murniramli

Konsumen adalah Raja

In Serba-Serbi Jepang on Januari 14, 2007 at 10:16 am

Hari ini saya bekerja part time di Mister Donut, dan agak terkejut dengan berita yang disampaikan Pak Manajer mengenai salah satu produk makanan (mochi mochi kurumi) yang baru dikeluarkan awal tahun ini terpaksa harus dihentikan pemasarannya di seluruh outlet MD se-Jepang karena terdapat 3 kasus komplain dari pelanggan yang menyebutkan ada benda padat, seperti batu kecil yang terselip dalam produk donut tsb.

Berita yang sempat merebak di surat kabar dan TV Jepang kemarin membuat para pengelola MD agak shock, begitu pula dengan kami yang bekerja. Saya masih ingat protes kepada Pak Manajer karena kotak untuk menempatkan 5 butir donat yang berukuran lebih kecil daripada bola ping pong itu tidak layak pakai. Berkali-kali komplain datang dari tamu, donutnya gampang jatuh, sampai kami mencoba menemukan cara supaya donut tidak mudah jatuh. Tapi tetap saja tidak menolong pada saat hari SALE, sebab kami harus bekerja dengan cepat dan akibatnya donut mungil-mungil itu bergelindingan di baki.

Bukan donut ini yang mau saya jelaskan tetapi bagaimana bisnis di Jepang menempatkan konsumen sebagai raja.

Kasus komplain hanya 3 menurut Pak Manajer, tetapi dampaknya meluas hingga penyetopan produksi seluruh negeri. Saya ingat kasus seorang teman di Indonesia yang membeli produk wafer di suatu supermarket kemudian mendapati kutu-kutu kecil di dalam bungkus wafer. Dia langsung menelepon customer service, dan akibatnya, seorang staf perusahaan datang ke rumahnya membawa sekotak wafer dengan pesan khusus untuk tidak membesar-besarkan masalah.

Beberapa waktu yang lalu terjadi kasus komplain dari konsumen mengenai salah satu produk Matsushita, kalau tidak salah heater yang bermasalah karena mengeluarkan racun tertentu. Juga kasus yang menimpa produk makanan Jepang terkenal Fujiya. Kesemuanya karena kasus 1-2 saja, tetapi berakibat fatal.

Saya masih ingat pembesar Matsushita berdiri di depan para wartawan dalam jumpa pers untuk menyatakan permohonan maafnya kepada konsumen sambil membungkuk 90 derajat dalam waktu yang cukup lama.

Betapa konsumen sangat dimanja di Jepang ! Barangkali alasan ini juga yang membuat orang Jepang gemar berbelanja, gemar makan di restoran, atau tidak bosan makan donut setiap hari (pengunjung toko tempat saya bekerja selalu penuh, apalagi hari sabtu minggu). Tapi kebiasaan seperti ini bukannya sangat baik untuk meningkatkan perekonomian negara ? Sampai ada pemeo, bisnis makanan, pakaian dan travel tidak bakal rugi di Jepang.

Seperti saya tulis di blog ini, sambutan kepada tamu pun sangat sopan. Saya bahkan kadang membicarakan masalah ini dengan rekan foreigner dan secara iseng kami menyimpulkan : bisnis di Jepang kelewatan baik kepada konsumennya.

Tadi pagi juga saya dengar sesuatu yang bagi saya aneh. Pak Manajer mengeluhkan karena kemarin malam, saat jam menjelang toko tutup donut yang tersisa hanya 40-an biji. Lalu secara saya spontan mengatakan : `bagus, bukan ?`, dan beliau melotot sambil mengatakan : `ya ya ya…zettai dame !!` (tidak, benar-benar tidak boleh terjadi !). Alasannya ?

Karena tamu ketika akan membeli tidak punya banyak pilihan donut. Yang normal adalah jika bersisa sekitar 200 biji karena ada 20-an jenis donut jadi masing-masing  tersisa 20 biji-an. Jadi, pada saat menjelang tutup jam 11 malam pun tamu tidak boleh dibuat kecewa dengan sisa-sisa donut !

Saya baru `ngeh` kenapa Pak Manajer selalu bertanya berapa donut yang sisa kemarin kepada stafnya yang lain. Dan kalau jawabannya 200-an dia kelihatan plong, tapi kalau 400-an berabe juga. Donut yang bersisa semuanya dibuang.

Cerita lain dari seorang teman yang melahirkan di sebuah rumah sakit di Jepang. Kebetulan dalam salah satu makanan yang diberikan kepadanya terdapat babi, maka seluruh kru masak dan pimpinan RS datang ke kamarnya minta maaf sedalam-dalamnya atas kekhilafan itu.

Begitulah, konsumen memang raja di Jepang !

Iklan
  1. Apa yah kira-kira komentar orang jepang kalau belanja di Indonesia?

  2. Well… saya telah membaca kisah serupa tapi tidak hanya di Jepang konsumen adalah raja.

  3. Ya, Pak Deni benar.
    di Indonesia pun konsumen adalah raja.

  4. Hmm…jadi inget waktu SMA. Kalau beli bakso di seberang sekolah saya suka ribut. Jangan kasih vetsin, sayur banyakin, bihunnya aja, dll…
    Mas penjual basonya suatu kali pernah nimpalin. “Ribut ah…”Saya bilang biarin…pembeli adalah raja. Si masnya malah nimpalin, ” penjual kan permaisurinya….”

  5. Saya kira dimanapun ada slogan itu, sebagai penghargaan atau sebagai salah satu bentuk promosi
    atau service terhadap customers sebuah bentuk usaha seperti pusat perbelanjaan misalnya.
    Tapi bukti yang penerapanya saya kira banyak yang tahu bagaimana di negara kita.
    Dan saya tetap bangga sebagai anak Indonesia walaupun kita belum sebaik yang kita impikan.

  6. […] Artikel terkait: Mahalnya sebuah kepercayaan, Konsumen adalah Raja  […]

  7. Waduh…..dari saya SMP dan baru belajar nonton berita n pelajaran ekonomi itu2 AJA da Indonesia.
    Kalo cinta Indonesia cintailah Produk dalam negri,tapi produsen juga harus cinta konsumen donk jangan kantongnya aja,,,
    KApan konsumen Indonesia “Kaya” konsumen Jepang???????????

  8. Alangkah indahnya bila situasi seperti itu terjadi di indonesia, sebagai rakyat indonesia saya sangat menginginkan itu menjadi budaya negara kita.
    Karena akan mengangkat bangsa ini ke level budaya yang lebih tinggi.

    Mari kita bangun bangsa ini mulai dari hal-hal yang kecil dulu, klik http://suratpembaca.net

  9. Alangkah indahnya bila situasi seperti itu terjadi di indonesia, sebagai rakyat indonesia saya sangat menginginkan itu menjadi budaya negara kita.
    Karena akan mengangkat bangsa ini ke level budaya yang lebih tinggi.

    Mari kita bangun bangsa ini mulai dari hal-hal yang kecil dulu, klik http://www.suratpembaca.net

  10. seperti Sdr. azkaaufaathifa bilang,
    “biarin…pembeli adalah raja. Si masnya malah nimpalin, ” penjual kan permaisurinya….”

    seperti Sdr. Gede bilang,
    “Kalo cinta Indonesia cintailah Produk dalam negeri, tapi produsen juga harus cinta konsumen donk jangan kantongnya aja,,,”

    kalau kemudian di Indonesia terjadi seperti di Jepang … itu kan kultur luar meruyak kultur lokal..tradisional [khoq jadi asing, di negeri sendiri?!?] ataupun sebaliknya …

    Indonesia sebenarnya lebih hebat dari Jepang lah dalam hal ini … sebab dasar filosofinya begini….
    andai hal itu menimpa diriku bagaimana..?
    tentunya tidak di inginkan toch …!
    kemudian terjadilah …
    saling mengerti – pengertian dan
    saling hormat – menghormati dan
    saling jaga – menjaga
    saling mengukur diri…. gak ada kleim-mengkleim

    yang ada itu kleim …prakno [dibuang] habis perkara…. hehehe….

  11. Nama : Fahmi Dini Hanifa

    Jika konsumen memang raja,,di Jepang. Lalu kenapa di Indonesia masih banyak konsumen yang tak terlindungi haknya padahal telah ada UU perlindungan konsumen.. memang manusia memang masih egois,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: