murniramli

Kokoro no no-to, buku pendidikan moral di Jepang

In Pendidikan Jepang on Januari 15, 2007 at 1:38 pm

Ingat lagu Kokoro no tomo yang dinyanyikan Mayumi Itsuwa yang populer di tahun 80-an ? Tulisan saya kali ini berkaitan dengan kata `kokoro` (心) yang artinya hati. Tapi saya tidak akan mengulas lagunya si Mayumi karena saya tidak hafal lagunya, pun tidak ahli menilainya.

Kokoro no no-to (心のノート)yang artinya `Catatan hati` adalah buku suplemen yang disiapkan oleh Monbukagakusho- Kementrian Pendidikan Jepang sejak April, 2002 dengan tujuan utama sebagai pelengkap pembelajaran moral di sekolah. Pemakaian buku ini tidak bersifat wajib bagi setiap sekolah tetapi dianjurkan secara nasional untuk SD dan SMP. Program yang bertujuan baik ini mendapat protes dari pemerhati pendidikan di Jepang. Mengapa ?

Sebagaimana disebutkan dalam Fundamental Law of Education (kyouiku kihon hou) Jepang, salah satu ciri pendidikan di Jepang adalah pendidikan hati atau kepribadian, yang dalam bahasa Jepangnya disebut yutakana kokoro o ikusei (豊かな心を育成). Barangkali mirip dengan tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Pasal 3 UU Sisdiknas 2003, yaitu

`Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sedangkan tujuan pendidikan Jepang sebagaimana yang diamanatkan dalam Amandemen Fundamental law of Education dikelompokkan menjadi 5 poin, (dikutip dari situs MEXT), yaitu :
1. Cultivate people who are independent-minded and seek personal development, 2. Cultivate people who are warm-hearted and enjoy physical well-being. 3. Cultivate people to become creative leaders of a Century of Knowledge, 4. Cultivate Japanese who are civic-minded and who will actively participate in the formation of a state and society befitting the 21st century, 5. Cultivate Japanese people based on the traditions and culture of Japan to live in a globalized world.

Orang Jepang sangat terkenal dengan kedisiplinannya yang tinggi, sehingga banyak orang yang ingin mengetahui bagaimana sebenarnya pendidikan moral diajarkan di Jepang. Seperi yang saya tulis beberapa bulan yang lalu tentang pendidikan moral di Jepang, buku pembelajaran moral di Jepang yang dulu kebanyakan berisi tentang pengabdian sepenuhnya kepada emperor dan kisah-kisah perang. Kebanyakan orang Jepang tidak mau mengenang masa perang dulu dan tidak ingin menceritakannya kepada anak cucunya, sehingga sebagian isi buku pun diblok dengan tinta hitam.

Salah satu bagian yang paling banyak ditentang oleh generasi muda Jepang saat ini adalah menyanyikan lagu kebangsaan `Kimigayo` dan mengibarkan bendera `Hi no maru` di acara resmi sekolah. Dan memang banyak sekolah yang tidak mengajarkan lagu ini bahkan bendera yang berkibar di halaman sekolah bukanlah bendera nasional tetapi bendera sekolah.

Tentu saja pemerintah berfikiran lain. Bangsa Jepang sebagai nation perlu dipertahankan, dengan membangkitkan kembali jiwa nasioanlisme yang menipis di kalangan generasi muda Jepang. Tetapi bukan karena alasan nasionalisme saja, kasus dekadensi moral yang meningkat, kriminal di kalangan siswa SD, SMP hingga PT membuat pemerintah merasa perlu memperbaiki materi buku pelajaran moral yang ada sekarang. Namun langkah yang ditempuh pemerintah bukan dengan menerbitkan buku pelajaran yang baru, sebab penerbitan buku pelajaran di Jepang adalah hak masing-masing pemerintah daerah. Langkah yang ditempuh oleh Monbukagakusho adalah menerbitkan buku suplemen yang diberi judul `kokoro no no-to`.

Langkah inilah yang mengundang protes karena untuk menerbitkan 4 seri buku ini, yaitu buku untuk kelas 1-2 SD, kelas 3-4 SD, kelas 5-6 SD, dan buku untuk SMP, sebanyak 2.600.000 exemplar untuk masing-masing buku SD dan 4.200.000 exemplar untuk buku SMP,  pemerintah mengeluarkan anggaran sebanyak 729.800.000 yen, yang juga menyebabkan naiknya anggaran pedidikan sebesar 84%.

Selain mengkritik besarnya biaya yang dikeluarkan, sebagian juga memprotes karena buku tersebut bukan buku wajib, tapi dicetak dan disebarkan oleh negara yang mengindikasikan adanya kecenderungan negara untuk mengontrol kembali penyebaran buku pelajaran dan menstandarkan materi ajar yang harus diajarkan di setiap pelajaran, yang mengingatkan pada kebijakan pendidikan di jaman Meiji.

Pendidikan di Jepang saat ini berusaha untuk menerapkan desentralisasi secara optimal dengan mengurangi pengontrolan pemerintah pusat, dan memberikan kesempatan lebih besar kepada pemerintah daerah untuk mengembangkan sistem pendidikan berdasarkan ciri kedaerahannya.

Namun kritik tampaknya hanya bermunculan dari para pemerhati pendidikan, sedangkan berdasarkan pengecekan singkat yang saya  lakukan via internet, tampaknya guru-guru di sekolah merasa terbantu dengan buku ini karena melalui buku ini mereka dapat mengetahui perkembangan psikologis anak, keinginan anak, masalah anak, yang merupakan informasi penting bagi mereka untuk mendidik anak satu per satu.

Saya justru melihat hal sederhana dan nyata yang diajarkan kepada ana-anak di Jepang dalam buku ini.  Misalnya saja cuplikan isi buku kokoro no no-to kelas 1-2 SD mengenai pokok materi yang harus diajarkan kepada anak kelas 1 (anak kelas 1 SD belum bisa baca kanji, sehingga penjelasan dalam buku ditulis dalam hiragana atau katakana).

ゆうぐをつかうときのきまり :あんぜんだいいち、じゅんばんをまもる、ゆずりあって

(Peraturan ketika memakai playground : keselematan adalah nomor satu, secara bergilir, saling berbagi (give and take))

こうえんのきまり :きちんとあとしまつ、よごさないように、みんなでなかよく

(Peraturan di kelas/taman : harus merapikan kembali, tidak membuat kotor, harus baik kepada sesama teman)

トイレのきまり :じゅんばんをまもる、きちんとあとしまつ、よごさないように

(Peraturan menggunakan toilet : harus bergilir, harus rapih dan bersih kembali, tidak mengotori)

Selama 1 tahun belajar, kesemua materi itu diajarkan tidak hanya dalam mata pelajaran moral tetapi diajarkan dalam mata pelajaran yang lain, juga dalam aktifitas sehari-hari di sekolah.

Adapun materi belajar untuk SMP berisi ajakan untuk mengenali diri sendiri, memikirkan orang lain, masyarakat di sekitarnya, anak-anak tak mampu di negara lain, dan ajakan untuk berfikir apa yang mereka bisa kerjakan untuk membantu orang lain.

Isi buku menurut saya sangat menekankan kepada anak untuk berekspresi lebih, tidak dituntun terus oleh gurunya.  Penampilan buku yang full color dan berwarna pastel menyejukkan, dan membuat yang membacanya pun senang.

Anyway, sepertinya saya perlu memesan buku ini via Amazon.co.jp, sekalian sebagai bahan bacaan untuk mengupdate kosa kata bahasa Jepang saya yang rasanya makin amburadul belakangan ini.

  1. Salam jumpa….
    Saya berfikir bahwa buku seperti ini ada baiknya diterapkan juga di Indonesia. Tinggal dicocokkan dengan karakter budaya dan bahasa di tiap daerah. Misal : Mengenal lingkungannya….1 bahasa Indonesia, tetapi penjabarannya dengan bahasa berbeda tiap daerah.
    Saya boleh usul, pelajarannya sbb :
    1. Mengenal dirinya dan Penciptanya
    2. Mengenal lingkungannya
    3. Beriteraksi
    4. Berbuat dan melakukan
    5. Menjadi bagian dari

    Bagus mbak…topiknya. Mungkin bisa dijelaskan nantinya tentang perkembangan statistik dengan kemunculan buku ini 🙂

    salam hormat
    ooyi

  2. Dulu Di Indonesia pernah Ada PMP masih ingatkah…? Pendidikan Moral Pancasila, lama dipakai di sekolah-sekolah sampai di perguruan tinggi ada penataran segala macam hasilnya… banyak pejabat yang korupsi…..
    Pendidikan Moral Macam Apa yang cocok untuk Indonesia ya ?

    murni : ya…pendidikan moral yg dipakai oleh orang Indonesia sehari-hari, Pak (^_^)

  3. jyaa sumimasen deskedo buku ga kono buroku nihonggo de kaitte imasu,,,yappari saisyoo mitsuketta toki boku ga bikkuri sotta dayyo
    mosi indonesia de nihon no bunka syokai sittara
    donna naru iii to imoi,,ano saaa nande nihon
    no kuni kona naru tabun indonesia mo dandan
    yoku naru demo tabun sonna murri to omoi
    indonesia jin wa syukyoo dake kanggaettru
    demo ware ware yoku mamoranai sikasi nihon
    ga bunka ga kodomo toki kara oshiette kureta
    deskedo dakara konna kuni naru,,,,indonesia no
    education warukatta mo syukyo bakarri
    koko de chigau dayo sukyo kankenai dakedo
    minna minna yoku mamoru nandemo
    sigoto mo yoku gannbatteru
    sukebe suki na hito iru kedo
    sigoto ga isyoo dayo
    nande indonesia sukebe ikang no?????

  4. dani matsunaga :
    インドネシアの教育は悪くないよ(^0~)
    日本の教育は日本人のためにつつくる。インドネシアの教育はインドネシア人のためにつくる。
    日本は国として長い歴史をもっているから、今、発展国になっているが、インドネシアではまだまだだよ。
    宗教は生活の中に一番大事なこと。宗教はいいことだよ!しかし、人間がルールを守るのはなかなか難しい。でも、それは宗教のせいではない。
    日本でも、生活ルールは仏教や神道からつくったものだと思う。
    ルールを守っていない日本人はいっぱいいる。
    仕事を頑張っていない日本人もいっぱい!!
    ルールをよく守っているインドネシア人もいっぱい、
    仕事や勉強をよく頑張っているインドネシア人もいっぱい!!!

  5. beneeer tuh kata murniramli san,murniramli san e yoroshiku nee
    kita sebagai bangsa indonesia harusnya bangga pada bangsa sendiri bukan menjadikan nama baik indonesia menjadi lebih tercemar di mata dunia.
    ayolah……..saudaraku bagaimanapun juga indonesia adalah tanah air kita yang seharusnya kita banggakan apapun keadaanya.
    saya juga pernah hidup di jepang dan sedikit tahu persamaan dan perbedaan kebudayaan dan kebiasaan nihon jin.
    Banyak orang indonesia yang mempunyai semangat kerja sama dengan orang jepang bahkan menurut saya lebih.
    sebagai generasi bangsa yang baik sudah seharusnya sadar akan tugas kita,marilah saudaraku kita bangun bangsa kita yang belum terlalu baik di mata internasonal.jangan memperburuk nama baik bangsa kita di mata dunia,mari kita buktikan bahwa kita pun bisa seperti negara2 lain.
    MERDEKAAAAAAAA

  6. salam kenal 🙂

    buku tersebut berapa ya harganya?

    o ya, senang sekali bisa nemu blog anda, banyak memberi saya referensi tentang jepang, yang mana merupakan hal2 yang saya sukai 🙂

    terima kasih

    murni : salam kenal juga,
    tidk tahu berapa harganya. Bisa beli yg second di book off

  7. pak,yang mendorong di keluarkannya buku ini apa atau yang melatar belakanginya?apa permasalahannya,dan bagaimana dengan masyarakatnya,apakah mereka merespon?kalau bisa lebih dari 5 alasan,biar saya bisa mengambil bahan ini buat skripsi,atau bapak mengetahui permasalahan di jepang yang menyangkut sosial n budaya yang lagi tren??doumu arigatou gozaimasu

  8. sepaham sama nada nesu, biar bagaimanapun indonesia tanah=ranah airku.

    68 Kepribadian dalam budaya

    Sejak kemerdekaan, kita banyak mengundang ahli ilmu pengetahuan asing untuk mengajar di perguruan tinggi kita. Banyak profesor asing mengajar mahasiswa kita. Juga, kita banyak mengirim mahasiswa kita ke luar negeri (Eropa dan Amerika) untuk belajar, terutama dalam bidang ilmu dan teknologi. Tetapi, banyak juga profesor asing yang datang ke Indonesia untuk belajar dari kita. Mereka ini kebanyakan belajar kesenian Indonesia. Mereka belajar musik, tari, teater, dan sastra Indonesia. Dalam bidang seni ternyata Indonesia merupakan salah satu ’guru dunia’. Akan tetapi, dalam ilmu dan teknologi, kita adalah ’murid dunia’.

    Kebanggaan Indonesia terutama terletak pada bidang keseniannya. Sementara itu, orang Indonesia sendiri sudah tidak peduli lagi pada keseniannya. Berapa banyak remaja kita yang mempelajari musik, tari, teater, dan sastra yang diwariskan oleh nenek moyang kita? Bukan hanya tak mempelajari, tetapi peduli saja sudah tak mau. Siaran televisi yang menayangkan ’musik tradisi’ selalu dimatikan oleh anak-anak kita. Sebaliknya, mereka amat tertarik apabila ada siaran musik rock.

    Tentu saja kita tak dapat menyalahkan sikap para remaja itu. Mereka senang musik keras karena memang lingkungan budayanya mendidik demikian.
    Suasana kota yang keras, sesuai dengan ekspresi musik keras. Hal ini wajar-wajar saja. Namun, kesadaran bahwa para remaja
    kita jangan hanya mengenal dan menggemari musik rock, tetapi
    juga seni musik tradisi kita, kiranya belum terpikirkan pula
    oleh para orang tua. Anak-anak kita sudah tidak lagi menyaksikan pertunjukan wayang, pembacaan macapat, mendengarkan pantun, menyaksikan sinrilli, aau mendengarkan gamelan. Orang-orang tua dahulu masih sempat mengalami zaman itu.
    Remaja kita sejak lahir berhadapan dengan radio dan televisi serta film. Itulah pendidikan budaya mereka. Tak salah apabila mereka menggemari budaya yang demikian itu.

    Karena di masyarakat kota sudah tak ada lagi wayang, pantun, bakaba, atau musik tradisi, seni semacam itu harus dihadirkan secara rekayasa. Caranya tak lain hanya melalui pendidikan formal. Di sekolah, seni semacam itu dapat diselenggarakan.
    Anak didik tidak perlu belajar menabuh musik tradisi,
    cukup diajak belajar menikmati musik tradisi itu. Orang-orang bule itu jatuh cinta pada musik kita karena pernah mendengarkan. Bagaimana anak-anak kita dapat mewarisi seni tradisi kita apabila mereka tak pernah menyaksikan, dan menghayatinya sendiri?
    Syukur kalau sekolah dapat membentuk grup seni tradisi.
    Itu lebih positif lagi.

    Penguasaan terhadap seni tradisi ini dapat menanamkan rasa cinta pada nenek moyang, pada tanah air, dan pada sejarah bangsa sendiri. Menghormati orang tua dan nenek moyang sendiri ini dapat dilakukan lewat pengenalan dengan kebudayaan sendiri.
    Bagaimana mereka bisa mencintai bangsa ini kalau mengenalnya saja tidak? Mereka hanya tahu sejarah korupsi nenek moyang, tetapi tak mengenal prestasi mereka yang dikagumi oleh bangsa-bangsa maju di dunia.

    Tiap universitas penting yang ada studi mengenai Indonesianya di Amerika dan Eropa memiliki seperangkat gamelan musik Indonesia. Akan tetapi, universitas mana di Indonesia yang memiliki hal serupa? Banyak penelitian mengenai seni kuno Indonesia di luar negeri, tetapi di perguruan tinggi kita amat jarang.
    Akankah kita pada suatu kali terpaksa mengirimkan anak cucu kita untuk belajar gamelan di Amerika dan Eropa?
    Lantas bangsa apakah kita ini?

    Masih belum terlambat untukmendidik generasi muda mencintai dan menghargai seni budaya sendiri. Jumlah suku di Indonesia ini begitu banyak, dan setiap suku memiliki keseniannya sendiri. Kalau tak ada lagi generasi muda yang tertarik untuk meneruskannya, apa jadinya warisan nenek moyang ini?
    Lenyap begitu saja bersama lenyapnya generasi tua?

    Inila persoalan besar kebudayaan kita. Suatu bangsa dihargai oleh bangsa lain karena memiliki ciri kepribadian tersendiri yang tak dimiliki oleh bangsa lain. Betapapun kita dapat melahirkan rombongan musik setenar The Beatles dan London Orchestra, tetap saja hal itu tak akan dihormati sebagai ciri budaya sendiri. Sebaliknya, musik tradisi dari pedalaman Irian mendapat sambutan luar biasa di luar negeri.
    Ini tidak berarti kita harus berhenti dengan tradisi. Kita baru bisa melanjutkan ciri-ciri tradsi kala kita telah mengenal apa yang kita miliki.

    Dikutip dari :
    Jakob Sumardjo, ’Orang baik sulit dicari’, terdapat pada halaman 209-210, di mbandung : oleh penerbit itb, terbit pada taon 1997.
    Oleh ardijono, buat … menjawab… FB menggali & mengganti pondasi sendiri .. [huda]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: