murniramli

Guru adalah Peneliti

In Manajemen Sekolah on Desember 21, 2006 at 1:03 pm

Guru adalah Pendidik sekaligus Peneliti

Salah satu agenda reformasi pendidikan di Indonesia adalah peningkatan kesejahteraan, kinerja dan profesionalisme guru. Pemerintah dalam mewujudkan program ini sudah mengadakan kegiatan pelatihan guru di tingkat daerah bahkan nasional, tetapi profesi guru di mata masyarakat masih dianggap rendah dan menjadi tumpuan kesalahan ketika terjadi kebobrokan dalam sistem pendidikan di sekolah.

Apa sebenarnya kelemahan pelatihan yang diselenggarakan selama ini ?

Beberapa rekan guru mengatakan bahwa pelatihan cenderung berupa perkuliahan atau simulasi, yang jauh dari fakta yang mereka hadapi di sekolah. Model pelatihan yang lain adalah studi banding dengan mengusung konsep `guru belajar kepada guru`. Namun ini pun tidak berdampak besar karena setelah studi banding guru kebingungan melakukan follow-up. Alhasil tidak ada kemajuan berarti bagi sekolah atau bagi guru sendiri.

Secara umum, manusia dapat belajar melalui media apa saja yang ada di sekitarnya. Misalnya jika seseorang ingin membuat `sashimi, ikan mentah Jepang, cukup dengan mengklik situs bersangkutan di internet atau membaca artikel di berbagai media. Tetapi keahlian seseorang membuat sashimi akan berbeda jika dia belajar kepada ahli sashimi. Demikian pula halnya di bidang pengajaran. Metode mengamati langsung, mendengar langsung adalah metode yang paling mudah untuk dicerna dan dipraktekkan ulang. Pembelajaran biologi misalnya akan lebih mudah dimengerti oleh siswa jika dipraktekkan, atau contohnya ada di depan mata. Kita sudah mengakui ini sebagai metode pembelajaran siswa yang lebih baik daripada sekedar duduk tenang mendengarkan cerita guru di dalam kelas. Oleh karenanya metode belajar seperti ini pun patut digalakkan kembali di kalangan guru. Melalui proses belajar seperti itu, guru belajar menjadi pendidik dan sekaligus peneliti yang baik.

Seperti diuraikan di atas, program studi banding menerapkan metode penelitian yang sederhana yaitu observasi. Kegiatan observasi tidak akan bermakna apa-apa jika tidak dilanjutkan dengan kegiatan pencatatan, analisa dan perumusan pemecahan masalah. Dalam dunia penelitian dikenal istilah `action research` yang salah satu bentuk nyatanya adalah bagaimana guru mengembangkan metode mengajar baru melalui pengamatan mendalam terhadap cara mengajar guru yang lain.

Apa Yang Harus Diteliti ?

Di atas penulis telah uraikan bahwa guru harus belajar kepada guru. Ketika melakukan proses ini sebenarnya secara tidak langsung guru melakukan observasi, yang merupakan salah satu metode penelitian kualitatif. Jika observasi itu kemudian dikembangkan kepada suatu pencatatan, analisa dan pengembangan metode baru, maka predikat peneliti layak disandang oleh guru. Dalam UU keprofesian Guru dan Dosen, pemerintah menyebut kedua profesi ini secara bersama. Ini dapat dimaknakan bahwa keduanya memiliki kegiatan yang sama yaitu mendidik dan meneliti. Sayangnya penelitian atau pengamatan intensif masih jarang dilakukan oleh guru-guru kita.

Pertanyaannya adalah apa yang harus diamati atau dijadikan obyek penelitian ?

Yang paling tepat dan mudah dilaksanakan adalah meneliti permasalahan yang muncul di sekolah. Dengan konsep berfikir ilmiah secara sederhana, banyak sekali masalah yang muncul dalam proses belajar mengajar di sekolah, pun problematika `kehidupan` di sekolah, yang bisa diangkat menjadi tema penelitian dan akan menghasilkan laporan yang bisa dinikmati oleh guru yang lain.

Penulis dua tahun belakangan ini berkunjung ke Souya, wilayah paling Utara Prefektur Hokkaido di Jepang, dan menyaksikan bagaimana penelitian antar guru berkembang di sana. Istilah yang mereka pakai adalah `kyouiku kenkyuu katsudou` yang berarti kegiatan penelitian pendidikan. Anggotanya adalah guru-guru SD, SMP dan SMA yang dibagi per kelompok berdasarkan jenjang sekolah. Pengelompokkan dilakukan per wilayah, dengan cara menempatkan sekolah yang berdekatan dalam satu kelompok atau blok. Pertemuan blok dilakukan sebulan sekali dan setiap semester dilakukan pertemuan sedistrik Souya.

Sebuah SD melakukan penelitian tentang pemanfaatan waktu oleh siswa di rumah, dan peranan keluarga dalam proses belajar siswa. Penelitian dilakukan dengan metode angket, berupa pertanyaan sederhana seperti : Apakah anak sarapan setiap pagi ? Apakah anak rutin mempraktekkan ucapan salam atau terima kasih di rumah ? Berapa jam anak menonton TV ? Siapa yang menjaga anak jika orang tua bekerja ? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu bukan tidak bermakna apa-apa, bahkan dari jawaban orang tua, sekolah bisa menganalisa mengapa seorang anak terlambat dalam matematika, atau mengapa seorang anak selalu terlihat lesu ?

Apa yang penulis amati di Souya adalah implementasi konsep pendidikan yang menempatkan anak sebagai subyek sekaligus obyeknya. Bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah untuk memacu tumbuh kembang badan, otak dan hati, dipahami secara baik oleh guru-guru di Souya sebagai konsep yang harus direncanakan, dipraktekkan, dan dievaluasi melalui kegiatan penelitian. Konsep `plan-do- checkaction` (PDCA) adalah konsep yang tidak sekedar teori di Souya, tetapi sudah menjadi keseharian para guru.

Bagaimana Mendidik Guru untuk Menjadi Peneliti ?

Menjadi peneliti bukan hal yang susah tetapi menumbuhkembangkan jiwa meneliti adalah suatu pekerjaan yang tidak sederhana. Guru-guru kita pada umumnya adalah lulusan perguruan tinggi, yang notabene semua perguruan tinggi di Indonesia mewajibkan mahasiswanya untuk membuat penelitian atau membuat laporan akhir, dalam rangka memperoleh gelar sarjana. Secara tidak langsung ilmu dasar tentang teknik-teknik meneliti sudah dimiliki oleh para guru kita.

Permasalahannya adalah apakah guru mempunyai sense of awareness terhadap permasalahan di sekitarnya ? Apakah guru terpikir untuk meningkatkan kinerjanya ? Apakah guru sadar untuk melakukan self evaluation terhadap metode mengajarnya ? Kesadaran seperti inilah yang menjadi titik tolak proses pembentukan guru sebagai peneliti.

Kesadaran ini dapat diasah melalui praktek latihan. Dalam hal ini- karena sekolah adalah sebuah organisasi dibawah komando kepala sekolah- upaya kepala sekolah untuk mendorong terciptanya atmosfer ini sangat dibutuhkan. Kepala Sekolah yang berperan sebagai manajer sekolah adalah orang pertama yang seharusnya menyadari permasalahan di sekolahnya yang kemudian merumuskan pemecahannya melalui pembicaraan rutin dengan para stafnya. Ketika permasalahan dideteksi, kepala sekolah dapat menyusun sebuah tim pencari fakta yang terdiri dari para guru. Dengan latihan terus menerus menghadapi dan memecahkan masalah, pola berfikir PDCA dapat menjadi pola anutan yang akan menyatu dengan jiwa mendidik guru.

Sebuah metode pengembangan guru sebagai peneliti telah dikembangkan di Jepang, yang dikenal dengan istilah `jugyou kenkyuu`, yang kemudian diterjemahkan sebagai `lesson study`. Seorang pencetus dan pelopor ide ini adalah Professor Masami Matoba, yang merupakan dosen di Universitas Nagoya. Metode `jugyou kenkyuu` adalah observasi kelas yang dilakukan oleh sekelompok guru terhadap metode mengajar seorang guru yang dijadikan sebagai obyek pengamatan. Langkah-langkah metode ini adalah :

  1. Pengamatan detail terhadap proses belajar mengajar di kelas meliputi efisiensi penggunaan waktu, respon siswa, metode penjelasan, penutup
  2. Pertemuan untuk mempresentasikan hasil amatan kelompok guru pengamat tanpa perlu dikomentari oleh guru target
  3. Forum diskusi yang melibatkan guru target, kelompok pengamat, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah untuk membahas hasil amatan dan memberikan masukan perbaikan. Forum ini terkadang dihadiri oleh dosen dari universitas atau wakil dari The Board of Education.

Metode ini telah menyebar luas di Jepang dan juga sudah diadopsi oleh beberapa sekolah di beberapa negara, termasuk apa yang sedang dikembangkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung bekerjasama dengan JICA melalui proyek lesson study di beberapa sekolah di Bandung.

Pelaksanaan `jugyou kenkyuu` tentu saja memerlukan biaya, sehingga salah satu komponen penting yang harus dipikirkan dalam rangka mendidik guru menjadi peneliti adalah kontinyuitas pendanaan. Sayangnya budget pendidikan yang disalurkan ke sekolah-sekolah kita tidak menyertakan anggaran penelitian sebagai salah satu komponen pengembangan profesionalisme guru.

Tetapi kendala dana bukan suatu penghambat utama untuk mencegah guru menjadi peneliti. Yang lebih penting adalah komitmen bersama untuk mengembangkan sekolah menjadi lebih baik.

 

 

Iklan
  1. Insya Alloh, kita sudah mulai bisa berharap banyak guru-guru yg melakukan penelitian. Di Indonesia setiap tahun diadakan simposium hasil-hasil penelitian guru-guru SD, SMA, SMP yg dilaksanakan mulai tingkat kabupaten sampai nasional (ada hadiahnya lho, jadi bikin guru semangat). Kebetulan saya mengikutinya beberapa kali dan pesertanya lumayan banyak. Tema penelitian juga beragam, mulai metode mengajar, bahan ajar, model/alat pembelajaran dll. Sekarang mulai banyak guru yg melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.Lesson Study juga mulai meluas, yg sudah berjalan sekarang, selain Bandung adalah Sumedang. Program Lesson Study untuk DKI, dan Banten juga sudah disusun, insya Alloh dilaksanakan tahun ini. Ayo, kita tetap semangat!

  2. Wah, bagus sekali.
    Penelitian itu krn awareness yg besar tetunya, bukan krn hadiahnya.

    Di Jepang belum pernah dengar ada lomba riset antar guru, tp kegiatan penelitian dilakukan di level sekolah dan daerah secara berkelanjutan.

  3. Kalau guru-guru punya semangat meneliti. Alangkah hebatnya Indonesia ya…

    *melamun*

  4. Hebat! Guru yang mampu meneliti kondisi kelasnya tentu akan dapat memperbaiki proses pembelajarannya. Akhirnya akan bermuara pada prestasi peserta didik, yang meningkat.

  5. mohon info tentang lomba penelitian untuk guru ya, kirim ke emailku. thanks.-

  6. Undang-undang guru dan dosen ngak menyebut guru sebagai ilmuwan boro-boro peneliti. Hanya dosen yang disebut ilmuwan dan peneliti halah

  7. Pak Kangguru :

    Ga perlu dicantumin di UU, yg penting diwujudkan seandainya memang bermanfaat u perkembangan pendidikan di Indonesia (hwuaduh, serius banget
    (>_

  8. iya lah, aku juga coba2 kirim hasil penelitian… tuk beri energi mengajar he he

  9. Menurut saya kendala utama menjadikan guru sebagai peneliti adalah :
    1. Mengubah Paradigma si guru terhadap penelitian diterjamahkan sebagai hal yang super sulit,janganlah lihat sulitnya lihatlah panggilanmu sebagai guru dan mamfaatnya bagi banyak orang dikemudian.
    2.Pemerintah tidak mengalokasikan dana untu penelitian (masalah Klasik ) yang berulang dan tidak teratasi.
    3.Banyak guru enggan beralih ke teknologi yang baik.mis : memuat jurnal,artikel dll harusnya di internet

  10. guru2 kita di indonesia terlalu terbebani dengan banyaknya jam mengajar dan tuntutan ekonomi keluarga sehingga tak sempat untuk mengadakan penelitian

  11. Saya sangat tertarik. Apa ada yang dapat menyiapkan dana untuk membantu penelitian yang dilakukan guru?

  12. Pak/Bu Har :
    wah,bagus sekali usahanya…

    Pak Petrus :
    Saya sependapat dg Bapak

    Dimas :
    Bener juga…tp spt kata Pak Petrus penelitiannya hrs dibuat semudah mungkin shg kalo bisa biaya nol (^_^)

    Pak Syukur :
    Di Jepang guru2 menggunakan dana iuran Teacher Union (semacam PGRI) u mengembangkan penelitian. Sama sekali tdk ada kucuran dr pemerintah.

  13. Setuju banget, bahwa guru itu harus melakukan penelitian terutama berkaitan dengan content mata pelajaran yang diasuhnya. melalui penelitian tersebut guru akan memiliki inovasi yang lebih tinggi dalam menciptakan proses belajar yang lebih menarik, fun learning, creatuve learning, dan akan membawa suasana belajar yang menyenangkan pada murid.

    Namun untuk melakukan itu semua komitmen dan keseriusan semua pihak harus ada, baik dari pemerintah maupun guru itu sendiri.

    Goodluck buat para guru. All the best for you.

  14. gara-gara nulis komen disini kali aku ketiban durian runtuh disuruh ngajuan grant buat riset halah

  15. alhamdulillah masih ada pendidik yang seperti di Jepang. semoga saja kita sebagai seorang guru patut mencontohnya.sehingga dengan penelitian kita tahu sejauh mana aspek-aspek, faktor-faktor uang mempengaruhi baik siswa maupun sesama guru.Thanks

  16. jika guru menjadi peneliti berarti menjadi penulis maka kompetensi dan profesionalisme guru yang seperti itu… oke punya

    setuju, Pak

  17. mau kompetensi meningkat ? mau profesional ? ayo marih guruku menjadi peneliti dan penulis . hidup guru Indonesia yang kreatif dan Inovatif….

    murni : hidup juga \(^0^)/

  18. Yang diharapkan sebenarnya, dengan meneliti guru dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja agar tujuan pembelajaran tercapai berdasarkan temuannya itu…begitu kan bu guru…

    murni : maksudnya begitu pak guru 😀

  19. sekarang banyak lho guru yang meneliti bagaimana cara menambah siswa yang masuk di sekolahnya. Walau tidak ditulis, kreativitas cenderung muncul dengan sendirinya karena kepepet. Ada lagi yang bersama-sama meneliti kemampuan orang tua siswa supaya dapat menentukan besaran uang pangkal. Selain itu, guru juga selalu mencari data-data tingkat kelulusan di sekolah lain serta berupaya mencari cara supaya siswanya lulus UN 100 %. Itulah modal awal guru di Indonesia untuk melangkah menuju seorang guru peneliti, tinggal bagaimana mengarahkan bakat terpendam tadi menuju satu tujuan yang lebih mulia.

  20. […] semacam itu. Atau memang benar guru tidak siap mengajar? Padahal jika sudah terbiasa kelak, maka guru-pun akan bisa membuat tradisi ilmiah muncul. Setidaknya telah melakukan pengamatan langsung. Selanjutnya tinggal dilakukan pengolahan informasi […]

  21. Tidak ada biaya dan sulit adalah alasan klasik.Datang ke tempat saya anda akan dapat informasi / referensi super lengkap untuk melakukan penelitian yakni INTERNET yang ready 24 jam akan saya sediakan beserta komputer dan laptopnya.Ingat tanggungjawab kita sebagai guru baik secara horisontal pada anak didik dan orang tua maupun vertikal pada Tuhan.Ilmu selalu berlari cepat , janganlah para guru diam ditempat.Congratulation for all teachers

    murni : wah, tawaran yg menarik u para guru.
    Insya Allah kalau saya pulang, bolehkah berkunjung ke sekolahnya, Pak ?

  22. Setuju bgt guru jdi pneliti. Tpi.. mngkinkh itu ? disruh nlis aja bnyk maleznya. Skedar curhat nih, kmarin aja sya nybarin angkt kcil… tpi tuk gru2 eh, dianggp nglangkahin kepseknya.Waduw kcau dah ! menghlangi kreativtas !Dtugu info2 pnltiannya ya?

  23. Guru harus dibimbing guru untuk meneliti. Masalahnya miskin sarana, semangat cekak, lebih semangat facebook dan anti TI. Kuamaha atuh Ni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: