murniramli

Saya tak akan lupa : dibonceng Bapak

In Pendidikan Indonesia, Serba-serbi Indonesia on Januari 30, 2007 at 2:40 am

Orang sering mengatakan bahwa kenangan di masa kecil sangat membekas hingga kita berumur lanjut.  Saya pun mengamini ini, karena banyak sekali kenangan yang kadang-kadang terlintas bak putaran slide film di benak saya.

Pagi ini sepulang bekerja, saya melihat seorang ibu dengan susah payah membonceng anaknya.  Udara musim dingin menggigit di Nagoya pagi ini.  Saya tidak bisa melihat wajah si anak yang terbungkus rapat di punggung sang ibu.  Tertutup jaket hangat si ibu.  Si ibu berhenti sejenak di depan saya memperbaiki letak si anak, lalu setelah beres dengan semangat sambil bersenandung beliau mengayuh sepedanya.

Saya langsung teringat kenangan dibonceng bapak.

Ketika bapak bekerja di Pabrik Gula Bone, di Sulawesi Selatan, setiap libur sekolah bapak selalu mengajak kami berkunjung ke rumah nenek di Kampung Taddagae.  Tempat yang sangat saya sukai karena banyak sanak famili, banyak makanan, banyak buah, bisa main sepuasnya.  Bapak punya sepeda motor Honda yang agak butut, yang dengannya kami sudah pergi bertamasya ke tempat-tempat indah di sekitar pabrik gula.  Perjalanan dari pabrik gula yang terletak di Desa Arasoe ke Kampung Taddagae kira-kira memakan waktu 3 jam-an, saya tidak ingat tepatnya, yang pasti saya bisa tidur agak pulas selama di perjalanan. Biasanya bapak meletakkan adik di depan dan saya di belakang, lalu bapak selalu berpesan `pegangan kuat-kuat!`, `jangan tidur !`.  Tapi, hembusan angin dan suara gesekan daun tebu yang merdu tidak bisa membuat saya melek sepanjang jalan, kepala saya menjadi berat, dan zzzzz…..Bapak pasti merasakan tubuh saya yang mulai berat dan melunglai, dan beliau pasti mencubit lengan saya : `Bangun !`

Suatu kali kami bepergian sehabis hujan, jalanan tanah yang tak beraspal menjadi licin dan bapak yang bukan pembalap tak mampu menguasai motornya, ban slip, dan saya pun terlempar…bukk! Saya yang dalam keadaan mengantuk berat tidak merasakan sakit yang teramat sangat, hanya bapak yang kelihatan pucat.  Bapak, masih ingatkah kau kenangan ini ? Bapak mungkin tidak ingat lagi, tapi saya tetap mengingatnya hingga detik ini.

Demikian pula anak yang dibonceng ibunya tadi.

Dia akan selalu mengenang kehangatan punggung ibunya, dia akan selalu teringat senandung merdu ibunya.

Seorang teman saya menulis tentang kebiasaan dia dan suaminya melambaikan tangan kepada kedua anak kembarnya ketika mereka berangkat sekolah.  Kebiasaan itu lama-lama hilang, karena dia sibuk dan bosan melakukannya.  Tapi belakangan si anak memintanya melambai kembali dari jendela atas rumahnya.  Ya, si anak rindu pada lambaian ibunya. Dan saya yakin selanjutnya teman saya akan terus melambai kepada anaknya tersayang.

Banyak ibu yang bekerja pagi-pagi, sehingga tak sempat lagi melambaikan tangan kepada anak berangkat sekolah.  Sungguh kasihan si anak karena hanya diantar kepergiannya oleh si Mbok atau oleh Mang Supir.

Sampai sekarang saya masih suka menyenandungkan lagu ini :

`Oh ibu dan ayah, selamat pagi

 Kupergi sekolah sampaikan nanti

Selamat belajar nak, penuh semangat

Rajinlah selalu sampai kau pintar

Hormati gurumu, sayangi teman

Itulah tandanya kau murid budiman

Barangkali ada yang punya download musik lagu anak ini.  Kalau tidak salah karangan Bu Sud.  Ya, saya masih ingat saya selalu senang ke sekolah.  Sekolah adalah tempat belajar dan bermain yang terbaik di benak saya.  Sekalipun PR-nya banyak, ibu guru ada yang galak, tapi lebih banyak guru yang baik, lebih banyak teman yang baik daripada yang nakal.  Jadi saya selalu berangkat sekolah dengan semangat 45.

Mamak juga selalu bersemangat mengantar kepergian kami dengan kerepotan ini itu, kaos kaki yang terbalik, seragam yang tertukar (kami 4 bersauara ketika itu), bubur yang belum dimakan, madu yang belum dijilat (hehehe…dikit soalnya), atau susu yang belum diteguk. Lalu buru-buru kami berlari sambil tak lupa mencium tangannya dan wusss….`berangkat mak ! ` Ya, hati-hati ! Seingat saya mamak tidak pernah bilang `belajar yang rajin !`, mungkin karena kami memang anak yang rajin (^_~)

Semuanya selalu saya ingat.

Dan teringat lagi tatkala pemandangan yang sama melintas nyata di depan saya seperti pagi ini.

Seandainya semua mamak bapak di dunia menyempatkan diri mengantar kepergian anaknya ke sekolah dengan lambaian tangan, atau dengan senyuman saja, alangkah bahagianya anak2 di dunia.

Seandainya semua mamak bapak di dunia tahu betapa berkesannya masa kecil di benak anak-anaknya lalu berusaha menciptakan sehari-hari anak menjadi indah, tak peduli dia kaya atau miskin, tak peduli hari ini bisa makan atau tidak, yang penting anak bisa tersenyum dan tertawa bahagia, alangkah bahagianya menjadi anak.

Saya ingin mengulang masa kanak saya yang indah …..

*Terima kasih tak berbatas kepada mamak dan bapak yang sudah berpayah-payah mendidik kami yang nakal-nakal (^_^)

Semoga menjadi haji yang mabrur…..

  1. Wah kalau saya nostalgianya masa kecil tidak dengan ibu bapak, tapi dengan mbah kung dan mbah putri. Enaknya yah bisa diantar orang tua sendiri.

  2. Pak Urip, dengan mbah kung atau mbah putri ga ada masalah, mereka berdua juga orang tua kita. Yg pasti Pak Urip pasti punya kenangan tak terlupakan dg mereka berdua kan ya ? (^_^)

  3. hikss….jadi sedih geneee….😦

  4. Wah…Pengalaman yang indah untuk dikenang dan diceritakan…semoga Bu Murni dapat melakukannya dalam bentuk yang lain kepada Anak-anak Ibu sendiri kelak…

  5. Baca tulisan ini, mengingatkan masa kecil saya…
    Duh… rasanya ingiiiin ketemu kedua ortu-ku…
    Rasanya ingin kembali jadi anak-anak lagi. Bisa bermanja-manja, bisa merengek, bisa apa aja deh, semau saya…(maaf kebetulan saya dulu anak manja…he2)

  6. halo mbak murni,
    evi bukan seorang guru, kebetulan baru lulus sekolah, sekarang sedang bekerja di sebuh perusahaan tambang.
    Pengalaman masa kecil ya??emmmm banyak juga sih,cuman keseringan masa kecil evi kecebur ntah disungai,got,empang tetangga,di tanah gambut(lumpur yang tebal) dengan bagian kepala duluan, pokoknya yang paling diingat ya itu,pengalaman keceburnya🙂
    Tapi evi juga punya kebiasaan sampe sekarang klo mo pergi kemana aja walopun dekat pasti cium tangan ibu bapak trus kami kompak (telapak tangan bertemu telapak tangan, biasanya org melakukan dengan teman), itu sampe gede gini kebiasaannya🙂

  7. Emang bener m’Murni..,saya aja sampai skr msh ingat kenangan indah waktu kecil.Diajak papa kelapangan liat pesawat terbang,sambil da..da…melambaikan tangan.Setiap jam pulang sekolah almarhumah mama sdh nunggu saya di teras rmh,dibuatkan macam2 kue kesenangan kami anak2nya….,iihiik jd sedih tringat masa kecil.
    Seandainya waktu bisa di putar ulang,saya mau jadi anak2 lg.I miss u mom…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: