murniramli

Gender ? Laki-laki harus lebih mengerti perempuan

In Islamologi, Renungan on Maret 5, 2007 at 8:05 am

Wah, judul tulisannya terlalu berbau konflik. Maaf.  Omong-omong soal gender belakangan ini sering singgah di telinga saya.  Sejak Hattori sensei presentasi tentang pendidikan wanita di ICANU (Islamic Culture Assoc. Nagoya University) yang menyinggung masalah gender juga, plus seorang professor yang melakukan penelitian tentang sejarah gerakan wanita di Indonesia (GERWANI) mewawancarai saya beberapa pekan yang lalu (padahal saya bukan member GERWANI lho!), ditambah lagi obrolan dengan teman se-lab, dan kejadian hari ini.

Pagi tadi saya bekerja di mister donut.  Biasanya setiap jam 8.30 pagi bahan-bahan keperluan membuat donut diantar oleh pihak supplier.  Kardus-kardus barang itu ada yang harus dimasukkan ke dalam kulkas, ke lemari, dll.  Biasanya manajer yang akan mengerjakannya.  Tetapi belakangan ini saya sering melihat Pak Manajer menyuruh seorang pegawai wanita.  Dari dulu saya sebenarnya sudah ingin berkomentar tapi saya tahan, menunggu waktu yang baik.  Hari ini adalah hari yang baik, walaupun di luar hujan (>_<).

Secara pelan saya berkata kepada Pak Manajer : “Tensyu, josei ga omoi mono o motsu no wa dame yo. Abunai desu, kono hen (Pak Manajer, perempuan itu ga boleh disuruh ngangkat yang berat.  Berbahaya lo, terutama daerah sini (sambil menunjuk daerah perut dan pinggang)”.  Manajer saya langsung menanggapi : “So desu ne, demo kanojo ga mada wakai kara, chikara ga ippai”  (Benar juga ya, tapi gadis itu masih muda, tenaganya masih banyak).  Saya langsung menimpali.  “Nara, dame ! Josei no koto o rikai shite kudasai.  Dansei ga josei no koto o rikai shinakereba naranai !” (Karena itu ga boleh.  Anda harus lebih pengertian kepada perempuan.  Laki-laki itu harus lebih mengerti wanita !). (diucapin dengan nada galak (`へ‘)

Kayaknya kalau bukan manajer saya yang baeknya setengah mati itu, saya sudah dikeluarkan dari tempat bekerja.  Berani-beraninya nyeramahi Pak manajer yang terhormat.  Untungnya beliau tidak marah, malah berkata : “Sumimasen, rikai shimasu”, sambil bungkuk-bungkuk.  Barangkali dia tidak serius dengan jawabannya itu, tapi saya sudah puas menyampaikan uneg-uneg saya.

Ya, laki-laki harus lebih mengerti perempuan.

Saya tidak mudeng dengan definisi gender.  Saya cuma paham bahwa Allah sudah menciptakan kedua jenis manusia itu berlainan secara biologis, tapi tidak dari segi akal dan kemampuan berfikir.  Jadi wajar jika perempuan tidak bisa mengangkat barang yang berat, wajar jika dia tidak bisa jadi kuli angkut. Wajar jika dia tidak kuat berdiri di kereta lama-lama.

Di Jepang, laki-laki tampaknya kurang memahami wanita.  Tak tahu kalau di Indonesia.

Gender bukan berarti wanita minta dikasihani.  Kami akan mengerjakan apa yang kami bisa, tapi cobalah para lelaki pun mengerti keterbatasan kami (waduuh….pembela perempuan bener, maap ya, bapak2 sekalian).  Pembagian kerja rumah tangga pun selalu dianalogkan tugas perempuan masak, mencuci, ngepel, bahkan ada yang sampai manjat genteng segala buat mbenerin genteng.  Tugas laki-laki hanya bekerja, nyari duit yang banyak di luar.

Orang tua saya tidak tahu menahu apa itu gender.  Tapi ayah saya juga memasak dan mencuci pakaian kami sewaktu masih kanak-kanak dulu, kalau Mamak sedang arisan atau sakit.  Mamak tidak pernah manjat atap rumah untuk mbenerin genteng atau ngutak-atik seterika kalau tidak panas-panas juga.  Itu semua dikerjakan Bapak.  Dari mereka berdua saya belajar pembagian tugas laki-laki dan perempuan di rumah.  Bahwa tidak perlu saklek banget menegasakan ini tugas istri, ini tugas suami.  Siapa yang bisa maka kerjakanlah. Semuanya harus saling mengerti.

Apalagi laki-laki….memang harus lebih mengerti perempuan (`へ`)

Sekali lagi mohon maap bagi yang sudah mengerti perempuan (^_^) 

PS : Jangan dibaca saat lagi bertengkar dengan istri atau sedang ada masalah dengan perempuan !

Iklan
  1. Iya juga ya…. Saya jadi ingat dan kasihan sama teteh (kakak perempuan) saya.

    Dulu sewaktu kami masih sekolah (SD sampai SMA), teteh saya terus yang suka membantu urus-urusan rumah. Cuci piring, menyetrika, menyapu, dll. Sedangkan saya, yang lelaki begini suka males, dan ga mau disuruh-suruh.

    Bila disuruh ini-itu, saya selalu beralasan sedang belajar atau membaca. Sedangkan teteh saya, waktu untuk belajar di rumah banyak tersita mengurusi urusan rumah. Dasar bandel saya ini… duh saya merasa bersalah ke teteh saya.

  2. Mumpung masih kecil
    bantu orang tua
    mumpung orang tua masih hidup
    berbaktilah pada beliau

    Jika beliau susah tak ada
    berdoalah untuk beliau

    nice artikel

  3. Al Jupri :
    Alhamdulillah nyadar…(^_~)

    Pak Dedi :
    makasih sekali nasehatnya.

  4. Ya..masalah gender juga menjadi perhatian saya. Di Pemerintahan saya banyak melihat PNS wanita yang lebih banyak nganggur daripada bekerjanya. Umumnya mereka lemah dalam penguasaan komputer shg tidak optimal dalam mengerjakan pekerjaan administrasi perkantoran. Padahal potensinya begitu besar kalau kita dapat memberdayakannya.

    Ada cerita teman wanita saya yang baru ikut kursus penyetaraan gender, dan dengan menggebu-gebu dia menceritakan persamaan hak pria dan wanita. Lucunya begitu giliran buat laporan..eh dia pasrah sama pria rajin teman kursusunya…

    Itulah mungkin gender di Indonesia yang menurut saya banyak dimanfaatkan wanita untuk menghindar….

    • masalah gender yg diseminarkan dll di dunia ini, itu ternyata emang lebih cocok kalo dikasih judul : “pekerjaan enak harus sama (laki atau perempuan) pekerjaan gak enak hanya untuk laki-laki.”

      sewaktu sy tinggal di Beijing, RRC, sy melihat persamaan pekerjaan disana baik laki atau perempuan. apakah itu pekerjaan enak atau tidak enak. padahal mereka (setidaknya selama sy disana hingga tahun 2000) tidak pernah teriak2 mengenai persamaan gender.

      sy pernah loh liat cewek yang jadi kenek dan supir truk. saat itu hujan lebat bulan juli truknya mogok di pinggir jalan. sopir dan keneknya sedang utak-atik mesin. dan sy liat salah satu cewek itu menghidupkan mesin pakai besi yg di hela (kayak stater motor jaman dulu). pekerjaan berat!

      menurut penduduk asli Beijing yg kerja di rumah kami, disana memang berlaku sama untuk co atau ce.

      • sewaktu sy di Italia, lain lagi. Bagi mereka tidak ada itu persamaan gender, karena sudah sama.

        Yg harus diprioritaskan oleh kita (di Italia) adalah anak2 (dibawah 12 tahun), orang sakit, ibu hamil, orang cacat dan orang tua (diatas 65 tahun).

        orang cacat dan orang tua pun disana tidak mau disebut orang yang lemah. jadi saat-saat tertentu mereka tidak mau diprioritaskan.

  5. PS : Saya baca postingan ini saat tidak bertengkar dengan istri. (Biasanya emang jarang bertengkar. Paling2, debat sesaat yang tidak berkepanjangan.) Lagian, hari ini istri saya ulangtahun. Boleh, ‘kan, postingan menarik ini saya “hadiahkan” kepadanya?

  6. Paknewulan :
    Pak Luthfi, saya tidak bisa mengelak dg kondisi yg bapak ceritakan. Sayang sekali memang banyak dari kaum saya yg masih belum mengenyam pendidikan dg baik.

  7. Pak M Shodiq :

    Dipersilahkan dengan sangat menghadiahkan tulisan ini untuk Ibu.
    Untuk Ibu : Semoga senantiasa dikaruniakan kemuliaan, kemudahan dan keberkahan. Selamat.
    Ditunggu komentar Ibu ttg tulisan ini (^_^)

    PS : Blog nya mohon ijin dilink

  8. Terima kasih atas hadiah dan doanya.
    Terima kasih pula telah membuat link blog saya di sini. Saya bukan hanya mengizinkan, melainkan juga senang sekali.

  9. Ga ada komen untuk masalah Gender, Bahaya banget Dunia Akhirat (takuuuut)…

    Kalau saling pengertian bagus tuh dan mengerti tugas masing-masing

  10. Masalah gender memang kontroversial, apalagi di tempat kerja. Betul memang gender sering dijadikan alasan untuk menghindar dari tugas bagi para wanita (yang kurang profesional), dan dijadikan alasan untuk menyerang bagi para laki2 yang “gemes” dengan kemanjaan wanita.
    Di tempat kerja saya, betul seperti kata Paknewulan, banyak PNS wanita yang nganggur. Ada yang memang malas, tidak menguasai pekerjaan (komputer juga) atau karena pola pikir atasan yang memang memandang wanita banyak tidak mampunya daripada mahirnya. Saya pernah menjadi korban hal terakhir yang saya sebut selama kurang lebih 1.5 tahun. Saya dianggap atasan tidak mampu. Saya tidak pernah diberi kerjaan selain kerjaan yang sepele, tugas saya tidak ada beda dengan PNS gol I. Ketika ada Kasi sebelah meminta saya geser ketempatnya, atasan saya bilang ke teman “kok SK ini ngawur, masa dia di pindah ke Seksi yang kerjanya berat”. Temen yang kebetulan deket itu lapor sama saya. Hampir tidak bisa dikatakan kalo saya tidak benci dan marah.
    Saya bekerja semampu saya, dengan sekuat tenaga saya (kebetulan saya kerja di bagian penggodogan regulasi untuk seluruh kantor vertikal di seluruh Indonesia) dengan tugas yang menumpuk, apalagi di akhir tahun. Ketika beliau melihat saya sering lembur, beliau masih berkata sinis “kok tumben mau lembur”. Kasie saya saat itu membela saya, karena dia tau bgmn hasil kerja saya. Bersyukur beliau segera promosi ke daerah, tp setiap ada rakor yang mengharuskan dia ke pusat, dia masih saja berkata sinis dan mengomentari kerjaan bagian kami (ini tidak hanya menurut perasaan saya lho). Kerugian saya sangat berarti : tersendatnya jenjang karier saya!!!
    Sebenarnya wanita menurut saya bisa “lebih” perkasa daripada pria dalam hal positif. Perlu para pria ketahui dalam hal yang mendesak tak jarang wanita justru lebih kuat. Wanita ditakdirkan lemah lembut, tapi jangan ditantang kekuatannya. Bisa dilihat, wanita mampu menahan sakit saat melahirkan bahkan mampu berkali2 melahirkan, wanita lebih kuat jika terkena tekanan darah tinggi dan disaat wanita ditinggal suami shg mjd single parent dia akan mampu melakukan tugas ganda.
    Bagi perempuan bekerja, hati dan konsentrasinya terbelah 2. Dia tidak bisa menginjakkan kedua belah kakinya hanya disatu petak. Disinilah laki2 seharusnya lebih mengerti dan menghargai. Disatu sisi perempuan juga manusia yang punya keinginan (bukan ambisi) untuk menjadi seseorang yang aktualisasinya diakui, tapi disisi lain dia sangat dibutuhkan keahliannya dalam dunia investasi seumur hidup (anak tanpa ibu apalah jadinya). Para bapak yang isterinya kerja harusnya bersyukur karena kewajiban nafkah bisa terbantu kan? minimal utk kebutuhan pribadi isterinya tidak merengek2.
    Menurut saya penyetaraan gender di Indonesia terbentur pola pikir baik wanitanya sendiri maupun pihak “lawan” (satu dari lawan ini menjadi temen hidup saya hiks…). Selain itu terbentur adat dan keyakinan.
    Bila dituruti, masih banyak yang ingin saya tulis tapi ntar malah lebih panjang dari yang punya hajat he..he..he…
    Ingat syair satu lagu?
    “Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu, namun adakala pria tak berdaya, bertekuk lutut di sudut kerling wanita…. contohnya????? tahu sendiri buuuaaanyaaakkk….

  11. Mbak teniii….
    komentarmu mau panjang seberapapun boleh.
    Atau mba Teni bisa buat tulisan ttg ini, ntar saya sajikan di blog, tapi tetap dg nama penulisnya mba.
    Btw, nama lengkapnya siapa sih (^_^)

    Sanlat anak dateng kan ya ?Ntar ngobrol lagi.
    2 hr yll saya bertemu laki-laki yang `bertekuk lutut` di bawah kerlinganmu, mba (^_~) hehehe…
    Pak Lifi gambate ne….(calon tenchou di PPIJ Ngy).

  12. Waduh kalo buat tulisan tersendiri, bisa nggak ya soalnya saya tidak punya referensi (setelah punya anak saya banyak malesnya untuk baca buku2 yang “berat”). Apa yang saya tulis diatas hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman. Sttt… saya adalah orang yang menggagalkan diri untuk menjadi wanita penganut aliran penyetaraan gender…. because I’m not a superwoman.
    Nama panjang…. ntar ya kalo ketemu saya bilangin, mmg kenapa Mbak? Insya Allah Sanlat saya dateng karena Rila dan Aril ikut (kalo saya gak dateng saya bisa dimarahin Mbak Ulfa).
    Saya yang pertama menentang pencalonan “lawan” yang menjadi temen hidup saya itu untuk menjadi tenchou di PPIJ Ngy lho, alasannya ntar saya sedikit cerita deh.
    Oya si dia malah pengennya nyalonin Mbak Murni, beberapakali dia bilang ke saya.
    Nnnnaahhh…. buat penyetaraan gender juga lho!

  13. murni :

    Kayaknya ga ada yg mau vote saya, mba.
    Ntar acara pelatihannya judulnya : `Pelatihan bikin donut` , bukan pelatihan komputer ye, Pak Lifi ?
    hihihihi…(^o^)

  14. duh bu…baca postingan ini sayah bener2 salut deh sama ibu yang berani bicara seperti itu ama bapak mene 😀
    sayah setuju juga, tidak perlu saklek dalam pembagian tugas, karena bapak sayah juga dulu seperti itu, klo ibu sedang tidak bisa memasak, maka beliau yang akan menggantikan dsb. dan di rumah sayah pun setiap anak lelaki atau pun perempuan harus tau yang namanya pekerjaan rumah 😀

  15. Salam hormat dan salut berat untuk ibu yang mulia…

  16. Itu sebabnya Allah SWT menciptakan 2 gender saja, pria dan wanita,

    dimana pria lebih bertenaga tapi kurang berperasaan untuk menyeimbangkan dibutuhkan wanita,

    sebaliknya wanita yg lebih berperasaan tapi kurang bertenaga membutuhkan pria untuk menyeimbangkannya.

    Semua yg diciptakan-Nya memiliki makna.

  17. ass wr wb, ibu-ibu tolong carikan bapaknya anak-anak teman hidup lagi,tapi yang alimah,hafidzoh,daiyah,biar anak-anak kita dididik jadi ahli syurga. rela yah?atau kalo bisa carikan korban laki-laki,yang siap dididik jadi wanita ahli syurga,,,hub alamat:
    1.pondok pesantren temboro magetan jatim
    2.pp ummahatul muslimin payaman magelang
    cabang cabang seluruh indonesia…

  18. Assalamualaikum,

    tahniah entry yang bagus…Nabi Muhammad sendiri menunjukkan contoh terbaik melayani isteri dan ahli keluarga dengan cara yg baik…yang penting setiap kita saling bantu membantu dan tahu peranan masing-masing..terima kasih

  19. mbak murni anda beruntung sekali menjadi wanita indonesia,setahu saya pria indonesia jauh lebih lembut dan lebih menghargai wanitanya ketimbang para pria jepang.saya sih gak tahu pasti keadaan disana,cuma di tempat kerjaan saya ada boss jepang yang sudah berkeluarga,dan saya tahu pasti apa kegiatanya sehabis bekerja,dia sering sekali mencari wanita untuk diajak karaokean sampai mabok dll…? dan kalau saya lihat dari gelagatnya sepertinya di jepang hal seperti itu sudah biasa,masya’allah
    kasian istri dan keluarganya

  20. @Pak Danang : Ya, di Jepang tampaknya banyak kasus spt itu, makanya angka perceraian cukup tinggi.
    Tentang penghargaan kepada wanita di Jepang, memang sering sekali dikritisi.Saya lupa apakah pernah menulis ttg hal ini atau belum, tp baik di tempat kerja, di kampus, tindakan pelecehan seksual ada saja.

  21. Ya pantas pria jepun spt itu.agamanya bkn Islam sih.ga bs meneladani Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.ralat utk artikel diatas:ada hadits shohih..wanita itu lemah akal&agamanya.pnjelasannya pjg bngt.baca di http://www.asysyariah.com.dr segi akal jg tetap pria lbh unggul drpd wanita.hanya Aisyah ra yg kcerdasan akalnya hampir setara pria.pria yg dmaksud tt yg berilmu&sholih bkn yg goblok.jd tdk benar kl pria&wanita dbedakan hy brdasar fisik.pola pikir jg beda.ayo ngaku…!

  22. Intinya sih saling mengerti…
    Almarhum bapak saya dulu tidak segan-segan mengerjakan PR (pekerjaan rumah)ibu. Ibu saya dulu punya usaha toko, untuk membantu ekonomi keluarga, (maklumlah bapak dulu cuma PNS golongan I), jadi terkadang sibuk dengan tokonya. Namun demikian ketika ibu punya waktu, maka semua PR itu ia kerjakan sendiri tanpa harus”merepotkan” bapak.
    Bu..mohon ijin untuk menambahkan taut blog ibu, di daftar link/taut blog saya

  23. @elmassy:sy pikir tdk arif jk menuduh pria jepang atau negara lain, berlaku spt itu krn mrk bukan muslim, sebab banyak contoh orang Islam yg berlaku sama, dan sebaliknya banyak pula lk2 Jepang yang lebih baik dan bersikap spt karakteristik muslim yang dianjurkan dalam Islam.Semuanya tergantung kpd pemahaman dan keimanannya. Saya selama berada di jepang, beberapa kali menemukan rekan muslim minum bir, atau tdk peduli dg kehalalan dan keharaman makanannya.Apakah semua orang Islam beriman ?

    Perkara kedua, ttg hadits yg anda sebutkan. Memahami sebuah hadits tidak bisa hanya dg konteks/matannya saja. Tetapi harus dipahami dari asbabul wurud-nya (latar belakang dan masa disampaikannya hadits tsb). (Logikanya sama dengan ayat Al-Quran, jg harus dipahami asbaabun nuzul, atau sebab2 turunnya ayat).
    Jika diperhatikan hadits tsb disampaikan Rasulullah di hadapan kaum wanita Anshor pada sebuah hari raya di Madinah. Orang2 Anshor adalah orang yang menetap di Madinah, bukan yg ikut hijarah (muhaajirin). Dalam sebuah perkataan Umar ttg keadaan wanita Anshor saat Rasulullah hijrah: jumlah mereka lebih banyak drpd kaum laki2.
    Sy kutipkan periwayatan hadits yg sudah diterjemahkan:
    Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Rasulullah saw. pergi ke tempat shalat pada hari raya Adha atau hari raya Fitri. Selanjutnya beliau melewati jamaah wanita, lalu bersabda: ‘Wahai kaum wanita … aku tidak pernah melihat orang-orang kurang akal dan agama mampu melumpuhkan hati seorang laki-laki yang tegas melebihi salah seorang dari kalian.’ Mereka (kaum wanita) bertanya: ‘Apa kekurangan akal dan agama kami, ya Rasulullah?’ Rasulullah saw. menjawab: ‘Bukankah persaksian seorang wanita sama seperti setengah persaksian seorang laki-laki?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Maka di situlah letak kurang akalnya.’ (Kemudian beliau bertanya): ‘Bukankah wanita itu, ketika haid tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Maka di situlah letak kurang agamanya.'” (HR Bukhari dan Muslim).

    Ada dua hal yang tersirat dalam hadits tsb: 1) ttg kekurangan akal wanita, yang ditegaskan lagi maksudnya adalah kesaksiannya lemah. Dalam kesaksian, kesaksian dua wanita disamakan dg kesaksian dua laki-laki (“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dan orang laki-laki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya, janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil ….” (Al Baqarah: 283).
    Dalam kitab Shafatutafassir Imam Asshabuni, diuraikan kemungkinan alasan persaksian wanita yang lemah, yaitu karena jika ada tindakan kriminal (pembunuhan, kecelakaan) secara naluri umumnya wanita menghindar dan enggan untuk melihatnya. Karenanya dia tidak akan mengetahui lebih banyak hal daripada laki-laki dalam perkara ini (wallahu a’lam bishshawaab).
    Yang kedua disebutkan, wanita kurang agamanya karena mengalami masa haid yang menyebabkannya tidak bisa beribadah selama masa itu. Dengan alasan ini, maka kita bisa pahami bahwa dibandingkan laki-laki, wanita memiliki waktu yg lebih sedikit untuk beribadah, tp bukan berarti kadarnya tidak sama atau lebih dibandingkan laki-laki.
    Sebab ada ayat Al-Quran yang menyebutkan kesamaan antara keimanan laki-laki dan wanita. “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS al-Ahzab [33]: 35)

    Tentang pola pikir yang berbeda, saya agak sulit menemukan ayat/hadits yang menyebutkan hal ini.Atau tepatnya pola pikir yang bagaimana yg anda maksud, saya kurang jelas.
    Tp barangkali yg anda maksudkan spt uraian berikut ini:
    Sebuah penelitian lama di bidang psikologi pernah ditemukan bhw naluri wanita mempengaruhi cara berfikirnya. Emosi dan kepekaan wanita lebih tajam daripada laki-laki, sehingga sbg contoh, tatkala seorang anak jatuh ke sumur, yg dilakukan oleh seorang ibu adalah langsung terjun ke sumur untuk menolong anaknya, sedangkan bapak biasanya akan mencari tangga atau tali.Lalu ada jg buku menarik menurut kawan saya yg membedakan pola pikir wanita dan pria, Women from Venus, men from mars (saya belum baca).
    Dalam kasus spt di atas kita bisa mengatakan pola pikir pria wanita berbeda, tp apakah juga berbeda pola pikir kita dalam menerima sebuah ilmu?
    Kecerdasan Aisyah r.a., dan beberapa shabiyyah Nabi SAW yg secerdas Aisyah, atau wanita-wanita yang juga menuntut ilmu ttg agama di berbagai univ. Islam ternama, atau wanita-wanita yng sudah menginjakkan kaki di bulan, adalah bukti bhw pola pikir kita dalam penerimaan ilmu sama dalam beberapa hal.
    Tp diakui (sy pun mengakui) bhw wanita memiliki emosi dan sensitivitas yang sangat kuat, karenanya kami terkadang lebih mengedepankan ini ketimbang pikiran yg jernih, jadi tentunya bisa dipahami mengapa laki-laki yg menjadi pemimpin wanita.
    Wallahu a’lam bishshawab.

  24. sepatu saja lah
    sepakat dan setuju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: