murniramli

Membangun pendidikan di sebuah kota

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Februari 25, 2007 at 2:54 am

Dulu waktu masih mengajar di Darul Fallah, saya suka iseng masuk ke perpustakaan di kantor pimpinan pesantren dan membuka-buka buku lama yang jarang disentuh.  Beberapa buku berharga juga saya temukan tergeletak di rak2 perpustakaan, masih rapih, baru karena tidak ada yang menyentuhnya.  Kita sepertinya lebih gemar mengoleksi buku daripada membacanya.

Sebuah buku yang ditulis oleh pakar pendidikan/psikologi UI, Prof Slamet Imam Santoso (alm), saya tidak ingat judulnya, tapi buku itu saya baca sampai habis karena saking menariknya.

Ada satu bab yang menceritakan bagaimana sebuah pendidikan di sebuah negara dibangun.  Saya memperkecil aspeknya ke sebuah kota.  Bagaimana mengembangkan pendidikan di sebuah kota ?

Pertama, harus ada pencatatan lengkap berapa jumlah siswa usia sekolah, berapa angka kelahiran, prediksi jumlah anak usia sekolah 5 tahun ke depan, lalu persiapkan bangunan sekolah.  Untuk membangun sekolah, perlu semen, kayu, cat, pasir, jadi kota membutuhkan pabrik dan pekerjanya.

Kedua, sarana tulis menulis.  Setiap anak memerlukan berapa buku tulis (tergantung jumlah mata pelajaran dan rajin tidaknya dia mencatat). Tapi harus ada survey, berapa banyak buku yang akan dihabiskan anak selama satu tahun.  Kemudian harus pula dikalkulasi berapa banyak pensil yang mereka butuhkan, yang kalau dilanjutkan penghitungannya pada rencana bisnisnya, pemerintah kota harus berfikir berapa banyak pohon yang ditebang untuk dibuat menjadi kertas dan pensil, lalu selanjutnya berapa banyak pohon yg harus ditanam untuk menjamin keperluan potlot dan buku2 para siswa.

Pun harus dihitung berapa banyak guru yang harus dididik agar rasio guru siswa memenuhi angka ideal.  Di negara berkembang saat ini rasio diupayakan 1:16, atau paling tidak 20 siswa ditangani seorang guru. Keperluan tulis menulis guru pun harus dihitung karena guru ketika bersekolah, maka dia juga murid.

Lalu jalan-jalan menuju sekolah.  Di mana sekolah sebaiknya dibangun ? Supaya biaya transport tidak memberatkan orang tua siswa, maka sekolah harus dibangun di tengah perkampungan/pemukiman.  Jika terpaksa siswa harus memakai sarana transportasi, maka pemerintah kota harus memberikan biaya murah atau gratis naik bis/kereta.  Tidak seperti di Bogor.  Saya pernah seangkot dengan anak SD yang ketika turun hanya membayar Rp 100 (waktu itu biaya angkot hanya Rp 300), dan si supir marah-marah sambil mengeluarkan kata-kata dari kebun binatang.  Si anak sudah kebal dengan omelan itu, karena mungkin ayah dan ibunya sudah melatihnya untuk menjadi tegar karena mereka memang orang tak punya.  Si supir juga tak salah karena dia pun harus mengejar setoran.  Pemerintah kota harus peduli dengan ini semua.

Lalu beranjak ke software pendidikan.  Pelajaran apa yang harus diajarkan kepada para siswa supaya kelak dia bisa menjadi tulang punggung kotanya ? Maka pemerintah kota perlu mengumpulkan warganya, mendengarkan seperti apa keinginan mereka ? Inginnya seperti bagaimana anak-anak mereka dididik ? Kurikulum belajar harus dirancang oleh para pakar dan para guru, kemudian diujicobakan, apakah guru dapat menguasainya dengan baik atau tidak ? Lalu apakah benar2 dapat menghasilkan orang yang akan menopang pembangunan kotanya ?

Termasuk software juga, memikirkan makanan siswa ketika di sekolah.  Apakah perlu kantin sekolah, menunya apa ? berapa banyak beras pulen lagi harum yang harus disiapkan, berapa luas padi harus ditanam, berapa banyak sayur bayam, kangkung yang harus diproduksi per minggu, berapa kilo telur yang harus tersedia setiap pekan, berapa ekor sapi yang harus diperah susunya setiap hari dst…dst…

Jika pendidikan tidak sekedar mengembangkan akal, tapi juga raga dan sikap, maka pemerintah kota harus bertanggungjawab menyediakan asupannya.  Tinggal dimusyawarahkan dengan orang tua, seberapa banyak yang harus dishare pembiayaannya.

Demikianlah, membangun sebuah kota pendidikan ternyata perlu ahli matematika, ahli pendidikan, ahli gizi, ahli bangunan, tukang kayu, tukang cat, juru masak, penjual, pembuat buku/pensil, supir, dll.

Perhitungan di atas kesannya mudah.  Karena memang sesuatu yang sulit harus dibuat mudah.  Jika sesuatu yang mudah dibuat sulit, maka pendidikan hanya akan ada dalam rapat-rapat dan sidang-sidang yang tak berkesimpulan, tiba-tiba menelurkan kebijakan baru yang membuat menganga para guru, membuat berkerut-kerut kening Pak Kepala Sekolah.

PS. Jangan terlalu serius membacanya ! Ini cuma khayalan yang perlu disangsikan keseriusannya  (^_~)

Iklan
  1. Bagaimana kalau sepulang dari Jepang nanti sampean ke kalimantan kita bikin kota baru, dengan recana pendidikan seperti yang sampean ceritakan. 🙂

  2. Pak Urip,
    kayaknya bakalan gagal…wong saya kebanyakan menghayal jee….(^o~)

  3. Numpang nimbrung nih Mbak…

    Kita sepertinya lebih gemar mengoleksi buku daripada membacanya.

    .
    Wah, saya jadi maluu.. Masalahnya, saya juga menggebu-gebu kalau ingin membeli buku, tapi ketika sudah mulai dibaca, biasanya kesan ketertarikannya jadi berkurang setiap saat. Jadi solusinya, saya cepat-cepat menghabiskan membaca. Buku yang sampai sekarang belum selesai saya baca adalah shirah nabawiyah, padahal sebetulnya bagus…
    .
    Hm, bagaimana kalau kita minta pulau sendiri saja Pak Dwi, biar lebih fokus. Tapi jangan terlalu jauh dengan kota, biar distribusi kebutuhan tidak terlalu sulit. Btw, ini mimpi saya sama teman sebangku waktu SMA juga kok Bu..
    .

    Demikianlah, membangun sebuah kota pendidikan ternyata perlu ahli matematika, ahli pendidikan, ahli gizi, ahli bangunan, tukang kayu, tukang cat, juru masak, penjual, pembuat buku/pensil, supir, dll.

    Parameternya banyak juga ya? Padahal waktu saya baca judulnya, kelihatan menarik kalau seandainya saya bisa buat softwarenya. Kalau pun berhasil, ini sih selevel Tugas Akhir mungkin….

  4. Saya setuju dengan komentar adek pramur…saya sendiri juga banyak beli buku yang belum terbaca alias gak ada waktu buat membaca dan akhirnya malah males membacanya…Mangkanya dengan ngeblog tak coba untuk membaca lagi buku-buku lama saya…tak olah lagi dan tak tampilin di blog….itung-itung memotivasi saya untuk banyak membaca sekalian dapat bahan posting……

  5. Salam kenal, Pak Luthfi
    Blog-nya mohon ijin saya masukkan ke blogroll

  6. ass.wr wb
    apa kabar mbak Murni? masih ingat ga sama saya. Itu lho, waktu masih di Bogor ketika kita pernah satu rumah, tapi saya di bawah, mbak Murni di atas.

    Saya salut lho dengan dirimu,wanita Sulawesi (tapi lebih jawa,kelihatannya) yang mempunyai high motivation untuk terus belajar dan belajar. U’re a smart woman. He he kok jadi muji terus ya? Ya memang saya juga muji tulisan-tulisanmu yang apik, especially about education. Btw, orang IPB, memang lebih banyak jadi pendidik ketimbang jadi ‘petani ‘ ya (he he termasuk saya). IPB sudah berubah jadi Institut Pendidikan Bogor kali ya.

    Oke deh mbak Murni, sukses ya buat anda. CU..

    wassalam.

  7. Mba Evi….gimana kabar keluarga ? Ibu, Ust. Abbas, Ust. Qomar, Ust. Asep, dll ? Kangen ih dg pesantrennya.
    Masih kerja di Bina Insani ? Titip salam buat jeng Heni yo (^_^)

  8. seorang invest Rp 100 jt buat mencerdaskan kehidupan bangsa …

    sapa mo ikutan ?

    murni : asal jelas proyeknya, pasti banyak yang mau

  9. konsep dituangkan Prof. Slamet Iman Santoso … benar-2 bagus, mengajak orang berfikir holistik integralistik menyeluruh dari segala lini, bukannya parsial /regional / sekotak-kotak sesuai disiplin ilmu dipelajarinya [merangkai puzzle berfikir] mengajarkan insan peduli & tepis individualisme.

    Seyogyanya kerangka berfikir diatas, jadi gaya berfikir manager administrator kota [walikota/bupati/gubernur] dan insan-insan pemerhati lingkungan hidup ya…

    kalau boleh tahu judul bukunya apa bu…
    ayas juga baru skadar pengumpul, memang syusah jadi penyerab tulisan ditinta kertas itoe hehehe…

    boleh bertanya…kan?
    di jepun adakah buku-buku ttg. lingkungan berbahasa & huruf latin/englis [pembahasannya itu lho njelimet & detail, tpi moedah dimengerti ketimbang bikinan amrik/europe, kecuali blondo & german]… mohon informasi bu

    murni : Pak Ardi, judul bukunya saya benar-benar lupa, kira-kira 4 tahun yang lalu saya baca. Isinya saja sebagian saya ingat dan saya inpretasikan dalam tulisan di atas.
    Buku ttg lingkungan berbahasa, saya kurang tahu, Pak. Tapi jika pun ada, biasanya yg menarik itu justru yg ditulis dlm bahasa Jepang (^_~), kalau sdh diterjemahkan ke bahasa Inggris, jadi ngga seru.

Tinggalkan Balasan ke murniramli Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: