murniramli

Ikhlas itu seperti…..

In Islamologi on Januari 23, 2007 at 5:43 am

Membaca tulisan yang dikutip Pak Urip di blognya tentang Teori Berak dalam Menulis, membuat saya tersenyum2 membenarkan si penulis.

Ya, saya pun menggunakan teori yang sama untuk mendefinisikan apa itu ikhlas.  Dulu, setiap ditanya oleh murid saya apa sih makna ikhlas ?Ssaya selalu menjawab bahwa ikhlas itu seperti orang yang buang hajat.

Apa yang kita buang tidak pernah kita ungkit-ungkit lagi, bahkan mengeceknya pun ogah ! Apakah warnanya kuning, baunya menyengat, encer, kental (maaf, seribu maaf bagi yang baca tulisan ini sambil makan (^_~)).  Semuanya hilang dan tak terpikirkan lagi saat air kita alirkan/siramkan. flusshhh….!!

Begitulah ikhlas….

Suatu amalan yang gampang didefinisikan tetapi demikian susah diwujudkan.  Apalagi jika menyangkut uang.  Seorang teman berkeluh, ada temannya yang meminjam darinya sejumlah uang tapi belum juga melunasinya hingga sekarang.  Well, saya cuma bisa mengatakan : `diikhlaskan saja !`.  Dia malah marah : `Bagaimana bisa diikhlaskan ? La wong saya juga perlu jee!!` Saya bukan orang kaya dan uang itu hasil kerja keras saya selama bertahun-tahun!!`

Saya memahami utang piutang itu sebagai ladang beramal.  Memang pendapat ini terkesan munafik di mata sebagian orang, tetapi begitulah saya memasukkannya dalam otak dan hati saya. Orang meminjam adalah orang yang mengalami kesulitan, dan bukankah orang yang dikayakan Allah, diwajibkan untuk mempermudah jalan yang sulit bagi saudaranya ?   Perkaranya cuma `ikhlas atau tidak ?`

Beramal itu gampang, kata seorang teman.  Menurut saya beramal itu sulit ! Berdasarkan wasiat Rasulullah SAW yang saya pernah dengar melalui lisan ustadz di pesantren, beramal itu harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu niatnya benar dengan ucapan bismillaahirrahmaanirraahiim, pelaksanaanya tepat sesuai dengan ajaran Allah dan RasulNya, tujuannya bukan untuk kemaksiatan tetapi semata mencari ridha Allah.  Bukankah ini berat ??  Kalau saya tambahkan lagi definisi di atas, beramal itu juga memerlukan kehadiran orang lain untuk dijadikan objek amalan kita, atau terpaksa berkorban supaya kita bisa beramal.  Memang kita saling bersimbiosis !

Supaya amal mudah dikerjakan, jangan terlalu banyak mikir !

Ketika hendak beramal, kadang-kadang kita terlalu banyak berfikir untung ruginya, hingga akhirnya pupuslah niatan itu tanpa sempat dilihat bagaimana hasilnya.  Bukankah ketika kita kebelet`ke belakang`, kita juga tidak mikir2 efeknya jika kita `buang` sekarang  atau nanti ?

Tapi pertimbangan sebelum melakukan sesuatu itu sangat dianjurkan, misalnya `tidak dibuang` di sembarang tempat.  Saya suka membaca pengumuman yang ditulis seadanya di dinding-2 bangunan di Indonesia : `YANG KENCING DI SINI ADALAH ANJING`

Sayang anjing2 (beneran) tidak bisa baca, seandainya mereka tidak buta huruf tentulah mereka lebih tertib daripada manusia (^_~)

Saya sangat salut dengan keikhlasan para ustadz/guru yang walaupun bergaji kecil, masih bersemangat mengayuh sepeda berkilo-kilo untuk mendatangi murid-murid yang haus ilmu.  Itulah barangkali bentuk keikhlasan dalam bekerja.  Lebih salut lagi saya kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang tak terdefinisikan lagi bentuk kekaguman kepada mereka.

Ya Allah jadikanlah setiap amalanku adalah amalan yang penuh keikhlasan….!

Iklan
  1. Itulah analogi ikhlas yang sesungguhnya yang paling tepat tiada banding, buang air besar dan buang air kecil. Kita lakukan secara ikhlas 100%. Hehehe saya baru inget tentang ikhlas lagi.

  2. Pak Urip… Pak Urip… Analogi Bapak tertangkap dengan baik oleh Bu Murni, dan Bu Murni Menguraikannya Thank Bu semoga yang membaca dapat menangkapnya dengan benar

  3. lucu…lucu…
    tapi bener banget tuh, kalau kita buang hajat, rasanya begitu ikhlas, dan dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita memang harus banyak berbuat seperti layaknya ‘buang hajat’….:D

    Abdul Malik Ikhsan.
    samsonasik.wordpress.com

  4. Sy ikhlas berkomentar di sini … ha ha …

  5. Saya juga ikhlas membaca komentar Pak Dedi hehehe….

  6. Wah saya juga punya postingan yang sebau nih, cuma saja tulisan saya rada-rada terlalu islamizz en bisa bikin najizz bagi yang kurang suka ama hal yang berbau dakwah. Mari ikut saya melayang diangkasa idea, yaaa, dengan pena tuts keyboard anda. sadaaapp, pamit dulu yak..*ngacir… Wassalamu’alaikum

  7. bahasa jepangnya ikhlas apa ya ?
    onegaishimasu Ibu Guru ….

  8. numpang pipis alias komen .. ikhlas kan?

  9. Kalau, ikhlas dipahami seperti itu tuh…, maka kalau tidak ikhlas tidak dikeluarkan, piye toh?. Yang dikeluarkan kan tidak diperlukan, tapi merupakan keharusan fisis untuk dikeluarkan. Kalau yang dikeluarkan tidak dibutuhkan, masukkah pada kriteria ikhlas?

  10. Mba Nur :
    Saya tdk tahu apa bhs Jepangnya ikhlas, sebagaimana bhs Indonesia kita pun tdk punya terjemahan langsung kata ikhlas selain menyadurnya dari bhs Arab langsung : `akhlaso, yukhlisu, ikhlaasan.
    Sy coba cari melalui kamus bhs Inggris, dg kata sincere, kira2 bhs Jepangnya : 誠実(seijitsu).
    Semoga membantu.

    Grandiosa21 :
    ikhlas dunk !!

    agorsiloku :
    iklas tdk sama dg dikeluarkan atau tidk dikeluarkan. Yg benar : ikhlas mengeluarkan atau ikhlas tdk mengeluarkan.
    Ikhlas itu termasuk Adverb, jadi menjelaskan kata kerja, hehehhe….
    Jadi, mengeluarkan yg tdk ikhlas itu = sdh mengeluarkan tp sambil mikir n ngecek lagi warnanya, baunya (maaf, jorok !),

    Definisi anda ttg mengeluarkan sesuatu yg tdk diperlukan, tp merupakan kebutuhan fisis itu bukan definisi ikhlas, tp definisi `wajib`. Dan saya menganalogkan ini dg zakat/sedekah. Sesuatu yg harus dikeluarkan krn kita tdk membutuhkannya lagi, sebab Allah telah mencukupkan bagian kita.
    Maaf, jika ga nyambung….(^_^)

Tinggalkan Balasan ke Ersis Warmansyah Abbas Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: