murniramli

Mendidik Guru di Jepang

In Manajemen Sekolah on Desember 21, 2006 at 12:37 pm

Dua Selasa berturut-turut, 12 dan 19 Desember 2006, kelas PDP seminar kami membahas profesionalisme guru diJepang, sehubungan dengan adanya kebijakan baru pemerintah untuk merenew lisensi mengajar paraguru se-Jepang.

Guru-guru di Jepang adalah lulusan Perguruan Tinggi, berlatar belakang pendidikan, sosial, bidang sains, IT, engineering, dll yang telah menamatkan pendidikan S1. Bagi calon guru yang bukan berlatar belakang fakultas pendidikan, perlu mengambil beberapa mata kuliah yang terkait dengan pendidikan, misalnya Konstitusi Pendidikan Jepang, Psikologi Mengajar, Teknik Mengajar, dll, supaya dapat memperoleh lisensi guru.

Dengan meningkatnya kasus bullying (ijime) , bunuh diri dan DO di sekolah-2, kepercayaan kepada guru merosot tajam. Kementrian pendidikan (MEXT) bahkan mengadakan survey dan evaluasi terhadap guru-guru yang tidak punya kapabilitas memadai sebagai pengajar dan pendidik. Sebagian besar guru non professional tersebut adalah guru-guru senior, sekitar 40-50 tahun ke atas. Masyarakat Jepang sangat kental dengan pengkategorian senior yunior-nya, termasuk juga di kalangan para guru. Guru-guru yunior adalah yang berumur 20-30 tahun-an.

Karena tingginya angka ketidakprofesionalan di kalangan guru senior, maka dirancanglah sebuah kebijakan yang bermaksud memperbaiki ketidakmampuan tersebut. Kebijakan yang dikenal sebagai `shinmenkyou seido` (new license system) mewajibkan guru untuk mengikuti sejumlah training yang diadakan dan dibiayai oleh MEXT atau The Board of Education di tingkat daerah setiap 10 tahun sekali. Kebijakan ini tentu saja menuai protes keras dari kalangan guru. Pertama karena selama ini mereka toh sudah mengikuti banyak training, kedua mereka harus meninggalkan sekolah untuk pergi ke universitas terkait dan belajar di sana, ketiga, MEXT terlalu dini menyalahkan guru atas kasus kriminal di sekolah, dan lupa meminta pertanggungjwaban orang tua dan keluarga dalam masalah pendidikan.

Salah satu kebijakan lain yang berkaitan dengan profesionalisme guru adalah keinginan pemerintah Jepang untuk membuat semakin bnayak guru memiliki Master Degree. Saat ini terdapat 1.4% guru SD bergelar Master, 2.7% guru SMP , dan 10.6% guru SMA memiliki gelar Master.

Program-program baru dibuka di Universitas untuk memfasilitasi rencana ini, dengan membuka kelas malam yang memungkinkan para guru untuk tetap aktif mengajar di sekolah masing-masing dan juga berkesempatan untuk mengikuti perkuliahan di universitas. Beberapa guru dikirim atas biaya pemerintah daerah, namun sebagian besar guru belajar atas inisisatif pribadi.

Menurut saya kebijakan shinmenkyou tidak perlu ada jika training guru berjalan dengan prosedur yang benar dan pengontrolan kinerja guru juga berjalan baik. Sebagaimana profesional lainnya seperti dokter, hakim, konsultan, pegawai kantor tidak pernah diminta lisensi baru, maka guru pun selayaknya tidak dimintai lisensi yang baru. Lisensi hanya diperlukan untuk barang/produk, sedangkan profesi atau guru tidak manusiawi jika dia harus dilisensi ulang/ditera ulang.

Pengalaman guru mengajar dan bergaul dengan anak sepanjang masa kerjanya sudah merupakan modal berharga untuk mengasah kemampuan mendidiknya. Guru yang berpengalaman bahkan lebih pandai menarik hati anak daripada guru muda. Namun kehidupan sosial masyarakat yang berubah drastis secara cepatlah yang membuat kehidupan anak sekarang berbeda dengan anak-anak di masa dulu. Apa yang diajarkan guru di sekolah belum tentu anak sesuai dnegan apa yang dilihatnya di rumahnya atau di lingkungannya.

Profesionalisme guru menurut saya ada dua, profesional dalam pelajaran yang diajarkannya dan profesional dalam kemampuannya mengasuh, mendidik anak di sekolah, yang meliputi pengembangan badan, otak dan hatinya. Profesionalisme teknik pengajaran, ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkannya perlu diperdalam di fakultas tertentu yang sesuai. Sedangkan profesonalisme sebagai pembina, pengasuh, pendidik akan lebih bermakna jika mereka diajarkan psikologi anak, yang selama ini hanya menjadi mata pelajaran wajib bagi mahasiswa jurusan psikologi yang kemungkinan besar lusannya tidak akan menjadi guru tetapi kebanyakan akan mencari pekerjaan yang lain.

Tapi apa mau dikata, guru yang dulu sangat dihormati dalam strata masyarakat Jepang, kini sudah setara dengan barang yang harus ditera ulang. Ditambah lagi dengan potongan gaji guru dan sistem teacher appraisal yang kemungkinan akan mengurangi pendapatan seorang guru. Akibatnya makin sedikit orang muda yang ingin menjadi guru di Jepang saat ini…..

Iklan
  1. Kok kondisi guru mirip di Indonesia… apakah di negara lain kondisi guru juga sama.
    Di Indonesia juga parah kemampuan guru. jarang di-update, kalaupun ada penataran motifnya adalah proyek semata. hasilnya tidak pernah di cek sampai dimana perkembangannya. akhirnya tidak pernha maju pendidikan.

  2. Pak Urip, terima kasih atas commentnya
    Sepintas orang kebanyakan mengira pendidikan di jepang sangat OK, tp saya yakin bagi orang yg belajar dan melihat langsung kondisinya, pasti akan menemukan sisi baiknya dan banyak sisi negatif yang jarang terungkap di forum international, krn sedikitnya tulisan ttg penddikan Jepang yg diekspos dlm bhs Inggris. Tp tulisan pakar dan guru di Jepang ttg opini dan pengalaman mereka sangat banyak. Satu hal yg saya sangat salut, guru cukup rajin menulis buku di sini. Tentu saja dlm bahasa Jepang

  3. Pendidikan di Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian khusus, apalagi di era teknologi canggih seperti ini. agaknya moral pel;ajar indonesia mulai tercemar dengan budaya yang negatif seperti maraknya pornografi melalui telepon Selular. Bagaimana mengatasi hal ini, sedangkan kita tidak bisa menolak arus global tersebut. ? dengan filterisasi agaknya tidak ampuh lagi.

    murni : pendidikan agama di keluarga dan sekolah harus kuat, benar dan mendorong kepada pengamalan

  4. Wuah…apa ini ada hubungannya dengan banyaknya sekolah Internasional ? Yang membuat pemerintah ingin bersaing dengan sekolah-sekolah Internasional ?

  5. Mohon ma`af saya masih belum jelas apa itu psikologi mengajar dan aspek-aspek psikologi apa saja dalam mengajar..?
    terima kasih

    murni : Psikologi mengajar secara garis besar sebenarnya ilmu yang dibutuhkan untuk memahami karakter anak didik dalam kegiatan belajar mengajar. Urgensi materi ini dimasukkan dalam komponen teacher education menjadi polemik menarik di dunia barat, antara perlunya mengajarkan ini sebagai salah satu komponen yg harus dikuasai guru atau justru menggantikannya dengan materi yang lebih merepresentasikan kemampuan subject area guru. Ide lain yang menarik adalah memasukkan komponen moral dan ethics dalam kurikulum pendidikan guru.

  6. bandingkan dengan indonesia. untuk mencapai profesionalisme guru, pemerintah mengadakan setifikasi yang tidak efisien dan tdk bermutu.

    banyak bukti bahwa sertifikasi guru diindonesia banyak menghadirkan celah kecurang-kecurangan. para guru dipaksa menjadi kreatif untuk menulis karya ilmiah, sehingga tidak sedikit yang berpikir praktis dengan membelinya di calo pembuat karya ilmiah. banyak lagi celah kecurangan yang terjadi.

    kalo proses untuk menjadi profesional saja penuh kecurangan, bagaimana jadinya nasib guru.

  7. Sejak digulirkannya UU tentang guru dan Dosen, masalah sertifikasi menjadi naik daun. Tidak hanya jadi isu yang menarik bagi dosen-dosen di PT tetapi yang paling hangat memang di sekolah-sekolah. Kondisi ini bermula dari isu perlunya kita meningkatkan qualitas pendidikan di sekolah-sekolah dengan berbagai pertimbangan. Diantaranya, karena di duga hasil belajar anak-anak kita kurang begitu untuk bersaing secara global, maraknya kasus TKW, kurang baiknya hasil anak2 kita untuk TIMMS dan PISA. Sejalan itu, pemerintah baru sadar atau mungkin karena dipaksa oleh keadaan politik agar segera memperbaiki RABN untuk pendidikan termasuk kesejahteraan bagi guru-guru yang sangat terlambat untuk ditingkatkan bila dibandingkan dengan di negara-negara lain di ASEAN. Isu-isu di atas menggulirkan adanya kebijakan sertifikasi baik bagi dosen maupun guru-guru. Sebagai dampak negatifnya, memang terjadi hal-hal yang kurang baik tersebut terutama untuk guru-guru yang sudah lama mengabdi yang dulunya tidak biasa menulis, mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya yang memang kondisinya kurang mendukung karena masalah ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: