murniramli

Jugyou Kenkyuu

In Pendidikan Jepang on Juli 29, 2006 at 6:34 am

jugyou kenkyuu

Ketika guru mengajar, apakah dia mengetahui metodenya tepat ? pengajarannya efektif ? penggunaan waktunya efisien ? murid merespon dg baik ?
Guru tidak bisa menilai dirinya sendiri. Dia harus dinilai oleh guru yang lain, dan berlapang dada menerima kritikan, ide, masukan membangun dari sesama guru. Itulah `jugyou kenkyuu` /lesson study (rewrite artikel di home page http://www.geocities.com/moernier/tulisanku/jugyoukenkyuu.html

Professor Masami Matoba , seorang pakar yg mendalami jugyou kenkyuu di Nagoya University mengajak saya untuk mengunjungi salah satu sekolah di daerah Aichi prefecture, sebuah sekolah yg menjadi tempat pelaksanaan program jugyou kenkyuu.Fukushima chuugakkou (SMP) yg kami datangi adalah sebuah sekolah tua, didirikan 100 th yang lalu di daerah Tokai. Melihat apa yang ada di dalam sekolah, jejeran piala yang menyambut tamu di bagian depan sekolah, membuktikan bahwa sekolah ini layak dijadikan sebagai tempat belajar bagi para educator, principal, pegawai diknas, mahasiswa, dll.

Program yang ingin kami amati adalah ‘jugyou kenkyuu’ , suatu program lama sebenarnya tetapi akhir-akhir ini menjadi terkenal di dunia, untuk meningkatkan mutu pengajaran di kelas, pun sekaligus memberikan appraisal kepada guru. Ada 2 kelas yang diamati, yaitu kelas science dan social study. Kelas science berlangsung di laboratorium, dengan materi fisika. Ketika guru fisika mulai mengajar, guru2 yang lain berdiri di dalam lab mengamati jalannya pembelajaran, memberikan catatan pada point-point tertentu yang sudah ditetapkan bersama, misalnya berapa lama introduction, runut pemberian materi, interaksi dengan siswa, respon siswa, teknik menjelaskan materi, hingga kegiatan akhri/pernutup pelajaran. Proses ini pun direkam oleh seorang guru dengan video kamera.

Hari itu kepala sekolah dan beberapa aparat dari Kyouikuiinkai (kanwil pendidikan) Tokai city dan dari daerah lain pun duduk di belakang ikut mengamati. Mereka pun ingin melihat implementasi program ini di lapang.Kejadian yang sama berlangsung di kelas social study. Guru menerangkan tentang profil seorang pemain baseball terkenal di Jepang dan mengajak siswa untuk mendiskusikan rencana masa depannya. Kursi-kursi  disusun membentuk setengah lingkaran. Guru berada di tengah depan dengan peralatan slide projector yang menampilkan slide si pemain baseball.

Setelah sekolah berakhir dan semua murid pulang, para guru berkumpul untuk membahas hasil observasi mereka. Pembahasan dilakukan dalam dua kelompok, yaitu kelas science dan social.

Saya mengamati diskusi kelas science. Dinding depan ruang pertemuan ditempeli dengan kertas putih besar berisi copy-an point-point pengamatan para guru, di antaranya : efektivitas waktu, kecepatan guru berbicara, respon siswa (ada yg mengantuk atau justru menyimak dg serius) respon guru thd pertanyaan siswa, praktek, alur pembelajaran, content yg disampaikan guru, dll.Satu persatu guru pengamat maju ke depan menyampaikan kritik dan penilaiannya, menempelkan kertas berwarna-warni berisikan komentar dan penilain mereka di lembaran kertas putih besar tadi. Wakil kepala sekolah, aparat pemerintah juga hadir, demikian pula guru fisika, tetapi dia tidak boleh memberikan komentar dulu. Setelah itu dibentuk kelompok diskusi yang lebih kecil, 3 kelompok untuk membahas lebih detil. Guru fisika berkeliling untuk mencatat content diskusi dan sesekali dimintai komentar tentang materi yang dia ajarkan. Selanjutnya hasil diskusi setiap kelompok kembali didiskusikan dalam kelompok besar.Acara terakhir berupa forum pertemuan besar yang dihadiri semua guru, principal, aparat pemerintah, dosen dan mahasiwa pengamat untuk menyampaikan kesan ttg program ini.

Saya sangat tersanjung karena pada sesi ini principal memberikan tempat duduk khusus di samping beliau. Mereka tidak mengelompokkan saya sebagai kelompok mahasiswa pengamat, tetapi menganggap saya sebagai tamu sekolah.

Kunjungan ini sangat bermakna bagi saya pribadi. Saya tidak tahu apakah ini sudah berjalan di Indonesia atau belum tetapi saya pikir perlu kita cobakan untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia.

  1. di SD Islam Al-Azhar sudah bu tapi tidak melibatkan aparat pemerintah hanya pengawas yang dikirim dari Al-Azhar pusat. Dan dalam waktu-waktu tertentu dilakukan oleh kepala sekolah tetapi secara dadakan dalam arti supervisi yang tidak terjadwal.

  2. Assalaamu’alaikum Wr. Wb. …Apakabar DR. Murni? hehehe gak maen ke kampus hijau ni…dah seneng dengan edukasi ya Mbak…btw moga sukses Dok, and this posting of yours; about lesson study–original 18th century student centered learning quality assurance–is excellent, i’m begining to know some part of which i’ve never seen about Jugyou Kenkyuu. It’s a sistemic work of teacher in colegial learning and have a longterm targets to achieve for student’s sake. TANX A LOT Dok, Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

  3. Assalamualaikum Wr.Wb.
    Alahamdulilah B Murni kegiatan ini sekarang sudah dikembangkan di Indonesia, yaitu di Jawa Barat (Kab. Sumedang di bina oleh Universitas Pendidikan Indpnesia/UPI), Jawa Timur (Kab. Pasuruan dibina oleh UM), dan di Jawa Tengah (Kab. Bantul yang dibina oleh UNY)sejak tahun 2006. Dan sekarang kami sedang mendesiminasikan program ini ke seluruh Indonesia baik untuk teman-teman dosen di LPTK-LPTK maupun institusi lain seluruh Indonesia(LPMP, P4TK), juga sekolah-sekolah/dinas pendidikan. Dengan kata lain, program ini sudah menjadi kebijakan Mendiknas/dirjen PMPTK. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: