murniramli

Kojin Jouhou- Sistem Pengamanan Informasi Pribadi

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Februari 2, 2007 at 10:16 am

Gambar tampilan blog saya beberapa menit yang lalu adalah foto anak-anak sebuah SD Jepang yang tengah menyimak penjelasan saya tentang Indonesia. Mereka duduk rapih dengan mengenakan name tag di baju.  Saya mengambil foto tersebut pada sebuah kunjungan sekolah di daerah Gifu. Karena blog saya berjudul `Berguru`, maka saya berusaha mencari foto yang mewakili judul tersebut, dan terpilihlah gambar anak-anak yang sedang belajar dengan wajah beragam, ada yang tegak serius, ceriah dan wajah penuh ingin tahu. Saya sangat suka foto ini.Tapi saya harus menggantinya. Ini terkait dengan peraturan yang berlaku di Jepang saat ini, yaitu keharusan untuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi seseorang. Sekalipun belum ada yang mengkomplain foto yang saya pajang, tapi seorang rekan, Pak Gunawan mengingatkan saya tentang hal ini, dan saya kemudian mengecek ulang peraturan yang berlaku lalu saya putuskan untuk menggantinya.

Beberapa bulan yang lalu kami pernah membahas tentang `kojin jouhou` di kelas Qualitative Research yang diasuh oleh Prof Otani. Kojin (個人)berarti personal, pribadi, individu, sedangkan kata jouhou (情報)berarti informasi/data. Masalah kojin jouhou menghangat belakangan ini karena adanya berbagai kasus pemanfaatan data pribadi seseorang untuk melakukan kegiatan kriminal. Di antaranya, kasus penculikan anak, pembunuhan, dll.

Oleh karenanya sekolah-sekolah di Jepang membuat regulasi baru tentang perlunya menjaga kerahasiaan informasi pribadi seseorang. Aichi prefecture, terutama kota Nagoya, tempat saya sekarang belajar terkenal dengan peraturannya yang sangat ketat. Ini dapat dimaklumi karena Nagoya termasuk kota teramai dan terpadat di Jepang selain Tokyo dan Osaka, termasuk pula sebagai kota yang paling diminati oleh orang asing.

Ada beberapa peraturan terkait dengan kojin jouhou, di antaranya :

1. Memotret/merekam wajah anak/siswa di sekolah hanya boleh dilakukan jika ada ijin.

2. Tidak boleh memotret anak/siswa yang menampilkan langsung wajah anak.

3. Pengambilan gambar dapat dilakukan dari arah belakang (punggung) atau samping

4. Nama anak tidak boleh ditampilkan. Ketika saya mengambil photo di sebuah sekolah di Gifu yang saya pakai sebagai tampilan blog saya sebelumnya, peraturan ini belum ada. Name tag adalah hal yang biasa di sekolah-sekolah Jepang dulu, tetapi sekarang banyak sekolah yang tidak menerapkan peraturan ini lagi.
5. Penelitian yang dilakukan di sekolah dan melibatkan siswa/guru, harus merahasiakan nama objek yang diinterview atau disurvey, kecuali dengan ijin bersangkutan.

Aturan-aturan ini berlaku baik di lembaga pendidikan negeri maupun swsta, bahkan aturan yang diterapkan oleh Perguruan Tinggi Swasta lebih longgar dibandingkan Perguruan Tinggi Negeri.

Karena adanya peraturan seperti ini, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa atau peneliti dari perguruan tinggi menjadi semakin berat, dan tidak ada kebebasan seperti sebelumnya. Saat ini sebelum memulai penelitian di sekolah-sekolah, ijin harus didapatkan. Misalnya kegiatan `lesson study`, yaitu mengamati proses belajar mengajar di kelas, ketika hendak merekam gambar atau suara harus dengan ijin pihak sekolah.

Di layar TV pun sering saya saksikan wawancara dengan nara sumber yang diubah suara aslinya atau tidak ditampilkan wajahnya. Atau terkadang jika mengekspose kehidupan pribadi seseorang, nomor mobil pasti akan dikaburkan, juga beberapa nama jalan, kota, atau toko/bangunan.

Demikianlah, kerahasiaan informasi individu di Jepang demikian ketat dijaga. Barangkali sebagai akibat semakin majunya teknologi, semakin canggih pula orang menciptakan kejahatan baru. Sebuah dampak sosial sebuah kemajuan.

Iklan
  1. Mbak Murni,
    Memang “kojin joho” ini kadang merepotkan juga. Saya saat ini agak kebingungan membuang koreksian ujian mahasiswa di kelas saya, karena saya biasa memberi nilai di kertas ujian tsb. Nilai ujian ini termasuk juga kojin joho, sehingga tidak boleh dibuang sembarangan. Tetapi harus dihancurkan dengan mesin. Masalahnya kertasnya buanyak banget. Kalau dihancurin pakai mesin, khawatir mesinnya hancur duluan…he he he.
    Mengenai foto, memang benar seperti yang disampaikan Pak Gun. Di kampus sendiri, untuk membuat list mahasiswa yang memasang foto mereka, harus ada persetujuan tertulis dari mahasiswa terkait. Padahal list itu hanya untuk keperluan internal jurusan, dan tidak akan diopen ke publik.

    Yang paling riskan adalah notebook, karena didalamnya sering tersimpan kojin joho (alamat email, no. phone, alamat rumah, nama dsb) dan data-data rahasia. Kalau hilang, kita bisa kena tuntut. Apalagi kalau data itu dipergunakan ilegal oleh pihak lain, sehingga bocor di internet. Waduh…jadi masalah panjang nantinya.

  2. Oh ya, baru ingat lagi. Di artikel ini gambar anak-anak masih terpampang mbak, walaupun tidak secara langsung, melainkan foto dari situs mbak Murni yang dulu . Tetapi nama dan wajah anak-anak masih bisa dilihat. Sebaiknya dihapus saja, agar tidak kena masalah.File yg saya maksudkan adalah

  3. Makasih Pak Anto, sudah saya hapus.
    Kojin Jouhou- memang pelik sekali !

    Beberapa waktu lalu saya mendapat penjelasan dari Sensei kalau foto, video, data pribadi dapat digunakan oleh peneliti asing yg mempresentasikan data2 tsb di luar Jepang.
    Waktu itu saya menanyakan apakah hukum ini hanya berlaku untuk teritori Jepang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: