murniramli

Orang Jepang suka mikir njlimet

In Manajemen Sekolah, Serba-Serbi Jepang on Maret 1, 2007 at 12:40 pm

Saya sebenarnya enggan ikut kegiatan kemahasiswaan model Senat mahasiswa atau Badan Perwakilan Mahasiswa. Sudah merasa tua atau sudah puas bermain di situ pas S1 dulu (^_^). Tapi di lab, saya terpaksa terlibat karena saya satu-satunya mahasiswa doktor, dan member lab tidak banyak. Jadi terlibatlah saya sebagai pengurus menangani bidang `keiei kondankai`, seksi mengadakan seminar rutin di bidang manajemen pendidikan.

Selama satu tahun, 4 kali kami mengadakan seminar, mengundang pembicara dari dalam dan luar kampus. Tapi jangan dibayangkan pesertanya banyak. Paling banter hanya 15 orang yang datang, walaupun undangan sudah disebar ke universitas lain. Alasannya klise : mahasiswa sibuk part time job (^_^).

Kemarin rapat terakhir seksi keieikondankai, membahas evaluasi kegiatan selama setahun dan rencana kegiatan tahun depan. Saya biasanya paling malas ikut rapat beginian. Karena selain tidak mengerti betul apa yang dibicarakan (orang Jepang suka pakai bahasa yang susah, atau…saya yang masih cekak bahasa Jepangnya (>_<)), orang Jepang juga suka berlama-lama membicarakan hal yang sepele.

Rapat kemarin yang paling bikin saya tidak sabar adalah penjelasan tentang manual acara. Ketua mengusulkan konsep protekolar menyelenggarakan seminar, mulai dari kontak pembicara satu atau 2 bulan sebelumnya, membuat pengumuman, membeli gelas kertas, minuman, snack (konsumsi deh!), menyediakan alat perekam suara, plus tata cara menghubungi restoran yang sering dipakai untuk makan-makan sesudah acara. Di akhir manual, tak lupa dituliskan meja dan kursi harus ditata seperti semula.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dari manual tersebut. Namanya juga manual, ya harus rinci dan detil. Tapi yang beginian ini yang selalu membuat saya bosan dan ingin segera meninggalkan rapat. Pernah pula dalam kegiatan survey ke Souya, acara mandi pun menjadi pembicaraan rutin dalam rapat. Biasanya kalau sudah begini, saya sering menelungkupkan kepala, siap-siap mau tidur, sambil berpikir : repot-repot amat siiiih….mandi ya mandi ! Apa susahnya ??

Tapi itulah orang Jepang. Mereka sangat peduli dengan hal yang kecil. Mereka sangat njlimet. Dalam seminar pun pertanyaan yang diajukan mahasiswa Jepang akan sangat berbeda dengan mahasiswa asing. Contohnya mahasiswa asing selalu bertanya secara makro : Apa bedanya sistem A dengan sistem B ? Apa pendapat anda tentang masalah A ? Apakah ada solusi yang lain ? Apa masalah yang muncul selama program berlangsung ? Tapi mahasiswa Jepang lain. Mereka akan bertanya dengan panjang lebar menjelaskan duduk masalahnya dulu, lalu bertanya hal-hal yang tidak prinsip, tapi lebih bersifat praktis : Bagaimana jika banyak pihak tidak setuju dengan sistem A ? Bagaimana tata cara menerapkan sistem A jika faktor B tidak ada ? Saking panjangnya menjelaskan duduk permasalahan, pertanyaannya menjadi kabur : jadi sebenarnya mo nanyain apa ???

Sewaktu saya presentasi tentang anak-anak Indonesia di hadapan siswa SD Jepang, saya menampilkan photo anak-anak sedang menangkap belut/ikan di sawah yang berlumpur, sambil menjelaskan ini salah satu permainan yang digemari di desa. Seorang anak bertanya : “Seberapa tingginya lumpur itu ? sepinggang ? selutut ?”, Yang lainnya bertanya : “Ikannya sebesar apa ?”, Sehabis main, anak-anak itu mandi tidak ?” Nah lo, mana saya tahu jawabannya (`へ‘)

Tapi barangkali dengan ke-njlimetan atau lebih tepat curiosity pada hal-hal yang kecil, banyak penemuan yang dihasilkan dari tangan-tangan orang Jepang. Kecermatan ini pulalah barangkali yang membuat jadwal kereta dan bus selalu tepat, dan gedung-gedung pencakar langitnya kokoh digempur gempa.

Iklan
  1. Temen saya sering ngomong “kamu itu kalo mikir gak usah ribet-ribet”, dan sekarang saya sedang belajar untuk selalu berpikir simpel. Padahal bukan orang Jepang saya ini 🙂 . Apakah itu kebiasaan semua orang Jepang.

  2. Daripada di Instansi Pemerintah sini mam….sudah rapatnya lama sering…waktunya rapat juga panjang…..tapi rapat nggak jelas juntrungannya…..kebanyakan sambutan dan basa-basinya….dan saat pelaksanaan kegiatan….sudah beda dengan rencana saat rapat….Jadi kadang-kadang saya berfikir buat apa kita repot-repot rapat kalau akhirnya….

  3. Pak Urip :
    Ngga semua org Jepang njlimet, Pak…ada juga yg sangat simple (^_^)

    Pak Lutfi :
    Rapat diperlukan krn mengikuti pesan nenek moyan g : “mangan ora mangan sing penting ngumpulllll….”
    \(^_^)/

  4. mungkin sduah jadi etos orang jepang kali yah

  5. Saya suka yang simple (untuk hal-hal tertentu, tidak disebutkan…)

  6. saya seh..suka dua duanya. ada kalanya kita harus sedetail mungkin. biar rapat lama tapi hasilnya akurat. di lain sisi, kita harus bisa sesimple mungkin, gak usah bertele2. kalo gak perlu rapat ngapain rapat segala, orang bisa diberesin sendiri ato ama tim. kalo mo rapat ya tentuin dulu tujuannya, apa emang perlu dengerin pendapat banyak orang. masalahnya, kita kudu bisa memilah mana yg harus detail dan mana yg harus simple, dan mana yg perlu rapat dan mana yg gak perlu rapat. itu aja 😛

  7. “Ngga semua org Jepang njlimet, Pak…ada juga yg sangat simple”

    Kalau dipersen-kan yang njlimet itu dominan gak ya bu?

  8. @Pak Pradana :
    saya ndak tahu persentasenya, tp selama ini ketemunya dg yg njlimet melulu, kecuali 1 orng sensei saya 😀

  9. gaya berfikir seperti diatas njlimet/=/ruwet, melainkan cermat+rumit [bahasa indonesianya] sewajarnya juga menjadi pola & gaya berfikir milik kaum pencinta lingkungan, meramal kemungkinan-2 akibat dari “keberadaan sesuatu baru” di alam, disamakan dengan tempo biar lambat asal selamat [ada kesamaan pola pikir wong njowo] ; berbeda gaya berfikir cepat atau kelewat cepat=kebat keliwat/potong kompas, dimana banyak kehilangan detail mikro yang ada kerangka makro –> ceroboh/menyederhanakan akar masalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: