

Beberapa hari yang lalu, sepanjang jalan menuju UNDIP di Tembalang ada pohon kapuk yang sedang mekar, sehingga jalanan dipenuhi oleh kapas-kapas putih yang menurut sebagian pemakai jalan tentulah mengganggu. Tetapi, saya yang dulu sering menikmati pemandangan itu di kebun IPB di Baranangsiang, berteriak gembira, “musim salju” telah tiba.

Mundur ke belakang ketika awal-awal musim hujan, kami sering bergelap-gelap di rumah, karena serangga-serangga kecil menempel di lampu, lalu pada kondisi hujan yang hangat, rayap-rayap di kayu-kayu rumah akan keluar, berubah menjadi laron yang memenuhi lampu teras-teras rumah. Sekarang sudah tak ada lagi, ketika musim hujan sudah mencapai pertengahan, tetapi nyamuk-nyamuk begitu rajin berdengung di sekitar kami, dan cecak-cecak di rumah semakin gemuk.

Bagaimana dengan awal-awal musim panas? Penandanya adalah masuknya musim mangga. Semua rumah hampir mempunyai mangga. Di rumah saya saja ada tiga pohon, mangga gadong 2 pohon dan mangga madu yang baru perdana berbuah tahun ini. Halaman rumah penduduk dipenuhi pohon mangga yang bergelantungan buah-buahnya. Ketika mangga sudah mengakhiri masa “indahnya”, maka kalau kita perhatikan sepanjang jalan di Boyolali dan Salatiga, pohon-pohon durian menunjukkan bunganya yang cantik berwarna pink atau semburat oranye. Dari kejauhan mencolok sekali. Saya mengamatinya dari dalam bis yang melaju di jalan Semarang Solo. Indah sekali ! Sekarang kita sudah mulai dapat menikmati bau menyengat durian di pinggir-pinggir jalan. Sebentar lagi orang mabuk durian. Kalau tidak doyan durian seperti saya, maka rambutan adalah alternatif buah yang muncul akhir-akhir ini. Tahun lalu, seingat saya rambutan mulai meramaikan halaman rumah pada bulan November, tetapi sekarang tampaknya dia agak mundur masa berbuahnya.

Musim kemarau, sekalipun gersang di mana-mana, tetapi ada banyak pohon dan bunga yang bermekaran. Salah satunya adalah pohon Tabubeia. Wah, ini pohon yang benar-benar mirip sakura kuning. Daunnya gugur ketika bunganya memenuhi dahan-dahannya. Sayangnya masa berbunganya pendek, dan hati-hati karena banyak sekali lebah yang menyukai bunganya. Selain Tabubeia, flamboyan dan bungur juga berbunga.

yellowtab02

Gb. Tabubeia chrysantha

Kalau manusia senantiasa menikmati perubahan alam itu dengan kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam, saya yakin tidak akan ada yang berniat melakukan kejahatan dan kezoliman kepada sesamanya. Kebijakan akan lahir dalam diri kita.

About these ads
  1. Terima kasih banyak atas informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 155 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: