murniramli

Mengetuk Pintu

In Islamologi, Renungan on Februari 27, 2007 at 8:39 am

Tok…tok…

Mengetuk pintu adalah kebiasaan yang sangat lazim kita kerjakan.  Tidak ada yang aneh dengan aktifitas ini.  Pekerjaan ini pun kadang tidak bermakna apa-apa, saking seringnya kita mengerjakannya.  Tapi, mengetuk pintu sebenarnya sangat dalam maknanya.

Suatu hari saya diminta mengamati kelas bahasa Thailand dalam proses in service training saya sebagai pengajar bahasa Indonesia di sebuah lembaga bahasa di Nagoya.  Pengajarnya seorang laki-laki.  Karena saya diminta mengamati, maka saya rekam baik-baik tindakannya sejak dia di depan pintu kelas.  Pertama yang membuat saya kagum adalah “dia mengetuk pintu” sebelum masuk ke kelas. 

Saya lupa kebiasaan baik ini ketika saya masuk ke kelas, baik sewaktu saya menjadi guru di Indonesia maupun ketika saya menjadi guru bahasa di Jepang.  Sebagai guru, saya selalu merasa sebagai `penguasa/pemilik kelas`, maka saya tidak perlu meminta ijin untuk masuk ke dalam kelas ketika saya akan mengajar.  Tapi…saya menyuruh murid-murid untuk selalu mengetuk pintu sebelum masuk ke kelas (>_<).

Saya termasuk guru yang agak banyol.  Salah satu kebiasaan buruk saya adalah mengendap-endap ke kelas dan masuk secara mengejutkan-tentunya tanpa ketuk pintu-, kemudian menunjuk si A, si B yang rame untuk maju ke papan, tulis ini …itu…(maap ye…murid-murid ^_^)

Di Indonesia seni mengetuk pintu tidak terlalu diperhatikan, berapa ketukan yang harus dilakukan, tidak pernah digubris. Tapi di Jepang, ada aturannya.  Mengetuk pintu sebaiknya dengan 2 ketukan, dan tidak diulang-ulang.  Kalau dalam keadaan yang mendesak barangkali boleh diketuk berkali-kali (^_~).  Jika tidak ada suara dari dalam, maka jangan nyelonong masuk, tapi kalau ruang umum sih boleh saja masuk, sambil mengucapkan “shitsurei itashimasu” = maaf, saya lancang (masuk).

Di tempat bekerja saya, di mister donut lebih sopan lagi, Tensyu (manajer) saya memasang pengumuman di pintu masuk ke ruang toilet (toiletnya ada 2 kamar) : ketuk pintu sebelum masuk. Jika terdengar suara orang berdehem atau teriakan “Imasu yo”, maka silahkan tunggu di luar.

Kita sering mengabaikan hal-hal kecil seperti ini.  Misalnya saja ketika bertamu, biasanya ketukan dilakukan secara beruntun sambil memanggil nama tuan rumah…..Bu Joko…Bu Joko….ada termos es (^o^).  Kadang kalau tidak ada sahutan dari dalam, maka iseng kita mengintip melalui jendela.  Dalam salah satu hadits Nabi SAW, beliau pernah menyebutkan larangan untuk berlaku seperti ini.  Bahkan dituntunkan kepada kita untuk masuk ke rumah orang melalui jalan masuk yang benar (bukan pencuri soalnya ~_~),  dilarang masuk lewat pintu belakang, tidak boleh mengintip, sebab khawatir penghuni rumah sedang tidak layak untuk dipandang.  Jika tidak ada sahutan dari dalam, maka pulanglah.

Kesimpulannya : dimana pun hak privasi orang harus dihargai.

Begitulah, mengetuk pintu memang pekerjaan sederhana, tetapi karena sederhananya kita kadang lupa melakukannya.

Iklan
  1. tapi ada beberapa tempat kalo cuma diketuk malah ga dibuka-buka bu.. musti perlu didobrak…

    pas moment satpolpp ngerazia psk di hotel melati… =)
    hehe… kalo setiap orang indonesia bisa terapin “ketuk pintulah sebelum masuk”… mau buat pengumuman di dalam kamar.. “Sekali ngetuk Rp 1000.. ” bisa untung besar…
    *ngipas-ngipas pake uang 100an warna merah buatan tahun 1990* peace..

  2. Tahu gak kira-kira dari manakah budaa ketuk pintu sebelum permisi masuk ruangan? asli pingin tahu nih. Kalau saya masuk kelas gak pernah ketuk pintu, biasanya nylonong sambil ngucap assalamulaikum.

  3. Pak Urip : Kayaknya dari para nenek moyang kita, sejak mereka sadar perlu membuat pintu untuk rumah-rumahnya…suerrr…ga ngejawab (^0~)

  4. Cocok….
    Harus segera di budayakan….

  5. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Hehe.. kebiasaan mengetuk pintu saya hilang jatuh hanyut terbang sirna lenyap kabur entah ke mana saat masuk perkuliahan. Mungkin karena hidup di kota demikian kerasnya ya?
    .
    Kalo kata Nabi sih Mbak, salam 3 kali, kalau ga ada yang jawab, pergi…

    murni : bagaimanapun kesopanan itu sangat indah dipandang dan dinikmati, makanya hrs terus dijaga (^_~)

  6. kala itoe zaman koena, sebeloem abad moedern
    dikenal bernamakan Pelajaran & Pendidikan
    Tata Krama [Unggah Ungguh] di praktekkan
    di sekolah, di rumah dan di masyarakat luas
    sehingga perilakoenya menjadi Soepan
    dalam bertoetoer kata menjadi Santoen
    oerang oemoem soeka seboet Boedi Pekerti

    apa ini tidak mundur kebelakang namanya, wong zaman sudah modern, ditandai dengan pudarnya nilai lama tergantikan nilai baru yang beloem tentu cocog kagem kawulo sepuh, tapi sesuai buat kawula muda, butuh asupan norma & nilai baru dijajakan berlabel modern itu?

    esok kawula muda, beranjak dewasa menjelang tua, akan merasakan betapa “menyakitkan” & mulai bermimpi & merindukan suasana di kala mereka masih kanak-2 dibawah asuhan orang tua
    mereka yang dibilang koena/kolot/konservatif…
    betapa nyaman dan damai dihargai, dihormati sedang yang tua menyayangi yang moeda?

    dunia alias roda pedati terus berputar, semua akan
    kembali lagi… bukan hanya ketuk pintu, mode berpakaian, corak bangunan bergaya..?, dsb. pasti kan kembali lagi. Silahkan diamati atawa dicermati
    kehidupan apa yang ada di sawah…, wah mulai kejangkit wabah jepun ki…. hehehe… lha kapan wabah varietas lokalannya ya…?

  7. Pak Ardi :
    hmm…saya sependapat dg Bapak ttg siklus budaya dan kebiasaan, ttg perulangan, sebab itu memang sdh sunnatullah.
    Tapi saya ragu apakah nilai2 baik itu akan tetap dianggap sebagai nilai baik di milenium berikut ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: