murniramli

Setuju Pasal 19 UU Guru dan Dosen 14/2005

In Pendidikan Indonesia on Januari 10, 2007 at 7:13 am

Di sela-sela waktu senggang di kala melakukan part time job di sebuah restoran, saya mencoba membaca tuntas UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen yang ada dalam sebuah buku yang saya pinjam dari seorang teman. Judulnya `Profesionalisasi Guru & Implementasi KBK`, karangan Martinis Yamin. Ada beberapa pasal yang sangat menggembirakan, seandainya dapat terwujud.

Kalimat yang tertera dalam pasal demi pasal sebagaimana halnya bahasa UU pada umumnya adalah bahasa baku, standar, tanpa bunga-bunga. Ketika membacanya pun badan harus tegak dan konsentrasi penuh, karena ayat-ayatnya saking rapihnya bahasa yang dipergunakan membuatnya sangat sulit untuk dipahami apatah lagi untuk diwujudkan.

Anyway, saya cukup menikmati membaca UU ini karena kebetulan ada rencana mempresentasikan makalah tentang `pendidikan guru` di era OTDA di sebuah seminar bulan Juni mendatang. Ada 2 pasal yang sangat membahagiakan, yaitu pasal 15 ayat (1) dan pasal 19 ayat (1).

Pasal 15 ayat (1) berbunyi :

Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yan ditetapkan denan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.

Pasal 19 ayat (1) berbunyi :

Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.

Makna yang terkandung dalam kedua pasal ini sebenarnya pernah saya bincangkan dengan seorang teman yang sekarang sedang kuliah di GSID (Graduate School of International Development), Nagoya University. Saya lupa kronologis obrolan kami, tetapi seingat saya saat itu kami mempermasalahkan tentang kenaikan gaji guru. Rekan saya menyetujui kenaikan, sedangkan saya pikir-pikir dulu. Karena menurut saya, apakah dengan menaikkan gaji guru, kinerja guru pun akan lebih baik ?

Pendapat di atas barangkali dilatarbelakangi dengan pengalaman saya sebagai guru di pesantren. Beberapa ustadz muda di pesantren kami menerima gaji hanya Rp 150.000 sebulan, selain itu mereka juga mendapat tunjangan tempat tinggal, makan (beras bulanan), transportasi, kesehatan, gratis jika anaknya bersekolah di pesantren, juga biaya untuk mengikuti pelatihan. Sehari-hari saya melihat wajah para ustadz senantiasa damai dan teduh, saya tidak pernah mendengar keluhan dari mereka terutama masalah keuangan (atau barangkali saya yang kurang peka dengan masalah ini). Tapi mereka benar-benar hidup bersahaja, tapi berkecukupan.

Kadang-kadang saya makan bersama dengan mereka di dapur pesantren, dengan menu seadanya (tempe goreng, krupuk, sayur bening) tapi kami merasakan kenyang yang membawa kepada kantuk. Barangkali `kenyang` seperti itu juga dirasakan oleh orang-orang yang makan daging, spaghetti, sayur 7 rupa (sayur apaan nih ;D).

Jadi berdasarkan pegamatan itu, saya berfikir, apabila hajat primer seseorang sudah terpenuhi, maka dia tidak butuh uang lagi. Kebahagiaan bagi mereka hanyalah jika hari ini dan besok bisa makan enak, bisa bepergian, bisa tidur nyaman, bisa menyekolahkan anak, bisa segera berobat jika sakit, bisa beribadah tanpa ada tekanan. Perasaan `agak gusar` akan terasa ketika kita mulai memikirkan ingin mempunyai (membeli) sesuatu yang di luar batas budget kita ; membeli rumah, membeli motor/mobil, membeli perhiasan emas, plesiran, dll. Atau ketika kita membandingkan antara gaya hidup kita dengan gaya hidup orang kaya, biasanya kita akan merasa sebagai orang termiskin di dunia dan mereka adalah orang yang punya segalanya. Pada saat inilah kita menuntut kenaikan gaji !

Apakah ini salah ?

Tidak ! Ini hak setiap orang dan adalah fitrah manusia 😀

Jadi jika pemerintah bermaksud menaikkan gaji guru di atas biaya hidup minimum, saya mengucapkan alhamdulillah. Tapi, jika pemerintah sekalipun berniat menaikkan gaji guru, sementara budget negara tidak ada, atau belum sanggup menekan angka korupsi yang dengannya gaji guru bisa dinaikkan, maka bagaimana jika anggaran untuk gaji guru dialihkan saja kepada bentuk `kemaslahatan` sebagaimana termaktub dalam pasal 19 ayat (1) ?

Ini yang dicetuskan teman saya pada saat obrolan 2 tahun yang lalu. Berdasarkan ceritanya, tetangganya seorang guru sekolah negeri, tapi sangat miris karena sang guru tidak dapat menyekolahkan anaknya.

Guru layaknya manusia biasa, yang akan nyaman bekerja jika semua kebutuhan primernya terpenuhi, anaknya bisa bersekolah dengan baik, keluarganya terjamin hidupnya. Itu sudah cukup (menurut saya). Dalam rangka meningkatkan profesionalismenya, guru perlu dana, misalnya untuk membeli buku-buku bermutu, surfing internet, mengikuti pelatihan, seminar, workshop atau bahkan sekolah lagi di PT. Tentu saja guru juga perlu memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier,tetapi ini sangat relatif bagi setiap orang. Ada orang yang menganggap komputer adalah kebutuhan primer ada juga yang menganggapnya kebutuhan sekunder bahkan tersier.

Seandainya pemerintah dapat memenuhi kedua-duanya, yaitu menaikkan gaji plus memberikan jaminan peningkatan profesionalisme guru…… alangkah senangnya kumenjadi guru (^_^).

Iklan
  1. Masih jauh… apalagi kalau melihat kondisi guru kebanyakan. Layak-kah saya menerimanya… inilah yang semestinya dipertanyakan oleh masing2 guru Indonesia.

  2. Perlahan Tapi Pasti Yakinlah Ada perbaikan…
    Terlalu berharap…? Jangan…? Bisa Kecewa.

  3. Saya yg melihat pendidikan Indonesia dari jauh saat ini, senantiasa optimis dg niat maju yg dimiliki pemerintah, rakyat, dan terutama para guru. Apalagi melihat blog Bapak berdua. Salut !!
    Terima kasih sdh menshare ilmu dg gratis (^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: