murniramli

TV Pendidikan NHK Jepang

In Pendidikan Jepang on Januari 2, 2007 at 6:25 am

Salah satu kegemaran saya di akhir pekan adalah menonton TV Pendidikan NHK di channel 9 atau BS 2.  Acara yang saya tunggu-tunggu adalah : `waku-waku jugyou, watashi no oshiekata` yang kira-kira artinya `kelas yang menyenangkan`, metode mengajar saya`.  Acara ini sebenarnya disiarkan juga di Sabtu larut malam, tp biasanya saya sudah tidak kuat melek, sepulang kerja.  Untungnya ada siaran ulang  di hari minggu sekitar jam 9 pagi.

TV NHK (Nippon Housou Kyoukai) yang artinya Japan Broadcasting Corporation, adalah stasiun TV publik di Jepang dengan siaran pertama di tahun 1926.  NHK mirip dengan BBC, selain memiliki stasiun 2 stasiun TV terrestrial , yaitu General TV NHK dan Educational TV NHK, juga dilengkapi dengan 3 stasiun radio.  Selain itu, program NHK pun dapat disaksikan melalui satelit, yaitu NHK BS-1, NHK BS-2, NHK-Hi Vision dan NHK World.  Yang terakhir adalah layanan untuk penonton di luar Jepang.

Kembali ke acara waku-waku jugyou.  Acara ini menyajikan metode mengajar yang unik para guru di Jepang.  yang sering ditampilkan adalah pembelajaran matematika dan sains.  Pembelajaran matematika, terutama di SD dan SMP di Jepang sangat menarik, guru-guru selalu menyiapkan bahan belajar yang sangat sederhana, misalnya kertas, gunting, jepitan pakaian, atau bahan lain yg gampang sekali ditemukan.

Misalnya seorang guru di SD affiliation Tsukuba University mengajar anak kelas 5 SD bilangan berderet dengan bahan kertas dan gunting.  Dengan prinsip ` melipat dan menggunting` anak-anak belajar bilangan berderet secara menyenangkan.

Caranya :  Kertas berukuran A4 dilipat memanjang sebanyak dua kali, kemudian digunting mengikuti lipatannya sehingga menjadi 4 potongan kertas memanjang.  Selanjutnya kertas pertama dilipat melebar 1 kali lalu digunting.  Jadi, dengan melipat 1 kali dan menggunting 1 kali, akan dihasilkan 2 potongan kertas baru.  Bagaimana kalau dilipat 2 kali, kemudian gunting di lipatan yang terakhir ? Berapa potongan kertas baru yang akan dihasilkan ? Yup, hasilnya 3 potongan kertas baru.  Jadi sudah terbentuk deret bilangan 0, 2, 3. Selanjutnya kalau dilipat 3 kali lalu digunting, berapa potongan kertas yang akan dihasilkan ?  Sebelum mempraktekkannya, Pak Guru terlebih dahulu menanyai para siswa.  Sebagian besar siswa menjawab 5, sebagian yang lain menjawab 6.  Mengapa menjawab 5, mengapa menjawab 6, semuanya diminta untuk menjelaskan alasannya.  Papan tulis pun penuh dengan coretan dan ilustrasi anak-anak.

Yang menarik guru sama sekali tidak menggurui dengan memberitahukan jawabannya secara langsung, tetapi seakan-akan beliau tidak tahu, dan meminta siswa untuk menjelaskan.  Melalui cara ini, saya dapat menangkap bahwa anak-anak Jepang sangat kaya ide.  Pepatah `banyak jalan menuju Roma` berlaku di sini.  Dan Pak Guru sama sekali tidak pernah mengatakan `salah`, yang dia ucapkan malah kalimat `naruhodo`, yang artinya `Oh, saya baru tahu !  Kalimat ini menurut saya membangkitkan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang anak.  Suatu pujian yang bisa diartikan `kamu bisa, Nak !`

Ada 3 prinsip mengajar guru-guru di Jepang, yaitu

1. tanoshii jugyou (kelas harus menyenangkan)

2. wakaru ko (anak harus mengerti)

3. dekiru ko (anak harus bisa)

Melalui model pembelajaran seperti itu, saya juga melihat bagaimana anak-anak di Jepang diajari untuk menganalisa sebuah permasalahan, atau menemukan pemecahannya, tanpa dijejali dengan rumus itu rumus ini.  Mereka baru diajari rumus /teori belakangan, setelah mereka paham asal-usul sebuah teori, dan bisa menggunakannya di kehisupan sehari-hari.  Mereka juga tidak diajari banyak hal, sedikit saja yang penting mengerti.  Oleh karenanya guru-guru di SD sangat kaget ketika mengetahui anak-anak SD kelas 1 di Indonesia sudah belajar bilangan sampai 100.  Pasti mereka akan kaget lagi kalau saya bilang saya sudah belajar perkalian hingga 10 x 10 waktu di TK.  Maksudnya, saya menghafalnya, tapi saya tidak mengerti kenapa 1 x 1 = 1.

NHK sungguh membantu saya.

Tidak hanya acara waku-waku jugyo yang saya gemari, masih banyak program pendidikan lainnya yang menarik, misalnya `youkoso senpai` (=selamat datang kakak kelas), acara ini mengundang alumni yang sudah menjadi orang top untuk menjelaskan profesinya kepada para siswa, dengan tujuan memberikan gambaran kepada mereka bahwa cita-cita itu banyak, tidak hanya dokter atau pilot.  Ada penulis komik, pelukis, designer, dll.  Saya ingat waktu TK atau SD kalau ditanya `mau jadi apa ?` Biasanya saya bilang `Jadi dokter`. Karena profesi itu saja yang menurut saya kehidupannya paling mapan, duit banyak. hehehe….

Yang saya salut, NHK menyiarkan acara pendidikan untuk segala usia, dari mulai bayi, misalnya senam bayi, English for kid, sampai ibu-ibu, nenek-nenek, misalnya bagaimana membuat kartu pos, kartu nama sendiri dengan program komputer, atau bahkan membuat blog.  Jangan heran blog bukan hal baru bagi ibu2 dan para manula di Jepang.  Mereka gemar sekali ber-blog, menshare ide apa saja.  Sampai-sampai ada blog cara-cara bunuh diri. Wuih…ini yang berbahaya.  Pendidikan tentang blog, atau situs yang terlarang bagi anak-anak pun diajarkan di sekolah.  Mereka diajari alasan  mengapa sesuatu dilarang.  Barangkali cara ini yang membuat mereka sangat disiplin.

NHK melalui siaran-siarannya telah menjadi corong bagi guru, sebab NHK menyiarkan fakta yang ada di sekolah, menyerap ide/suara guru, juga menjadi corong bicara para orang tua, para siswa, dan tentu saja pemerintah.

Iklan
  1. Di Indonesia?
    Dulu ada TPI, isi acaranya sebenarnya bagus, tapi sayang kemasannya kurang menarik. Karena di sandiwarakan, pemainnya kaku semua, maka tidak bisa dinikmati.
    Saat ini media semacam di NHK sepertinya tidak komersial di Indonesia.
    Saat ini ada TV Edukasi sayang tidak semua warga negara bisa menikmati. Acaranya juga tidak jauh beda dengan TPI dulu.

  2. wah bagus banget tuh
    lebih bagus lagi kalo semua guru bisa belajar dari budaya jepang itu
    gimana caranya ya???
    tapi kalo gak salah diIndonesia ada yang hampir mirip seperti itu, pernah denger tapi lupa
    ntar saya ingat-ingat lagi

    selamat Idhul Adha 1427 H
    dan Tahun Baru 2007
    happy new year

  3. Pak Urip :
    Ya, sayang banget TPI juga beralih ke TV entertainment lagi ya, Pak.
    NHK walaupun tdk punya slot iklan, tp bisa mengeruk uang dr hasil penjualan CD/DVD pembelajarannya, musik, travel, bahasa asing, dll. Juga mll iuran TV sekitar 15 rb yen per tahun.
    Siaran NHK jg dibeli oleh stasiun lain di seluruh dunia.
    TV Edukasi milik TVRI, Pak ?

    Bagus :
    Caranya : belajar !
    Selamat Idul Adha juga,
    Selamat Tahun Baru juga,
    sudah makan sate kambing ? (^_^)

  4. Bu Murni Yth.,
    Salam kenal dari saya, Sani di Sendai. Kalo tak salah, “NHK Kyouiku” ini bisa ditangkap di Indonesia juga. Keluarga kakak saya yang “mantan” penduduk Fukuoka masih sering mengikutinya. Sampai sekarang anak2nya lebih didorong untuk menyetel acara2 NHK dari pada menonton acara2 TV Indonesia ;-(. Masalahnya, karena mungkin akses yang kurang dan biaya mungkin, menjadi bagaimana supaya program2 yang menarik itu bisa terdesiminasikan ke para pendidik/yang memerlukan. Misalnya ada sekolah atau instansi pemerintah (tingkat keluarahan atau kecamatan lah) yang berlangganan, merekamkan, dan ada yang mau memberi pengantar sedikit, tentu ini akan menjadi “bahan studi komparasi” yang sangat baik. Saya yakin ada beberapa video NHK yang telah resmi beredar, tapi akses, disiminasi, dan sosialisasinya lah yang kurang. Blog Bu Murni yang condong banyak memberi contoh kasus pendidikan Jepang ini tentunya menjadi salah satu aset penting dalam rangka itu. Gambarimashou!

  5. Salam kenal juga.
    Saya baru tahu kalau NHK Kyouiku yg bisa ditangkep di Indonesia.
    Saya pikir hanya NHK World saja yg memang ditujukan untuk konsumer asing.
    Seandainya memang NHK Kyouiku berarti masih dlm bhs Jepang mestinya ya ? Perlu ditranslate.
    Video NHK memang banyak sekali, hanya saya baru tahu yg pengantar bahasa Jepang. Kalo ada yg pengantar bhs Inggris bagus juga.

    Segala pujian hanya untuk Allah.

    Haik, utagaini gambarimashou !

  6. andaikan di indonesia pengelola stasiun tv nya kayak NHK dan TV Jepang lainnya, tentu Inodesia cepat maju. Apalgi Tv lokla banyak smapai kota kabupaten. Tapi yaitu sayang sekali serbu sayang, nggak membuat masyarakat pemirsanya tambah maju. Kerepotan SDM dan Sumberdaya lainnya jadi PR panjang.

  7. Atas nama Demokratisasi Penyiaran orang -orang lokal, pejabat dan pengusaha bikin tv lokal. APBD pun bisa dipakai untuk pendirian dan membiayai operasionalnya. Seperti di Ratih TV Kebumen. Klaimnya TV publik, yang janji awalnya untuk fungsi pendidikan. Tapi sampai 4 tahun berjalan “syahwat politik” tertentu yang diikutin.
    Pernah dikejar masayarakat dna DPRD mana fungsi pendidikan yang dijanjikan. Lalu ditayangkanlah Program Kebumen Pintar. Usut punya usut, ternyata program pendidikan punya TPI tahun 1990. Cuman depannya kredit title sama tahun produksinya dihapus.
    Program tersebut kerjasama dengan penyedia tv kabel Jogjakarta.

    Bayangkan program sampah, karena kurikulum yang diacu 1986 ditayangkan di tahun 2004. Kurikulum udah ganti -ganti berkali-kali.
    Masyarakat Kebumen, yang termiskin di Jawa Tengah, khususnya pelajar SLTP, dan SLA , bukan dapat pencerahan tapai kegelapan alais kebingungan
    Semoga Ratih TV Kebumen dan pengeloal TV lainnya di Indonesia belajar TV edukasi ke Jepang.

    Aris Raharjo, Pengelola Rumah Produksi Nirlaba, Lembaga Dokumenter Transformasi Masyarakat (DOCUMA) , tinggal di Kebumen

  8. sasalam dari Indonesia,saya mengusulkan supaya siaran pendidikan jepang nhk dapat bergabung dengan siaran tv edukasi yang ada di Indonesia,itu dapat membantu pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam mencerdaskan bangsa,semoga usulan saya diterima,sebelum dan sesudahnya terimakasih,salam dari Indonesia

    murni : setuju, Pak usulannya. Mudah-mudahan dibaca oleh org TVRI 😀

    • ya kami akan tindaklanjuti sebagai masukan ke TV Edukasi yang dikelola Pustekkom Kemdikbud RI… kami memang bermitra dengan TVRI untuk menyiarkan program-program kami di TV Edukasi yang terpancar via parabola yang direlay TVRI

  9. jika mau maju, ya majulah dengan sebenar-benarnya … jangan tanggung-tanggung…
    banyak benda produk made in japan begitu bersahabat dengan WNI … jadi saya pikir ndak
    beguti ada persoalan seandainya …. kalau pola pendidikan juga kita “import” adopsi dari sana pula.
    tanya knapa?
    jangan sampai kawasan di silang lintas dunia ini juga jadi persilangan konsep dalam mendidik anak
    bangsa tanpa punya konsep azali [lokal] cukup kuat terlebih dulu, biar gak terombang-ambing arus
    deras “globalisasi atau malah gombalisasi”, generasi muda kita ini korban aneka mode filosofi dan gaya kurikulum sebagai penonton bukan penuntun, karena hanya kulit, bukan isi [essensi]
    konsepsinya yang dijajakan dan di”pinang” oleh kaum cerdas di kementerian Diknas kemudian
    dijejalkan di pelosok negeri sendiri.
    konsep pendidikan dari jepang, terasa identik walau gak persis dengan indonesia [kali serumpun
    asia ya?], tentu persoalan & jalan keluarnya pun gak beda jauh amat… ; jikalau demikian..
    mengapa orang-2 pandai itu pada berkiblat “terlalu jauh” ke areal Europe/Amerika yang belum tentu cocog adat & melunturkan budaya lokal bisa mempengaruhi tata nilai-2 hidup kepribadian
    bangsa?
    Ilmu boleh datang darimana saja, budaya kepribadian [kultur] bangsa & filosofi pola pkir tentunya tak semudah ganti baju kan?
    bagaimana,
    jadilah seorang pembelajar yang sejati, janganlah se 1 1/2 + 1 1/4 paham begitu [ lagi berlangsung
    kaya’ sekarang ini, kesimpulan inti pemahamannya tidak kemana-mana] serasa “gado-gado” bikin
    goda-2an … penampilan gaya life style mencari Ilmu dunia akhirat i
    terkontaminasi luar negeri
    sembunyilah kepribadian negeri sendiri..
    hehehe…. nyambung atau ndak ya….
    wassalam
    ardi

    murni : Ini Pak Ardijono yang sering memberi komentar bermutu di blog saya bukan ya ? 😀
    Wah, kalo benar, senang sekali. Komentar Bapak selama ini selalu dianggap SPAM, kalo saya tak sempat ngecek, mk otomatis terhapus.

  10. injih… blog bu murni,
    itu enak dirasa, mudah dimengerti, gaya bertutur sapa bahasa yang bersahabat, ringan namun berbobot lan berbibit jelas + berakar tunas kuat
    walau prosesnya lambat, insya allah lewat sentilan2 lembut …. konsep-konsep pendidikan bu murni usung… sungguh menarik dan membawa manfaat
    buat masyarakat pemerhati pendidikan.
    Semoga juga mengingatkan “mereka” berkewajiban mengelola pendidikan & pengajaran di negeri ini. wassalam

  11. injih… blog bu murni,
    itu enak dirasa, mudah dimengerti, gaya bertutur sapa bahasa yang bersahabat, ringan namun berbobot lan berbibit jelas + berakar tunas kuat
    walau prosesnya lambat, insya allah lewat sentilan2 lembut …. bahkan luput dari perhatian orang, menjadi bernilai di tangan Anda. Dan konsep-konsep pendidikan bu murni usung… sungguh menarik dan membawa manfaat buat masyarakat pemerhati pendidikan.
    Semoga juga mengingatkan “mereka” berkewajiban mengelola pendidikan & pengajaran di negeri ini.
    wassalam

    murni : pujiannya terlalu berlebihan, Pak 😀
    Wong yang saya tulis sebenernya sudah diomongin juga oleh para pejabat 😀

  12. […] dengan kalender Jump to Comments Pagi ini di NHK Pendidikan, Pak Guru yang saya pernah tulis di sini kembali menyampaikan pelajaran matematik : `kanjiru sansuu 1,2,3` […]

  13. Salam kenal bu Murni, ternyata yang nulis artikel tentang ‘waku-waku jugyou, watashi no oshiekata’ itu bu Murni ya…maaf saya ‘copy’ and ‘paste’ saja dari milis ke blog saya.
    Saya sedang cari info tg acara ini, apakah ada acara On Line nya di internet?, sehingga mudah di akses. Kebetulan kami saat ini tinggal di Belgium.

    murni : salam kenal juga, Bu Mieke. Sayang sekali saya belum pernah mendapatkan versi on line-nya Bu. Tp saya tdk tahu apakah ada siaran berbahasa Inggris NHK yg bisa ditangkap di negara lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: