murniramli

Penelitian yang Mubazir

In Penelitian Pendidikan on Juli 29, 2006 at 6:21 am

Dari mana harus memulai penelitian ? Apa yang harus diteliti ? Siapa yang harus dijadikan objek penelitian ?

Pertanyaan-2 tersebut adalah hal yang tidak mudah untuk dijawab.
Pembelajaran saya akhir2 ini dipenuhi dengan ide `research`. Di kelas, diskusi, dan seminar yang saya hadiri, semuanya menampakkan nuansa ketidakpercayaan diri tentang penelitian yang akan,sedang atau telah dilakukan.

Ketika saya kuliah di IPB, banyak sekali penelitian bermutu yang dihasilkan oleh mahasiswa, dosen yang ternyata tak bernilai apa2 ketika saya bertemu muka dengan petani. Banyak karya kita yang tidak bisa mereka aplikasi, tidak membumi. Universitas bagai menara gading.
Pun ketika saat ini saya berada di Jepang, begitu banyak penelitian tentang pendidikan yang telah dilakukan, tetapi para guru di sekolah2 tidak mengetahuinya. kalaupun mereka mengetahuinya, tak dpat pula mereka menerapkannya.

Banyak teori tentang perbaikan dan pengembangan sekolah yang disusun sehingga menjadi buku panduan, lengkap dengan struktur dan step penerapannya. Tetapi itupun tidak juga menarik minat para pendidik di sekolah2.

Penelitian semestinya berakar dari masalah yang dihadapi oleh guru, murid atau orang tua di sekolah. Ketika sebagian besar siswa tidak dapat lulus ujian, maka perlu diteliti mengapa dan bagaimana memecahkan masalah ini. Ketika angka bunuh diri, absensi bahkan keengganan bersekolah meningkat, maka harus dibuat penelitian dari sekolah dan keluarga. Pun ketika organisasi sekolah tidak bisa berkembang baik, maka teori seharusnya lahir dari permasalahan yang dihadapi di sekolah.

Jika penelitian berbasis sekolah dilakukan, maka tentunya hasil yang diperoleh tidak bisa berlaku sama di seluruh negeri, sebab objek penelitian memiliki kondisi yang berbeda. Sama halnya dengan ketika semua orang mengatakan School Based Management adalah sistem yang jempolan saat ini dan hendaknya diterapkan di semua negara termasuk Indonesia saat ini, maka yang akan terjadi adalah kebingungan di kalangan para pendidik di lapangan.

Agar penelitian tidak mubazir, maka hendaklah bersumber dari fakta dan masalah yang nyata.

Iklan
  1. Penelitian di menara gading, begitu yang nyata terjadi. Bagaimana membumikannya? Rasanya yang terbaik ya pelaku yang melakukan penelitian, atau pihak yang akrab dengan pelaku. Penelitian pendidikan di sekolah yang dilakukan oleh guru. Klau dosen ya di PT, dalam bidang pertanian ya oleh PPL. Masalahnya, ketika kuliah apa mahasiswa dibekali dengan cara-cara melakukan penelitan? Buktinya banyak guru yang masih bingung membuat Penelitan Tindakan Kelas, Action research?!

  2. Pak Willy,
    Saya tidak tahu di PT yang lain, tapi seingat saya syarat kelulusan seorang mahasiswa adalah membuat skripsi berdasarkan hasil penelitian. Kalau tidak salah juga kita sudah diajari `Metode Ilmiah` atau cara berfikir ilmiah sejak SMA. Jadi otomatis basic ttg penelitian sudah ada, tinggal mengasahnya

  3. jamak selalu yg nampak/”tampilan” itu menarik diteliti[eksesnya] karna selalu tersembunyi dibawah tanah/balik sesuatu, “akar” akan menjalar & berkelana terus melahirkan masalah baru u/diselesaikan.
    ada baiknya belajar mengenali masalah dari akarnya itu sendiri,
    tak banyak orang “bersedia”, karna acapkali “kering” juga makan
    hati, juga wilayah batang tumbuhan gunanya menegakkan pohon dan saluran nutrisi ; acap kali lebih suka memandang “bunga”& memakan “buah”nya saja.

    walau sama diberi nama akar, mereka berlainan jenis tunjang, serabut, melayang & membawa sifat “tampak” luar berbeda pula

    artinya kegemaran berfikir + bertindak diajarkan selama ini baru setangkai demi setangkai, belum mengarah pada serangkai-an, ya karna kemampuan otak memaknai alam ini terbatas… jadi keasyikan setahap-setahap, klupa’an menyusun tahapan-2 tu jadi satu keutuhan
    mahakarya..(lantas siapa berkenan, merangkai ikebana bunga rampai
    masalah? {jangan-2 malah gak ada berminat, karena tebal lembar2an & beratnya bobot masalah & akar pemecahannya]

    atau kalau tuntas alias usai,kan gak ada lagi bisa dipermasalahkan
    alias matinya sumber air kehidupan..{Rp} atau tak ada lagi asas pelestarian/keberlanjutan/sustainability… kali mazhabnya beda
    sama mbak murni tulus….hehehe… [jepret pandangan situasi]

    selamet taun baru mbak….

  4. akar masalahnya itu,si pelaku pada merasa gak harus dicari sampai mendalam [teliti] lha penyebabnya sudah jelas diketahui begitulah

    untuk yang berkelebihan tenaga & perhatian, kemudian mencari sasaran,[karena tugas kuliah, karena pesanan, karena dorongan kemauan/kehendak sendiri. walau berbadan lokal, fikir/dzikirnya
    agak asing; ya ini yang bikin pusing] lha akhirnya akar masalah bersifat lokal, bisa diselesaikan dengan begitu sederhananya, dicoba di urai detail satu demi satu lewat [kadang melukai obyek di teliti] kerangka gaya berfikir warna asing/interlokal, pendek- atan berbeda & jelas pinjam akar budaya/kultur lain, coba diterap kan paksa ke semua kultur, atas nama multimedia dimuliakan……. pendidikan/education dan yang educated/terpelajar begitulah]

    ya tentu saja gak membumi begitu. dari sudut pandang pola dasar pendekatan fikiran berbeda. lain bahasa dipakai, ilmiah kerennya akar induknya = filsafat. pola berfikir=filosofi saja berbeda : veni-vidi-vici =saya datang-saya melihat-saya menang nafas penaklukan /=/ dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung = nafas menghargai & hormati & kesejajar/setaraan.
    karya terjadi/tersaji karena karsa/kehendak untuk apa, di persembahkan/diambil manfaatnya oleh khalayak tanpa harus tercantum siapa pemrakarsa/ide

    sekiranya penelitian tidak mubazir tenaga, pikiran & biaya juga muspro hasilnya gak terpakai, pola pendekatan & pikiran sebaiknya diubah dengan {gaya ideal warisan para orang tetua dulu} lebih pas kalau memakai peribahasa :
    lain ladang lain belalang ; lain lubuk lain ikannya
    itu pendekatan lebih pas dan lebih membumi ketimbang
    perih bahasa warna veni-vidi-vici..mewarnai selama ini
    atau jika mau kompromi ya..pakai media jurus akulturasi
    atau aklimatisasi [buat ikan]…

    @Pak Ardi alias alHumairoh :
    hehehheā€¦.ketauan Pak Ardi numpang blog putrinya ya šŸ˜€
    semoga gak keliru lagi pakai nama…putrinya..kampus.
    hehehehe…aku sorangan bae ..whaaduh…ning murni šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: