murniramli

SMA Tatsuno, Nagano

In Pendidikan Jepang on Juli 29, 2006 at 6:44 am

Setiap hari Selasa malam, dari jam 6 hingga jam 8.30 waktu Nagoya, saya mengikuti kelas khusus untuk Syakai jin (org yg sdh kerja). Kelasnya sebenarnya berupa seminar kecil yg diikuti para guru SMA yg sedang mengikuti in-service training di Meidai, pun diikuti oleh mahasiswa program Master. Tema yg dibicarakan dlm course ini sgt menarik, krn membahas realita sekolah2 di Jepang.

Pekan ini kami mengundang kepala sekolah SMA Tatsuno, yg berada di Nagano ken untuk menjelaskan lebih lanjut ttg sekolah yg dipimpinnya, yg pekan sebelumnya sdh kami search data2 dan diskusikan di kelas yg sama. Nagano selama ini dikenal seantero Jepang sbg prefecture yg sangat kreative dlm pengembangan pendidikan terutama primary dan secondary education.

SMA tsb terletak di kota Tatsuno (bagian Selatan Nagano, distrik Kami-ina), yg merupakan satu2nya SMA negeri di wilayah tsb. Hampir 50 % lulusan SMP Tatsuno lebih memilih untuk melanjutkan SMA-nya di kota lain. Fakta ini mendorong kepala sekolah SMA untuk mensurvey anak dan juga ortu-nya untuk menjawab pertanyaan : Mengapa mereka tdk mau bersekolah di SMA Tatsuno ? Hasil angket sungguh mencengangkan, sebagian responden mengatakan bhw mereka tidak tahu model pendidikan seprti apa yg dikembangkan di SMA tsb, shg siswanya mempunyai perilaku yg buruk, seperti buang sampah sembarangan, melanggar lampu merah, berkata kasar, dll. Hasil angket ini kemudian di bahas di forum siswa (semacam rapat OSIS), dan dalam rapat tsb pun terlontar pendapat polos siswa SMA yg mengatakan bhw warga setempat pun tdk peduli dg mereka. Akhirnya disepakati untuk mengundang warga, orang tua untuk menshare ide spt apa sebenarnya SMA yg mereka inginkan. Dari hasil forum tsb, akhirnya disepakati untuk membentuk forum rutin membicarakan masalah sekolah dan kota.

Di dalam SMA Tatsuno sendiri, siswa bersepakat untuk memperbaiki diri, salah satunya membuat aturan dan ajakan untuk mematuhinya. Barangkali ini yg sangat patut diacungi jempol di dalam kultur Jepang, mereka sangat patuh dan disiplin jika sdh ada ketetapan thd suatu aturan. Forum siswa telah berlangsung sebanyak 26 kali sejak tahun 1998, dan hasil yg dicapai menjadi sorotan para pemerhati pendidikan di Jepang krn berhasil mengangkat status SMA Tatsuno sbg SMA favorit di Nagano.

Adapun warga, mereka sangat concern dg perilaku siswa sehari2 , tidak segan menegur bahkan memuji yg karenanya siswa merasa `ada yg menghargai mereka`. Warga pun yg sebagian besar orang2 berusia lanjut pun merasa dihargai krn pendapat mereka didengar dan jasa mereka masih dibutuhkan dalam kehidupan sehari2. Timbal balik ini berlangsung hingga saat ini, beberapa warga yg memiliki keahlian tt, bersedia menjadi volunteer untuk mengajari anak2 SMA suatu keterampilan. Salah satu kebijakan SMA Tatsuno adalah memperkenankan siswanya u bekerja part time (arbaito) sepulang sekolah (arbaito dibolehkan oleh sebagian SMA2 di Jepang, terutama yg ada di countryside-hal yg sama saya jumpai di Souya, Hokkaido). Keputusan ini tentu sj diamini oleh orang tua yg sangat keberatan dg biaya yg pun harus mereka keluarkan untuk keperluan anak muda Jepang : HP, CD, i-pod, komik, dll.

Kerjasama sekolah tidak hanya dg warga, tp berlanjut ke pemerintah. Di Jepang SD dan SMP dikelola oleh Board of education (kyouikuiinkai) yg ada di distrik, tp SMA dikelola oleh kyouikuiinkai di tk prefecture. Pihak kyouikuiinkai pun diundang dalam Forum Siswa, dan mereka pun dibuat tercengang dg ide2 cemerlang yg datang dr siswa dan warga. Dg jalan ini mereka menjadi lebih tahu dg kondisi sebenarnya di sekolah yg biasanya mereka hanya dapatkan dalam pertemuan2 kepala sekolah.

Di dalam sekolah sendiri, reformasi pun diadakan. Dalam salah satu angket yg disebarkan kpd siswa didapati adanya ketidakpuasan siswa thd cara mengajar guru. Hasil angket didiskusikan dalam Forum Siswa. Guru mengkritik siswa yg nilai2 ujiannya jelek, dan ketidakseriusan mrk dalam belajar, siswa pun balik mengkritik : `Sensei no jugyou wa omoshirokunai` (Pelajaran anda ga menarik !). Yg sangat menarik adalah kesepakatan siswa u menyerahkan PR setiap hari. Semula para guru tdk mewajibkan adanya PR karena dianggap akan membuat siswa tertekan, tp leader dari forum mengatakan bahwa : shukudai ga hitsuyou (PR itu penting!). Kesepakatan ini membawa dampak yg sangat bagus, ketika pertama kali disurvey th 2003, ada 65% siswa yg menjawab bhw `mereka sama sekali tdk belajar di rumah`. Tahun 2004, untuk pertanyaan yg sama, hanya 35% siswa yg menjawab `ya`.

Kalau di Indonesia, guru biasanya menjelaskan apa tujuan mempelajari sesuatu di awal tahun ajaran, misalnya apa tujuan belajar biologi, matematika, dll, atau malah kadang2 tidak ada penjelasan sama sekali krn dianggap sdh tercantum di buku2 pelajaran. Di SMA Tatsuno, siswa menerima buku panduan silabus yg menerangkan semua mata pelajaran sejak kelas 1 hingga kelas 3, apa tujuan, target, metode pembelajaran, jam belajar dll (seperti silabus di Indonesia). Model ini sebenarnya meniru apa yg diterapkan di Perguruan Tinggi, mahasiswa selalu menerima buku Panduan Mata Kuliah. Beberapa mata ajaran SMA di Jepang adalah mata ajaran pilihan, sehingga model ini layak untuk dipakai.

Tdk hanya kegiatan belajar mengajar, tp kepala sekolah pun menyebar angket ttg pendapat siswa sehubungan dg fasilitas sekolah, kota, dll. Salah satu yg dikritik adalah jadwal kereta JR yg sehari2 dipakai siswa u berangkat ke sekolah. Tahun 2004, JR memenuhi permintaan mereka untuk membuat rute baru agak mereka tdk terlambat sampai di sekolah.

Suatu kerjasama yg sangat baik antara sekolah, masyarakat dan pemerintah telah ditampilkan oleh salah satu SMA di pelosok Jepang.

Iklan
  1. Saya seneng membaca tulisan ini, sebab selama ini belum tahu gambaran sekolah dijepang itu bagaimana. Semoga tulisan2 beriutnya lebih banyak lagi mengeksplorasi keadaan sekolah di jepang, untuk kami yg tidak mendaptkan kesempatan untuk melihatnya secara langsung.
    Salam kenal…

  2. Salam kenal juga, Pak.
    Terima kasih atas komentarnya
    Semoga tulisan ini bisa sedikit membantu pengembangan sekolah-sekolah di Indonesia.

  3. Informasi ini sangat menarik dan memberikan inspirasi bagi saya untuk mencoba melakukan hal tersebut bagi pengembangan sekolah tempat saya mengabdi. Sebab, terus terang saja di sekolah kami (SMA Kebangsaan) sedikit peminatnya walaupun sudah berulang kali diperkenalkan ke berbagai sekolah yang tingkatannya lebih rendah. Oleh karena itu mohon artikel mengenai instrumen survey yang sudah dilakukan oleh SMA Tatsuno – Nagano. Kalau berkenan mohon dikirim ke email kami. Sekian dulu, terimakasih. Salam Perjuangan. (Tuti JR tuti300756@yahoo.com)

  4. Bu Tuti,
    Instrumen survey yang dimaksud semuanya dalam bahasa Jepang. Saya sedang mencoba menterjemahkannya, tp sepertinya akan makan waktu yg lama, sebab saat ini saya sedang menulis thesis saya.
    Pada intinya surveynya bertujuan u mengetahui kepuasan siswa thd pembelajaran guru di kelas, juga kepuasan thd fasilitas sekolah (survey di dalam sekolah), adapun survey dg target pihak luar sekolah, item pertanyaannya hampir sama : yaitu ttg fasilitas sekolah, keberadaan dan moral siswa, keinginan masyarakat thd sekolah.
    Semoga bermanfaat.

  5. i LOVE school at JAPAN ^^*

    murni : rizu, dulu sekolah di mana ?

  6. Terimakasih atas kesempatan untuk memberikan comment.

    Artikel diatas sangat menarik sebagai perbandingan pendidikan Jepang dan Pendidikan Indonesia.

    Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ibu tentang beberapa hal, antara lain.

    1. Apakah ada Ujian Nasional di Jepang seperti yang
    diselenggarakan di Indonesia?
    2. Jika ada ujian nasional seperti di Indonesia, mata
    pelajaran apa saja yang diujikan?
    3. Apakah bahasa Inggris termasuk mata pelajaran yang
    diujikan dalam Ujian nasional dan apakah mata
    pelaran bahasa Inggris menentukan kelulusan atau
    tidak?
    Terimakasih atas perhatiannya.

    fuad_magister@yahoo.co.id

    murni :
    Salam kenal, Pak Fuad.

    Tulisan tentang ujian nasional di Jepang sudah saya buat di sini,
    https://murniramli.wordpress.com/2007/04/14/neraka-bagi-siswa-sma-di-jepang-umptn/
    silahkan di baca

    terima kasih

  7. kalau semua bisa menjalin komunikasi selayaknya “keluarga besar” sungguh indah jadinya, dengan pembagian fungsi dan kewajiban kerja masing-masing, tanpa berfikir ego sentral/sentris misi masing-2, melainkan bersama+bekerja mencapai tujuan yang sama, hanya berbeda & berbagi peran dan warna juga kewajibannya saja.

    Sungguh indah membaca kisah ini,
    tatkala juga terjadi di negeriku ini,
    pertanyaanku dalam keadaan sama di sini dan di sana pada awalnya bagaimana mereka juga bisa berubah,sedang disini ooo…gah ..ahh
    faktor apa unsur atau misteri x, membikin syusah wal malah lebih bubrah alias >buruk dari asalnya. apa to yg. terjadi sebenarnya?
    khoq aku jadi tak mengerti hingga kini…

    mohon sekiranya berkenan…. berilah damar panuluh/ublik penerang
    di belantara kegelapan ini.. Mbak Murni [bisa meneropong dariluar frame bilik negeri ini ; sebab terlalu dekat, tak mampulah kerut kornea mata “meliat” gajah di pelupuk mata,kuman di sebrang lautan
    tampak, ini peribahasa benar secara maknawi, klentu miturut lensa fisika (mesti ada ruang gerak) bukan hahaha…. arief sekali kakek moyang ku ini…membuat perandaian

  8. murni : Mba/Bu Alhumairoh…
    cara berkomentarnya mirip sekali dg Pak Ardi
    penuh filsafat 😀
    Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: