murniramli

PTA di Souya

In Manajemen Sekolah on Juli 21, 2006 at 12:16 pm

Pernah dengar istilah PTA ? Yup, Parent Teacher Association ! Istilah ini akrab di telinga saya ketika mengikuti program training th lalu. Di Indonesia mungkin semacam BP3. Tapi kalau di Indonesia BP3 konotasinya pasti ke masalah `uang`, di Jepang PTA lain ceritanya

PTA mulai berkembang di Jepang sejak th 1946, ketika itu namanya adalah Committee for Associations of Teachers and Parents. Perkembangan oragnisasi ini sangat pesat dan pada tahun 1952 seluruh sekolah di Jepang sudah mempunyai lembaga ini.

Kegiatan PTA sangat bervariasi, mulai dari bekerjasama dengan guru menyelenggarakan event untuk para siswa, aktif berpartisipasi dalam `jugyou sanka`,yaitu sebuah kegiatan melongok bagaimana anak belajar di kelas, bagaimana guru mengajar. Tentu saja PTA memiliki pendanaan sendiri yang dipungut dari iuran anggota. Tetapi masalah uang di Jepang sangat transparan, bahkan satu yen (nilai terkecil) pun tetap akan dibicarakan `ketlisut` di mana jika sampai terjadi unbalance dalam pembukuan.

Pemerintah Jepang tentu saja mendukung pebuh kegiatan para ibu dan bapak2 ini, karena berdasarkan hasil survey banyak anak Jepang yang mengeluhkan kehidupan sekolah melelahkan, menjenuhkan . `gakkou ga kirai da` (saya benci sekolah!), `jugyou ga omoshirokunai`(kelas ga menarik), `sensei ga kibishii`(guru strict banget !), begitulah kira2 sebagian besar jawaban angket siswa SD dan SMP di Aichi prefecture ketika diadakan survey tahun 2005. Makanya dicarilah jalan keluar bagaimana supaya anak senang belajar di sekolah.

Tentu saja langkah pertama, para guru memperbaiki cara mengajarnya, lalu pemerintah mengurangi hari sekolah dari 6 hari menjadi 5 hari, supaya anak bisa bermain puas, bercengkerama dengan ayah ibunya selama sabtu dan minggu. Lalu sekolah pun berusaha memperbaiki hubungan dengan orang tua murid, mengajak mereka ke sekolah, mengunjungi rumah2 siswa, mengajak orang tua berdiskusi tentang perkembangan anak, merancang event sekolah, dll. Jangan dikira semua ortu senang dengan kegiatan ini. Beberapa di antara mereka malah mengatakan ini `mendokusai`(merepotkan). Kesadaran ortu di Jepang hampir sama mungkin dengan ortu di Indonesia.

Yang menarik adalah PTA di Souya district, sebuah kota kecil di wilayah paling Utara Jepang, termasuk dalam Hokkaido prefekture. Pendidikan di Souya sangat berbeda dengan daerah lain di seantero Jepang. PTA di Souya bukan hanya asosiasi ortu dan guru, tetapi PTCA, termasuk community. Jadi anggota masyarakat yang tidak memiliki anak sekalipun ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, pun turut membantu pemerintah setempat mensupport para Ibu yang punya bayi tetapi harus bekerja, warga siap menjadi baby sitter. Di Jepang hubungan keluarga tidak seperti di Indonesia. Kalau di Indonesia, cucu biasanya diasuh oleh nenek, kalau di Jepang kebanyakan nenek punya aktifitas sendiri. Wanita Jepang masih terlihat energik hingga umur 82 th.

Yang unik lagi PTA di Souya sangat tanggap terhadap masalah yang muncul di sekolah. Semisal pernah ada seorang anak mogok sekolah tanpa sebab yang jelas. Kepsek dan wakilnya pun turun tangan, demikian pula dengan ketua PTA. Akar permasalahan dicari sampai ke rumah, hingga akhirnya diketahui si anak ternyata melampiaskan rasa bencinya pada ibunya yg selalu berangkat pagi2 untuk bekerja, tanpa menyiapkan sarapan untuknya (sarapan menjadi wajib bagi semua anak SD dan SMP di Jepang). Saking sibuknya si Ibu pun tak sempat membereskan rumah. Maka sebagai langkah pertama, guru wali kelas dan satu orang anggota PTA datang dan merapihkan rumah mereka. Lalngkah selanjutnya sang ibu tentu saja dipanggil dan dijelaskan tentang hak anak yang seharusnya dipenuhi.

Tindakan menyelesaikan masalah dengan cepat seperti di atas dengan melibatkan orang tua dan guru, bukan hal yang baru barangkali dalam teori, tetapi dalam prakteknya kerjasama yang erat seperti itu sangat sulit untuk dicapai. Apa yang dikembangkan sekolah2 di Souya membuat saya sangat tertarik mendalaminya lebih jauh. Tahun ini saya akan berangkat lagi ke sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: