murniramli

Apa yang salah dengan Sekolah Kita ?

In Manajemen Sekolah on Juli 29, 2006 at 6:26 am

……Dia menyebutkan maraknya program bimbingan tes di sekolah itu juga merupakan sesuatu yang keliru dan melenceng dari peran sebenarnya sekolah.
……. “Alokasi jam belajar di sekolah sebenarnya sudah cukup untuk menyiapkan anak didik menghadapi Ujian Nasional, tanpa perlu ikut bimbingan tes. Kalau siswa merasa masih ada yang kurang serta membutuhkan bimbingan tes, justru hal itu yang menjadi pertanyaan, apakah ada sesuatu yang salah di sekolah tersebut?,” katanya. (rri-hf)
……. Sumber : RRI online Rabu, 17 Mei 2006, 06:04 WIB
http://www.rri-online.com/modules.php?name=Artikel&sid=21848

Cuplikan wawancara di atas adalah hasil wawancara RRI dengan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Bedjo Sujanto yang diposting di milis pakguruonline.yahoogroups.com , 4 Juni 2006.

Petanyaan/Pernyataan Pak rektor sejalan dengan pikiran saya beberapa bulan yang lalu, saya begitu kesal dengan sekolah, dengan para guru yang gagal atau para guru yang tidak mau maju. Para guru yang hanya memikirkan uang, kepala sekolah yang di kepalanya hanya ada rencana mengoleksi dana sebanyak mungkin, lupa bahwa sekolah adalah organisasi non profit, institusi untuk mendidik manusia.
Tapi belakangan ini saya mulai rethinking pernyataan tersebut.

Kasus ujian nasional tidak hanya diterapkan di Indonesia, di Jepang pun hal yang sama harus dihadapi oleh anak SMA, hanya bedanya ujian nasional di Jepang adalah untuk mendapatkan kursi di PT, bukan sebagai tolok ukur kelulusan (lih. tulisan di blogger ini ttg Ujian Nasional) seperti halnya di Indonesia.

Sejak awal diterapkan hingga kini, tindakan `jisatsu` (bunuh diri) merebak di seantero Jepang. Tentu saja bukan hanya Ujian Nasional itu yang menjadi faktor pemicunya, tetapi kondisi belajar di sekolah yang dibuat dengan tujuan lolos ujian nasional masuk PT, membuat siswa sangat tertekan. Tiap hari PR menumpuk, pembelajaran di sekolah pun sangat strict dengan beban tugas yang berat. Dengan metode pembelajaran seperti itu saja, dianggap belum menjamin kelulusan siswa dalam ujian nanti, sehingga mereka pun terpaksa pergi ke `juku` (cram school) untuk belajar secara privat mata pelajaran yang diujikan.

Pemerintah Jepang akhirnya berusaha melonggarkan tekanan ini dengan memperkenalkan `shougotekinakamoku` dan `yutori kyouiku`. Kata yang pertama bermakna integrated course, dimana siswa belajar lebih banyak ttg masa depannya, lingkungannya dan kehidupan manusia di sekitarnya. Pelajaran ini sangat kental efeknya dalam menjadikan generasi muda Jepang tidak sekedar kaya di pemikiran tetapi peduli dengan orang sekitarnya. Sedangkan yutori kyouiku adalah memberikan ruang kebebasan untuk berekspresi kepada siswa dalam mengembangkan dirinya. Dengan program ini siswa biasanya sudah dapat mengukur apakah dia dapat lolos ujian nasional atau tidak ? Jika tidak, maka siswa boleh memilih kelanjutan studinya apakah masuk private univ, atau college school. Selanjutnya dia tinggal menekuni bidang studi apa yang terkait dengan pilihannya itu.

Kedua program ini pun masih perlu ditinjau karena mendatangkan dampak negatif lainnya, yaitu menurunnya prestasi belajar anak2 Jepang, dan menurunnya semangat kompetisi di antara mereka.

Tetapi, dengan kondisi ini saya pikir, sekolah barangkali sudah menerapkan proses belajar mengajar yang benar, sekolah mungkin tidak salah. Bahkan salah kalau sekolah hanya dijadikan arena kawah candradimuka untuk menggembleng siswa supaya lulus ujian nasional.

Sekolah menurut saya adalah tempat mendidik supaya anak menjadi `orang dewasa` yang dapat memainkan perannya di masyarakat. Terlalu ideal barangkali, tetapi jika kembali kepada makna pendidikan, maka jelaslah bahwa tidak hanya otak yang harus dididik, tetapi organ lain dari anak pun harus dikembangkan. Saya kutip perkataan Prof.Ueda ketika menafsirkan tujuan pendidikan di sekolah2 di Jepang, `pendidikan adalah mengembangkan tubuh, otak, dan jiwa/hati anak`.

Pendidikan di Jepang barangkali berbeda dengan pendidikan di dunia barat yang lebih menitikberatkan kepada pengembangan otak, tetapi tujuan pendidikan di Jepang ditetapkan berdasarkan fakta di lapang, bahwa anak2 Jepang harus tumbuh sebagai manusia Jepang sekaligus manusia dunia.

Pernyataan lain dalam wawancara di atas yang menurut saya pun salah adalah : ` mengapa harus ikut les untuk lolos ujian nasional ?
Pernyataan ini sedikit banyak menggugat profesi guru. Dengan kata lain guru tidak berhasil mengajar siswa, proses belajar di sekolah telah gagal ! Sebagai guru, tentu saja saya tidak mau diklaim gagal, saya ingin mengajak untuk merenungkan kembali apa sebenarnya tujuan pendidikan menengah ? Apakah sekedar lulus ujian nasional ? Sudah saya cari dalam pasal2 UU Sisdiknas 2003, bukan ujian nasional tujuan pendidikan menengah di Indonesia, tetapi lebih kepada menyiapkan anak didik, orang2 muda Indonesia usia 17-18 tahun untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya, menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Dan ini menjadi bias maknanya ketika guru dihadapkan pada target lulus ujian nasional 100%. Kami para guru akhirnya lalai dari tujuan utama kami untuk `mendidik` tapi kami cenderung untuk `mengajar` bagaimana agar target lulus tercapai. Tentu saja guru sudah berusaha untuk sedekat mungkin dengan materi ujian, tetapi tetap saja kami tidak bisa mengajar ala guru privat yang menjejali anak dengan teknik tercepat, metode teringkas ketika dihadapkan pada soal ujian. Karena materi yang diajarkan di sekolah tersusun dalam silabi pembelajaran berdasarkan kurikulum dan plan yang sudah ditetapkan awal tahun. Dan parahnya lagi, materi ajar terlalu overload, waktu kami habis untuk mengejar penuntasan seluruh materi ajar, tidak ada waktu memperkenalkan trik kepada anak. Jadi kami tidak bisa menyalahkan siswa jika mereka menggunakan waktu di luar sekolah, untuk les privat.

Sebagai guru MA saya yakin 99% materi ujian sudah saya ajarkan kepada siswa, tetapi kondisi dan daya tangkap siswa tidak sama. Bahkan kondisi ketika mereka ujian pun harus dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mengerjakan soal2 ujian. Saya memang merasa gagal sebagai guru, ketika ada murid saya yang tidak lulus, walaupun hanya satu orang. Walaupun tidak ada dari siswa kami yang ikut les privat, tetapi kondisi les privat yang marak membuat saya malu, mengaku sebagai guru.

Tetapi tidak layak kiranya mengkambinghitamkan guru sebagai pemicu ketidaklolosan siswa. Saya justru mempertanyakan para penyusun materi ujian. Siapakah mereka sebenarnya ? Apakah mereka para guru atau mantan guru yang mengajar di SMA ? ataukah mereka hanyalah orang2 yang melihat kondisi pembelajaran di sekolah melalui report, dan mulai membuat soal berdasarkan textbook, tanpa pernah sekali pun bagaimana materi ujian itu diajarkan di sekolah ? Bagaimana pencapaian siswa, pemahaman siswa terhadap materi tersebut ? Saya pun ingin mengkambinghitamkan para penyusun textbook, pihak diknas yang merelease textbook tersebut. Buku2 ajar tersebut tidak berkaitan dengan tujuan pendidikan yang tertera di UU Sisdiknas 2006. Kami belajar dan mengajar sesuatu yang di awang2, yang ada di negeri entah berantah, jauh dari apa yang dilihat mata siswa, didengar oleh telinga mereka, diraba oleh tangan mereka, dicium oleh hidung, dan dirasakan oleh lidah, dengan kata lain, textbook mengajarkan ttg kehidupan manusia/alam lain, bukan memperkenalkan kehidupan sehari2 siswa sebenarnya. Jadi bagaimana dapat mengharapkan mereka mengerti sesuatu jika kita hanya mendidik otaknya, tanpa melatih organ tubuh yang lain supaya sinkron dengan kerja otak ?

Jadi apa yang salah dengan sekolah kita? Apakah guru ? kepala sekolah ? kurikulum ?
Yang salah bukan mereka, yang salah adalah kita (pemerintah) yang menjiplak cara orang lain, mengintroduksi sistem barat tanpa mengasimilasikannya dengan fakta sekolah, fakta murid, fakta alam, fakta budaya, fakta agama, fakta daya pikir, dan aneka fakta yang lain…..

Iklan
  1. benarlah sabda Nabi,”serahkan urusan itu pada ahlinya, jika tidak, maka tunggulah saat kehancurannya”.

    apa semua yang men”duduk’i kursi & posisi di departemen pendidikan
    kesemuanya satu kesatuan komunitas & semotivasi, menyelami dan memahami sekalian memaknai konsep dunia “pendidikan”,amat abstrak diwujudkan secara kasad mata nyata oleh sosok “guru ideal”?

    banyak kepentingan dan kebutuhan juga lobby “beradu otot” didalam nya, adem ayem tampak luarnya; sulit menghimbau apalagi berteriak
    pasti tidak kedengaran [menulikan diri] atau benar2 tuli?

    ini penyesatan apa pembodohan pendidikan “semu”
    karena otoritasnya maka arogansi dikedepankannya.
    guru sekadar operator manual blue print “siap dipakai”, efisien, kaku & serba pasti”.
    kepala sekolah = mandor kepala/pengawas blue print & wajib lapor
    kurikulum = blue print
    murid/siswa = obyek eksperiment gratis
    orang tua = penyandang dana eksperiment

    lantas hendak dikemanakan, harkat dan martabat manusia indonesia ini andai tiada kejelasan tujuan ingin dicapai manusia indonesia
    ekses keberlanjutan ini mulai dari sekolah dasar s/d PT, berlanjut
    ke dunia kerja.
    lha terus kepiye nasibe bocah-2 sekolah ini di kemudian hari kelak menghadapi sekolah besar kehidupan??? terpikirkah oleh mereka yang mulia policy making/maker/pembuat kebijakan itoe

    kasihan… mereka arogan, tidak mampu berfikir lateral, kreatif,
    dan “liar” alias tak berpola ternyata dihinggapi virus inferior complex.
    Mbak Murni ojo jengkel lho ya…, katanya pakde Gandhi,”barat tak mengalahkan timur, melainkan timur yang menyerahkan diri ke barat”

    jika tidak mampu memaksa merubah menjadi baik sesuatu yang besar, alangkah baiknya kita mulai dari yang kecil saja dahulu..,nanti yang besar kan mengikuti juga pada akhirnya… [opo yo mungkin?,
    dua atau lebih sistem pendidikan dalam satu negari?] Hong kong
    tuh buktinya [selama ini menjadi protektorat Inggris, dan kontrak
    abis dikembalikan ke induk semangnya Republik Rakyat Tiongkok, [Teng Hsiao Pingbertindak cerdas, gak nafsu gegabah, janagn dikejutkan biarlah angsa tetap bertelor emas, walau ganti majikan] tak serta merta dipaksa mengikuti rejim komunis, ada perlakuan khusus & masa pengondisian…

    kan disini ada otonomi pendidikan… bagaimana?

  2. otonominya masih belum lancar, Pak
    masih otonomi yg dipegang ekornya dan ditunjukkan arahnya.Nah lo…berarti ngga bisa bergerak dong 😀

  3. Bu, ada comment tentang PP 48/2008 tentang dana pendidikan? bikin resah..

  4. bentar, sy pelajari dulu ya 😀

  5. Assalamuaiakum
    saya ingin meneliti tentang kualitas pengajar bahasa inggris di SMA Melati samarinda, apa ada hubungan kualitas gurunya dengan hasil muridnya? (Score TOEFL) dan hal apa yang paling berpengaruh. Apa kualitas (atau latar belakang) siswa nya juga berpengaruh?

    semoga ibu mau membantu saya dengan membalas ke email saya terima kasih sebelumnya….

    Wassalam
    Best Regard,

    Ichsan Syahrani

  6. BEBAN SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

    perkenalkan, saya adalah seorang pendidik di Perguruan Tinggi.

    selama kurang lebih 10 tahun saya belajar kehidupan dan pencarian jati-diri dalam kondisi masih tetap sebagai pengajar. Meski saya banyak bergelut dengan dunia pendidikan andragogis dan bukannya paedagogik, namun perkenankan saya untuk memberikan komentar berdasarkan pengalaman dan pemahaman saya.

    Dalam era global sekarang ini, penting sekali pengonsep pendidikan memiliki sudut pandang yang integral dan holistik, meski masing-masing berada pada bidangnya masing-masing.

    Bapak saya yang Professor dalam bidang pendidikan pernah mengkritik saya untuk tidak terlalu masuk pada ranah bidang pendidikan sebagai suatu bentuk keilmuwan karena itu bukan bidang saya. Benar juga ayah saya, karena apabila saya berbicara masalah pendidikan sebagai sebuah bidang keilmuwan saya bukan AHLINYA…..

    Namun demikian dalam perjalanan sejarah kehidupan saya, mulai ketika saya menyerap pola pendidikan barat di Amerika Serikat waktu sekolah dasr dulu, maupun ketika magang di Jepang dan kemudian saya bandingkan dengan pola pendidikan Indonesia, maka sebenarnya bangsa Indonesia tidak kalah dalam hal sumber daya manusia.

    Dalam memandang sistem pendidikan, memang harus berfikir holistik dan integral, meski ketika implementasinya masing-masing pihak yang memiliki keahlian harus melaksanakan sesuai dengan keahlian-nya masing-masing.

    Dalam psikologi transpersonal yang pernah saya pelajari (catatan : saya Insinyur Industri), dan ilmu sistem yang pernah saya dalami, memandang permasalahan pendidikan Indonesia emang harus memperhatikan tiga aspek, kognitif-afektif-psikomotorik. Namun demikian penemuan jati-diri sebagai manusia, sebagai bangsa Indonesia, sebagai bagian dari masyarakat dunia memang harus dilakukan secara integral. Kadang tidak bisa semata dilakukan didalam sekolah. Media masa, internet dan keluargapun menjadi tempat pembelajaran.

    Salah satu dari sekian banyak variable yang berpengaruh secara sistemik adalah tenaga pengajar. Minimnya sarana dan prasarana pendidikan, penghargaan terhadap tenaga pengajar sekolah dasar-menengah serta jaminan kehidupan mereka tidak bisa digantikan dengan semboyan “Umar Bakrie dan pahlawan tanpa tanda jasa”.

    Paradigma dan semboyan itu sesuai sekali untuk jaman dimana anak didik benar-benar tawadlu’ dan belum kemasukan berbagai data dan informasi yang sedemikian cepat (internet-globalisasi, namun dalam kondisi yang sebaliknya seperti sekarang ini (para murid) sudah tidak memiliki rasa butuh dan memiliki terhadap guru yang telah banyak berkorban untuk mereka.

    Di sisi lain, orang-tua jaman sekarang menghadapi tekanan-tekanan hidup yang jauh lebih hebat dibandingkan jaman dahulu kala. Apabila jaman dahulu orang tua memberikan petuah-petuah bijak di perapian ataupun ketika tamasya ke pegunungan, jaman sekarang diskusi-diskusi antara ortu-anak paling banter dilakukan di Mall….

    Sebuah kondisi dimana kita ini sekarang berada dalam sebuah sistem global yang besar dimana masing-masing sistem saling berinteraksi satu sama lain. Dan, apabila dalam subsistem pendidikan nasional dari sistem nasional dan yang merupakan bagian dari sistem global, maka kita sekarang ini menghadapi berbagai masalah yang multidimensional.

    Kalau kita berbicara masalah sebuah sistem pendidikan, maka kita harus memakai pola berfikir sistem yang integral dan holistik. Ketika ada suatu sebab lain yang masuk ke dalam variabel sistem pendidikan, maka harus dikaji lebih sistemik pula.

    NB : Teringat ketika ada sebuah kisah bahwa orang tua jaman sekarang memarahi guru, karena sang anak berbuah ulah. APAKAH sang ortu juga ikut bertanya, “Anakku, jangan-jangan kamu yang salah” daripada mempertanyakan,”Kamu udah daya sekolahkan mahal-mahal, dengan uang yang bapak-ibu kamu cari dengan susah payah….

    murni : terima kasih atas komentar dan tambahan ilmunya Pak Arif. Ya, membahas apapun memang harus holistik. Sy masih kesulitan menggunakan cara pandang holistik ini dalam menyempurnakan disertasi dan penelitian saya, sebab paper saya tidak bisa selesai2, krn terlalu banyak sudut pandang yg dipergunakan.
    Menurut saya, berfikir holistik adalah pemikiran yang ideal, yg pada prakteknya sulit bahkan mustahil diterapkan.
    Saya masih harus belajar banyak untuk bisa berfikiran holistik.

  7. Rasionalisasi yang luar biasa. Salut buat buk Murni….

  8. Saya bukan praktisi pendidikan, tapi karena keprihatinan terhadap pendidikan di indonesia, saya dan beberapa teman mendirikan LSM di bidang pendidikan, Indonesia Education Care. Tulisan-tulisan ibu sangat mencerahkan, terimakasih.

  9. Oke saya Kaprawi Guru SD sejak tahun 1977 sd sekarang, pengalaman dari tahun 1977 sd 1986 mengajar di dua kelas yaitu Kelas V dan VI semua mata pelajaran mulai dari matematika sd dengan kesenian dan agama, dari tahun 1986 sd 2002 menjabat Kepala Sekolah SD Kecil yang siswanya kurang dari 100 gurunya cuma 3 orang termasuk Kepala sekolah,dari tahun 2003 sd 2009 menjadi guru dan Kepala Sekolah di MTs dari tahun 2009 Juli ,kembali ke SD mengajar di Kelas 2 ,alhamdulillah sudah sertifikasi,
    Problem guru di Indonesia: Orang yang menjadi guru di Indinesia bukan dari hati nurani tapi 70 % yang dikejar materi /gaji kenapa tahun 1973 pertama dibuka inpres orang berbondong bondong masuk SPG karena mudah diterima di PNS, selanjutnya orang yang prustasi tidak diterima dijalur SMA,STM,Perawat dan SMK,orang yang dipaksa orang tuanya masuk SPG,terus yang memenj Kepala Sekolah yang ditunjuk bukan orang orang yang mempunya kinerja dan inteltual serta kemampuan memimpin tapi berdasarkan KKN uang banyak bisa jadi Kepala Skolah baik SDsampai SMA kalaupun ada hasil tes itupun paling 25% yang memang betul betul mampu sisanya amburadul mulai dari laporan administrasi keuangan sampai kepada menjmen Guru ,Ditambah dengan yang memimpin Dinas Instansi pendidikan yang strategis bukan orang yang pernah duduk didunia pendidikan tapi kebanyakan dari PNS yang dekat dengan Gubernur wli kota Bupati itulah mabnusia yang ada dikantir pendidikan diaa tidak memikirkan nasib pendidikan tapi yang dipikirkan lobi bagaiman uang proyek 20 % anggaram pendidikan masuk ke kantong dia ,Problem yang ada di sekolah tingkat kemampuan guru walaupun mereka sudah di S1 melalui UT hasilnya sama saja,yang dipikirkan hanya uang ditambah masalah ekonomi hutang di bpd koperasi teman dll sehingga gaji tidak mencukupi ahirnya bekerja asal asalan, ditambah dengan administrasi guru yang membebani guru serta problem siswa yang lingkungan orang tuanya membiarkan bebas lepas seprti lipas yang menakibatkan minat belajar siwa menurun semuanya serba instans ,kalau ditegor dimarah apalagi kena pukul lecet kasusnya kemeja hijau inilah problem dunia pendidikan kita, menurut saya pendidikan itu menurut nabi semua orangtua bersikap ibda, binapsi mulai dari diri kita .saya contohkan begini,kita didik anak kita dirumah sesuai tuntunan ahlakul karimah terhadap semua mahluk dan holik praktekakan dirumah sesuai dengan agama yang kita anut insa Allah akan dibawa keluar,kita memasukkan anak ke lembaga pendidikan jangan diiming jadi pegawai,namun kuncinya nuntut ilmu itu wajib bagi siapapun hadis nabi,merekapun dibebaskan sesuai dengan hati nurani bakat dan kemampuan intlektualnya jangan dipaksakan masuk ke salah satu sekolah namun diberikan pengertian tujuan serta visi misi sekolah yang akan dimasuki,jangan lupa usaha doa tawakkal,setelah mereka dewaqsa insya Allah mereka kan menemukan jatidrinya kemampuannya dan mandiri.
    pengalaman pribadi saya ;saya punya anak dua orang lulusanakindo D3 jurusan BC TV R dan Advertissing ,yang satu SD memilih psentren terus minat ke musik masukSMK musik Jogja terus D3 Akindo BCTV sekarang tidak kerja diBCTV pernah kerja di PT tidak batin menolak akhirnya sekarang mandiri dirumah jualan kecil kecilan bikin band bikin lagu tapi belum dipasarkan ikut lomba pemenang Band Se sumatera XL tapi belum ada titik temu dari Xl bannya The Bruno,S 5 waktu di masjid bersama anaknya umur 3,5 thn yang satu SD SMP SMA Advertising pernah keja di korannya Alex Nurdin Berita Pagi tapi UMR tidak sesuai kerja di jarum sama prinsipnya UMR tidak sesuai ilmu yang dimiliki ahirnya keluar, sekarang buka usaha EO potografer solat 5 waktu di masjid Usaha doa ihtiar mereka tidak terobsesi dengan PNS 100 juta malahan kasihan melihat nasib bangsa ini kalaulah 10 tahun yang akan datang bangsa ini dipimpin olehPNS 100 juta apa kata dunia maka tungu saat kehancuran tiba kita lihat saja kasus century ini akibat yang memipin bangsa ini orang ang taka ada iman zolim kapital setan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: