murniramli

Sudah ditentukan rezekinya

In Islamologi on Februari 10, 2007 at 11:09 am

 p1170169.JPG

Gambar di atas adalah photo seekor burung kecil yang terbang dengan lincahnya di tengah dinginnya udara di pegunungan Nagano.  Saya potret berkali-kali untuk mendapatkan pose yang sempurna ketika dia sedang mematuk-matuk makanan yang digantung pemilik restoran di pohon gersang tak berdaun.

Ketika memotret burung kecil itu, saya termenung memikirkan hidup saya.  Bahwa saya seperti dia yang harus berjuang pagi hingga malam untuk mendapatkan rezeki yang sudah ditetapkan Pemiliknya di atas sana. Burung kecil itu sepertinya tak berdaya menghadapi buruknya cuaca dengan posturnya yang kecil.  Tapi Allah sudah menjamin bagiannya.  Dengan tubuhnya yang kecil, dia bergerak lincah di udara, barangkali Allah telah pula melengkapi tubuhnya dengan `penghangat alami`, sehingga membuatnya nyaman melayang ke sana kemari.

p1170100.JPG

Demikian pula saya menyadari betul bahwa Allah telah melengkapi fisik saya dengan antibodi yang sangat kuat, karena saya harus bekerja keras. Teman-teman tak bosan-bosannya menasihati untuk banyak tidur, jaga kesehatan, banyak istirahat, banyak makan. Ya, saya berterima kasih dengan perhatian mereka.  Saya sudah usahakan untuk menjalankan nasehat-nasehat itu karena saya tahu saya perlu mengasihani tubuh saya.  Saya perlu menjaga pemberian-Nya agar tak sulit menjawab di meja peradilan-Nya kelak : untuk apa tubuhmu kau gunakan di dunia ?

p1170174.JPG

Terkadang saya berfikir buat apa seseorang harus bekerja jika memang Allah sudah menentukan rizkinya ? Menurut yang pernah saya dengar, rizki itu sekalipun tidak dicari, dia akan datang dengan sendirinya.  Saya tidak termasuk pengikut paham ini.  Menurut saya Allah memang sudah menentukan bagian setiap makhluk di kitab lauhil mahfuz tetapi Dia tidak mengabarkan berapa banyak `bagian` yang seharusnya diterima seorang hamba. Semuanya berupa teka teki.  Tidak ada ayat yang turun khusus kepada seorang hamba mengabarkan bahwa dia akan mendapatkan gaji sekian juta jika dia bekerja di kantor Pertamina.  Karena tidak adanya kepastian itu, maka setiap insan harus berusaha, harus bekerja, harus mencari di mana Allah menyimpan `bagian` itu.

Ketika sudah berpeluh-peluh bekerja, sudah membengkak mata karena kurang tidur, ternyata yang didapat hanya `sebutir` bukan `segenggam`, maka apakah kita harus berhenti berusaha ? Tidak.  Bekerja harus dilanjutkan.  Rezeki yang sebutir atau segenggam bukanlah parameter kerasnya usaha.  Para buruh angkut di pasar, atau kuli pemecah batu di pegunungan Dieng lebih melimpah keringatnya daripada manajer hotel yang duduk di ruang ber-AC.  Tetapi mereka berpenghasilan beda.  Apakah ini adil ? Ya, sangat adil menurut saya ketika kita berfikir proses yang mereka harus tempuh untuk sampai pada jabatan tertentu, atau pun ketika kita harus berfikir bahwa kehidupan mereka berbeda.  Si manajer hotel tidak akan sanggup hidup dengan gaji kuli bangunan, demikian pula si kuli tidak akan tahan godaan hidup jika dia bergaji manajer.

Rezeki itu sudah ditentukan.  Yang harus disadari sekarang bahwa dengan rezki yang diamanahkan Allah di tangan kita sekarang ini, sanggupkah kita hidup sesuai dengan jumlah yang ada di tangan itu ? Apakah kita tidak akan iri melihat kawan yang ke kantor dengan BMW atau apakah kita tidak sakit hati karena tetangga membangun rumahnya lebih tinggi ?

Ada sebuah pesan dari seorang Ustadz yang selalu saya ingat :

Hidup itu lebih baik ….

Enak makan daripada makan enak,

Tetap berpenghasilan daripada berpenghasilan tetap

Tetap berumah daripada berumah tetap

dst….

Anda boleh tidak setuju dengan pemikiran minimalis seperti ini, tetapi bukankah dengan berfikiran seperti itu orang bisa menjadi bahagia ?

Yang pasti, saya sangat yakin ketika Allah menentukan kehidupan, status, derajat seseorang maka Dia pun telah menjamin rezekinya. Tinggalah kita berusaha agar catatan amal kita menggunung.

Wallahu `a`lam bisshawaab

Iklan
  1. alhamdulillah, saya jadi banyak belajar sama ibu, boleh ga saya bertanya sesuatu tentang itu?, jika saya sekarang sedang bekerja di suatu perusahaan swasta yang sangat jauh dari orang tua saya, saya pribadi ingin sekali pindah dari tempat kerja saya, begitu pula keinginan orang tua, hanya saja saya adalah tulang punggung keluarga untuk sekarang ini akibat kecelakaan yang dialami oleh ayah saya, bagaimana saya menyingkapi ini bu? saya khawatir jika saya keluar bagaimana menghidupi keluarga dan adik saya yang sekolah, sedangkan sebenarnya pihak ortu ingin sekali saya pulang karena cemas anak putrinya bekerja jauh, gimana menurut ibu?
    Kok jadi curhat ya? 🙂

  2. Mba Evi, saya mungkin sama seperti mba, jauh dari orang tua, perempuan lagi.
    Hanya bedanya, ibu dan bapak saya walaupun kangen memberikan kesempatan seluasnya kpd saya u terbang tinggi. Walaupun sy tahu setiap hari mereka pasti mencemaskan saya.
    Saya pun sebenarnya sama dg mba Evi harus membiayai adik2 sy setlh Bapak pensiun, walaupun mrk tdk pernah meminta kpd saya, tp saya menyadari betul beratnya tanggungan mrk.
    Pekerjaan yg mba Evi jalani sekarang jika lebih banyak manfaatnya drpd madharatnya, mk bersabarlah u menjalaninya dulu. Ibu mba Evi pun mungkin perlu kesabaran dan doa yang lebih u keselamatan dan kesuksesan mba.
    Sebagaimana diajarkan dalam Islam, jika kita sendirian, maka sebenarnya kita tidak sendiri, tapi Allah dan malaikatNya senantiasa melihat dan menjaga kita. Maka yakinlah dengan penjagaan-Nya. Wallaahu `a`lam bisshawaab.
    Maaf, tidak bisa banyak membantu

  3. Saya sependapat dengan tulisan Bu Murni,
    tambahanya adalah :
    Ada Kadar dan qodo’ , setiap manusia sudah ada ketentuannya dan kadarnya harus dicapai sebaik-baiknya oleh si manusia itu sendiri artinya usaha maksimal harus dilakukan toh.. yang Maha Kuasa dan Maha Melihat , Maha Pengasih dan Penyayang, akan memberikanya sesuai dengan usaha yang kita lakukan dari pada Kadar dan qodo yang telah ditentukannya

    murni : setuju, Pak Ustadz

  4. Numpang nimbrung nih Mbak…
    @ evi cahya puspita
    istokhoroh?

    @ murniramli
    Hm.. jauh dari rumah ya? Kadang kalo soal rejeki, kita (saya maksutnya) takut tidak kebagian, dan hal ini banyak dialami oleh orang berumur 18 hingga 25 tahun, sejuh yang saya tahu.

    Mungkin karena saya laki2, kadang kecemasan Ibu saya anggap biasa, dan kerasnya hidup di daerah orang lain juga saya anggap biasa. Mungkin saya sering sekali mengatakan kepada Ibu saya bahwa saya di sini selalu sibuk dengan urusan kuliah, cari uang dan sebagainya. Tapi, Ibu suka berkomentar, “Sudah, nggak usah ngoyo (memaksakan diri), entar juga jadi kaya dengan sendirinya”.

    Atau kalau tiba-tiba nilai saya rendah, Ibu berkata “Ya sudah, kita udah ada bagian masing-masing. Memangnya kamu mampu mengungguli teman-temanmu yang persiapannya sudah jauh2 hari. Santai saja, jaga kesehatan, blablabla..”.

    Btw, blog Anda bagus sekali. Kadang saya suka hampir nangis kalau lagi baca. Andai saja saya tidak ingat diri ini pernah jadi preman/anak bengal di masa lalu, mungkin mata ini sudah berlinang air mata. Kagum pada orang dengan karya yang segunung, dan malu pada diri yang tak punya kontribusi buat dunia.

  5. Terimakasih atas segala sesuatunya. Kalau mau informasi lengkap tentang pendidikan di Sumatera Uatara ada di Situs Puspendiknas . Daerah saya barangkali tidak terlalu beda dengan ibu, kami masih makan nasi sebagai makan pokok, dan masih gemar makan ikan. Tapi tahun 2020 nasi sudah agak susah didapat karena lokasi sawah sudah berubah menjadi bangunan pencakar langit. itudulu ya buu.

    murni : makasih, Pak infonya

  6. Bismillahirrahmanirrahim
    Salam kenal buat mba Evi
    Buat Mba Evi,saya mau sharing ni mba.kalo ada kesalahan mohon di koreksi yaa!!!!!!!!!
    Saya juga sering mendengar hal hal yang Mba Evi alami,saya sendiri pernah mengalami hal yang sama.
    Begini Mba,saya pernah baca fatwa dari seorang ustadz,rezeki itu di bagi 3
    “yaitu rezeki yang pertama adalah rezeki yang dijamin pasti ada, yaitu makan. Pada saat kita bayi kita tidak bisa mencari makan, apakah kita takut. Hal ini karena kita yakin sudah dijamin. Satu kesulitan mendatangkan dua kemudahan pada saat kita hendak terlahirkan.
    Ari-ari dipotong setelah itu mendapatkan makanan dari dua air susu ibu. Jadi setelah kita sebesar ini, apakah masih takut tidak makan. Yang harus kita takuti adalah makan makanan yang kita tidak tahu halal/haramnya. Demi Allah, kita akan ada rezekinya.

    Rezeki yang kedua adalah rezeki yang digantungkan. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri. Semua sudah ada ukurannya sendiri.

    Justru akan gawat kalau rezeki kita sama semua. Kalau kita mencarinya di jalan Allah. Rezeki dapat, pahala dapat, barokah namanya. Kalau mau licik boleh-boleh saja. Rezeki dapat, dosa dapat, haram namanya.

    Pencuri, koruptor itu maling hartanya sendiri. Kalau dia sholeh pasti ketemu rezekinya itu. Tidak perlu pakai licik. Tidak mungkin Allah menyediakan rezeki kalau harus pakai licik. Jujurlah pasti akan ketemu rezeki tersebut, mau kemana lagi. Ingatlah teori bayi, ketika menangis dengan suara pelan sang ibu hanya menenangkan dan tidak memberi makan. Kemudian si bayi menangis dengan berteriak tentu akan menarik perhatian dan ibu akan memberi makan kepadanya.

    Saudara-saudara,
    Saya khawatir kita apes seperti ini bukan tidak ada jatah kita, tapi kita
    tidak mengambilnya hanya sedikit. Jangan-jangan jatah saudara seratus juta perbulan tapi mengambilnya hanya lima ratus ribu. Jika sudah bekerja keras itu masih belum cukup. Bekerja keras itu urusan fisik, bekerja cerdas itu urusan otak dan bekerja ikhlas itu urusan hati. Kalau ketiganya jalan baru ketemu.

    Tanpa bermaksud meremehkan saudara kita tukang becak itu tidak kurang kerja kerasnya. Karena kalau tidak didorong tidak akan maju, tapi hasilnya hanya sepuluh ribu perhari. Tidak cukup mengandalkan otot saja, hati dan otak harus diperhatikan. Maka saudara-saudara jangan sampai berpikir licik untuk mendapatkan rezeki, rezeki itu tidak akan kemana-mana.

    Rezeki yang ketiga adalah rezeki yang dijanjikan. Kita harus jatahkan setiap mendapatkannya harus langsung dikeluarkan sedekah/zakatnya. Demi Allah, Allah sudah berjanji barangsiapa yang ahli syukur nikmat yang ada Allah akan tambahkan. Tidak akan berkurang harta dengan sedekah, kecuali bertambah dan bertambah. Inilah rumusnya kalau tidak mau uang kita sia-sia”
    begitu aja Mba Evi n Mba Murni mohon koreksinya sekali lagi kalo ada kesalahan.

  7. nada :
    terima kasih atas uraiannya.
    Saya jadi inget belum sedekah euy…(>_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: