murniramli

Saving energy

In Serba-Serbi Jepang on Juli 29, 2006 at 6:46 am

Menghemat energi adalah salah satu proyek yg sedang ramai dikampanyekan di Jepang akhir2 ini. Beberapa bulan yg lalu, di musim panas PM Koizumi melalui kementrian environment menganjurkan limit pemakaian AC di perkantoran, bisnis, sekolah, dll, dg men-set-up suhu hingga 28 derajat. Dan menganjurkan pemakaian cool bizz, yaitu menanggalkan jas dan dasi yg sdh menjadi keseharian pekantor di Jepang (salary man). Akibatnya perusahaan jas dan dasi pun protes….tp program ini cukup berhasil.

Memasuki musim dingin, kembali Menteri Environment, Yuriko Koike menganjurkan pemakaian warmth bizz, yg berarti hrs menggunakan pakaian agak tebal ke kantor dan menekan suhu pemanas ruangan hingga 22 derajat. Kelihatannya program ini mulai berlaku tanpa mendengar opini masyarakat. Seperti halnya di Nagoya University, suhu diset up 22 derajat di semua ruangan saaat ini.

Tentu saja program ini tdk masalah bagi mahasiswa yg berasal dr subtropis country, tp bagi warga Amerika Latin, Afrika, Middle-east, dan Asia Tenggara….ini masalah besar ! Walaupun sdh memakai baju 3 lembar ke kampus tetap saja kami kedinginan, padahal belum masuk musim dingin (suhu harian 0-10 derajat saat ini). Semoga saja ada kebijakan baru di musim dingin.

Yg agak aneh menurut saya, adalah pemakaian lampu di Jepang. Di kelas dan ruangan perkantoran setiap hari lampu harus dinyalakan, ketika ruangan dipakai, sekalipun siang hari. Tidak peduli matahari bersinar terik. Berbeda sekali dg sekolah ku di Indonesia yg berusaha sekuat tenaga menekan penggunaan listrik yg mahalnya selangit, dg cara membiarkan jendela terbuka di ruang kelas, agar angin dan cahaya matahari masuk. Menurut sy ini sangat sehat, beuntunglah kita yg tinggal di negara tropik.

Penggunaan listrik, AC dan segala furniture di dalam ruangan telah diteliti dan diduga menyebabkan Building Syndrom, yaitu berbagai penyakit yg muncul akibat gas toksik yg dihasilkan oleh peralatan tsb. Itu sebabnya, selama di Jepang pun saya mengalami gejala kulit mengeriput, kepala pening, mata kering dan berakibat pd unbalancing pd tubuh. Sebenarnya sangat dianjurkan menaruh beberapa tanaman yg mempunyai kemampuan absorb bahan beracun tsb, seperti lili paris, sansiviera, palem, dll. Tapi ini berarti harus keluar duit lagi untuk maintenance.

Pemakaian lampu di siang hari seharusnya bisa ditekan dg membuka tirai jendela, tp barangkali pemerintah bermaksud menekan penggunaan kaca mata (mata rusak) akibat mata harus berakomodasi kuat dalam kondisi gelap. Tapi nyatanya pemakai kaca mata di Jepang juga banyak lho !

Hal lain yg menurut sy bisa dihemat adlh penggunaan air. Kebiasaan ofuro (mandi berendam) sebenarnya juga membutuhkan air dan listrik sekaligus. Ofuro diawali dg membersihkan badan dg sabun dg menggunakan air dari bak or shower, lalu berendam di bak yg berisi air agak penuh bersuhu 38-42 derajat selama 0,5 -1,5 jam, keluar dari bak, keramas (shampoo) dg air dari bak or dg shower. Jadi kira2 berapa air yg dibutuhkan per hari ? Tapi untungnya ofuro cuma dilakukan sekali sehari (malam saja) dan bak air dipakai secara bersama, artinya tdk perlu diganti airnya.

Tapi bagaimana pun kebiasaan ini tdk bisa ditinggalkan oleh orang Jepang karena barangkali faktor iklim dan juga banyaknya volcano yg menyediakan kolam2 onsen (ofuro alami) yg sangat dicandui warga Jepang.
Jadi….saving energy memang harus dg cara lain…..!

Iklan
  1. wah ini bisa jadi bahan kajian menarik di negeri indonesia…dimana lumbung energi melimpah ruah,
    mengapa belum mau memanfaatkannya secara cerdas ya ; malah ongkos beli energinya sama dengan jepang yang notabene mendatangkan dari luar negeri semua. Kelirunya dimana ya, jual sama saudara & orang lain khoq sama mahalnya ya?

    ternyata …perabot teknologi baru, selain membawa kenikmatan juga membawa kesialan juga ternyata…
    cat, politur dalam furniture dan AC dengan gelombang elektromagnetiknya ; mengapa tak ada
    penjelasan atau guidance product neutral, biar kita
    punya pilihan ….

    ternyata budaya … membawa perilaku kebiasaan.
    Jadi kalau mau bikin masyarakat berperilaku hemat energi, tentu bikin “budaya kultur baru” ya?

    lha kalau soal urusan begini, seyogyanya diserahkan bae sama kaum sosiawan, lebih memahami dan mengerti kebutuhan masyarakat, tentu lebih nyata hasilnya ; bukan kaum teknokrat, yang menganalisa
    dari deret angka-2 nilai ekonomis komoditi dan walau ide & gawe teknokrat punya mau, tapi berbagi gawe dan rizki agar tujuan tercapai kan …bagus.
    bagaimana sepakat?

  2. teknokrat, sekonom, dan sosiawan mesti kerjasama , Pak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: