murniramli

Kebiasaan mengobrol orang Indonesia

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang on Maret 4, 2007 at 6:10 am

Beberapa waktu yang lalu, Dekan Fakultas Pendidikan Nagoya University, Prof Moriki TERADA berkunjung ke Indonesia dalam rangka menjajaki perjanjian kerjasama dengan Universitas Diponegoro (Pusat Studi Asia).  Kira-kira 2 minggu setelah kunjungan saya bertemu beliau di cafetaria kampus saat jam makan siang dan terjadilah obrolan yang membuat saya sedikit malu.

Beliau menyatakan sangat menikmati perjalanan kedua kalinya ke Indonesia, apalagi sedang musim durian.  Sekitar 4 buah durian beliau makan habis plus minum air yang diletakkan di bekas buah supaya tidak mabuk kata orang-orang.  Sebelumnya Prof Mina HATTORI yang menemani kepergian beliau ke Semarang sempat menunjukkan foto Terada Sensei sedang duduk di warung penjual durian, melahap durian dengan nikmatnya.  Selain durian Sensei juga sangat doyan makanan Indonesia.  Saya sendiri bukan termasuk penggemar durian, setiap mencium baunya, saya langsung teler (>_<), tapi kalau sudah diolah menjadi lempo duren atau selain duren….itu enaknya selangit \(^o^)/

Pak Terada bercerita kalau dia diundang menjadi pembicara dalam seminar di UNDIP yang dihadiri rektor 3 universitas di Semarang plus para dosen, mahasiswa dan juga kepala sekolah dan guru SMK.  Pak Terada menekuni bidang `Career Education`, beliau tertarik dengan pengembangan sekolah kejuruan di tanah air.  Banyaknya peserta yang hadir di seminar membuat beliau terkejut.  Sebab beberapa bulan sebelumnya 2 dosen UNDIP datang ke Nagoya University menyampaikan seminar di fakultas kami dan sangat disayangkan peserta seminar hanya sedikit (kurang dari 10 orang).

Saya juga agak heran dengan minat mahasiswa atau dosen di Jepang.  Sewaktu tokoh School Based Management dari Australia, Prof David Gamage diundang dan menyampaikan presentasi tentang SBM di Victoria state, Australia, juga sama : peserta seminar tak kurang dari 30 orang.  Angka ini sudah dianggap cukup banyak.  Saya pikir bukan karena alasan bahasa, sebab penterjemah selalu dihadirkan di setiap seminar.

Saya pernah agak sungkan juga ketika diminta menjadi contact person Prof Robert Aspinall, orang Inggris yang menjadi dosen di Shiga University, untuk memberikan presentasi `keiei kondan kai` (seminar di departemen educational management), ketika beliau meminta konfirmasi berapa peserta yang kira-kira akan hadir.  Menurut rekan yang lebih berpengalaman sekitar 25 orang akan datang.  Ternyata pada hari H hanya 8 orang yang hadir.

Di Indonesia, yang namanya seminar biasanya dihadiri 100 orang lebih.  Mungkin karena Indonesia berpenduduk banyak (ga nyambung…!)

Tapi ada yang menarik dari cerita Pak Terada.  Selama menyampaikan presentasi, dia merasa agak terganggu dengan suara berisik di tengah peserta.  Tadinya dia pikir hanya saat ceramahnya saja, tetapi ternyata suara obrolan itu mulai terdengar sejak rektor menyampaikan sambutan.  Lalu, dengan tersenyum beliau bertanya : `Apakah ini sudah biasa di Indonesia ?`  Nah, lo….

Saya bisa membayangkan suasana yang dihadapi Pak Terada plus kejanggalan yang dirasakannya.  Seminar-seminar di Jepang biasanya senyap, semua peserta dengan tekun mendengarkan atau tidur, tidak ada yang mengobrol.  Di Indonesia justru sebaliknya.  Peserta seminar sengaja memilih tempat duduk paling belakang atau mojok untuk mengobrol.  Kenapa muncul kebiasaan seperti ini, saya pribadi tidak tahu alasannya.  Apakah karena orang Indonesia sangat gemar mengobrol (ramah) ? Atau peserta yang hadir di ruang seminar datang hanya sekedar mengejar kredit untuk kenaikan pangkat ? Atau mereka datang karena ditugaskan sekolah, sekedar untuk membuktikan bahwa sekolahnya turut berpartisipasi ?

Yang pasti saya gelagapan menjawab gurauan Pak Terada.  Bingung mau mencari pembelaan dari sisi mana (>_<)

Salah satu sifat yang saya sukai dari orang-orang kita adalah tegurannya yang ramah dimanapun berjumpa.  Saya selalu mendapat teman baru jika pulang kampung naik pesawat, kapal, bis atau kereta.  Bahkan di dalam angkot kota Bogor pun dengan mudahnya orang bisa memulai percakapan.  Biasanya kegiatan mengobrol pun tak peduli lingkungan.  Kalau sudah asyik, bisa hingga tempat tujuan terlewati.  Suasana seperti ini jarang saya jumpai di Jepang.  Yang gemar mengobrol di dalam kereta hanya nenek-nenek dan anak-anak sekolah.  Berkali-kali di dalam kereta pun terdengar peringatan untuk menghormati hak orang lain, jangan mengganggu penumpang yang lain dengan suara dering HP, musik iPOD yang kencang, obrolan yang berisik.  Kalau tidak membaca buku, tidur, saya biasanya melototin pamflet iklan yang memenuhi atap-atap gerbong sembari mengasah kemampuan baca kanji.

Demikianlah, saya sangat gemar ngoceh, ngecap, ngerumpi, ketawa-ketawa, tapi terpaksa jadi `radha pendiam` di Jepang. Tapi kalau sudah ketemu orang Indonesia atau orang yang bisa bahasa Melayu, urat `ngobrol` saya langsung bekerja. Ga peduli di dalam kendaraan umum (`へ`)

Iklan
  1. Wah iya mbak, orang jepang disiplin, aku pernah mau operasi sm mereka sampe malu, mereka udah dtg pagi jam 7, lha sing punya RS aja belum buka lawang…tempat mau operasi, aku panik lari sana sini cari kuncine…eh mereka sante2 aja piye to…lha emg belum waktune buka ktnya, belum lagi pas presentasi pd ngobrol karepe dewe…

  2. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Hm, menghadiri seminar hanya karena mengejar kredit kenaikan pangkat ya? Kalo di kampus saya, waktu itu pernah ada seminar dari orang Microsoft Indonesia ( memberi presentasi lebih tepatnya ). Karena saya anti banget sama proprietary, saya dan beberapa teman menolak. Tapi, bujukan “daripada nggak ada yang dengerin Mur… Kesian mereka…” dari teman dekat saya. Akhirnya saya datang juga, dan itu bersama dengan sekitar belasan orang.
    .
    Dari sekian belas orang itu, yang dengerin cuma beberapa, yang lain sibuk dengan topik sendiri2.
    .
    Anehnya, kebiasaan “berbicara” ini tidak ikut terbawa ketika teman-teman berada dalam sebuah lingkungan lain yang menghendaki sebuah “diskusi”, dengar dan tukar pendapat, atau hal-hal semacam jawaban atas pertanyaan dosen. Saya jadi berpikir, apakah memang kebiasaan berbicara di depan umum jadi sesuatu yang jarang dimiliki lulusan universitas ini.
    .
    Kalau saya juga iya sih, suka ngobrol. Tapi kalau sedang sesi tanya jawab, diskusi, tukar pikiran, sepertinya cuma saya yang berani ngomong ceplas-ceplos (mungkin ini tabiat aseli orang melayu kayak saya?). Aneh. Komunikasinya mungkin masih perlu diasah ya?

  3. Mba Evy :
    Kalau janjian memang biasanya orang Jepang dateng 5-10 menit sebelum waktu yg ditentukan. Tp temen2 di lab banyak yg suka jam karet juga mba…kayaknya krn kebanyakan gaul dg saya (^_^)

    Pramur :
    duuuh…dek pramur ternyata mahasiswa yg bageur pisan (^_~)

  4. Diperlukan ke piawaian tersendiri kalau menghadapi peserta seminar di Indonesia. Kalau tidak sangat menarik, siap-siap kecewa saja.

  5. Pak Urip :

    Ajarin dong triknya, Pak…

  6. Biasanya orang Indonesia itu tertarik dengan hal-hal berupa cerita (apalagi cerita lucu, maklum budaya kita tak terbiasa dengan budaya tulis, masih lebih menyukai budaya lisan). Makanya, di saat seminar, daripada menyimak uraian tertulis, mendingan ngobrol. Selain ga ngantuk, juga asyik bisa becanda dan tertawa. Apalagi bila bertemu kawan lama. Bisa sampai lupa acara seminarnya. Biasanya asyik cerita kesana-kemari.

    Seminar itu ibaratnya sebuah pertunjukkan. Bila yang mempertunjukkan itu tak menarik, untuk menghormati yang sedang bicara, biasanya peserta duduk menunggu sambil ngobrol. Mungkin itu alasannya kenapa orang Indonesia suka ngobrol bila hadir dalam acara seminar.

    Maaf ya, saya sendiri tersinggung dengan sindiran saya.

  7. Sangking ramahnya orang Indonesia, jadi peserta seminar yang di sampingnya di ajak ngobrol. Jadi berisik kan…

    Kalau saya sih biasanya selalu duduk didepan ketika menuntut ilmu, dimanapun berada. Lebih enak, ga ada penghalang…

  8. waduh jangankan di tempat seminar, saat nonton film di 21 aja suka ada yang ngobrol juga,padahal layarnya gede dan sound nya keras…

    memang untuk kebiasaan ngobrol bukan pada tempatnya, Indonesia juara deh hehe

  9. Pak Hari :
    murid yang bageur (^_^)

    Pak Charles :
    kalau nonton film, org Indonesia suka bikin skenario sendiri, dan mengkritik habis-habisan pemain dan sutradaranya…emang jago ngobrol (^_^)

  10. oh begitu ya .. paling nggak mas murni berbangga menjadi tuan rumah yang ramah. dan orang jepun nya pun senang seminarnya dihadiri orang banyak. 🙂

  11. Mbak, masih inget setiap pengajian umum atau keluarga? Jangankan yang urusan duniawi, yang urusan akherat juga ngobrol mah jalan teruuus (termasuk saya kali ya…). Herannya jangankan sama orang yang baru atau sudah lama gak ketemu, wong sama orang yang hampir tiap hari ketemu aja selalu ada topik baru buat digosipin kok. Orang Indonesia mah rata2 B-gos alias biang gosip. Udah ada yang melakukan penelitian belum ya tentang masalah ini????

  12. Mba Teni :

    yuk kita teliti yuuk…
    Saya saja setiap hari ketemu Teh Nining pasti ngobrol. Tp obrolan kita seeh, obrolan suka duka di misdoy….qeqeqeqekk
    lumayan buat ngilangin stress (^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: