murniramli

Youkoso Senpai

In Pendidikan Jepang on Januari 12, 2007 at 8:41 am

Judul di atas adalah nama sebuah program TV NHK. Judul program secara lengkap adalah `kagai jugyou youkoso senpai` (課外授業ようこそ先輩)Kata kaigai jugyou berarti ‘outdoor kelas’ , youkoso (ようこそ) berarti `selamat datang` dan kata senpai (先輩) ` kakak kelas`.

Saya ingat ketika kuliah di IPB dulu, ada undangan dari teman untuk menghadiri pertemuan alumni SMA 2 Madiun. Waktu saya tanya acaranya seperti apa ? Dia bilang cuma kangen-kangenan. Karena saya merasa tidak kangen dengan sesiapapun, jadi saya tidak datang (^_~).

Ya, banyak sekali acara reuni yang digelar untuk para `senpai`, yang biasanya tidak sekedar acara kangen-kangenan tapi juga untuk menunjukkan kepada para guru yang sudah mendidik kita : `saya sudah jadi orang, Bu, Pak !`, lalu acara terakhir biasanya merogoh kocek demi perbaikan gedung ini dan itu, kesejahteraan staf ini dan itu, dan banyak lagi keperluan yang memang butuh duit.

Tapi acara youkoso senpai bukan acara reuni !

Acara yang disiarkan setiap akhir pekan oleh TV NHK adalah acara pendidikan yang menghadirkan `alumni` sekolah yang sudah berhasil menjadi `orang ` untuk datang ke kelas dan memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang pekerjaan dan kesuksesannya, serta menginspirasi anak untuk memiliki cita-cita yang luas di masa depan.

Minggu lalu, 6 Januari 2007, acara ini menampilkan seorang lelaki Jepang yang menjadi pahlawan bagi orang-orang Afghanistan, Dr Tetsu Nakamura. Beliau lahir di Fukuoka prefecture, tahun 1946. Beliau adalah dokter lulusan Kyushu University dan mempunyai kegemaran kepada alam, msa kecilnya sering dihabiskan masuk hutan dan mempelajari kupu-kupu. Tahun 1984 beliau bergabung dengan kelompok volunter `Japan Overseas Christian Medical Cooperative Service dan bertugas di Penshawar, Pakistan. Laki-laki yang akhirnya mendapat penghargaan Ramon Magsaysay tahun 2003, karena keberhasilannya membantu masyarakat Afghan untuk membangun sumber air yang kini dapat dinikmati oleh 250,000 penduduk desa. Usaha ini dimulai tahun 2000, ketika beliau menyadari bahwa mengobati orang sakit pasca perang Afghan tidak bisa hanya dengan obat, tetapi harus dengan memperbaiki kehidupan mereka melalui penyediaan sesuatu yang sangat vital bagi kehidupan makhluk, yaitu AIR.

Beliau juga banyak menulis di media massa Jepang hal-hal positive tentang Islam dan orang Islam, yang secara tidak langsung mengcounter isu terorisme yang dituduhkan kepada muslim.

Beliau diundang ke SD Kogashiritsu Koganishi (古賀市立古賀西小学校)yang terletak di Fukuoka prefecture. Saya tidak begitu jelas siswa kelas berapa yang berpartisipasi dalam pelajarannya hari itu, tetapi ada sekitar 20-25 anak yang terlibat mendengar penjelasan beliau. Tema yang Pak Nakamura angkat hari itu adalah 何もないところからはじめよう(nani mo nai tokoro kara hajimeyou), yang artinya `Mari kita mulai dari tempat yang tidak ada apa-apa`.

Hari itu Pak Nakamura mengajak anak untuk mengenal air dan sumbernya. Anak-anak semula diberi penjelasan di kelas, sekaligus mendengarkan cerita beliau tentang aktifitasnya membuat sumur bagi orang-orang Afghan. Hari kedua, anak-anak diajak untuk menelusuri sumber air di kampung mereka, sekaligus mempelajari bagaimana air bisa sampai ke sawah, bagaimana dia dialirkan hingga ke rumah-rumah, di mana pintu air, di mana sumber air, bagaimana bentuk saluran utama, dan saluran sekunder juga saluran tersiernya. Meskipun agak sulit bagi anak-anak SD, tapi mereka diperkenalkan dengan cara menelusuri saluran air hingga masuk ke hutan, ke sumbernya. Jadi seperti acara kemping ke hutan, tetapi sekaligus belajar tentang IPA.

Saluran yang dibangun sejak jaman sebelum perang itu terlihat masih kokoh dan terawat. Untuk memeriksa mana saluran utama dan mana saluran tersier, anak-anak mengapungkan benda-benda apa saja kemudian mengecek ke mana benda tersebut mengalir. Untuk lebih memahami, anak-anak diminta menggambar saluran air dari sumbernya hingga ke sawah, sebagaimana yang mereka amati. Anak-anak juga diajak ke sebuah otera (temple) dan menemui seorang biksu tua untuk mendapat penjelasan tentang sistem perairan di masa lampau, yang sejarahnya tersimpan dengan baik di dalam temple. Ternyata ada seorang tokoh di jaman Edo yang memulai pembuatan saluran air di desa itu, yang patungnya diabadikan di depan temple. Sang biksu sekalian mengajak anak-anak untuk berdoa di depan patung. Mungkin sebagai ucapan terima kasih.

Hari ketiga, anak-anak diminta secara berkelompok untuk mengerjakan proyek pembuatan saluran air dengan cara membelokkan aliran air di sebuah saluran sekunder ke sebuah lahan seorang petani yang sangat bersedia lahannya dipakai untuk praktek anak-anak. Hari itu anak-anak benar-benar berpeluh menggergaji bambu, menggali saluran yang cukup dalam dan panjang, menyusun bebatuan sebagai dasar parit, dan menyambung bambu yang dijadikan sebagai pipa. Rasanya jika para ibu melihat anak-anaknya dipekerjakan seperti itu, pasti akan menangis. Tetapi anak-anak Jepang memang seulet nenek moyangnya, walaupun dengan tangan kecil, mereka mampu bekerjasama dengan baik, dan alhasil saluran air pun jadi. Air yang pelan-pelan merembes melalui parit lalu masuk ke pipa-pipa bambu dan muncrat di hulunya, membuat anak-anak lega, tertawa senang dan takjub bahwa ternyata mereka bisa : ` ha dekita, sugoi!! (wah, bisa….hebat !!).

Pak Nakamura kemudian membagikan anak-anak benih bunga dan sayur, lalu meminta mereka menanam di lahan yang sebelumnya sudah dicangkul, kemudian menyiramnya dengan air yang mengalir dari saluran buatan mereka.

Saya yang biasanya sulit menangis kalau menonton film sedih atau mendengar orang bercerita sambil menangis, kali ini tak tahan mengeluarkan air mata. Saya terharu ketika mendengar seorang anak memberi komentar : `ternyata air sangat luar biasa pentingnya !`

Subhanallah, Maha Suci Allah Yang telah mengajarkan manusia tentang ilmu ! Saya seperti diingatkan masa-masa berkebun dengan ayah dan mamak dulu. Lalu menyiram bibit yang tumbuh dengan air selokan di depan rumah. Pun diingatkan untuk kembali mensyukuri dan berzikir tentang air yang membasahi kerongkongan saya setiap hari.

Beginilah jika `senpai` diundang ke sekolah-sekolah di Jepang ! Bukan untuk kangen-kangenan, bukan untuk diperas koceknya, tetapi untuk berbagi ilmu. `Youkoso senpai (^_^)

  1. Kalau di Indonesia ada gak orang seperti pak Nakamura, saya bisa gak yah nyontoh gitu…

  2. Pasti ada….

    Bisa….yakin bisa !

  3. Mbak Murni, sedikit ralat. “youkoso” nya tidak pakai “u” di ujung belakang. Jadi yang benar adalah ようこそ Artikel-artikel mbak Murni sangat bagus !

  4. Makasih Pak Anto,
    langsung saya ubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: