murniramli

Membenahi Pesantren

In Pendidikan Indonesia on Juli 29, 2006 at 6:30 am

Kalau Al-Quran sudah kita akui sebagai pedoman hidup, maka sebagai muslim sepantasnya kita tidak sekedar membacanya tapi mempelajari kandungan isinya dan berusaha mengamalkan isinya. Di Pesantren kami belajar dan mengajarkan ini, tapi masih banyak yang harus dibenahi….(rewrite artikel di homepage : http://www.geocities.com/moernier/tulisanku/pesantren1.html )

Pondok Pesantren (PP) dapat dikatakan sebagai cikal bakal model pendidikan Islam di Indonesia. Ada kurang lebih 14.600 pesantren di Indonesia yg tercatat di DEPAG, yang kebanyakan berada di rural area. Pesantren juga menjadi andalan orang tua yg tidak memiliki cukup dana untuk menyekolahkan anaknya. Sebagian besar pesantren tidak bersifat komersial, sejalan dg ajaran Islam yg menganjurkan agar mempermudah jalan bagi para penuntut ilmu.Dahulu pesantren lahir tanpa, lisensi dari pemerintah, tp sekarang ini kebebasan untuk mendirikan pesantren sepertinya agak dibatasi sejalan dg isu terorisme yg dikaitkan dg aktivitas di pesantren. Beberapa pesantren yg diselidiki, dimatai2 bahkan tak jarang dituduh tanpa ada bukti sbg antek teroris.

Banyak pesantren yg telah bermetamorfosis menjadi lebih modern dg menambahkan kurikulum diknas ke dalam madrasah2 yg mereka dirikan, pun pesantren yg mengajarkan keprofesian tertentu kpd santri, seperti Pesantren Darul Fallah, Darun Najah, Hidayatullah, dll. Fenomena ini membuktikan bhw pesantren tidak mau ketinggalan kereta kemajuan.Namun tetap saja kita tdk bisa memungkiri data yg menunjukkan bhw kualitas lulusan pesantren atau madrasah berada di bawah lulusan sekolah umum, terlihat dari angka UAN dan kelulusan di UMPTN. Opini masyarakat pun belum bisa kita dobrak. Masih beredar anggapan yg meremehkan pesantren sbg lembaga pendidikan yg bonafide.

Sekarang muncul ghirah baru di kalangan mahasiswa kita untuk lebih memperdalam Islam. (Insya Allah saya akan bahas dalam lain kesempatan.). Fenomena ini pun seharusnya memicu pesantren untuk bergiat.Saya sebagai orang pesantren ingin melakukan autokritik krn selama ini kebanyakan kritik muncul dr orang di luar pesantren.

Sedikit banyak yg akan sy ceritakan mungkin agak subjektif, shg tidak bisa digeneralisasikan dg pesantren yg lain Saya tdk akan menjelaskan panjang lebar ttg pesantren tempat saya mengajar krn sedikit telah sy bahas dlm profile.Ada beberapa hal yg menjadi highlight pembahasan yaitu :
1. Subject yg diajarkan dan metode pembelajaran
2. Managemen dan Pendanaan pesantren (akan saya bahas dalam tulisan yg lain)
3. Pesantren dan society (akan saya bahas dalam tulisan lain)

Subject yang diajarkan di Pesantren tidak saja banyak tapi pun tumpang tindih. Dalam kasus PP yang mengintegrasikan kurikulum Diknas, Depag dan local content, seperti PP Darul Fallah, terdapat mata ajaran yg sebenarnya sama isinya, misalnya dalam kurikulum Depag tdpt materi Aqidah Akhlaq, di kurikulum PP pun tdpt Akhlakul banin wal banaat. Pun materi Bahasa Arab sejalan dg pelajaran mahfuuzot, mutholaah, nahwu shorof di pesantren. Jika materi di pesantren dimaksudkan untuk menambah bobot materi Depag, mk seharusnya tdk ada duplikasi dan outcome-nya semestinya siswa sangat fasih berbahasa Arab. Demikian pula dg materi Fikih, siswa pun seharusnya menjadi siswa yg benar2 plus.

Yang patut direform adalah : content dan sistem evaluasi yg harus terdefinisikan dg jelas. Jika suatu subject adlh alat untuk mempelajari ilmu yg lain, misal bahasa, mk target yg hrs diraih siswa hrs jelas. Misal dg menguasai Bhs Arab, siswa dpt memahami makna Al-Qur’an, membaca hadits, memahami literatur Arab, berkomunikasi dalam bahasa Arab. Sistem evaluasi hrs dapat mengukur ability dan achievement siswa. Barangkali patut pula memikirkan test kemampuan bahasa semacam TOEFL or TOIEC untuk bhs Arab. Fikih dan akhlaq seharusnya bisa diukur dg pengamalan ibadah dan personality siswa. Benarkah dia sholat minimal 5 kali sehari, bagaimana sikap, motivasinya dlm belajar, relasinya dg teman, guru dan orang sekitarnya.

Evaluasi pembelajaran Al-Qur’an juga semestinya terukur dg betulkah tajwid siswa, lancarkah bacaannya, berapa jam dia membaca Al-Quran per hari, berapa juz yg dia hafal.Untuk mewujudkan itu semua, maka guru pun harus direform. Guru harus ditraining agar memahami betul apa tujuan subject yg diajarkannya, bgmn mencapainya, dan bgm mengevaluasinya. Harus pula mulai dikembangkan Teacher Appraisal System. Selain tentunya memberikan gaji yg layak kpd mereka. Namun hal terakhir ini sepertinya sulit diterapkan di pesantren krn kehidupan zuhud yg mereka jalani. Banyak pelajaran berharga yg saya dapati dalam diri asaatidz yg mengabdi di pesantren. Kesederhanaan hidup salah satunya. Bahwa rizki dari Allah sebenarnya sangat cukup. Yang terpenting kembangkan image untuk tidak iri thd harta orang lain. Kehidupan mereka juga merupakan cermin berharga bagi para santri.

Iklan
  1. Iya bu pesantren/S di ekolah Islam di Indonesia harus menjadi sekolah unggulan di Indonesia yang tidak kalah dengan sekolah umum lainnya yang akan mencetak para lulusan yang berilmu dan berahlak mulia,sehingga para orang tua akan menyekolah kan anaknya ke sekoalah Islam sendiri….

  2. Kalau menurut saya, sebenarnya PP lebih baik konsentrasi pada pembentukan akhlak dan ilmu agama (Qur an Hadist), sementara jalur pendidikan umum sebaiknya terpisah. Jadi santri yang baru lulus SMA tidak berarti lebih rendah ilmu agamanya dibanding yang Mahasiswa. tergantung siapa yang lebih konsentrasi pada pelajaran agama.

    murni : Bu, kalau dikhususkan PP sebagai lembaga pembentukan akhlak dan ilmu agama, maka apakah lulusannya akan mencetak `orang2 masjid saja` ?
    lalu jika mereka ke masyarakat apakah mereka siap dg perbedaan di dalamnya ? cukupkah dg bekal di PP saja ? Harkat manusia akan naik dg ilmunya, maka menurut saya tetap saja di PP para santri harus dididik subject akademik, tanpa meninggalkan nilai religinya, sedangkan siswa2 di sekolah umum tetap saja hrs dibina akhlak dan ilmu agamanya selaras dg pengetahuan akademiknya. Bedanya, PP mempunyai waktu belajar yang panjang (pagi, siang , sore, malam), yg sayang kalau hanya dihabiskan mempelajari ilmu ukhrowi saja.

  3. Bukan maksud saya menyatakan PP meninggalkan akademik, karena kan sebaik-baiknya manusia adalah yang tidak meninggalkan dunia untuk akhirat, dan tidak meniggalkan akhirat untuk dunia.
    Tetapi pemisahan dilakukan agar level pengajaran agama dan akademik tidak terikat .
    Agar lulusan PP tetap punya bekal akademik, ya PP berdampingan dengan sekolah umum. Dengan begitu kelulusan akademik adalah murni kemampuan akademik. Sedangkan ilmu agama adalah pembelajaran seumur hidup, kelulusannya adalah bagaimana kita mengamalkan dan bisa menyampaikan kepada ummat. Lulus SMA tidak berarti lulus tingkat 3 di PP, sebaliknya, bisa saja sudah lulus tingkat 3 di PP tapi masih duduk dibangku SMP.

  4. Bu, terima kasih atas komentarnya.
    Barangkali krn sistem pendidikan kita yg dual system (Mendiknas dan Menag), mk jalannya tdk spt yg ibu usulkan. Tp PP di bawah MENAg pun sekrg membuka sekolah2 umum dan MA/MTs/MI untuk memberikan kesempatan kpd siswa 2 belajar ilmu2 umum selain ilmu agama, dan spy ijazah merka diakui pemerintah, juga termasuk kepentingan lain yg ingin didapat adlh diakui melaksanakan ujian negara (UAN) (Sebelumnya lulusan sekolah PP tak diakui pemerintah). Ada keuntungan lain istitusi pendidikan yg dibuka oleh PP yg kebanyakan berbasis di pedesaan, menurut data DIKNAS dan DEPAG yg saya kompilasi, sekitar 11 % siswa seusia SMA tertampung di MA. Angka yg lebih tinggi u MTs dan MI. Artinya, PP sebenarnya cukup memberikan andil u menyediakan lembaga belajar bagi anak2 di daerah pedesaan, sebab pemerintah belum mampu menyediakan sekolah dan perangkatnya untuk menampung seluruh anak usia sekolah di Indonesia. Bahkan banyak PP yang tak disubsidi sama sekali oleh pemerintah tetapi tetap eksis menyediakan pendidikan murah u anak2 tsb. Hanya saja, mutu pendidikannya memang jauh dibandingkan sekolah2 umum di kota. Saya sangat berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada upaya masyarakat untuk membuka akses bersekolah bagi rakyat.

    Model yg Ibu usulkan di atas pernah saya jalani ketika saya kuliah. Selain kuliah di IPB, subuh dan malam hari saya belajar di Pesantren. Waktu itu dibuka juga kelas u SMA dan SMP tapi kurang berhasil karena porsi waktu belajar mereka u memahami materi akademik yg diajarkan di sekolah sangat besar, alhasil mereka lebih banyak bolos di kelas2 pesantren.
    Sedangkan kami yg sudah kuliah, masuk ke Pesantren mahasiswa krn kesadaran sendiri, dan mungkin sdh sampai pd taraf berfikir orang dewasa, yg tak mau menyia2kan waktu u belajar ilmu dunia saja, jadi walaupun capek dari kampus/kantor, kami tetap datang dan belajar di bangku2 pesantren.

    Sekarang PP banyak mengembangkan model PP + MA /MTs/MI, atau SMA umum yg membuat boarding school dg penekanan materi agama di malam hari, tapi saya tak tahu jelas bagaimana kurikulum pembelajaran agama di boarding school tsb.

    Saya justru tertarik dg pengembangan potensi PP sebagai lembaga edukasi dan ekonomi masyarakat di pedesaan. Yg sangat diperlukan saat ini justru pembinaan tenaga operasionalnya (guru) dan melengkapi fasilitas belajar agar setara dg sekolah2 umum, serta tentu saja dukungan moril dari umat Islam semua. Jika pemerintah skrg mendorong dukungan masyarakat kepada dunia pendidikan, maka seharusnya lembaga PP harus dianggap sebagai potensi, yg tinggal diasah agar lebih tajam.

    Oya, di Nagoya Univ, 2 orang professor saya berkutat khusus meneliti masalah pesantren di Indonesia, dan mereka sangat terkagum-kagum dg pengembangan dan struggle-nya pesantren2 di Indonesia dalam memperjuangkan pendidkan Islam di negara kita. Saya justru tak tahu banyak, saya banyak mendengar cerita mereka ttg pesantren2 di tanah air. Salah seorang dr beliau bahkan pernah 15 tahun menjelajahi pesantren2 di Jawa. Dari mereka2 lah saya terketuk untuk ikut memikirkan bagaimana menjadikan pesantren sbg lembaga yg modern tapi tdk meninggalkan nilai keislamannya. Salah satu idenya membuka lembaga pendidikan umum di lingkungan pesantren, dan memperbaiki model pendidikan tradisional yg sdh ada, agar selevel sistem modern.

    Pesantren di Indonesia ternyata sangat khas ! dan saya bangga pernah menjadi santri 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: