murniramli

Sadar Hukum di Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Desember 22, 2006 at 11:17 pm

Thursday, July 20, 2006
Sadar Hukum (tulisan di blog `Belajar dari Alam`)

Kemarin di tengah hujan yang mengguyur Nagoya, sehabis mengajar Bahasa Indonesia di sebuah Lembaga Bahasa, saya bermaksud kembali lagi ke kampus. Jam menunjukkan pukul 7.30 malam. Tidak seperti biasanya, karena bermaksud sampai di kampus lebih cepat, saya turun di Horita station dari Meitetsu train dan berjalan kaki kira2 10 menit menuju Horita underground subway. Biasanya saya turun di Kanayama station.

Ada kejadian menarik yang saya pelajari kemarin. Di sebuah lorong kecil yang agak gelap terjadi insiden tabrakan antara mobil yang dikendarai sepasang orang tua (70 th-an) dengan sepeda yang dikendarai seorang anak perempuan SMA. Suara `brukk` begitu keras terdengar. Saya yang sedang berjalan tidak jauh dari lokasi begitu kaget secara spontan menyebut `Allahu Akbar` tanpa sadar orang2 sekitar pun memperhatikan saya. Tapi saya lebih tertarik dg insiden tsb. Si anak perempuan kelihatan shock dan mulai menangis, istri pengendara mobil, segera mendatanginya dan bertanya `daijoubu desuka` (apakah baik2 saja ?). Si anak entah mengucapkan apa tapi kelihatan dia masih shock dan melemparkan payung pink-nya di depan si nenek. Karena masih lampu merah, saya berdiri memandang mereka dari posisi agak jauh.
Ada rumah sakit kecil di dekat tempat kejadian, si nenek mengajak si anak untuk pergi ke tempat itu. Setelah lampu hijau, saya pun menyeberang dan bisa melihat dengan jelas, ternyata korban cukup parah karena terlihat darah mengucur dari bagian wajahnya, kemungkinan hidung.

Orang2 bersileweran tanpa ada yang peduli, saya pun merasa enggan untuk berhenti lama melihat mereka. Saya teringat kebiasaan di Indonesia kalau ada kecelakaan orang segera berkerumun, menyalahkan si pengemudi, membantu yang celaka. Tapi di Jepang tidak demikian. Seakan2 orang lain hendak mengatakan `Ini bukan urusan saya, itu urusan loe berdua ! Saya seperti ditarik mendekat untuk menanyakan apa yang bisa dibantu, tapi kembali saya sadar, ini di Jepang, yang cara berfikirnya berbeda dengan orang Indonesia. Akhirnya dengan ragu kaki saya bergerak pelan meninggalkan lokasi. Masih terlihat, si kakek turun dari mobil, melepaskan topinya dan membungkuk hormat kepada si anak, meminta maaf sedalam2nya.

Di tengah jalan menuju subway, pikiran ketakutan menghantui benak saya, bagaimana kalau kejadian itu menimpa saya ? lalu karena orang asing, orang Jepang lebih tidak peduli lagi, dibiarkan saja di jalan….bla…bla…setumpuk pikiran2 ketakutan melintas, tiba2 dari arah belakang terdengar orang berlari, ternyata si kakek. Mau kemana dia ?
Di dekat subway barulah saya tahu dia mendatangi Koban (kantor polisi) melaporkan kejadian barusan. Saya terhenyak di depan pintu masuk subway, begitu terkesan dengan peristiwa ini.
Jadi begini rupanya orang sadar hukum menyelesaikan masalah. Saya sudah berprediksi buruk bahwa mereka akan menyelesaikannya dengan `jalan damai`, yaitu mengantar si anak pulang dan membayar ganti rugi, ternyata dugaan saya meleset jauh.

Beginilah hukum ditegakkan oleh masyarakat Jepang. Satu lagi pelajaran berharga hari ini…..

posted by uni ramli @ 9:38 PM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: