murniramli

Sampah (2)

In Serba-Serbi Jepang on Januari 8, 2007 at 3:03 pm

Melanjutkan cerita saya tentang sampah di Jepang, berikut ini saya berikan beberapa visual yang perlu kita kenali dalam kaitannya dengan persampahan di kota Nagoya

1. 3 macam plastik sampah : merah untuk burnable (sampah dapat dibakar), biru untuk recycle, dan hijau untuk yang non burnable (tidak dapat dibakar).

p1160784.JPG

2. Tanda merk PET yang merupakan singkatan dari Polyethylene terephthalate. Botol yang berlabel seperti ini harus dibuang di tempat khusus. Di sebelah kanan tanda PET terdapat penjelasan bertuliskan huruf katakana `kyappu : PP` dan `raberu : PS`, artinya kyappu = tutup botol tergolong bahan plastik Polypropylene, yang bersifat jadi masih dapat dipakai (economical) , sedangkan raberu = label tergolong bahan plastik polystyrene, yaitu bahan plastik yang dapat disintesis. Pembuangan keduanya di kantung yang terpisah.

p1160787.JPG

3. Untuk kemasan kertas yang tak berlapis alumunium foil di bagian dalamnya, terdapat tanda seperti ini , 紙パック yang artinya 紙=kertas, パック= pak(kemasan). Kemasan seperti ini harus dicuci bersih bagian dalamnya, lalu digunting pada salah satu sisinya hingga membentuk lembaran, kemudian dibuang dalam plastik sampah berwarna biru.

p1160788.JPG

4 . Tanda berikutnya adalah kemasan kertas yang dapat direcycle, bertuliskan karakter 紙=kertas. Contoh di bawah adalah kemasan minuman diet `vinegar` yang dikemas dalam kemasan kertas tetapi tutupnya dari bahan plastik. Sehingga di sebelah kanan tanda `紙‘ terdapat penjelasan tentang `キャップ=tutup botol, yang harus dibuang terpisah.

p1160792.JPG

Demikianlah semua produk di Jepang sekalipun `Indomie` yang diimpor dari Indonesia tetap harus ditambahkan label tentang tatacara membuang kemasannya.

Yang menjadi masalah besar bagi sebagian pemerintah kota di Jepang saat ini adalah tentang pembuangan barang bekas yang tidak ditangani oleh pemerintah tetapi harus dijual ke toko recycle, misalnya TV, kulkas, mesin cuci, mobil, dll. Beberapa waktu yang lalu diaporkan dalam suatu siaran langsung sebuah stasiun TV swasta di Jepang tentang sebuah lokasi tepi kota di Sapporo, Hokkaido yang dijadikan warga sebagai tempat menumpuk/membuang barang bekas. Lokasi ini sekaligus menjadi tempat tinggal homeless yang jumlahnya cukup banyak di Jepang.

Ketika saya pergi ke Gifu prefektur, dalam perjalanan, saya pun melihat dari kejauhan rongsokan mesin cuci dan kulkas di tengah hutan belantara di pegunungan. Di Nagoya jika hendak membuang sepeda dan enggan membayar, maka biasanya mahasiswa cukup memarkir sepedanya di kampus dan pura-pura lupa, tidak diambil hingga berkarat. Biasanya sebulan sekali akan ada mobil yang mengangkut sepeda-sepeda tak bertuan. Setiap sepeda di Jepang harus terdaftar dan ada surat ijin kepemilikan.

Mahasiswa asing termasuk penampung barang bekas. Kami tidak membeli TV baru, kulkas baru, mesin cuci baru, video baru, yang harganya cukup mahal. Semuanya kami dapat dari bazar barang bekas yang biasa digelar di kota, atau di kampus. Tetapi kalau hendak dibawa pulang ke Indonesia, biasanya saya pribadi bela-belain beli yang baru. Saya masih berfikir normal untuk tidak membawa pulang `sampah Jepang` (^_^)

Iklan
  1. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Hehe, baru baca, gomen ne.
    Daku kira sampah hasil hewan peliharaan, ^_^

  2. maaf nih langsung nyelonong aja….
    saya tertarik dengan artikel sampah yang anda buat…
    saya mahasiswi Ugm yang bermaksud melakukan riset tentang sampah di Jepang…
    bisa minta info dan gambar-gambarnya sedikit….??
    kalo boleh trima kasih banget n tolong dikirim ke email saya…
    terimakasih sekali….^-^

  3. Mukashi mukashi…
    Sekitar 15 tahun yll. pembagian sampah di Nagoya hanya ke dalam dua kategori : “combustible” dan “non-combustible”. Sedangkan sampah besar (sodai gomi) dibuang pada hari tertentu yg ditetapkan, dan saat itu masih gratis. Kami sering “berburu” TV, radio, wapro (word processor), spring bed, video dsb. sampai PPI diplesetkan Persatuan Pemulung Indonesia. Ada teman yg tinggal di daerah-daerah orang kaya (sekitar Minami Yama), sampahnya kadang sangat bagus. Ada wapro yg sepertinya hanya dipakai 1 baris tapi sudah dibuang. Ada teman yg sangat rajin mengumpulkan gomi, sampai disebut “Ratu gomi”, karena orangnya telaten. Gomi yg dikumpulkan itu digosok bersih sampai “pika-pika”, dan ditata apik di rumahnya.
    Medetashii..medetashii… 😀

  4. Mba Rima :
    Photo2 apa yang anda inginkan ? Saya tdk mengoleksinya secara serius, tp sy bisa potretkan sesuai pesanan (^_^).

    Pak Anto : ternyata orang Indonesia memang banyak akalnya….(^_~)

  5. wew.. lucu juga ngebaca comentnya mas anto..

    kira-kira diindonesia kapan bisa diterapin kayak diatas yahh.. *mimpi kali ye..*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: