murniramli

Menjadi nomor satu atau rata-rata ?

In Belajar Kepada Alam on Januari 21, 2007 at 9:34 am

p1140370.JPG

Saya paling suka tanaman : bunga, pohon, rumput, semak, sayur….apa saja. Saya tidak tahu apa alasannya saya menggemari tanaman dan bukannya mobil (ga nyambung !). Barangkali karena keluarga besar saya pada dasarnya petani.

Barangkali juga karena tanaman adalah makhluk seperti halnya manusia yang kita bisa belajar banyak darinya.

Setiap berangkat ke kampus atau pergi ke mana saja, mata saya selalu jelalatan memperhatikan tanaman di sepanjang jalan. Kadang bahkan saya perlu jongkok, menunduk sampai bersimpuh di depan rumput berbunga kecil untuk mengamati kenapa dia begitu cantik. HP saya penuh dengan photo bunga. Setiap saya bepergian, kamera saya pasti full dengan photo bunga. Saya bahkan ingat satu per satu dari ribuan photo bunga yang saya miliki, di mana saya memotret bunga tersebut.

Dari dormitori saya menuju ke stasiun bawah tanah terdekat, saya pasti melewati jalan yang dipenuhi perdu berbunga seperti photo di atas. Baunya harum. Kalau saya jalan, saya pasti suka menempel ke batangnya dan hidung saya mengendus-endus membauinya. Setiap musim semi, perdu ini beebunga, dan sebelumnya biasanya batang-batangnya berlomba-lomba tumbuh, saya suka sekali melihat ini. Pada saat batangnya tumbuh tidak beraturan seperti itu, pihak taman kota pasti akan datang dan memangkas habis batang-batang yang tumbuh lebih unggul dari teman-temannya. Lalu tampaklah perdu yang tertata rapih, berbentuk topiari, dengan bunga-bunganya yang kecil-kecil, putih lagi harum.

Saat batang-batang itu tumbuh berlomba-lomba, saya suka iseng bicara kepadanya (saya bukan orang gila lo,tp kebiasaan memberi salam kepada tanaman atau hewan sudah saya lakukan sejak dulu) : `jangan tinggi-tinggi tumbuhnya, nanti dipangkas lo !` Benar juga, batang-batang itu akhirnya digunduli.

Darinya saya merenung : saya sebenarnya sama dengan batang-batang itu, sewaktu saya masih di bangku sekolah dulu. Selalu ingin unggul, selalu jadi nomor satu. Kalau ikut lomba selalu harus menang. Saya sampai tidak bisa tidur kalau kalah (Uuuh, jelek buanget !!). Saya ingat-ingat saya baru bisa memahami arti nomor dua atau kalah ketika duduk di bangku SMA. Waktu itu saya mulai menyadari bahwa saya bukan manusia super yang mesti the best di semua bidang.

Sekarang saya benar-benar menikmati hidup menjadi orang rata-rata, atau malah di bawah standar (glekk!!).

Beberapa waktu yang lalu kami membahas di kelas school management tentang piramida talenta anak didik. Di pucuk piramida sekitar 3-5% adalah anak-anak berprestasi wah, otak brilian. Selanjutnya sekitar 10-20% anak-anak dengan prestasi baik, lalu di bawahnya anak-anak dengan prestasi agak baik, dan bagian dasar dari piramida adalah anak-anak dengan prestasi rata-rata.

Saya termenung, ke kelompok mana saya harus mendidik siswa2 saya ? Atau ke arah mana sebenarnya pendidikan itu harus diarahkan, apakah mendidik untuk mencetak manusia brilian atau mendidiknya menjadi manusia rata-rata ?

Beberapa negara yang masih menomorsatukan kompetisi antar siswa, tentunya membidik pucuk piramida. Tetapi negara yang mengalami banyak kesulitan dengan sistem kompetisi, mungkin akan memilih level rata-rata. Yang saya amati di Jepang adalah para siswa yang sudah ogah berkompetisi, terutama di bidang mata pelajaran. Kompetisi yang banyak saya lihat di sekolah ataupun di TV adalah kompetisi yang berkaitan dengan keahlian olah raga, seni, keterampilan. Sebagian besar anak bahkan sangat menikmatinya, bahkan rela terkantuk-kantuk di kelas demi menjalani latihan yang sangat berat.

Well, saya pun sebenarnya sudah malas berkompetisi. Tetapi mau tidak mau saya harus menjalaninya. Untuk memperebutkan beasiswa saat ini, saya harus berkompetisi dengan 500-an pelamar, untuk mendapatkan dormitori yang murah, saya harus berkompetisi dengan ratusan mahasiswa dari Asia, untuk tidak terlambat ke tempat bekerja, saya harus mendorong seorang gadis yang berdandan rapih di kereta.

Hidup memang harus berkompetisi, sebagaimana perdu tadi. Dia perlu berlomba tumbuh untuk mendapatkan sinar matahari secara penuh atau untuk mendapatkan air hujan lebih banyak.

Anak pun hendaknya dididik untuk mengenal dunia manusia yang sebenarnya, dunia yang penuh kompetisi. Jangan dididik dia dalam lingkungan yang tanpa kejutan, semua serba ada, semua serba nyaman, semua tinggal minta ayah dan ibu. Tapi jangan pula deritakan dia dengan kehidupan yang tidak nyaman.

Memang susah mendidik anak, apalagi ……menjadi anak (^_^)

Iklan
  1. Kalau melihat karakter (kedalaman) materi pelajaran di Indonesia mungkin menganut yang rata-rata itu.

  2. bu emang bener, jaman sekarang mendidik anak susah susah gampang
    apalagi waktu saya nyari sekolahan yang menurut saya pas buat anak saya. tapi di semarang (indonesia) susah nyari sekolah yang lebih mengedepankan keinginan dan keahlian anak. FYI, anak saya masih di play group tapi udah di ajari menulis sampai ke angka 7
    kadang saya geleng2 juga, keinginan saya sebenarnya sih cari sekolah di mana anak saya bebas untuk berkreasi tanpa di batasi, tapi ya itu tadi, gak ada sekolah yang kayak gitu
    semua sekolah di sini mengajari anak untuk tidak kreatif dan jadi penurut. makanya, rata2 orang indonesia jadi karyawan semua, he…. he….
    boleh nggak japri?

  3. salam kenal bu Indri

    Ya, silahkan jika mau japri (^_^)

  4. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Saya sampai tidak bisa tidur kalau kalah (Uuuh, jelek buanget !!). Saya ingat-ingat saya baru bisa memahami arti nomor dua atau kalah ketika duduk di bangku SMA
    .
    Hehe, sama! Seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan, plus semakin plural komunitas, pandangan “wah, kok di sini aku jadi pecundang?” sepertinya akan dialami semua orang, termasuk saya kok, 🙂
    .
    Soal ga bisa tidur kalau kalah: dulu waktu kelas saya tidak bisa ke final pertandinga sepak bola antar kelas karena kalah “hanya” 1-0, orang yang paling merasa bersalah adalah saya, karena ga produktif sewaktu menjadi penyerang. Lebih lagi karena kesalahan saya:malam sebelum pertandingan, maen game sampe larut malam, akibatnya stamina cepat terkuras di terik panas matahari, ditambah area lapangan yang jauh dari ciri-ciri lapangan sepakbola internasional membuat lari tidak secepat di atas trek senayan.
    .
    Wah, malamnya, perasaan marah, kecewa, jengkel, kesal, capek dan pegal, campur aduk jadi satu, ditambah mata yang tidak bisa nutup dan cepat tidur, bermimpi, dan melupakan kekalahan saya. Ternyata, jadi pecundang itu ga enak! Hehehe…
    .
    Terima kasih karena telah mengingatkan masa kecil saya yang penuh kenangan :-).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: