murniramli

Bukatsudou

In Pendidikan Jepang on Juli 29, 2006 at 6:45 am

Saya sedang menulis report akhir program teacher training yg sy ikuti, sekaligus menyusun proposal untuk masuk ke program Master di Nagoya Univ. Berhubung harus pakai bahasa Jepang, it takes time and energy. Beberpa kali terasa, kepala dan badan shaked, kayak ada jishin/gempa….tp setlh dicek ternyata hanya krn kelamaan di depan komputer, jd kelelahan….

Ada hal menarik yg sy temukan dlm penelusuran literatur, observasi dan diskusi dg beberp teman guru SMU di sini. Salah satu yg cukup berkesan, adalah perhatian mereka thd konsep pendidikan yg manusiawi (ningen kyouiku). Pendidikan dlm arti tidak sekedar menjejali dg materi sesuai kurikulum, tp juga membentuk personality.

Sekitar th 80-an terjadi banyak kasus bunuh diri (jisatsu) di kalangan anak sekolah Jepang terutam SMP, dan memuncak pd tahun 1993, sehingga Monbukagakusho menekankan perlunya club activities (bukatsudou), yg tdk hanya sport club tp juga culture club. Tujuan dr program ini sebenarnya untuk memberikan atmosfer baru dalam keseharian siswa yg sangat strict (kibishii), akibat tekanan harus mendapatkan nilai yg cukup, PR yg menumpuk dan budaya senior junior (senpai-kouhai).

Program ini menambah kesibukan para guru, yg sehari2nya memulai aktifitas berkaitan dg sekolah dari jam 6 pagi hingga jam 5 sore (kadang hingga larut malam). Selain mengajar, mereka jg harus menjadi volunter (dlm beberapa kasus) kegiatan club, berinteraksi dg para siswa semaksimal mungkin untuk merecord perkembangan mereka. Bahkan seakan tiada hari libur krn kegiatan club berlangsung setiap hari, Senin hingga Minggu.

Apa sebenarnya manfaat yg diperoleh dg bukatsudou, saat ini mjd perbincangan menarik krn diduga kegiatan ini menjadi penyebab prestasi belajar siswa Jepang di tingkat dunia (TIMMS dan PISA) anjlok dari posisi ke-1 menjadi ke-5. Tp tanggapan siswa yg sangat puas dg aktivitas ini menyebabkan halangan untuk menghapuskannya dalam proses belajar di sekolah.

Problem yg dianggap sbg neraka bagi anak SMA di Jepang adalah Ujian masuk PT yg berlangsung 2 kali (nasional dan tk PT). Seperti halnya anak2 di Indonesia mrk pun hrs mendatangi bimbingan belajar (juku) untuk mengetahui trik2 jitu menjawab pertanyaan ujian secara cepat. Yg menyita sebagian waktu mereka dan menambah tk stress.

Di sekolah, guru pun makin stress ! Guru2 di Jepang dikelompokkan berdasarkan kelas, sangat berbeda kondisinya di US or UK, yg mengelompokkan guru berdasarkan subject. Hal ini bisa dimaklumi krn di Jepang kurikulum masih bersifat sentralisasi, ditetapkan oleh Monbukagakusho, sedangkan di US dan UK, wilayah/distrik/sekolah mempunyai wewenang untuk mengembangkan kurikulum sendiri. Tampak sekali dg pembagian ini, pendidikan di Jepang cenderung menekankan perkembangan kepribadian siswa drpd materi pelajaran yg hrs mereka dapatkan. Dan sebaliknya di US dan UK. Guru kelas tiga SMA merangkap sbg penasehat siswa (homeroom teacher) yg bertugas menasehati dlm pilihan Univ, bgm menembus Ujian masuk. Diskusi tdk hanya dilakukan dg siswa tp ortu pun dilibatkan.

Apakah kegiatan ini menjadi salah satu penyebab menurunnya prestasi siswa, pun menjadi isu hangat. Krn terlalu intens dg pengembangan personality siswa, mk guru melalaikan upaya meningkatkan professionalismenya sbg guru, dan sekolah yg seharusnya bisa memberikan siswa trik untuk lolos di PT, digantikan fungsinya oleh juku !

Bukatsudou yg semula juga diharapkan sbg wahana siswa bersosialisasi dg masyarakat, pun tidak begitu berhasil, krn orientasi sosialisasi yg ditekankan hanya antar teman di dalam satu club, bagaimana menempatkan diri sbg junior, senpai, bgm meraih prestasi gemilang dlm kompetisi olahraga, dsb. Tetapi gagal untuk mengajarkan nilai2 yg harus dipegang dalam masyarakat, seperti menghormati yg tua, menyayangi yg lebih muda, tolong menolong, care thd orang lain.

Bukan hal yg aneh, jk di train/bis di kota besar spt nagoya, anak SMA sama sekali tdk peduli dg obaasan/ojiisan (lansia) yg bediri, mereka cuek sj, walaupun mereka duduk di kursi yg disiapkan khusus untuk para lansia, dan berkali2 announcement dlm kereta diperdengarkan untuk memberikan tempat duduk kpd para lansia, handicapped dan wanita hamil. Kali ini moral mereka dipertanyakan…

Oleh karena itu wacana baru dlm pendidikan di Jepang saat ini mulai dilempar, yaitu bgm memperbaiki bukatsudou spy lebih tepat sasaran dan fungsi…..
Bagaimana dg negeriku, Indonesia…….apakah hal sekecil ini pun turut diperhatikan ? Insya Allah nurani guru dimanapun dia berada senantiasa sama, berpihak pd kepentingan murid. Entah dg pemerintah….!!

Iklan
  1. […] bekerjasama yang baik. Aplikasi dari prinsip ini, di sekolah-sekolah Jepang diperkenalkan kegiatan `bukatsudou` (club activities), semacam eskul di Indonesia, yang memungkinkan para siswa berkembang sesuai […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: