murniramli

Sekolah di Countryside

In Pendidikan Jepang on Juli 29, 2006 at 6:36 am

kamiyahagi

Anak belajar dari rutinitas hidupnya. Anak belajar menghargai teman dari apa yang dibiasakan kepadanya. Kedisiplinan siswa2 di jepang tidak diajarkan melalui teori moral tetapi ditanamkan melalui latihan dan praktek sehari2 di rumah, sekolah dan lingkungannya. Tulisan ini adalah re-write artikel yang ada di homepage : http://www.geocities.com/moernier/tulisanku/kamiyahagi.html

Bulan Mei th 2005, saya mendapat kesempatan mengunjungi sekolah dasar (shougakko) dan SMP (chuugakko) di Kamiyahagi, Gifu ken. Salah satu prefecture yang masih sangat nature. Program yg saya ikuti adalah International Exchange, salah satu program yg sudah cukup lama dilaksanakan oleh pihak educational board Ena city, yg membawahi Kamiyahagi area, yang sebenarnya merupakan implementasi dari program yg sedang digalakkan monbukagakusho (Ministry of Education) Jepang dalam rangka menyiapkan anak2 Jepang menyongsong globalisasi.

Seperti halnya sekolah yg lain di Jepang, Kamiyahagi school pun berfasilitas lengkap, bersih, dan outdoor yg sangat luas. Keadaan ini sangat bertolak belakang dg jumlah siswa yg minim. Rata-rata kelas berisikan 10-20 anak, dan hanya ada satu kelas per grade-nya. Tidak seperti di Indonesia, ada 1A, 1B, sampai F barangkali. Hal yg membuat saya sangat iri adalah sekolah pun dilengkapi dg equipment yang canggih, slide projector, in focus, video, handy cam, digital camera, peralatan yg serba canggih, yg sepertinya sulit diadakan di Jakarta sekalipun. Fasilitas ini tidak hanya di beberapa sekolah, tapi merupaka hal yang umum di sekolah2 di Jepang.

Kegiatan kelas yg saya amati, diskusi dg principal, para guru memberikan kesan mendalam ttg nilai humanisme di sekolah. Sambutan yg ramah dari para staf, pun anak2 yang berwajah polos dg penuh rasa keingintahuan thd foreigner mengintip, tersenyum dari balik jendela2 kelas, mengingatkan saya pada masa kanak dulu.

Kelas 1 SD yg saya kunjungi pertama kali mengingatkan sy pada TK-nya Indonesia. Suasana kelas sangat fun, bernyanyi, gerak badan, sambil berkenalan dg angka dan huruf Jepang yg rumit. Ketika sy mempresentasikan ttg flora fauna Indonesia, seorang anak bertanya :’jenis mushi (insect) apa yg ada di Indonesia ?” Kelabakan saya menjawabnya krn keterbatasan bhs jepang, tp anak yg lain membantu sy dg membawakan ensiklopedi besar berisi daftar mushi yg ada di Jepang.. Subhanallah, mereka mengenal satu per satu. Ensiklopedi adalah hal yang biasa bagi para siswa SD, textbook yg menarik ini tersedia di setiap kelas, bukan di perpustakaan.

Pembelajaran ttg alam, serangga misalnya adalah salah satu hal yang menarik di Jepang , karena anak tidak dikenalkan dengan nama serangga lalu diminta untuk menghafalnya, tetapi anak diajak untuk jalan2 ke hutan, ke sungai, ke halaman sekolah, menangkap serangga dan memeliharanya. Yang selanjutnya mempelajari hidup serangga. Bahkan ketika sy mengikuti program home stay di Mie prefecture, sy pun mendapati anak host family memelihara mushi di dalam box khusus yg banyak dijual di toko. Pelajaran lain yg bisa dipetik dari metode ini, adalah melatih sense of responsibility anak, krn setiap hari binatang2 itu harus diberi makan, dicek kelembaban kandangnya, dll.

Kelas lain yg saya kunjungi adalah kelas 4. Siswa kelas 4 di Jepang sdh mulai mengenal kanji, karakter terumit dalam bahasa Jepang yang merupakan adopsi dari karakter bahasa China. Seperti halnya anak kelas 1, siswa di sini pun berani bertanya, dan suasana kelas menjadi ramai. Satu per satu memperkenalkan nama, hobi dan menunjukkan kebolehannya, mis : salto, bermain yoyo (mainan tradisional jepang). Terlihat sekali anak tidak hanya dilatih kecerdasannya tetapi pun perkembangan fisik. Ini pun saya perhatikan ketika saya bermain bersama mereka di lapangan yang sangat luas dan asri karena dikelilingi hijaunya pegunungan. Semua anak terlihat sehat dan lincah bergerak, berlari kesana kemari.

Saya juga diberi kesempatan untuk menikmati makan siang bersama students kls 4. Di Jepang lunch disiapkan oleh sekolah dan tidak ada kantin atau warung di sekitar sekolah. Jadi tidak mungkin jajan di luar. Menu hariannya dirundingkan antara siswa, guru dan orang tua. Sekelompok siswa mengenakan pakaian ala koki dan bertugas melayani siswa2 yg lain. Sensei (guru) pun tetap berada di kelas dan ikut menikmati makan siang bersama sambil memeriksa tugas siswa, sesekali bertanya dan menjawab pertanyaan siswa. Sungguh suasana yg begitu akrab. Selama makan, terdengar siaran radio dari siswa kls 6 menginfokan menu hari ini, gizinya, kecukupannya, mengapa kita harus banyak makan sayur, daging, buah, susu, dll. Apakah harus dimakan dalam keadaan hangat, dingin….hal2 kecil yg tidak terlintas dalam benak saya. Saya pun dimintai tanggapan oleh seorang siswa kelas 6 ttg menu hari ini, sebelum siaran radio itu berlangsung.

Selesai makan, pemandangan baru lagi yg saya lihat. Anak2 bergegas keluar kelas, mencuci tangan, mengambil sikat gigi dan gelas mungilnya, di tempat semacam wastafel besar yang disiapkan di depan kelas. Kemudian mereka masuk ke kelas….acara gosok gigi bersama dimulai sambil dikomandoi oleh seorang siswa melalui siaran radio, dan didiringi musik klasik yang ceria. hidari (kiri)….migi (kanan)…..ue (atas)….shita (bawah)……sungguh program yg multifungsi. Kegiatan gosok gigi di sekolah ternyata tidak hanya di SD, SMP or SMA, tapi mahasiswa dan para dosen pun rutin mengerjakannya di kampus. Tentu saja pegawai di perkantoran.

Terakhir sebelum pulang, shoji suru……acara bersih sekolah. Anak kls 4,5,dan 6 membimbing anak kels di bawahnya membersihkan toilet, ruang aula, tangga, mengepel ruang kelas. Sekolah di Jepang tidak memperkerjakan pesuruh untuk membersihkan sekolah, tp dibebankan kepada anak dan guru. Sampah kertas, plastik, ludah dll tidak akan kita jumpai di sini. Bersih, bersih…lantai pun licin. Siswa menggunakan sepatu kets khusus di dalam bangunan sekolah. Ketika mereka tiba di sekolah, sepatu harus diganti dan diletakkan di dalam loker yang tersedia di pintu masuk.

Kunjungan berikutnya, adalah SMP. Sama dg SD, sekolah ini juga sangat luas dengan murid yang juga minim. Yang memukau dari kunjungan ini adalah para siswa begitu faham tentang kampung halamannya di mana sekolah mereka berada. Mereka tahu ikan jenis apa yanga ada di sungainya, pohon tertua yg ada di desanya, sakura yg tertua….saya terinspirasi untuk menanamkan juga kepada para murid saya kecintaan dan keinginan untuk melestarikan apa yg ada di kota, desa, kampung tempat mereka dibesarkan dan menikmati masa kecilnya.

Hal kedua yg membuat saya kagum adalah ketika para siswa kelas 2 menyanyikan lagu hymne sekolah, suara mereka merdu sekali. Ini pasti karena pelajaran musik yg serius yg mereka terima, siswa tidak sekedar mengeluarkan suara tapi betul2 menikmati syair, dan mengenal tangga nada dg baik. Setiap sekolah di Jepang mempunyai hymne yang dinyanyikan oleh para siswa dengan penuh kebanggaan.

Inilah pemandangan sekolah di kampung di Jepang, yang walaupun di kampung, tetapi fasilitasnya menyamai sekolah elit di Jakarta.

Saya tidak berharap banyak Diknas akan mensuply SD/SMP di Indonesia dg fasilitas serba mewah tersebut, tetapi saya yakin kita akan menuju ke sana….suatu saat.
Sebagai guru, saya belajar banyak tentang sistem,yg saya yakin dapat diterapkan walaupun fasilitas seadanya. Sekolah saya pun terletak di countryside, kaya sekali dengan sumber daya alamnya, hanya saja kami belum memanfaatkannya secara maksimal.

Iklan
  1. […] Karenanya barangkali bagus juga di sekolah-sekolah TK atau SD diajarkan pembelajaran gizi (tapi jangan rumit-rumit, dan jangan model menghafal seperti PENJAS) kepada murid-murid kecil tersebut.  Misalnya sekolah yang menyiapkan makan siang, bisa menawarkan menunya untuk disusun sendiri oleh para siswa, kemudian sekalian mereka diminta menjelaskan kenapa mengusulkan makanan itu, apa manfaatnya bagi tubuh.  Saya pernah melihat ini di sebuah SD di Gifu prefecture. […]

  2. bagaimana sih bentuk penampakan asal kosa kata BELAJAR plus PENBELAJARAN = mempelajari+memahami+memaknai+mencoba mewujudkan dalam tindakan nyata yang benar-benar dilakukan dengan totalitas
    insan kamil utuh imannya vertical+horizontal tak terbelah diurai & dibingkai dalam “Sekolah di Countryside”

    [dikembangkan intelektualnya + dibangkitkan emosi&semangatnya + ditumbuhkan sisi & mensikapi kemanusiaan + bertanggung jawab penuh
    atas tindakan telah dilakukan]essensi watak / karakter / perilaku nilai muslim adalah kebudayaan asli jepang beda jalan nyebut tuhan

    ada hal sama, baru sedalam taraf label belum mrasuk sdalam akar & urat kambium, berasa+berpikir+bertindak (-)dikurangi seharusnya- baiknya-seandainya = insan serba nanggung & saling ketergantungan
    ragu = takut/penakut ; ragu+ragu = berselisih ; ragu+ragu+ragu = nekat bertindak atau malah bubrah alias tindakan serba kebat kliwat atawa zonder divikir utowo grusa grusu wal kesusu.

    semoga hal demikian dalam paragraph kedua diharapkan segera berakhir, usai membaca+merasa+menilai+memahami+mencoba MENIRU {semoga pewarta+penulisnya gak MENIREn/lelah} rahasia dibalik kesuksesan saudara tua telah dibeber gamblang jelas dan tuntas

    simak baik-baik detail kata demi kata Empunya Blogger diatas pelan & mendalam kemudian bandingkan apa lazim terjadi disini
    = menguak rahasia titik kelemahan sekaligus kekuatan kita tetap
    bisa eksis, yaitu : wedi sinau wani isin = (sebagian cilik) menimpa pelajar [pra tk s/d mhs] dan pembelajar [kesemua lini kehidupan makan sekolah atau tidak termasuk kaum dewasa]..?
    isi paragraph ketiga/ketigo seyogyanya diubah menjadi empunya tulisan+paragraph pertama+kedua.

    Ambil hikmahnya buang jeleknya begitu bukan, itu tindakan cerdas jangan lazim kita perbuat telan bulat-bulat, selama ini kan menelan telur sak cangkang plus kotoran kandange-nya.. itu tindakan keliwatan/berlebihan, alasannya biar lebih manjur
    yo kojur ping pitulikur .. amit…amit….amit jabang bayi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: