<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Berguru</title>
	<atom:link href="http://murniramli.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://murniramli.wordpress.com</link>
	<description>Education in Japan and Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 02:32:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='murniramli.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Berguru</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://murniramli.wordpress.com/osd.xml" title="Berguru" />
	<atom:link rel='hub' href='http://murniramli.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tips Sederhana Mengisi Aplikasi Teacher Training ke Jepang</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/20/aplikasi-teacher-training-di-jepang/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/20/aplikasi-teacher-training-di-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 15:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Menengah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan pra sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2060</guid>
		<description><![CDATA[Karena tulisan yang saya buat di blog ini dengan judul &#8220;Suka Duka Teacher Training Program di Jepang&#8221;, maka setiap tahun sejak saya menuliskan artikel tersebut, saya selalu menerima banyak sekali email yang menanyakan detil aplikasinya. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu Guru yang sudah membaca artikel tersebut. Dan mohon maaf juga karena adakalanya saya tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2060&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena tulisan yang saya buat di blog ini dengan judul &#8220;Suka Duka Teacher Training Program di Jepang&#8221;, maka setiap tahun sejak saya menuliskan artikel tersebut, saya selalu menerima banyak sekali email yang menanyakan detil aplikasinya. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu Guru yang sudah membaca artikel tersebut. Dan mohon maaf juga karena adakalanya saya tidak bisa membalas panjang-panjang, karena kesibukan kerja atau ada beberapa email yang masuk SPAM.<span id="more-2060"></span></p>
<p>Pertanyaan yang sering diajukan terkait dengan proses aplikasi meliputi :<br />
1) Pembuatan Surat Rekomendasi<br />
2) Pembuatan Ijazah dan Transkrip berbahasa Inggris<br />
3) Proposal of Study<br />
4) Tes bahasa Inggris</p>
<p>Saya akan coba jelaskan apa yang pernah saya kerjakan di tahun 2004, tetapi barangkali tidak sesuai lagi dengan aturan yang terbaru.</p>
<p>Seperti yang sudah saya jelaskan dalam artikel di atas, tahapan pertama yang harus dilewati oleh pelamar adalah seleksi administrasi. Karena Indonesia hanya memiliki kuota sekitar 10-12 orang (mungkin sekarang sudah bertambah), maka seleksi administrasi berlangsung ketat. Lalu, karena program TT semakin banyak diminati, maka saya yakin jumlah pelamar mungkin sudah mencapai angka seribu lebih. Oleh karena itu, setiap pelamar benar-benar harus memenuhi semua kriteria dan dokumen yang diminta. Periksa berulang-ulang isian form yang didownload, dan pastikan semuanya terisi dengan benar.</p>
<p>Yang sering lalai adalah : penulisan masa belajar yang harus dilengkapi tahun dan bulan. Banyak pelamar yang hanya menulis tahunnya saja. Mengapa ini begitu penting di Jepang? Karena sistem pendidikan di Jepang hanya memperbolehkan seseorang yang sudah menempuh masa belajar 16 tahun yang boleh mendaftar program TT yang disetarakan dengan S2. Jika ada yang masa belajarnya hanya 15 tahun 2 bulan, maka belum diloloskan untuk menempuh S2 di Jepang. Namun, ada kemungkinan seseorang loncat kelas karena jenius, kenyataan seperti ini harus dijelaskan dalam kolom keterangan (kolom keempat). Jadi, misalnya SMA seharusnya ditempuh 3 tahun, karena otaknya brilian, dia hanya perlu 2 tahun untuk menyelesaikannya.</p>
<p>Hal lain adalah ukuran foto yang agak aneh menurut ukuran Indonesia. Di Jepang, sudah biasa menggunakan ukuran 4.5&#215;3.5 cm. Jadi, jika toko foto tidak bisa mencetakkan foto ukuran ini, maka lebih baik Anda foto sendiri (pakai kamera dijital biasa), lalu print dan potong sendiri. Jangan paksakan menggunakan ukuran 4&#215;6 atau 3&#215;4 yang biasa kita pakai, karena ini menjadi salah satu yang bisa menggagalkan seleksi administrasi.</p>
<p>Selanjutnya dokumen-dokumen yang perlu dilampirkan, misalnya surat rekomendasi atasan. Orang Jepang menganggap hal ini sebagai hal yang sangat rahasia dan hanya boleh dibaca oleh orang yang berhak. Pelamar tidak berhak membacanya. Yang berhak adalah embassy atau MEXT yang menjadi penyedia beasiswa. Oleh karena itu, telah dituliskan dalam form aplikasi bahwa surat rekomendasi harus dimasukkan ke dalam amplop yang sudah dilem, dan ditandatangani di batas pengeleman tersebut oleh si pembuat rekomendasi. Jadi, jangan sampai lupa meminta tanda-tangan tersebut. Rekomendasi biasanya sengaja dibuat untuk meloloskan seseorang, oleh karena itu isinya pada umumnya sama, memuji-muji orang yang direkomendasikan. Sebenarnya akan sangat baik jika si pemberi rekomendasi memberikan contoh kasus yang membuktikan pelamar memang patut mendapat pujian. Rekomendasi tidak perlu muluk-muluk, yang penting sudah dituliskan apa yang perlu disampaikan secara jujur.</p>
<p>Pembuatan Ijazah dan Transkrip bahasa Inggris biasanya sudah disiapkan oleh universitas asal kita, dan biasanya sudah dalam bentuk yang terlegalisir. Saya dengar, ada beberapa universitas yang sudah memberikan terjemahan bahasa Inggris ijazah dan transkrip nilai mahasiswa yang mengikuti wisuda. Kalau universitas tidak mampu menyediakannya dalam versi Inggris, maka kita harus mengupayakan terjemahannya di lembaga penerjemah yang tersumpah.</p>
<p>Setelah itu, yang paling sering ditanyakan juga adalah Proposal of Study Program. Bagaimana menyusunnya dengan benar? Sebenarnya ini sama dengan menyusun proposal penelitian, yang terdiri dari bagian latar belakang (tanpa tinjauan pustaka), tujuan, dan metode. Karena hanya dibatasi 300 kata, maka perhatikan dengan baik komposisinya, yang kira-kira begini : Bagian latar belakang dan tujuan itu hanya 30%, metode atau rencana studi 70%. Lalu, apa yang harus ditulis? Saya menekankan pada prinsip-prinsip berikut :<br />
1) Tulislah permasalahan utama yang Anda hadapi selama mengajar. Analisa permasalahan tersebut dan kemukakan bagaimana rencana Anda menyelesaikannya dengan program TT ini. Jadi, misalnya kendala yang ada adalah kesulitan menangani siswa yang nakal, berisik di kelas, maka Anda perlu belajar manajemen kelas dan psikologi pendidikan.<br />
2) Cocokkan major yang ingin diambil dengan yang tersedia. Biasanya perpustakaan embassy mempunyai list universitas yang menyelenggarakan program TT. Anda tinggal mencari, major mana yang cocok.<br />
3) Tulislah rencana kegiatan Anda di sana (metode study), misalnya untuk mendapatkan informasi tentang pendidikan Jepang, Anda akan mengikuti kuliah yang disarankan, melakukan kunjungan sekolah, menginterview guru, melakukan studi literatur, dll.</p>
<p>Jika seleksi dokumen sudah lolos, maka pelamar akan ditelepon dalam waktu yang tidak tentu. Sehingga jangan mengganti nomor hp selama aplikasi, dan selalu on-kan HP-nya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Kalau tidak salah, saya mendapat telepon sore hari saat sedang belanja di supermarket. Kalau Anda ditelepon dan diminta mengikuti tes bahasa Inggris, maka persiapan selanjutnya adalah latihan bahasa Inggris. Saya menggunakan dua buku, yaitu buku Cliff, yang banyak dipakai untuk persiapan TOEFL, dan bukunya Barron, juga untuk persiapan TOEFL.</p>
<p>Jika nilai Anda baik dan memenuhi persyaratan, maka akan ada telepon lagi untuk mengundang Anda datang ke embassy untuk diwawancarai. Umumnya yang diwawancara akan gugur satu orang, atau bisa jadi lolos semuanya.</p>
<p>Demikian, tips sederhana mengisi aplikasi TT di Jepang. Semoga bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2060/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2060&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/20/aplikasi-teacher-training-di-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika dan Etos Kerja Tenaga Administrasi</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/17/etika-dan-etos-kerja-tenaga-administrasi/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/17/etika-dan-etos-kerja-tenaga-administrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 23:13:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-Serbi Jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2058</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah berkali-kali berhadapan dengan satpam yang bicaranya sangat tidak sopan itu. Belum pernah sekalipun ada senyum kecuali ketika dia berhadapan dengan pejabat. Gayanya persis seperti para pejabat yang ABS. Dia bahkan tidak mengerti apa tugas security selain mengunci pintu-pintu ruang, menunggu di pos satpam, ketika motor mahasiswa dan dosen lewat ke tempat parkir tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2058&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah berkali-kali berhadapan dengan satpam yang bicaranya sangat tidak sopan itu. Belum pernah sekalipun ada senyum kecuali ketika dia berhadapan dengan pejabat. Gayanya persis seperti para pejabat yang ABS. Dia bahkan tidak mengerti apa tugas security selain mengunci pintu-pintu ruang, menunggu di pos satpam, ketika motor mahasiswa dan dosen lewat ke tempat parkir tanpa ada sistem periksa (belum berlaku di fakultas kami). Selebihnya, tidak ada. Ketika saya beberapa kali harus lembur karena tugas dari kampus dalam rangka internalisasi Diponegoro, dia mungkin tidak terbiasa dengan hal ini, dan tidak mengetahui kalau saya dosen di fakultas tsb, dengan suara keras dia menuduh saya tidak melapor ke satpam. Saya balas memarahinya, bahwa saya selalu melapor, dan mencari satpam di pos satpam tetapi mereka tidak ada. Akhirnya dia membukakan pintu ruang kerja, tetapi masih dengan sikap yang sangat tidak sopan.<span id="more-2058"></span></p>
<p>Sebagai orang yang diperlakukan tidak sewenang-wenang, wajar jika saya melapor kepada pimpinannya. Dan tampaknya dia tahu bahwa saya melapor, maka mahasiswa yang saya minta mengambil kunci, terkena akibatnya, mahasiswa dimarahi habis-habisan. Ketua Jurusan tampaknya segera menelepon dia, dan menasehatkan untuk beretika lebih baik kepada semua staf dan juga mahasiswa. Tetapi, adalah lazim bahwa banyak orang yang tidak bisa mengubah tabiat. Si Satpam yang rendah etika tersebut masih melengos ketika bertemu, dan masih berbicara tidak sopan kepada mahasiswa ataupun bahkan tidak menganggap saya sebagai dosen.</p>
<p>Orang-orang yang bekerja di perguruan tinggi dengan tugas fungsional non dosen adalah orang-orang yang perlu mendapatkan pemahaman dan pembinaan tentang wilayah kerja dan etika bekerja. Bahwa mereka tidak perlu membungkuk-bungkuk ala pegawai yang hanya menjilat atasan saja. Mereka juga tidak perlu mendewakan pejabat di atasnya. Yang perlu mereka lakukan adalah bekerja sesuai dengan bidang kerjanya dan menghormati sesama sivitas akademika.</p>
<p>Sayang sekali, di tempat kami terdapat lebih dari 30-an tenaga honorer administrasi (termasuk satpam) yang kurang dibina dengan baik. Dan seperti kebanyakan fakultas, mereka diterima bukan dengan sistem seleksi kepegawaian yang ketat, tetapi atas dasar nepotisme. Karena dia anaknya si dosen A, karena dia ponakannya si Pak B, dll. Jika sistem seperti ini terus dilakukan dan tidak ada pembinaan, pelatihan, bahkan si pegawai sendiri sama sekali tidak memiliki motivasi untuk maju, maka fakultas tidak akan bisa maju, bahkan malahan tidak ada efisiensi keuangan atau lebih tepatnya kerugian ekonomi, karena harus menggaji orang yang tidak kompeten.</p>
<p>Yang lebih memperparah lagi adalah kebijakan memberikan mereka remunerasi.Saya yakin kebijakan ini tidak akan signifikan dengan peningkatan kinerja mereka jika penerapannya seperti sekarang ini. Saya melihat manajemen yang belum rapih, sistem penyimpanan data yang masih tradisional, dan pencarian data yang membutuhkan waktu cukup lama, dan sikap saling menyalahkan jiak terjadi error.</p>
<p>Selain kemampuan teknis yang masih harus banyak dikembangkan dan diasah, etos dan etika bekerja pun masih di bawah rata-rata. Saya pernah hendak meminjam bendera untuk keperluan seminar, dan masuk ke salah satu ruang yang ditunjukkan. Sapaan pertama yang saya peroleh, &#8220;Ada apa?&#8221;  dengan nada sedikit tinggi dan meremehkan. Saya yakin mahasiswa-mahasiswa diperlakukan lebih tidak sopan lagi, barangkali hanya dibalas dengan gerakan kepala. Di ruangan itu saya lihat mereka sangat santai mengobrol, sama sekali tidak terkesan sibuk bekerja, dan saya masuk ruangan setelah mengetuk dan mengucapkan salam, tetapi hampir tidak ada yang membalasnya.</p>
<p>Lain lagi cerita mahasiswa-mahasiswa yang menggunakan jasa perpustakaan. Mereka sering komplen karena petugas perpustakaan hanya punya satu tugas utama selama jam kerja yaitu, &#8220;ngerumpi&#8221;. Akibatnya, banyak mahasiswa yang enggan untuk mengunjung perpustakaan. Kalau toh terpaksa harus ke perpus,  bukunya saja yang dipinjam dan tidak dibaca di perpus, karena sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Saya kira bukan hanya petugas perpus di kampus kami, petugas perpus yang pernah saya kunjungi di Yogya pun sama saja. Pendataan buku yang masih tradisional (masih dicatat di buku) dan belum bisa ditelusuri secara online, sebenarnya merupakan salah satu penghambat univeristas ini menjadi universitas negeri. Harus ada kesadaran dan upaya untuk menyusunnya dalam bentuk online. Ketimbang ngerumpi, tugas ini lebih positif tentunya.</p>
<p>Yang sangat disayangkan, belum terlihat ada upaya dan niat pejabat struktural untuk memperbaiki kinerja para tenaga administratif yang bertugas memberikan pelayanan kepada mahasiswa dan dosen. Semuanya menjadi begitu sulit karena budaya yang selalu menggantungkan diri pada uang. Kalau tidak ada uang, maka tidak ada kegiatan yang bisa berjalan. Dan parahnya, kalau ada uang pun, itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Saya pikir jika para pejabat struktural memiliki sebuah misi dan rencana perbaikan kinerja yang baik, masalah-masalah sebagaimana yang saya sampaikan di atas tidak akan terjadi.</p>
<p>Saya ingin ceritakan sekilas bagaimana sopan dan baiknya pelayanan yang diberikan oleh staf di kampus Universitas Nagoya, tempat saya menimba ilmu selama kurang lebih 6 tahun. Sebagai mahasiswa doktor, saya mendapatkan jatah fotocopy gratis 500 lembar dalam satu semester. Pernah sekali kartu tersebut tidak saya ambil, karena merasa masih punya kelebihan semester sebelumnya. Petugas yang bertanggung jawab menelepon saya dan menjelaskan bahwa saya memiliki hak kartu fotocopy. Jika tidak keberatan bisakah datang ke kantor atau kami antar ke ruang belajar Anda, begitu katanya. Saya langsung malu, dan mengatakan segera ke bawah. Tidak hanya itu, sebagai Teaching Assistant dan Research Assistant, saya pun kadang lupa menandatangani slip honor, maka sering sekali saya ditelepon untuk datang ke kantor. Dan setiap datang di kantor pusat, pegawai yang bekerja meminta maaf terlebih dahulu karena telah merepotkan saya harus datang ke kantor. Saya kembali merasa malu, karena sayalah yang merepotkan mereka.</p>
<p>Sebelum maju ke sidang komisi, setiap mahasiswa doktor harus menyerahkan 3 draft disertasi. Saya kira draft ini harus saya jilid dan cover di luar kampus (di percetakan, karena tidak ada fotokopi yang melayani ini seperti di Indonesia). Ternyata, saya hanya diminta untuk membawa print out ketiga draft, dan staf administrasi di fakultas kami membantu, bahkan mengajari saya melakukan penjilidan sendiri dengan alat canggih yang ada. Beberapa fasilitas kampus seperti, mesin fotokopi kadang-kadang membuat mahasiswa asing yang belum pernah melihat alat secanggih itu, kebingungan. Tetapi, ini tidak perlu dikhawatirkan karena petugas administrasi dengan sigap meninggalkan pekerjaannya dan membantu mahasiswa menggunakan alat-alat tersebut.</p>
<p>Satpam di kampus kami kebanyakan orang tua. Tetapi mereka sangat ramah. Saya pernah bertanya letak sebuah bangunan di kampus kami ketika pertama kali datang ke kampus, dan dengan penjelasan yang rinci sekali, sambil bolak-balik memastikan apakah saya mengerti dengan penjelasannya. Mereka bahkan masih memandangi setelah saya berlalu, sebab ketika saya membalikkan badan, tangannya menunjuk-nunjuk arah yang harus saya tempuh.</p>
<p>Saya pernah menuliskan di blog ini pengalaman saya mencari letak kedubes Indonesia di Tokyo. Keluar dari stasiun Tokyo, saya seperti orang bingung, dan dalam kondisi seperti itu, yang paling aman untuk ditanyai adalah pak polisi. Seorang polisi yang berjaga di konban (pos polisi) dekat stasiun membimbing saya mendatangi sebuah peta daerah itu yang terpasang di depan konban. Anda ada di sini, dan harus lewat jalan ini, belok kanan, bla&#8230;bla&#8230;.dan ini Kedubes Indonesia. Karena ada peta, maka lebih mudah bagi saya menangkapnya. Ketika sudah paham dan mengucapkan terima kasih sebesarnya, si petugas masih sempat berpesan, &#8220;o ki o tsukete&#8221; (hati-hati).</p>
<p>Sikapnya sama dengan sikap satpam yang selalu berjaga malam dan mengontrol kampus kami. Hanya ada satu satpam yang bekerja di kampus kami karena semua pintu terkunci secara otomatis, maka tugas mereka bukan mengunci pintu, tetapi sekedar berkeliling kalau ada keanehan di dalam kampus. Belum pernah ada pencurian di malam hari karena ketatnya sistem sekuriti, tetapi pencurian di siang bolong (mungkin dilakukan oleh mahasiswa) justru pernah terjadi.Kalau berpapasan dengan satpam yang patroli malam, mereka selalu akan membalas sapaan, &#8220;Kombanwa&#8221; (selamat malam), dan tak lupa mengucapkan &#8220;hati-hati&#8221;.</p>
<p>Suasana kantor yang penuh orang ngerumpi, tidak akan terjadi di Jepang. Semuanya bekerja sesuai dengan bidangnya, dan pada jam istirahat kantor ditutup sebentar, pada saat itulah mereka menghambur ke kantin kampus, beristirahat sejenak, dan setelah itu mulai lagi bekerja dengan tertib.</p>
<p>Untuk staf yang baru masuk, di dalam konsep manajemen di Jepang, terdapat istilah OnJ (On the Job Training). Biasanya satu orang senior akan menjadi pembimbing yang akan menuntunkan, mengajarkan dan mengawasi kerja satu orang pegawai baru. Mereka baru dilepas bekerja sendiri setelah semua bagian yang menjadi tugasnya selesai ditrainingkan dan dia sudah diuji coba untuk melakukannya secara mandiri. Sesekali ketika dia mengalami kesulitan dalam kerja, dia dapat membicarakannya dengan senior pembimbing.</p>
<p>Saya yakin, sistem pelayanan di kampus-kampus akan menjadi lebih baik, jika ada komitmen dan keinginan dari pejabat struktural untuk mewacanakan dan merealisasikan itu. Jika status kampus sudah BLU, maka bukankah ada keleluasaan mengembangkan ciri khasnya? Jika, pegawai di bank-bank sudah sangat santun dan penuh sikap pelayanan (meskipun ada yang tersenyum dipaksa ketika melayani konsumen), maka staf perguruan tinggi pasti bisa setara atau lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2058/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2058/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2058/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2058/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2058/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2058/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2058/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2058&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/17/etika-dan-etos-kerja-tenaga-administrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Penelitian Semakin Bergairah : Kembangkan Pusat Studi</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/15/agar-penelitian-semakin-bergairah-kembangkan-pusat-studi/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/15/agar-penelitian-semakin-bergairah-kembangkan-pusat-studi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 11:22:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penelitian Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Organizational Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2056</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian di berbagai PTN di negara kita masih belum terlalu terdengar gaungnya. Baik implementasinya di masyarakat, maupun penyebaran informasinya melalui jurnal ilmiah atau buku.Menurut Indonesian Scientific Journal Database, hingga Mei 2011 terdapat kurang lebih 7000 jurnal yang mendaftarkan diri, dan 4000 jurnal yang rutin mengirimkan terbitan, dan 5100 jurnal yang dapat diakses online. Dari total [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2056&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penelitian di berbagai PTN di negara kita masih belum terlalu terdengar gaungnya. Baik implementasinya di masyarakat, maupun penyebaran informasinya melalui jurnal ilmiah atau buku.Menurut Indonesian Scientific Journal Database, hingga Mei 2011 terdapat kurang lebih 7000 jurnal yang mendaftarkan diri, dan 4000 jurnal yang rutin mengirimkan terbitan, dan 5100 jurnal yang dapat diakses online. Dari total tersebut, yang sudah diakreditasi oleh DIKTI bisa dihitung dengan jari. Sebanyak 4000 guru besar yang sudah dilantik di tanah air, dan sesuai dengan UU No 14 Tahun 2005 Pasal 49, seorang guru besar harus menghasilkan karya ilmiah dan buku. Memang tidak dituliskan periode atau rentang waktu penulisan, dan tampaknya pasal ini masih diabaikan, karena barangkali sekalipun wajib, tidak ada sanksi yang mengikutinya.<span id="more-2056"></span></p>
<p>Tentunya perlu diadakan penelitian untuk mengetahui di mana kendalanya, mengapa banyak guru besar dan doktor yang tidak produktif meneliti, dan  mengapa mereka pun tidak produktif menulis karya ilmiah atau buku? Apakah karena beban mengajar cukup besar, ataukah kegiatan mengisi seminar dan lokakarya membuat mereka kehabisan waktu, ataukah kesibukan mereka sebagai pakar/tenaga ahli yang dipakai oleh pemerintah sungguh menyita waktu? Saya kira tidak terlalu sulit untuk mendata dan melacak aktivitas ke-4000 guru besar, lalu kemudian menganalisa di mana letak ketidakbisaan tersebut.</p>
<p>Tidak perlu menunggu dana dari pemerintah untuk menyelenggarakan penelitian dan survey guru besar dan doktor di setiap universitas, setiap universitas yang benar-benar ingin maju secara akademik dan riset, harus berani mengambil langkah ini. Yang penting ada komitmen dan keinginan untuk maju, serta berada pada garda anti kemapanan.</p>
<p>Salah satu langkah mendorong para dosen untuk bergiat dalam penelitian adalah mengembangkan pusat studi, tempat para dosen mengasah ilmu dan kepakarannya, melalui kegiatan penelitian dan diskusi ilmiah, serta penulisan karya ilmiah. Pusat Studi di universitas tergolong minim, karena selalu terbentur pada pendanaan dan kemauan. Kalau tidak ada kucuran dana dari universitas, maka sulit memulainya. Semuanya selalu menunggu SK turun, sebelum mulai bergerak. Parahnya lagi, SK sudah turun, tetapi kegiatan tidak segera dimulai.</p>
<p>Saya ingin membagi pengalaman tentang pusat studi di universitas di Jepang yang saya ketahui. Saya bersinggungan pertama kali dengan Pusat Studi Pendidikan yang dikembangkan oleh Teacher Union. Mereka tidak didanai pemerintah, dan awalnya berdiri karena ada beberapa guru yang menyukai penelitian. Setelah melakukan beberapa aktivitas, Teacher Union mengakuisisinya, dan pihak pemerintah juga mengembangkan Pusat Studi Pendidikan di daerah.Sama juga cerita Pusat Studi Pendidikan Tinggi di Nagoya University. Ini juga berkembang dari kumpulan dosen yang mempunyai arah dan tema penelitian yang sama. Semula tidak ada pendanaan dari universitas, mereka hanya bergerak didasari atas keinginan untuk mengembangkan keilmuwan dan tentu saja kebijakan pemerintah Jepang yang hendak mempromosikan bidang riset dan teknologi di Jepang. Memang ada juga Pusat Studi yang dibentuk atas inisiatif universitas, tetapi umumnya pola yang berkembang adalah inisiasi dari dosen.</p>
<p>Lalu, bagaimana mengembangkan Pusat Studi di perguruan tinggi di tanah air? Barangkali langkah-langkah berikut ini dapat ditempuh :</p>
<p>Jika kita dosen reformer :</p>
<p>1) Mulai dengan memetakan dosen dan bidang keilmuan/penelitiannya.</p>
<p>2) Ajak dosen untuk berbicara informal (kalau perlu saat makan siang, karena orang yang makan tidak sempat marah atau tersinggung, dan tentunya lebih santai). Isi pembicaraan adalah merencanakan pendirian pusat studi, atau mungkin diawali dengan kegiatan penelitian bersama.</p>
<p>3) Jika sudah ada 3-4 orang yang berkomitmen, maka pusat studi bisa diinisiasi dengan meminta SK Dekan.</p>
<p>4) Kalau sudah ada SK, maka secara legal, kita bisa bebas beraktivitas. Jika tidak ada dana dari fakultas, maka harus rela menyisihkan uang dari kantong pribadi atau membuat kesepakatan antaranggota untuk menyisihkan sekian persen dari nilai proyek penelitian yang didapatnya, untuk pusat studi.</p>
<p>5) Untuk membantu berkembangnya kegiatan, kita perlu menjajagi kerjasama dengan pusat studi serupa di universitas di luar negeri.</p>
<p>6) Jangan bosan mengirim proposal penelitian yang didanai pihak asing, karena biasanya nilainya besar.</p>
<p>7) Uang yang diperoleh dari hasil penelitian bukan untuk menggemukkan kantong pribadi, tetapi untuk mengembangkan lembaga. Karenanya perlu kerelaan, dan orang-orang yang mata duitan tidak layak diajak bergabung, kecuali kalau dia mau mengubah tabiatnya.</p>
<p>8) Lalu, apakah tidak ada fee yang masuk untuk pengelola? Itu bisa diatur dengan kesepakatan bersama, misalnya dari dana proyek, seminar, lokakarya, kerjasama, berapa persen yang harus disetorkan ke lembaga, dan berapa persen menjadi uang saku anggota. Semestinya, anggota tidak usah meminta fee lagi, karena dengan kegiatan proyek yang didapat, dia secara otomatis sudah mendapatkan fee.</p>
<p>9) Jangan berputus asa untuk mengembangkan lembaga dengan merekrut dan mengajak dosen-dosen yang terkait untuk terlibat.</p>
<p>10) Kembangkan kerjasama dengan univeristas dalam negeri, instansi pemerintah dan swasta.</p>
<p>11) Selalu rutin menyusun publikasi pusat studi. Selain mengembangkan publikasi ke Jurnal Nasional dan Internasional, pusat studi juga perlu merilis buku laporan kegiatan yang dapat dikonsumsi semua pihak (dijual juga boleh).</p>
<p>12) Publikasi ke Jurnal hendaknya mencantumkan nama-nama peneliti terkait di pusat studi. Tidak bisa semuanya dimasukkan, hanya orang-orang yang namanya diusulkan dalam proyek.</p>
<p>13) Dalam kegiatan penelitian bersama, kembangkan pembagian tugas penelitian yang merata. Usahakan bukan hanya pimpinan proyek yang bekerja keras, sementara anggotanya santai-santai, atau sebaliknya, pimpinan proyek ongkang-ongkang kaki, dan anggota banting tulang.</p>
<p>14) Rencana Kegiatan Tahunan harus disusun pada awal tahun. Salah satunya adalah rencana melakukan penelitian ke luar negeri dengan model kerjasama penelitian dengan rekan sesama bidang kajian. Juga, mendaftarkan diri sebagai anggota masyarakat keilmuan level internasional. Jika terdaftar sebagai member, maka akan selalu ada dorongan untuk terus meneliti karena implikasi dari keanggotaan adalah selain pembayaran iuran, juga kewajiban mempresentasikan hasil penelitian atau men-submit-nya ke jurnal asosiasi keilmuan.</p>
<p>Saya sangat meyakini apabila sudah berkembang pusat-pusat studi di institusi pendidikan tinggi, akan semakin mudah bagi dosen untuk menulis, karena sudah ada bahan yang harus ditulisnya. Masalah ketidakmampuan berbahasa Inggris (untuk mengakses jurnal internasional) di jaman yang sudah sangat modern ini, bukan lagi masalah. Banyak jasa translator yang menawarkannya, atau jika enggan mengeluarkan uang untuk mereka, rekan-rekan dosen yang mahir berbahasa Inggris dapat diajak bergabung sebagai konsultan bahasa, sembari kita juga memacu diri untuk menguasai bahasa asing.</p>
<p>Banyak dosen senior yang merasa sudah tua atau mendekati pensiun dan merasa tidak cocok lagi untuk terlibat. Saya kira, keilmuwan seseorang hanya berhenti berkembang saat kematian menjemputnya, maka dosen-dosen senior dan sudah pensiun perlu tetap diajak bergabung, baik sebagai penasehat atau peneliti senior.</p>
<p>Banyak pula dosen muda yang enggan terlibat karena masih belum cukup pengalaman. Para pengelola pusat studi harus berpikir senantiasa pada pengkaderan. Karenanya perlu mengajak orang muda atau mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas pusat studi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2056/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2056&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/15/agar-penelitian-semakin-bergairah-kembangkan-pusat-studi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kata &#8220;Ubah&#8221; dalam bahasa Jepang</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/kata-ubah-dalam-bahasa-jepang/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/kata-ubah-dalam-bahasa-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 23:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2052</guid>
		<description><![CDATA[Kata perubahan berasal dari kata dasar &#8220;ubah&#8221;, yang memiliki bentukan : mengubah, mengubahkan, memperubahkan, berubah, berubah-ubah, terubah, diubah, perubahan, ubahan, pengubah, peubah, dan pengubahan. Kata ini memiliki cakupan makna : menjadi berbeda dari bentuk asalnya, berganti, bertukar, dan beralih. Bagaimana dengan kosakata yang menyatakan &#8220;ubah&#8221; dalam bahasa Jepang? Saya pertama kali mengenal kata &#8220;kawaru&#8221; (v) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2052&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata perubahan berasal dari kata dasar &#8220;ubah&#8221;, yang memiliki bentukan : mengubah, mengubahkan, memperubahkan, berubah, berubah-ubah, terubah, diubah, perubahan, ubahan, pengubah, peubah, dan pengubahan. Kata ini memiliki cakupan makna : menjadi berbeda dari bentuk asalnya, berganti, bertukar, dan beralih.<span id="more-2052"></span></p>
<p>Bagaimana dengan kosakata yang menyatakan &#8220;ubah&#8221; dalam bahasa Jepang?</p>
<p>Saya pertama kali mengenal kata &#8220;kawaru&#8221; (v) yang ditulis dalam huruf kanji 変わる, yang artinya adalah berubah. Contoh kalimat yang bisa dibentuk dengan kata ini adalah sbb:</p>
<p>天気が変わる（Tenki ga kawaru = Cuaca berubah)</p>
<p>味が変わる（Aji ga kawaru = Rasanya berubah)</p>
<p>大きなものから小さなものに変わる（ookina mono kara chiisana mono ni kawaru = berubah dari barang besar menjadi kecil)</p>
<p>変わるために行動を起こす（kawaru tameni koudou o okosu = Untuk berubah, ada aksi)</p>
<p>Dalam ulasan definisinya kata 変わる memilki makna,perbedaan dengan kondisi semula, dan atau hal yang tidak biasa. Kata ini adalah bentuk intransitif, dan jika diubah menjadi transitifnya maka bentuknya menjadi 変える(kaeru) yang berarti mengubah.</p>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, saya mengenal bentukan dari kata 変わる yang banyak sekali variasinya, contohnya 変化、変身、変心、変成、変更、変異、変人、変名、変遷、変策、dll. Dari bentuk kanjinya, kita dapat memahami apa yang berubah, misalnya kata 変心 (hensin), berarti hatinya yang berubah; kata 変身 (hensin) artinya berubah fisik, seperti tokoh Satria Baja Hitam atau Sailor Moon, ketika hendak berubah fisik dari orang biasa menjadi hero, mereka selalu berteriak, &#8220;Hensin !&#8221;.</p>
<p>Saya mengalami kesulitan menggunakan kata-kata yang maknanya berdekatan, misalnya 変化　(henka) dan 変更 (henkou). Kadang-kadang kata 変遷（hensen) juga cukup menyulitkan saya. Misalnya penggunaan dalam kalimat berikut :</p>
<p>ブランドの変更 atau ブランドの変遷　atau ブランドの変化 , yang mana yang paling benar? (ブランド= burando, artinya merek).</p>
<p>Untuk menganalisanya saya menggunakan kamus Jepang yang ada di sini.</p>
<p>Kata 変更　dapat digunakan untuk :</p>
<p>1) 計画・方針の変更（Perubahan rencana, prinsip)</p>
<p>2) 法律・制度の変更（Perubahan perundangan,kebijakan)</p>
<p>3) 組織・チームなどの変更 ( Perubahan organsisasi, kelompok, tim)</p>
<p>4) マイナス・悪い方向の変更（Perubahan dari negatif atau arah yang tidak bagus)</p>
<p>Adapun kata 変化　dapat dipergunakan untuk :</p>
<p>1) 物理的・化学的な変化（Perubahan secara fisik dan kimiawi)</p>
<p>2) 人・考えなどの変化（Perubahan sikap dan pemikiran orang)</p>
<p>3) 身辺・生活などの変化　（Perubahan urusan, kehidupan)</p>
<p>4) 生き物・動物などの変化（Perubahan makhluk hidup/hewan, dll)</p>
<p>5) 建物・外見などの変化（Perubahan bangunan dan bentuk)</p>
<p>6) 季節・様相等の変化（Perubahan musim, aspek, penampilan, dll)</p>
<p>7) 歴史・社会などの変化（Perubahan sejarah, masyarakat, dll)</p>
<p>8) 組織・集団等の変化（Perubahan organisasi, kelompok)</p>
<p>9) 交渉の様態・方針の変化（Perubahan etika dan prinsip negosiasi)</p>
<p>Sementara kata 変遷　penggunaannya adalah sbb :</p>
<p>1) 歴史・社会などの移り変わり（Transisi sejarah dan masyarakat)</p>
<p>Berdasarkan penggunaan kata-kata tersebut di atas, maka kita dapat menyatakan bahwa kalimat-kalimat di atas adalah benar, dengan makna yang berbeda-beda.</p>
<p>Adapun makna &#8220;mengubah atau mengganti, atau pergantian&#8221; biasanya digunakan kata 変える (baca kaeru). Kata ini dipergunakan untuk mengganti barang, orang, dll. Misalnya dalam kalimat berikut :</p>
<p>女性の役割に対して世界の見方が変える（Mengubah cara pandang dunia terhadap masalah peranan wanita)</p>
<p>家族の為に、進路を変える (Demi kepentingan keluarga, jurusan/rute hidup saya ubah)</p>
<p>Selain dengan kata dasar 変わる atau 変える、makna ubah masih dapat diterjemahkan menjadi beberapa kata berikut :</p>
<p>1) 替わる　(baca : kawaru) atau 替える（kaeru）artinya mengganti, shift atau mengubah. Perubahan yang berlangsung adalah perubahan total, bukan sebagian, sehingga perubahan menyebabkan terbentuknya barang baru.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>田中さんと席を替わる (Saya berganti tempat duduk dengan Tanaka san)</p>
<p>互いに部分的に入れ替わる (Mereka saling mengganti bagian-bagiannya)</p>
<p>冬の服に着替える（Mengganti ke baju musim dingin)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>２）代わる (baca kawaru) atau 代える（kaeru) artinya mewakili,mensubtitusi atau bergilir, misalnya :</p>
<p>社長に代わって挨拶する（Saya mewakili pimpinan menyampaikan sambutan)</p>
<p>代わる代わる話す（Mereka bergantian berbicara)</p>
<p>親は代わるものではない（Orang tua adalah tidak bisa disubsitusi)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3) 換わる( baca kawaru) atau 換える(kaeru)</p>
<p>座席を換わる (Mengubah posisi tempat duduk)</p>
<p>古いファイルに置き換わる（Mengubah tempat penyimpanan ke file yang lama)</p>
<p>言い換えれば、インドネシアは発展途上国である（Dengan kata lain, Indonesia adalah negara berkembang)</p>
<p>名古屋駅で電車を乗り換える（Saya ganti kereta di Stasiun Nagoya)</p>
<p>Demikianlah, dibandingkan dengan kosa kata bahasa Indonesia, kosa kata bahasa Jepang sangat complicated, tetapi menjadi sebuah kesenangan tersendiri apabila kita mempelajarinya sambil mendalami asal pembentukan dan berani menggunakannya dalam kalimat-kalimat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2052/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2052/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2052/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2052/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2052/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2052/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2052/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2052/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2052/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2052/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2052/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2052/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2052/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2052/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2052&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/kata-ubah-dalam-bahasa-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tukang Sayur Menuntut Keadilan</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/tukang-sayur/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/tukang-sayur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 01:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2044</guid>
		<description><![CDATA[Badannya kecil, tak sebanding dengan besarnya gerobak sayur yang harus didorongnya. Setiap hari perempuan tukang sayur itu berteriak lantang, &#8220;yur&#8230;.sayur&#8230;..sayur buu&#8230;Kadang-kadang dia hanya menaruh seiket sayur bayam atau tauge yang dipesan ibu, di atas tembok pagar. Dia tidak pernah libur seingat saya. Sama seperti hari Sabtu ini, dia tetap berteriak lantang, yur&#8230;sayuur. Kemarin, saya menjejeri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2044&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Badannya kecil, tak sebanding dengan besarnya gerobak sayur yang harus didorongnya. Setiap hari perempuan tukang sayur itu berteriak lantang, &#8220;yur&#8230;.sayur&#8230;..sayur buu&#8230;Kadang-kadang dia hanya menaruh seiket sayur bayam atau tauge yang dipesan ibu, di atas tembok pagar. Dia tidak pernah libur seingat saya. Sama seperti hari Sabtu ini, dia tetap berteriak lantang, yur&#8230;sayuur.<span id="more-2044"></span></p>
<p>Kemarin, saya menjejeri langkahnya tatkala berangkat menuju tempat pemberhentian angkot di dekat komplek. Jalan yang harus kami lalui cukup mendaki dan berbatu. Tak mudah melewatkan gerobak di atasnya. Saya saja yang menggendong ransel yang maha berat merasa semakin bungkuk, apalagi ibu tukang sayur yang mendorong gerobaknya. Dia tersenyum dan saya tersenyum, kami sama-sama melewati jalan berbatu mendaki dalam keadaan membisu, karena suara tak mampu mendahului nafas yang terengah. Saya lirik jualannya, masih banyak yang tersisa. Entah, ke mana dia akan menjajakannya lagi. Di akhir jalan mendaki, dia berhenti sambil berkata, capek&#8230; Sayapun pamit mendahului jalannya.</p>
<p>Tukang sayur seperti si ibu tidak hanya satu di negeri ini. Mereka barangkali ribuan jumlahnya. Dalam teori pekerja, mereka adalah pekerja keras yang tidak kenal menyerah. Sekalipun untung yang didapatnya dari menjual sayur dan ikan hanya 200-500 rupiah saja, dia tidak pernah putus asa mendorong gerobaknya. Dia juga tak pernah putus menyebar senyum dan merayu ibu-ibu agar membeli sayurnya. Tapi tak jarang, ibu-ibu yang tidak mengerti betapa sulitnya ibu tukang sayur memperoleh 1 rupiah setiap harinya, menawar barang dagangan yang sudah demikian murah.Teman dosen saya bercerita tentang guyonan penjual sayur dan pembelinya. Suatu kali di tahun 1976-an, ketika harga sayur bayam masih 100 rupiah per ikat, ada seorang ibu yang menawar kepada tukang sayur yang biasa lewat di komplek. Si tukang sayur dengan nada tinggi berkata, &#8220;Ibu, kalau tidak bisa beli dengan harga seratus, ini saya pinjamkan uangnya. Atau saya kasih ibu 100 rupiah, silakan ibu tanam bayam sendiri !&#8221;</p>
<p>Banyak sekali orang yang tidak menghargai tenaga orang bekerja. Termasuk para petinggi yang dengan sengaja atau tidak, menyetujui gaji yang rendah bagi para guru/dosen honorer yang sudah bekerja banting tulang, dan sebaliknya mengamini gaji besar untuk pejabat kampus yang kebanyakan hanya duduk dan tanda-tangan, atau melebihbesarkan gaji pegawai administrasi yang hanya mengerjakan pekerjaan rutin. Setiap kali saya berkata seperti ini, pasti saja ada teman yang mengatakan semuanya harus disyukuri. Itu adalah rizkiNya. Saya ingin berteriak, siapa yang tidak mensyukuriNya? Apakah bapak-ibu tahu apa makna bersyukur itu?</p>
<p>Atas rizki yang Allah berikan kepada kami,hambaNya, tidaklah pernah kami nafikan. Tetaplah dikeluarkan hak orang lain di dalamnya, tetaplah dipakai untuk jalan kebajikan, bukan kemaksiatan. Tetaplah dikirimkan untuk handai taulan yang menanti-nanti bagiannya, tetaplah terucapkan terima kasih dan puji-pujian kepadaNya atas pemberiannya yang penuh keberkahan.</p>
<p>Saya dan teman-teman yang memprotes penghargaan kepada guru/dosen honorer yang sangat tidak manusiawi, barangkali sama dengan tukang sayur di atas. Ingin berteriak, &#8220;Ini honor kami, silakan Anda pakai untuk mengajar dan membimbing mahasiswa-mahasiswa itu, sama seperti kami membimbing mereka, dan kita lihat apakah bapak ibu bisa bertahan&#8221;.</p>
<p>Kami tetap meyakini bahwa Yang Di Atas tidak pernah tidur, dan senantiasa melimpahkan kasih sayangNya kepada orang yang didzolimi. Tetapi, kami hanya terlalu sedih dan sesak, mengapa mereka yang juga sama dengan kami, terbuat dari tanah dan akan kembali ke tanah, tidak bisa berlaku adil dan juga mengasihi sesamanya?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2044/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2044&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/tukang-sayur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hatarakibachi, Workaholic ala Jepang</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/hataraki-bachi-workaholic-ala-jepang/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/hataraki-bachi-workaholic-ala-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 00:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-Serbi Jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2038</guid>
		<description><![CDATA[Mana yang lebih Anda sukai, pulang ke rumah setelah bekerja atau enggan pulang ke rumah dan lebih suka lembur di kantor? Jika Anda menjawab lebih suka pulang ke rumah, maka itu sangatlah manusiawi, tetapi jika Anda merasa lebih suka bekerja terus (lembur) di kantor, maka Anda termasuk golongan Hatarakibachi (働き蜂) atau workaholic.  Kata hatarakibachi adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2038&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mana yang lebih Anda sukai, pulang ke rumah setelah bekerja atau enggan pulang ke rumah dan lebih suka lembur di kantor?</p>
<p>Jika Anda menjawab lebih suka pulang ke rumah, maka itu sangatlah manusiawi, tetapi jika Anda merasa lebih suka bekerja terus (lembur) di kantor, maka Anda termasuk golongan <em>Hatarakibachi</em> (働き蜂) atau workaholic. <span id="more-2038"></span></p>
<p>Kata <em>hatarakibachi</em> adalah gabungan kata yang berasal dari kata 働く(baca hataraku, artinya bekerja), adalah jenis kata kerja dalam bahasa Jepang, dan kata kedua adalah 蜂（baca : hachi, artinya lebah). Kata kerja dalam bahasa Jepang apabila diubah menjadi kata benda, maka ada banyak jenis model perubahan, salah satunya adalah mengubah bunyi huruf belakang menjadi bunyi &#8220;i&#8221;, sehingga kata &#8220;hataraku&#8221; berubah menjadi &#8220;hataraki&#8221;. Kemudian kata kedua, &#8220;hachi&#8221;, digabung dengan kata &#8220;hataraki&#8221;, huruf depannya berubah bunyi pula, menjadi &#8220;ba&#8221;, sehingga dibaca &#8220;bachi&#8221;. Saya belum mencari mengapa harus berubah bunyi, tetapi barangkali karena &#8220;hataraki<em>ba</em>chi&#8221;  lebih mudah diucapkan daripada &#8220;hataraki<em>ha</em>chi&#8221;. Bagi peminat linguistik, tema ini barangkali bisa menjadi bahan penelitian.</p>
<p>Kembali pada fenomena hatarakibachi di Jepang. Kenapa mendadak persoalan ini muncul di kepala saya? Ceritanya karena saya nyaris atau bahkan sudah tergolong kelompok ini. Beberapa kali saya merasa bahwa waktu siang hari yang diberikan tidak cukup untuk menuntaskan pekerjaan, maka saya perlu bekerja di malam hari. Ketika berada di Jepang, saya selalu bekerja dari subuh (maksudnya berangkat kerja subuh-subuh, karena dimulai pukul 6 pagi), dan pulang kerja malam sekali (biasanya kereta terakhir). Kadang-kadang saya ketinggalan kereta terakhir (pukul 00.17), sehingga harus berjalan kaki pulang. Pulang sendirian malam-malam menyusuri jalan kampus yang sudah sepi sekali dan sampai di rumah dalam waktu 15-20 menit, bukan pekerjaan yang mengenakkan. Perasaan takut dan was-was dikuntit orang jahat, atau diganggu selama perjalanan selalu menghantui, sehingga langkah kaki menjadi lebih cepat dari biasanya.</p>
<p>Kebiasaan itu ternyata tidak berakhir di saat saya pulang ke Indonesia dan mulai aktif di UNDIP. Saya seperti tidak bisa mengerem kebiasaan bekerja hingga larut malam. Bahkan beberapa kali saya lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.</p>
<p>Mengapa saya menjadi begini?</p>
<p>Alasan utamanya tadinya saya pikir karena saya tidak bisa memanage waktu dan load kerja yang berlebihan. Tetapi, setelah saya pikir dan renungkan lagi, ternyata saya menyadari bahwa saya ternyata tidak menyukai duduk diam dan tidak mengerjakan sesuatu. Intinya, saya lebih suka bekerja daripada bengong. Kata teman, saya hobby menciptakan pekerjaan. Seperti sekarang-sekarang ini, saat masa ujian akhir, sebenarnya tidak ada pekerjaan lain, selain melaksanakan ujian, memeriksa jawaban dan tugas mahasiswa, dan memasukkan nilai. Tetapi, nyatanya saya sudah berkelut dengan pembuatan dan pengeditan jurnal ilmiah yang nyata-nyata itu bukan milik jurusan saya. Kenapa saya mau melakukannya? Bukan karena dipaksa, tetapi saya &#8220;gregetan&#8221;, kok proses pembuatannya lama sekali. Setelah terlibat mengedit bahasa dan lay out semua artikel, saya sebenarnya ingin mengirimkan review, sebab beberapa tulisan sangat perlu diperbaiki. Tetapi saya menahan diri, karena ini bukan bidang keilmuan saya sejatinya. Hanya pada beberapa tulisan yang penulisnya saya kenal baik, artikelnya saya kembalikan dan mintakan perbaikan, setelah saya edit bahasa dan mempertanyakan kejanggalan isi tulisan. Beruntungnya dosen tersebut tidak merasa tersinggung, dan berkenan meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang revisi yang harus dilakukan. Jadi, intinya&#8230;saya kembali lembur, tetapi memutuskan untuk tidak lembur di kantor karena sekarang hujan terus-terusan mengguyur, dan khawatir listrik mati. Pekerjaan semuanya saya bawa pulang dan kerjakan di rumah.</p>
<p>Lalu, apakah saya sudah menyamai hataraki bachi orang Jepang? Tidak.</p>
<p><a href="http://business.nikkeibp.co.jp/article/manage/20100907/216137/">Majalah Nikkei</a>, majalah bisnis yang tersohor di Jepang menuliskan sebuah artikel lama (September 2010) tentang fenomena <em>hatarakibachi</em> di Jepang. Judul artikelnya sangat menohok dan mengerutkan kening, bahasa Jepangnya ditulis seperti ini, &#8220;「家に帰るより会社にしたい」働き蜂ワーカホリック現在価値&#8221;. Sub title-nya lebih seram lagi, ”周りも自分自身も幸せにしない非生産的な人々”. Arti judul utama adalah &#8220;Daripada Pulang ke Rumah, lebih baik di Perusahaan&#8217;, Pandangan/Pemikiran Terkini Para Hatarakibachi Workaholic&#8221;. Sedangkan sub title-nya bermakna,  &#8221;Orang-orang tidak produktif yang merasa tidak bahagia dengan lingkungan dan dirinya sendiri&#8221;.</p>
<p>Artikel tersebut membahas perilaku pekerja Jepang yang cenderung menganggap rumah adalah tempat yang banyak mendatangkan masalah dan perusahaan adalah tempat yang membahagiakan. Mereka yang diwawancarai cenderung memilih perusahaan sebagai tempat tinggalnya. Mereka meminta kerja lembur (sekalipun tidak dibayar). Lalu, mengapa mereka demikian?  Bekerja bagi mereka adalah hobi. Namun, pemerintah Jepang telah menggalakkan slogan-slogan, seperti 「ワークライフバランス」(baca: wa-ku raifu baransu) atau &#8216;keseimbangan antara kerja dan hidup&#8217;, juga 「ノー産業デー」(baca : noo sanggyou dei) artinya &#8216;hari tidak ada lembur&#8217;. Tetapi orang-orang yang hobi bekerja mempertanyakan mengapa pemerintah tidak bisa memahami sejatinya mereka yang memang suka bekerja? Saya kutipkan apa yang disampaikan oleh seorang interviewee yang dikutip oleh Nikkei berikut ini :</p>
<p>「なぜ、国や会社から帰宅命令を出されなくちゃいけないんですかね。会社で仕事をしている方が、楽だっていう人もいるってこと分かってほしいですね。僕は仕事が大好きです。だから仕事漬けになることがちっともイヤじゃありません。趣味もないし、仕事が趣味みたいなもんなんです。正直、ノー残業デーとか地獄。自由に働かせてほしいですよ。会社だって本当はその方が助かるはずです」</p>
<p>Yang artinya kira-kira begini,</p>
<p><em>&#8220;Kenapa sih negara dan perusahaan harus mengeluarkan peraturan untuk pulang ke rumah? Saya berharap mereka dapat memahami bahwa ada orang-orang yang senang bekerja di kantor. Saya paling suka bekerja.  Oleh karena itu, kami tidak keberatan jika harus &#8220;terendam&#8221; dalam pekerjaan. Saya tidak punya hobi. Hobi saya adalah bekerja itu sendiri. Dengan jujur, (saya katakan), no sanggyou dei (hari tanpa lembur) itu adalah neraka. Saya ingin diberi kebebasan dalam bekerja. Saya kira, perusahaan sebenarnya lebih terbantu (dengan adanya lembur dan orang yang gemar bekerja)&#8221;.</em></p>
<p>Kalau pulang ke rumah, mereka merasa tidak produktif, seperti yang disampaikan seorang pekerja berusia 48 tahun,  berikut ini :</p>
<p>「家のことにはできるだけかかわりたくない。本当は仕事だけをやっていたい」と願っていたり、独身であっても「家に帰っても寝るだけだから、会社で夜遅くまで働きたい」</p>
<p><em>&#8220;Tentang urusan di rumah, sedapat mungkin saya tidak ikut ambil bagian. Sebenarnya, saya berharap ingin hanya bekerja (dalam hidup ini). Sekalipun seseorang tidak/belum berkeluarga, kalau dia pulang ke rumah, dia cuma akan tidur. Karenanya, kami menginginkan bekerja sampai larut malam&#8221; </em></p>
<p>Kata workaholic pertama kali dipakai oleh dr. Wayne Oates, seorang psikolog agama dari Southern Baptist Theological Seminary. Dia menuliskannya dalam artikel 1968, &#8220;On Being a &#8216;Workaholic&#8217; (A serious Jest)&#8221; in the journal <em>Pastoral Psychology </em>dalam kalimat, &#8221;I have dubbed this addiction of myself and my fellow ministers &#8216;workaholism,&#8217; &#8220;.</p>
<p>Jika definisi workaholic di barat cenderung dimaknai dengan pemaknaan negatif, yaitu &#8220;Kondisi yang tidak menginginkan tidak bekerja atau orang/kondisi yang menyatakan bahwa hidup adalah untuk bekerja&#8221;, maka bagi orang Jepang, workaholic dimaknai sebagai 「長時間労働を好むため残業時間が多く、職務満足度の高い人」artinya, &#8216;orang yang menyenangi bekerja dalam waktu yang lama, sehingga mengharapkan masa lembur lebih banyak, orang yang memiliki kepuasan tertinggi ketika bekerja&#8217;.</p>
<p>Menurut Nikkei, orang-orang yang seperti itu, ketika pulang ke rumah, dia tidak berhasil membangun komunikasi dengan istri dan anaknya (barangkali karena dalam benaknya hanya bekerja saja), dan oleh karenanya stress sangat dirasakannya ketika berada di rumah, bukan di kantor. Lalu kenapa orang Jepang sangat suka bekerja? Ini jawaban yang disampaikan seorang responden,</p>
<p>「仕事は論理的に考えれば、何とかまとまります。うまくいかないこともあるけど、解決策はある程度の効果が出るし、期待したような結果も見える。だから、やりがいもある」</p>
<p>&#8220;Pekerjaan kalau kita pikirkan secara teoritisnya, bisa kita simpulkan/katakan dalam sebuah pernyataan. Ketika bekerja, pasti ada hal-hal yang tidak bisa berjalan mulus, tetapi sekalipun demikian, trik pengatasan masalah tsb bagaimanapun akan muncul, dan hasil yang diharapkan dapat terlihat. Oleh karena itu, semangat untuk melakukannya juga ada&#8221;</p>
<p>「でも、家庭はそういうわけにはいかない。家庭は解決できないことばかりです。問題は山積。子どもは突然、学校に行かなくなるし、女房は文句しか言わないし。それに、会社もひどいですよ。つい最近まで、仕事一辺倒の働き方をさせてきたのに、今さら『家庭を大切に！』なんて言われたところで、失った10年はどうやったって戻ってこない」</p>
<p>&#8220;Tetapi keluarga, tidak demikian adanya. Di dalam keluarga, yang ada hanya masalah yang tidak bisa teratasi. Permasalahan menggunung. Anak-anak secara tiba-tiba tidak mau ke sekolah, istri  mengomel saja. Kalau sudah begitu, di kantor pun akan sangat tertekan. Sampai saat ini saya sudah menjadi terobsesi dengan kerja, kalau sekarang dikatakan &#8220;Keluarga Harus dipentingkan&#8221;, tidak bisa kembali apa yang sudah saya kejakan 10 tahun yg lalu&#8221;.</p>
<p>Melihat jawaban tersebut, ada dua kemungkinan yang tengah dihadapi laki-laki yang diwawancarai tersebut, yaitu dia menjadi workaholic dan keluarganya menjadi kacau, atau karena keluarganya kacau, dia menjadi workaholic.</p>
<p>Saya masih agak jauh barangkali dari karakter <em>hatarakibachi</em> seperti pegawai di atas. Karena saya masih menganggap pulang ke rumah adalah wajib untuk beristirahat dan makan enak, sekaligus mengobrol panjang lebar dengan anggota keluarga lainnya. Saya masih juga rela terlibat dalam pemecahan masalah di dalam keluarga kami. Jadi, barangkali karena konsep keluarga menurut pandangan orang Jepang sangat berbeda dengan pandangan orang Indonesia kebanyakan, maka bekerja bagi orang Indonesia yang workaholic dianggap sebagai kewajiban, tetapi mereka masih terikat dengan norma agama dan keyakinan yang menekankan perlunya tanggung-jawab dan silaturahmi dengan sesama.</p>
<p>Hanya saja, ada kalanya pekerjaan saya cukup banyak, dan terpaksa menggunakan malam hari untuk bekerja dan sedikit beristirahat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2038/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2038&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/14/hataraki-bachi-workaholic-ala-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyontek = Penyakit</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/13/menyontek-penyakit/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/13/menyontek-penyakit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 13:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2034</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa banyak siswa/mahasiswa sering menyontek? Barangkali sudah ada penelitian yang dilakukan oleh para psikolog tentang alasan menyontek, dan mampu menemukan solusi/pendekatan untuk menghilangkan kebiasaan menyontek. Kalau ditanyakan kepada para siswa/mahasiswa, mengapa mereka menyontek? Alasan utamanya adalah ketakutan dapat nilai jelek.Mengapa takut? Kalau dapat nilai jelek, ayah-ibu akan marah. Kalau dapat nilai jelek,  malu pada teman-teman. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2034&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mengapa banyak siswa/mahasiswa sering menyontek? Barangkali sudah ada penelitian yang dilakukan oleh para psikolog tentang alasan menyontek, dan mampu menemukan solusi/pendekatan untuk menghilangkan kebiasaan menyontek.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau ditanyakan kepada para siswa/mahasiswa, mengapa mereka menyontek? Alasan utamanya adalah ketakutan dapat nilai jelek.Mengapa takut? Kalau dapat nilai jelek, ayah-ibu akan marah. Kalau dapat nilai jelek,  malu pada teman-teman. Tetapi, kenapa tidak malu menyontek?<span id="more-2034"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari pengalaman menjadi dosen di dua negara, saya belum pernah menemukan mahasiswa Jepang yang menyontek. Tetapi, dari pengalaman mengajar mahasiswa di Indonesia, saya kadang putus asa menegur mereka yang masih sering tengok kiri kanan. Ada banyak mahasiswa yang melakukan tindakan memalukan ini, bahkan di antara mahasiswa yang sekarang saya ajari. Menyontek tidak pandang umur, kadang-kadang saya malu menegur mahasiswa yang sejatinya adalah guru di sekolah atau karyawan di perusahaan jika mereka menyontek.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada mahasiswa yang bahkan sengaja memberikan contekan. Ini barangkali cerminan sikap pemurah yang salah dimaknai oleh orang Indonesia. Mahasiswa yang menyontek di kelas memang tidak saya keluarkan, tetapi saya punya hak mengurangi nilai mereka. Hari ini saya agak kerepotan karena pada awal ujian, saya harus mengawasi dua kelas yang bersamaan waktu ujiannya. Maka, saya meminta kepada mahasiswa untuk yakin pada diri sendiri, jangan menyontek, karena itu adalah pekerjaan yang dilaknat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Dan syukurlah mahasiswa sangat tertib, meskipun ada satu dua orang yang masih juga toleh sana-sini, melihat kertas jawaban temannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya dulu juga pernah menyontek (ketika duduk di bangku SD), tetapi akhirnya saya akhiri karena pada akhirnya saya sangat senang belajar, dan nyaris mendapatkan nilai seratus dalam setiap ulangan. Maksudnya, saya akhirnya merasa tidak perlu melirik seperti apa pekerjaan teman, sebab kadang saya terlalu asyik menulis jawaban. Saking kuatnya hafalan saya ketika itu (alhamdulillah), saya sampai-sampai bisa menyelesaikan ulangan dalam waktu yang sangat cepat. Tetapi jangan ditanya sekarang ini, kemampuan mengingat saya sudah melemah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, mengapa mahasiswa menyontek?</p>
<p style="text-align:justify;">Mahasiswa kita tampaknya mengidap penyakit minder yang berlebihan, kurang percaya diri, dan tidak menghargai proses, mengutamakan hasil saja. Lalu, kenapa mahasiswa bisa mengidap penyakit seperti ini? Penyakit ini bukan penyakit yang tiba-tiba muncul karena perubahan cuaca atau karena serangan bakteri/virus tertentu. Penyakit ini seperti penyakit darah tinggi yang sulit disembuhkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem pendidikan di tanah air adalah sistem pendidikan yang mengutamakan hasil akhir. Buktinya? Pemerintah hanya menggembar-gemborkan segelintir anak yang berprestasi di dunia kompetisi. Tetapi jarang sekali mengangkat kisah anak yang berjuang untuk menjadi pintar. Sekolah pun akhirnya mengekor. Yang dipajang dan selalu diceritakan kepada tamu-tamu adalah piala-piala yang menghiasi lemari di ruang kepsek. Sekolah tidak pernah mengekspose anak yang berubah perilakunya menjadi santun setelah menjadi murid di sekolah tersebut, kalau si anak tidak menunjukkan prestasi belajar (rangking) pertama. Sementara, di tingkat kodya/kabupaten dan provinsi, yang selalu digembar-gemborkan adalah nilai UAN tertinggi, angka kelulusan, dan rangking sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa akibat orientasi pendidikan seperti itu? Yang ada di kepala anak-anak hanyalah keharusan mendapatkan nilai bagus/tinggi bagaimanapun caranya. Kadang kala, orang tua, guru ataupun dosen &#8220;membuka jalan kepada mereka&#8221; dengan mengatakan, &#8220;Apapun caranya, ibu nggak mau tahu! Kamu harus mengumpulkan laporan tsb, kamu harus dapat nilai bagus&#8230;bla&#8230;bla&#8221;. Alhasil siswa/mahasiswa mempraktekkan teorinya Machiavelli, yaitu gunakan segala cara untuk meraih kesuksesan.</p>
<p style="text-align:justify;">Model soal dalam ujian juga kemungkinan menjadi penyebab mahasiswa menyontek. Saat ini sudah jarang sekali ujian diberikan dalam bentuk multiple choice. Banyak pertanyaan ujian yang dibuat dalam bentuk jawaban essay, sehingga cukup menyulitkan mahasiswa untuk menyontek. Tetapi memang tidak bisa menjadi jaminan, sebab dalam beberapa kali ujian yang saya selenggarakan, sekalipun saya sudah membuat ujian essay, masih saja ada mahasiswa yang menyontek.</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali ke depan perlu dikembangkan sistem ujian lisan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Sangat tidak mungkin mereka menyontek jika sistem ujian adalah ujian lisan. Kendala terbesar memang akan dihadapi apabila jumlah mahasiswa peserta lebih dari 20 orang. Ujian dalam bentuk laporan/take home test, juga tidak malah mencegah mahasiswa menyontek. Dengan kecanggihan IT, mereka dengan mudah mengcopy paste tulisan di internet. Bahkan pernah ada mahasiswa yang menjawab PR yang saya berikan dengan menuliskan link yang harus diakses.  Bukannya mengkritisi isi tulisan dalam situs tertentu, mereka malahan memblok satu tulisan dan menjadikannya sebagai jawaban. Saya pasti akan memberi nilai nol kepada mahasiswa yang menggunakan teknik ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingin mahasiswa memiliki rasa percaya diri, baik di kalangan teman-temannya, maupun jika kelak dia berada di lingkungan orang asing. Sebab kalau sudah tidak ada rasa percaya pada diri sendiri, siapatah lagi yang akan mempercayai Anda <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2034/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2034&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/13/menyontek-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terobosan Pendidikan Tinggi</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/08/terobosan-pendidikan-tinggi/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/08/terobosan-pendidikan-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 07:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-Serbi Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Administrasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Organizational Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2023</guid>
		<description><![CDATA[Karena penduduk muda Indonesia masih besar, maka perguruan tinggi, khususnya PTN tidak kesulitan mencari mahasiswa baru. Tetapi tidak demikian halnya dengan PTS. Mereka mendapatkan calon mahasiswa yang tidak diterima di PTN. Di negara seperti Jepang, yang jumlah penduduk mudanya semakin rendah, dan tidak mengalami pertumbuhan, baik PTN maupun PTS, sama-sama mengalami dilema kurangnya jumlah mahasiswa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2023&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena penduduk muda Indonesia masih besar, maka perguruan tinggi, khususnya PTN tidak kesulitan mencari mahasiswa baru. Tetapi tidak demikian halnya dengan PTS. Mereka mendapatkan calon mahasiswa yang tidak diterima di PTN. Di negara seperti Jepang, yang jumlah penduduk mudanya semakin rendah, dan tidak mengalami pertumbuhan, baik PTN maupun PTS, sama-sama mengalami dilema kurangnya jumlah mahasiswa yang mendaftar.<span id="more-2023"></span></p>
<p>Jumlah peminat di jenjang S1, S2, dan S3 juga mengikuti bentuk piramida, yaitu mahasiswa S1 merupakan bagian dasarnya, dan mahasiswa S3 merupakan bagian puncaknya. Lalu, apa yang telah dan mungkin dilakukan PTN/PTS untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang mendaftar ?</p>
<p>Beberapa universitas di Jepang telah mengembangkan sistem satelite campus, yaitu dengan membangun kampus-kampus cabang bahkan sekedar kantor cabang di daerah perkotaan yang lebih mudah diakses para pekerja yang ingin mengambil kelas ekstensi. Misalnya dibangun di dekat stasiun, atau di pusat kota. Beberapa kampus juga membuka kantor cabang di luar Jepang, yang salah satu fungsinya adalah mencari calon mahasiswa baru.</p>
<p>Bagi universitas di Indonesia, mencari mahasiswa S1 barangkali tidak terlalu sulit, karena setiap tahun angka melanjutkan ke perguruan tinggi baru mencapai sekitar 18% dari total lulusan SMA, oleh karena itu, jika kendala masuk PT (termasuk masalah ekonomi) teratasi, PT di Indonesia tidak akan mengalami &#8220;kemiskinan&#8221; dalam perekrutan mahasiswa baru. Namun, berbeda halnya dengan program S2 dan S3. Selain karena alasan ekonomi, tidak semua orang mampu karena faktor kesibukan kerja/tugas. Oleh karena itu, lembaga universitas harus berani melakukan terobosan dengan menawarkan kuliah di perkantoran/perusahaan.</p>
<p>Memang, dalam prinsip belajar yang benar, ilmu harus didatangi oleh si pembelajar, tetapi dalam kondisi terdapat masalah kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan, dan masalah jarak tempuh, maka sudah seharusnya PT memikirkan kerjasama dengan kantor-kantor pemerintah/swasta untuk menyelenggarakan kelas perkuliahan di kantor/perusahaan bersangkutan. Tentu saja, untuk mewujudkan hal ini, universitas perlu berkoordinasi dengan para dosen, melakukan pemeraataan tugas yang maksimal, dan melaksanakan perkuliahan yang sama mutunya dengan penyelenggaraan di universitas.</p>
<p>Terobosan lain yang dapat ditempuh adalah mengadakan kelas terbuka dengan menggunakan fasilitas IT. Mahasiswa dari manapun dapat mengakses perkuliahan dan sekaligus berinteraksi dengan dosen dan teman-teman kuliah. Konsultasi dengan dosen dapat berlangsung secara tele-conference atau tatap muka. Tentu saja, model perkuliahan seperti ini hanya bisa berlangsung jika fasilitas IT di kampus telah memadai.</p>
<p>Banyak lagi terobosan yang dapat dilakukan universitas dalam rangka mengembangkan diri. Tetapi perlu diingat bahwa terobosan tersebut bukan untuk mempertebal kantong dan pundi-pundi, namun semata menjalankan fungsi Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu mengajar dan mengabdi kepada masyarakat. Jika hal ini yang dikedepankan, maka kualitas manusia Indonesia pasti akan semakin baik.</p>
<p>Terobosan dan pembaharuan harus berani dilakukan oleh pengelola PT apabila mereka mampu membaca peluang dan kesempatan yang terbentang. Pengelola yang senantiasa ragu dan tidak berani mencoba sesuatu yang baru, adalah para pemuja kemapanan. Terobosan baru dalam bidang manajemen adalah sebuah langkah untuk membuat hidup seorang manajer lebih bersemangat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2023/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2023&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/08/terobosan-pendidikan-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengajar dan Belajar Bahasa</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/07/mengajar-dan-belajar-bahasa/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/07/mengajar-dan-belajar-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 20:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Tinggi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2017</guid>
		<description><![CDATA[Saya bukan lulusan sekolah bahasa atau jurusan bahasa dan sastra, tetapi saya menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Arab, dan tentu saja bahasa Indonesia. Dan beruntung sekali bahwa saya pernah menjadi pengajar bahasa, baik ketika berada di Indonesia maupun di Jepang. Sebelum berangkat ke Jepang, saya mengajar bahasa Inggris dan Arab di Madrasah, dan instruktur bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2017&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bukan lulusan sekolah bahasa atau jurusan bahasa dan sastra, tetapi saya menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Arab, dan tentu saja bahasa Indonesia. Dan beruntung sekali bahwa saya pernah menjadi pengajar bahasa, baik ketika berada di Indonesia maupun di Jepang. Sebelum berangkat ke Jepang, saya mengajar bahasa Inggris dan Arab di Madrasah, dan instruktur bahasa Arab di Pusat Pelatihan Bahasa IPB. Dan ketika tinggal di Jepang, saya mengajarkan bahasa Indonesia di beberapa sekolah bahasa dan juga universitas, atau juga beberapa private lesson yang diminta secara langsung oleh orang Jepang. Selain mengajar, beberapa kali juga saya menjadi penerjemah di lembaga yang menyelenggarakan training pegawai Indonesia yang dikirim ke Jepang, dan terakhir di kelas para perawat dalam program EPA.<span id="more-2017"></span></p>
<p>Dari semua pengajaran bahasa yang saya pernah dapat dan terapkan, saya kira pengajaran ala lembaga B (sebuah lembaga bahasa internasional yang sudah berusia 130 tahun) adalah metode yang paling susah bagi pengajar, tetapi paling cepat membuat siswa dapat mencapai tujuan belajar (berbicara, menulis, membaca). Ketika pertama kali bergabung di B Jepang pada tahun 2006, saya sama sekali tidak bisa menyatu dengan metode mengajar ala B, sebab textbook  bahasa Indonesia yang diadopsi tidak cocok dengan buku ilustrasi yang dipakai. Sehingga tatkala mempelajari dengan seksama buku panduan mengajar Manual 1 dan 2, saya menemukan banyak kejanggalan. Saya pikir karena bahasa Indonesia di lembaga tsb tergolong bahasa minor, maka kurang mendapat perhatian dari pihak pengelola, sehingga buku yang dipakai asal saja. Beruntunglah supervisor kami adalah orang yang sangat terbuka. Setelah satu semester berjalan, saya mulai dievaluasi. Evaluasi datang dari siswa dan juga semua staf yang berinteraksi dengan saya. Hasilnya baik, tetapi supervisor saya menginginkan kata &#8220;sangat baik&#8221;, terutama dari siswa. Saya kemudian ditanya, apakah ada ide untuk memperbaiki pengajaran. Maka saya mengutarakan tentang ketidaksesuaian buku ajar dan buku ilustrasi, sehingga sulit untuk menggunakan keduanya. Supervisor mengatakan sebenarnya cabang Tokyo memiliki buku ajar bahasa Indonesia ala B dan juga buku ilustrasi untuk bahasa Indonesia (selama ini kami menggunakan buku ilustrasi bahasa Inggris), tetapi atas pertimbangan guru sebelumnya buku tersebut tidak dipakai. Ketika buku-buku tersebut ditunjukkan, saya langsung mengatakan bahwa buku-buku ini yang cocok untuk metode mengajar ala B. Kami kemudian menggunakan buku-buku tersebut dan menjadikan buku <em>Yasashi Shohou Indonesia Go</em> sebagai buku penunjang saja.</p>
<p>Selanjutnya, tentunya banyak sekali kesulitan dalam proses adaptasi menggunakan buku-buku tersebut, dan apalagi murid-murid orang Jepang adalah orang yang selalu sangat ingin tahu tatabahasa. Ini cukup menyulitkan pengajar karena kami sama sekali tidak diperkenankan menggunakan bahasa Jepang atau bahasa Inggris ketika mengajar bahasa Indonesia. Tetapi, dengan berjalannya waktu, saya sebagai pengajar semakin ahli dalam menggunakan kedua buku, sehingga tidak menemukan masalah yang berarti jika siswa yang diajar pun bersemangat. Tetapi jika siswa sangat sulit membuka mulut, maka harus ada trik baru untuk mendorong mereka agar berani bicara.</p>
<p>Saya sangat salut dengan sistem evaluasi yang dilakukan di lembaga B. Pada saat krisis melanda Jepang, jumlah student berkurang. Saya kira, pihak B kemudian melakukan pendekatan ke banyak perusahaan Jepang yang mempunyai cabang di Indonesia, dan mereka menawarkan konsep baru, pembelajaran yang mengikuti kemauan dan keinginan konsumen. Selama ini belum pernah ada kelas budaya, apabila siswa tidak menghendaki, maka berdasarkan evaluasi siswa, saya kemudian diberi ijin untuk menjelaskan tentang budaya dalam satu kali pertemuan dengan menggunakan bahasa Jepang atau bahasa Inggris (kebanyakan bahasa Jepang), ketika ada siswa-siswa (umumnya direktur) yang menghendaki hal itu. Beberapa siswa juga meminta kepada pengelola agar diberi satu pertemuan untuk membantu memahami manual kerja di pabrik/kantor dalam bahasa Indonesia. Menanggapi hal tersebut, saya bukannya menerjemahkan langsung manual tersebut ke dalam bahasa Jepang, tetapi meminta siswa untuk mencoba menerjemahkannya sendiri di rumah, dan akan saya koreksi dalam pertemuan yang sudah dijadwalkan. Tindakan ini tampaknya efektif karena siswa-siswa menjadi sedikit bertambah perbendaharaan katanya.</p>
<p>Sekalipun langkah di atas menyimpang dari mengajar ala B, tetapi sebuah lembaga bahasa harus mampu melakukan terobosan baru untuk bertahan dan bersaing. Dan saya yakin lembaga ini sudah memenangkan itu, melihat kemampuannya bertahan di tengah krisis ekonomi yang mendera Jepang pada saat itu.</p>
<p>Satu hal yang menjadikan saya bersemangat bekerja di B adalah kepercayaan yang diberikan untuk menyusun Lesson Plan Bahasa Indonesia, dan kesempatan memberikan masukan-masukan pembelajaran. Dengan lesson plan, lembaga dapat menawarkan beberapa course, dari mulai short course hingga long course, dan sekaligus dapat menerangkan kepada siswa sebatas mana kemampuan yang akan dia peroleh berdasarkan course yang dipilihnya. Semula, karena kurangnya penjelasan saya tidak memahami betul pembaharuan yang dilakukan di level pengelola, tetapi barangkali karena minat saya di bidang pendidikan, saya pelan-pelan melihat hal itu sebagai sebuah terobosan mendidik, dan sangat tertarik untuk mengetahuinya. Sekali lagi, saya beruntung mendapatkan supervisor yang mau menjelaskan semuanya dengan detil.</p>
<p>Di tempat kursus yang lain, ada beberapa yang memberikan saya wewenang penuh untuk mengembangkan konsep mengajar, ada juga yang mengharuskan saya untuk mengikuti konsep mengajar yang dimilikinya. Kesemuanya adalah pengalaman yang sangat berarti dan mengasyikkan bagi seorang pengajar karena ada kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh metode mengajar, dan sebagai seseorang yang selalu ingin tahu, bagi saya pengalaman dengan banyak metode tersebut adalah bahan belajar yang mengasah kejelian saya memahami siswa dan menyesuaikan teknik pengajarannya.</p>
<p>Saya pun belum pernah mengikuti kursus penerjemahan bahasa Indonesia-Jepang atau sebaliknya. Tetapi, saya yakin kalau dicoba, pastilah bisa. Maka, atas kebaikan seorang professor di Nanzan Univ, saya diberikan satu naskah artikel ilmiah berbahasa Jepang yang ditulis oleh seorang professor di Tokyo Gakugei Univ, untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Setelah satu artikel selesai dalam waktu dua minggu lebih, artikel berikutnya dari seorang professor di Kyoto Univ, menyusul. Kedua artikel tersebut telah diterbitkan dalam buku <em>Geliat Bahasa Selaras Zaman yang </em>diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.</p>
<p>Menjadi interpreter di lembaga training pekerja juga sebuah pengalaman belajar dan mengajar bahasa yang tidak langsung. Saya kira semua orang yang pernah menjadi interpreter, lama-kelamaan akan menemukan trik penerjemahan yang sesuai dengan dirinya. Dan begitu pula adanya saya. Kemahiran menerjemahkan semakin terasah dengan banyaknya tawaran kerja di bidang ini.</p>
<p>Metode mengajar bahasa yang saya uraikan di atas adalah metode ala kursus. Sementara metode mengajar di universitas tidak bisa disamakan karena ada perbedaan tujuan dan cakupan materi. Kadang-kadang kemampuan bahasa orang yang mengikuti kursus lebih baik daripada yang bertahun-tahun belajar di lembaga pendidikan formal. Bayangkan saja, semua orang telah mempelajari bahasa Inggris di sekolah sejak SMP (dulu) hingga perguruan tinggi, tetapi tidak juga dia pandai berkomunikasi, menulis, dan memahami bacaan dalam bahasa tersebut.</p>
<p>Demikian pula yang saya temukan di kalangan mahasiswa sastra Jepang yang sekarang sedang saya ajar. Mereka sekarang di semester tiga, artinya sudah 1,5 tahun belajar bahasa Jepang. Mahasiswa ekstensi (R2) tentu lebih lama lagi telah belajar bahasa Jepang (mereka dari D3). Kemampuan membaca, menulis, dan berbicara sangat bervariasi, bahkan ada yang seperti orang yang belum pernah belajar bahasa Jepang.</p>
<p>Katanya, belajar bahasa adalah bakat-bakatan. Ada orang yang termasuk cepat dalam belajar, dan ada orang yang sekalipun sudah belajar lama, tetap tidak bisa. Saya pikir bukan karena bakat, tetapi kepesatan seseorang belajar tergantung pada kesadarannya terhadap tujuan belajar. Saya sudah menghadapi ratusan murid yang belajar bahasa dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Dari mereka, saya dapat menyimpulkan bahwa belajar bahasa bukan karena bakat, tetapi lebih didasari pada kepentingan belajar, untuk keperluan apa dia belajar, alasan apa dia mempelajari bahasa tersebut. Beberapa orang murid yang saya pernah ajar benar-benar sulit menyerap ilmu yang diajarkan. Apa yang diajarkan lima menit yang lalu, segera terlupakan dengan berubahnya subjek pembicaraan. Tetapi, saya juga mendapati mereka berhasil melewati/mengatasi itu dengan semangat tinggi yang muncul karena kesadaran pentingnya atau bergunanya bahasa yang sedang dipelajarinya ketika dia bertugas di Indonesia.</p>
<p>Para mahasiswa atau siswa-siswa di sekolah yang dijejali dengan pelajaran bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya tidak memahami mengapa mereka harus belajar itu. Apa tujuannya dan apa manfaatnya, sama sekali belum dipahami dengan akal dan jiwa. Mereka hanya tahu bahwa itu adalah mapel atau mata kuliah wajib. Kalau hanya dipahami sebatas itu, maka tujuan belajar hanyalah sebuah informasi dan bukan pemahaman. Tetapi kalau pemahaman dibarengi dengan pemahaman jiwa, maka tentulah dia mengerti apa langkah-langkah untuk menguasai bahasa tersebut.</p>
<p>Ketika saya belajar bahasa Arab, saya sangat cepat menguasainya karena tujuan belajar kami pada waktu itu adalah kemampuan membaca kitab Arab gundul. Demikian pula saat enam bulan belajar bahasa Jepang di Nagoya Univ, kemampuan berbahasa saya berkembang sangat cepat, karena saya menyadari (atau bahkan ketakutan) bahwa saya akan berhadapan dengan perkuliahan yang semuanya berbahasa Jepang. Seandainya, ada kuliah yang disampaikan dalam bahasa Inggris di fakultas pendidikan Nagoya Univ, maka tentulah saya akan mengandalkan bahasa Inggris, dan pasti akan mengendorkan semangat belajar bahasa Jepang saya.</p>
<p>Pelajaran bahasa menurut saya harus menekankan pada dua aspek, yaitu bahasa sebagai skill dan bahasa sebagai ilmu. Bahasa sebagai sebuah skill berarti bahasa adalah alat untuk memahami ilmu, sehingga dia dipelajari untuk mendalami ilmu-ilmu yang tertulis dalam bahasa tersebut. Bahasa sebagai ilmu bermakna yang ditekankan adalah kajian dalam bahasa tersebut untuk memahami asal-usul kata, istilah, bentuk-bentuk kata, morfologi, ilmu semantiknya, termasuk keindahannya (sastra). Lalu, apakah kedua komponen ini ditekankan di lembaga pendidikan formal?</p>
<p>Pelajaran bahasa di level SD, SMP dan SMA bertujuan untuk membentuk skill berbahasa. Oleh karena itu, tidak terlalu ditekankan kajian bahasa dan sastra yang njlimet, tetapi tujuan utamanya adalah kemampuan berbahasa yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk berkomunikasi, menulis, dan membaca. Atau dengan kata lain, tujuannya adalah untuk membantu siswa mendalami ilmu.</p>
<p>Adapun di level perguruan tinggi, seharusnya lebih cenderung pada ilmu. Sebagai contoh, Jurusan Sastra dan Bahasa  Asing semestinya menekankan pada aspek keilmuan, dan tidak lagi pada tataran kemampuan berbahasa. Namun, adalah fakta bahwa yang mahasiswa yang memilih kuliah di Jurusan Bahasa Asing  belum mempunyai pengalaman belajar bahasa tersebut di level pendidikan sebelumnya. Oleh karena itu, tujuan pelajaran bahasa di tingkat-tingkat awal harus disesuaikan, yaitu bukan pada tataran bahasa sebagai ilmu, tetapi bahasa sebagai skill.</p>
<p>Jika berbicara tentang kemampuan atau skill, maka ada penjenjangan, misalnya basic, intermediate, dan advance. Jadi, apabila S1 berlangsung selama 4 tahun, dan selama masa pendidikan tersebut dirancang dengan komposisi dua tahun belajar dengan penekanan bahasa sebagai skill, dan dua tahun belajar dengan penekanan bahasa sebagai ilmu (termasuk sastra dan budaya), maka setelah belajar dua tahun, semestinya mahasiswa sudah bisa berkomunikasi, membaca, dan menulis dengan baik. Dua tahun pertama kemampuan bahasa level intermediate bisa tercapai apabila ada program dan metode pengajaran yang tepat. Tahun ketiga ditargetkan menguasai level advance awal. Namun, pada kenyataannya hal ini sulit diwujudkan, karena masih ada beberapa mata kuliah lain yang harus diajarkan pada tingkat awal (1 dan 2).</p>
<p>Seandainya pada tingkat 1 dan 2 difokuskan pada pelajaran bahasa saja, dan hanya ada satu tambahan mata kuliah non bahasa, maka ada kemungkinan akselerasi kemampuan berbahasa lebih dapat tercapai. Semestinya demikian, sebab jika dibandingkan dengan kursus, dengan intensitas belajar sekali seminggu, selama tiga bulan, kemampuan bahasa Jepang level basic bisa dikuasai.</p>
<p>Memang pembicaraan tentang kurikulum pendidikan tinggi tidak semudah analisa di atas. Setiap lembaga harus jitu dalam merumuskan dan senantiasa melakukan evaluasi berdasarkan kemajuan belajar mahasiswa. Terobosan metode mengajar juga perlu dilakukan untuk mendorong percepatan kemampuan bahasa peserta didik.</p>
<p>Apabila peserta didik telah memiliki level bahasa intermediate, barulah konsentrasi peminatan dapat diterapkan, dan dengan tetap berprinsip bahwa semua mata kuliah menunjang kemampuan berkomunikasi dalam bahasa bersangkutan, maka tentunya perlu upaya mengantarkan mata kuliah tersebut dalam bahasa tersebut. Dengan berdasarkan pemikiran inilah, saya memutuskan memberikan mata kuliah Nihon Jijou dan Nihon Bunka Nyuumon dalam bahasa Jepang. Namun, karena mata kuliah ini ditempatkan pada semester tiga, maka saya merasakan (juga mahasiswa) kesulitan ketika mempelajari ini dalam bahasa Jepang. Akhirnya metode belajar diubah, dengan mempergunakan bahasa Indonesia sedikit, untuk membantu pemahaman materi. Lebih sayang lagi, karena saya merasa gagal mengajak mahasiswa untuk termotivasi meningkatkan kemampuan bahasa mereka melalui mata kuliah ini.</p>
<p>Mata kuliah lain yang dapat berjalan dengan pengantar bahasa Jepang adalah Project Work. Saya kira hal ini bisa tercapai karena mahasiswa sudah berpengalaman menggunakan bahasa Jepang (kuliah lebih dari 4 tahun pasca D3, dan sudah praktek mengajar). Sekalipun kadang kala mahasiswa merasa putus asa mencari kosa kata yang tepat dan meminta ijin menggunakan bahasa Indonesia. Seandainya, lebih banyak kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk menggunakan bahasa Jepangnya, saya yakin mereka akan terbiasa menemukan pola-pola sederhana dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya.</p>
<p>Kemampuan berbahasa tidak hanya tercipta dari buku ajar yang bagus, dosen/pengajar yang memiliki pendekatan belajar yang efektif, tetapi juga sangat tergantung pada semangat dan kesadaran orang yang belajar, kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut, baik yang diciptakan oleh dosen ataupun si mahasiswa sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2017/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2017&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/07/mengajar-dan-belajar-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dengan Suara Keras</title>
		<link>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/06/belajar-dengan-suara-keras/</link>
		<comments>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/06/belajar-dengan-suara-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 02:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>murniramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan pra sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[SD di Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Kanak-Kanak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murniramli.wordpress.com/?p=2013</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anak Anda atau Anda pada masa sekolah dulu sering membaca buku pelajaran dengan suara keras? Banyak anak usia SD yang selalu mengeraskan suaranya saat belajar. Yang paling sering terlihat adalah saat membaca sebuah bacaan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kebiasaan membaca keras lambat laun akan hilang sejalan dengan perkembangan usia dan jenis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2013&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah anak Anda atau Anda pada masa sekolah dulu sering membaca buku pelajaran dengan suara keras?</p>
<p>Banyak anak usia SD yang selalu mengeraskan suaranya saat belajar. Yang paling sering terlihat adalah saat membaca sebuah bacaan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kebiasaan membaca keras lambat laun akan hilang sejalan dengan perkembangan usia dan jenis bacaan yang dibacanya. Tetapi tetap ada anak yang harus membunyikan-sekalipun tidak dengan suara keras-apa yang dibacanya.<span id="more-2013"></span></p>
<p>Suatu kali teman saya menegur anaknya yang belajar bahasa Inggris sambil membaca semua kalimat dengan suara keras. Ibunya menegur begini, &#8220;Nak, kalau belajarnya teriak-teriak seperti itu, nanti yang pinter tonggone (tetangganya)&#8221;. Saya meledak tertawa mendengarnya. Si kecil yang duduk di kelas 6 SD kemudian berdalih bahwa dia tidak bisa mengerti bacaannya kalau tidak dibaca keras-keras.</p>
<p>Di Jepang, ada beberapa sekolah yang menerapkan kelas membaca di pagi hari selain pelajaran membaca yang diperoleh pada jam pelajaran bahasa Jepang. Pelajaran membaca di pagi hari untuk kelas atas (4-6) biasanya adalah membaca dalam hati, dan masing-masing siswa bebas membawa buku bacaannya sendiri. Sementara pelajaran membaca untuk kelas bawah (kelas 2-3) biasanya dengan suara lantang. Dalam pelajaran bahasa Jepang, kegiatan membaca dilakukan dengan berdiri tegak sambil memegang buku sejajar dengan mata, dan membacanya dengan suara lantang.</p>
<p>Cara membaca seperti di atas memiliki nilai-nilai positif yaitu:</p>
<p>1) Melatih anak untuk mengucapkan dengan benar<br />
2) Melatih anak untuk tidak malu-malu mengeluarkan suaranya, walaupun salah bacaannya<br />
3) Terkait di atas, akan timbul kepercayaan diri anak<br />
4) Memudahkan anak untuk mengingat isi bacaan</p>
<p>Adapun nilai negatifnya adalah anak tidak bisa membaca dengan cepat. Untuk sekedar latihan membaca, maka cara membaca dengan keras bisa diterapkan, tetapi jika yang ditekankan adalah pemahaman yang lebih luas, maka membaca dalam hati adalah langkah yang lebih tepat karena tanpa suara, bacaan akan lebih cepat terselesaikan.</p>
<p>Sering saya alami ketika mengajar anak-anak di MA dalam pelajaran bahasa Inggris maupun bahasa Arab, mereka membaca dengan suara yang pelan, dan bolak-balik menatap guru, seakan meminta pertolongan terhadap suatu bacaan yang sulit. Demikian pula sikap ini berimbas pada kemampuan bicara dan mengungkapkan pendapat. Saya kira hal ini lahir karena rasa percaya dirinya tidak dipupuk dengan baik sejak dia duduk di bangku TK/SD.</p>
<p>Jadi, ketika anak sudah menginjak masa dia bisa membaca dengan baik, maka biarkan dia memilih cara belajar/membaca dengan suara keras. Bukankah dengan mendengarkan mereka membaca lantang, orang tua sekaligus dapat mengoreksi betul tidaknya bacaan yang dibacanya?</p>
<p>Biarlah belajar dengan suara keras sekaligus juga meminterkan tetangganya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murniramli.wordpress.com/2013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murniramli.wordpress.com/2013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murniramli.wordpress.com/2013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murniramli.wordpress.com/2013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/murniramli.wordpress.com/2013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/murniramli.wordpress.com/2013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/murniramli.wordpress.com/2013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/murniramli.wordpress.com/2013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murniramli.wordpress.com/2013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murniramli.wordpress.com/2013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murniramli.wordpress.com/2013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murniramli.wordpress.com/2013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murniramli.wordpress.com/2013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murniramli.wordpress.com/2013/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murniramli.wordpress.com&amp;blog=315797&amp;post=2013&amp;subd=murniramli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murniramli.wordpress.com/2012/01/06/belajar-dengan-suara-keras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30bc491c355db9248b0374e77bbcbfd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murniramli</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
