murniramli

Siapa yang memelihara orang tuamu ?

In Islamologi, Renungan on Maret 3, 2007 at 1:52 am

Setiap pagi kalau saya ada tugas mengajar di Sakae, saya pasti bertemu dengan sepasang orang tua yang kira-kira berumur 80 tahun. Keduanya sedang latihan berjalan. Si kakek di depan, sedangkan nenek, sambil memegang pundak kakek, berjalan tertatih. Di tengah dinginnya udara pagi di Nagoya, langkah mereka perlahan dan berat sekali, mungkin karena sudah tua pula.

Pagi ini kembali saya menemui mereka. Tertatih berjalan dengan jaket tebal dan masker penutup hidung. Musim ini musim 花粉症 (kafunsyou), yaitu semacam alergi serbuk, terutama serbuk bunga cedar. Banyak orang Jepang yang bersin-bersin sepanjang hari karena serbuk yang beterbangan akibat angin menyambut musim semi yang cukup kencang. Kakek dan nenek semakin pelan berjalannya, tetapi jalan pagi sepertinya menjadi aktivitas wajib mereka, supaya badan tidak kaku.

Kenapa mereka hanya berdua ? Mana anak atau cucunya yang akan memegang tangannya, membimbingnya untuk berjalan menikmati pagi yang indah ?

Banyak orang tua di Jepang yang hidup hanya berdua atau bahkan sendiri. Kadang hanya kucing atau anjing setia yang menjadi temannya sepanjang hari. Di TV sering sekali diberitakan orang tua berusia 60-70 tahun meninggal tanpa ada yang mengetahui keberadaanya.

Dulu waktu masih di Indonesia, jika melihat kakek/nenek menyeberang sendirian, saya selalu tawarkan bantuan, dan di dalam hati tertanam tekad yang kuat tidak akan membiarkan bapak mamak jalan sendirian dalam usia senjanya.  Saya pun tidak berani membayangkan kalau kelak sudah berumur lanjut akan mengalami hidup seperti itu.  Di Jepang, setiap naik kereta atau bus, saya usahakan untuk tidak duduk di priority seat, walaupun kadang kalau kecapekan sekali terpaksa juga duduk di jatahnya orang-orang khusus tersebut.

Sering ada pertengkaran dalam keluarga siapa yang harus tinggal dengan ayah/ibu ? Siapa yang harus membawa mereka dalam keluarganya ? Siapa yang harus mengiriminya uang ? Siapa yang harus menengoknya ?

Ayah ibu tidak butuh semuanya kalau kita tidak ikhlas mengerjakannya.  Seandainya pun mereka tidak meminta maka kewajiban anaklah untuk menyenangkan, memelihara mereka di masa tuanya.  Saya selalu ingin berbuat baik kepada bapak dan mamak, sekalipun banyak sudah kesalahan yang saya perbuat kepada mereka.  Dalam keadaan jauh begini, tidak bisa saya menggandeng tangan mereka, tidak bisa saya membuatkan teh hangat untuk dinikmati di beranda rumah kami sore hari.  Tapi saya yakin, jika saya berbuat baik kepada orang-orang tua di sekitar saya, maka Allah pasti mengirim orang untuk berbuat baik pula kepada bapak dan mamak.

Seandainya manusia dilahirkan oleh batu, maka tak usah dia berfikir banyak siapa yang harus memelihara ayah dan ibunya.  

Iklan
  1. Sedih juga jadi orang jepang kalau sudah tua…
    Tego banget kuwi…
    Semoga saya tidak begitu…

  2. Pak Hari :
    Amin…

    btw, email yang dikirim via japri ga bisa dibuka, Pak

  3. Mungkin itulah yang menjadikan orang tua di Jepang dengan sendirinya lebih memilih untuk tinggal di panti jompo timbang dicuekin anak2nya. Sensei nihongo saya pernah cerita kalo ibunya tinggal di panti jompo, saya sempet bengong karena sensei ini memilih hidup untuk tidak menikah. Tadinya saya pikir dia tidak menikah karena ngurus orang tuanya. Sebenernya saya pengen banget tanya tapi gak bisa ngomongnya… wong kursus nihongonya masih kelas satu!!!!
    Tapi para jompo disini hebat2 mereka pada mandiri (mandiri atau mmg anak2 mereka yang gak peduli). Saya pernah ke klinik, disana penuh dengan orang tua yang berobat dan rata2 mereka pergi sendiri tanpa didampingi anaknya, padahal beberapa diantaranya ya itu jalannya sudah tertatih-tatih dan yang jelas mereka sedang sakit.
    Na ‘udzubillah, saya tidak mau jadi orang yang membiarkan ibu saya seperti itu, pun saya tidak mau seperti itu jika umur sampe di masa tua. Makanya jangan galak2 ya sama anak….

  4. Tapi ada juga yang memang tidak mau merepotkan (merepoti ?) atau direpoti anak-anak atau cucunya. Dan fasilitas atau pelayanan publik untuk mereka juga cukup memadai. Makan tidak perlu masak, telpon saja delevery service. Mau bersihkan rumah, panggil saja ‘Duskin’.
    Saat ini sudah ada mansion khusus lansia. Sudah tersedia dokter, perawat dan fasilitas yang diperlukan para lansia. (tapi tergantung duit pensiunnya juga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: