murniramli

Pindah Rumah

In Serba-Serbi Jepang on Maret 7, 2007 at 8:43 am

Akhir Maret saya akan pindah ke dormitory baru. Benar-benar beruntung rasanya, karena selama sekolah di Nagoya University saya tinggal di dormitory yang murah. Sebelum datang ke Nagoya Univ. pihak Educational Center for International Students (ECIS) Nagoya Univ sudah mengirimkan surat berisi tentang kota Nagoya, persiapan fulus pas di Jepang, keterangan di mana saya akan tinggal, lengkap dengan nomor kamarnya.

Saya tinggal di International Residence (IR) selama program Teacher Training.  Hanya butuh 5 menit jalan kaki ke kampus atau kalau naik sepeda, hanya perlu 2-3 menit, karena jalannya menurun.  Saya paling suka aksi ini : meluncur ! Rent kamar single per bulannya hanya 5000 yen plus biaya listrik, gas, dan air, sekitar 12,000 -16,000 yen per bulan. Setelah tinggal 6 bulan di IR, saya dapat perpanjangan, tetapi harus pindah ke couple room yang sangat besar. Tentu saja dengan rent yang besarnya 2 kali lipat, tapi masih sangat murah dibandingkan tinggal di apartemen. Masa tinggal di IR hanya 1 tahun.

Dari IR saya pindah ke Foreign Student Dormitory milik kota Nagoya. Tempatnya memang agak jauh dari kampus, sekitar 30 menit naik kereta bawah tanah, tapi karena murah (20,000 yen untuk single dan 25,000 yen untuk couple), banyak sekali mahasiswa yang mendaftar untuk masuk. Saya pun, alhamdulillah bisa tinggal di dormitory ini selama 1 tahun (perpanjangan). Tempat yang nyaman dan mudah diakses, dekat dengan supermarket, kantor pos, dan department store. Saya sangat menikmati tinggal di situ. Pada masa awal tinggal di situ, banyak sekali kegiatan yang diselenggarakan pihak dormitory yang saya usahakan tidak absen, karena selalu ada makanan Jepang yang lezat-lezat (^~^). Ketika sudah mulai part time job, saya tidak sempat lagi terlibat acara2 di sana. Bahkan saya seperti hanya numpang tidur, karena selalu pulang larut malam dan berangkat subuh.

Tahun ini kaikan (dormitory) itu akan diperbaiki sehingga semua penghuni harus pindah. Seperti biasa, bulan-bulan ini kantor ECIS akan dipenuhi para mahasiswa asing yang sibuk mencari informasi tempat tinggal yang murah.  Melalui ECIS saya mendaftar ke Hattori International Kaikan yang diperuntukkan untuk mahasiswa self finance. Seleksinya cukup ketat dengan 2 kali interview. Selain keadaan ekonomi, rekomendasi dosen, dan transkrip, penelitian pun menjadi parameter.  Alhamdulillah saya diterima dan akan tinggal di Higashiyama kaikan, dekat sekali dari kampus, jalan kaki sekitar 10-15 menit, atau 5 menit dengan sepeda.

Saya, Prof Ueda (academic advisor saya), Prof Hattori dan mahasiswanya dari Mongolia mengunjungi kantor Hattori Kaikan kemarin. Pihak dormitory mewajibkan mahasiswa yang lolos seleksi untuk datang ke kaikan bersama dengan professor pembimbing. Aturan yang agak aneh memang, dan saya sampai mules karena kebingungan bagaimana caranya mengajak Ueda Sensei yang super sibuk untuk sekedar mengantar saya ke kaikan yang baru. Ternyata di luar dugaan saya, beliau sangat gembira saya bisa lolos dan langsung menelepon pihak Hattori untuk menegoisasikan masalah waktu kapan kami bisa berkunjung. Saya benar-benar berhutang budi kepada Sensei. Sudah 15-an surat rekomendasi yang beliau tuliskan untuk saya karena harus melamar ini dan itu, baik yang saya minta dalam tenggang waktu yang agak panjang ataupun sangat terburu-buru. Beliau memenuhinya dengan sangat sabar. Hontouni osewa ni narimashita.

Kunjungan ke Hattori kaikan membuat saya kembali terkesima dengan sikap sopan santunnya orang Jepang. Pertama kali masuk ruangan, Sensei langsung membungkuk 90 derajat kepada owner sambil mengucapkan : Osewa ni narimashite, doumo arigatou gozaimasu (terjemahannya dalam bahasa Indonesia agak susah, kira-kira maknanya : Terima kasih atas kebaikan anda). Pemilik Hattori kaikan adalah lelaki berusia 80 tahun-an dengan rambut yang sudah memutih, tapi masih gesit, namanya Bapak Hattori. Beliau pun membalas bungkukan 90 derajat agak lama, sambil mengatakan : Sensei, sumimasen ga, oisogashii tokoro (Professor, mohon maaf merepotkan anda datang kemari). Wah, adab yang begini yang saya masih harus belajar banyak. Setiap saya mengucapkan : oisogashii tokoro de, atau osewa ni narimashite kepada Ueda Sensei, beliau pasti tertawa sambil bercanda : “repot ya jadi orang Jepang ! Di Indonesia juga ada ucapan seperti itu ?”

Kunjungan tersebut sekedar berkenalan dengan owner, menyerahkan data pribadi dan berfoto bersama. Yang saya sangat terkesan, Ueda sensei memutuskan naik taksi supaya datang tepat waktu. Pak Hattori yang sudah sepuh pun mengantar kami ke dormitory yang kira-kira berjarak 500 meter dari kantor Hattori, walaupun kami tidak dapat masuk melihat kondisi kamar, tapi dari luar sudah kelihatan bahwa tempat tinggal saya sangat perfect. Sehabis kunjungan ada satu lagi kebaikan yang ditawarkan Pak Hattori. Beliau mengajak kami menyebrang jalan dan mampir di sebuah cafe kecil, menikmati kopi dan kue puding yang enaknya selangit. Begitulah agar tamunya tidak sekedar merasa hanya datang buang-buang waktu menemuinya, pihak tuan rumah telah menjamu kami dengan sangat baik.

Walaupun saya akan pindah tanggal 31 Maret nanti, tapi barang sebagian sudah mulai saya packing. Barang yang mau dipack sebenarnya sedikit, saya tidak termasuk pengoleksi barang. Yang bikin repot biasanya hanya buku, tapi sebagian besar buku sudah saya ungsikan ke ruang belajar di kampus, jadi pidahan kali ini sepertinya akan lebih ringan.

Ada hal unik jika kita pindah rumah di Jepang, pertama kita harus mengurus peralihan alamat dengan mengisi form yang disiapkan di kantor pos. Secara otomatis semua surat akan dikirim ke alamat yang baru. Tidak perlu pasang pengumuman di koran tentang alamat yang baru. Setelah berada di rumah baru, urusan selanjutnya adalah lapor diri ke kantor kecamatan (kuyakusyo) untuk diubah alamatnya di KTP (Alien registration). KTP-nya tidak usah diganti, tidak perlu ongkos, dan tidak perlu datang berkenalan ke Pak RT/RW plus nyogok supaya KTP bisa jadi secepatnya. Tidak usah bahkan tidak boleh !!

Bagi pemilik rekening bank kantor pos harus segera datang ke kantor pos terdekat untuk ubah alamat (saya tidak paham kenapa harus begitu). Selanjutnya lapor ke kampus tentang alamat yang baru. Pemakaian air, listrik, gas pun secara otomatis akan dipindahkan ke alamat yang baru. Kita tidak perlu datang ke PLN atau PAM untuk mengurus lagi pendaftaran yang baru. Jika pindah dari kota yang lain pun sama, tidak perlu daftar ulang. Dengan sistem ini, data tentang pelanggan sangat rapih dan tertib.

Begitulah, tidak ada birokrasi yang sulit jika kita pindah alamat di Jepang.

Kemungkinan ini acara pindah rumah saya yang terakhir karena Hattori kaikan memperbolehkan mahasiswa tinggal hingga mereka lulus. Alhamdulillah….

Iklan
  1. Itulah hebatnya Jepun, meski maju dalam banyak hal tapi adat sopan santun, saling menghargai dan menghormati-nya masih sangat kental. Negara kita yang terkenal ramah belum tentu seorang profesor mau nganter mahasiswanya seperti itu ya Mbak. Beruntungnya dirimu.

  2. Mmmhhh…….. baik banget ya Ueda Sensei… Pasti sampean termasuk mhs “kesayangan” nya 🙂

  3. Mba Teni :
    ya, mba…alhamdulillah

    alief :
    ngga sy bukan mhsw kesayangan, cuma Ueda Sensei pernah bilang sdh menjadi tanggung jawab sensei ngurusin mahasiswanya, apalagi mahasiswa asing. Sensei itu spt wali (guarantor) kita di Jepang.
    Tapi aslinya…sensei saya itu memang baeeek banget !!

  4. Numpang nimbrung nih Mbak…

    Saya paling suka aksi ini : meluncur !

    Sama Mbak, rasanya seperti masuk Universitas Negeri setelah setiap malam mata ini dipaksa membaca dan belajar.
    .
    Kok di film2 Jepang jarang yang pake sepeda ya? Rumahnya jauh2 dengan tempat kerja or sekolah ya? Kata sensei saya, rumah di sana dianggap strategis kalau dekat stasiun kereta.
    .
    Kalau memuliakan tamu sepertinya juga kebiasaan masyarakat Indonesia Mbak… ^_^

  5. Selamat berkemas-kemas dan menikmati tempat tinggal baru yang lebih nyaman.

  6. Mbak Murni, kalau pindah “ku” (kecamatan) jangan lupa mengurus pergantian hoken. Besarnya hoken yg dibayar juga berubah, tergantung di “ku” mana kita tinggal. Terus ada yg kurang tepat : “Pemakaian air, listrik, gas pun secara otomatis akan dipindahkan ke alamat yang baru”. Saya rasa tidak sepenuhnya benar, mbak. Saat keluar dari apartemen, kita perlu telpon untuk mematikan gas (toho gas), listrik (chubu denryoku) dan mengurus pemindahan telpon. Sepertinya kali ini mbak Murni tidak mengurus hal ini karena pindahnya dari asrama khusus mahasiswa asing yang dalam beberapa hal banyak mendapat kemudahan administratif. Tetapi kalau pindahnya dari apartemen biasa, pasti akan mengurus hal-hal tsb. di atas.

    Oh ya, kelupaan satu hal. Kalau sudah pindah, wajib hukumnya bikin selamatan dengan hidangan donatnya misdu. Mumpung Tika masih di Nagoya, jangan lupa undangannya yah 😀 (selamatannya dicepetin juga nggak apa-apa.. he he )

  7. Pak Urip : makasiiih…

    Luthfi : (^_^)

    Pak Anto :
    bener juga, Pak. Saya belum pernah pindahan ke apartemen yg pake ngurus sendiri, jadi tdk tahu seluk beluk pengurusan air,listrik dan gas. Semuanya terima beres heheh..
    Ttg hoken, ya saya juga mengurusnya.

    Duuuh….Tika, kayaknya perlu nyewa misdoy di Kinjou buat selametan hehehhe…..

  8. Pramur :
    Film yg kamu tonton pasti film orang2 kaya, jd semuanya pake mobil. Coba kalo pemainnya anak sekolah ato mhswa asing…pasti ada adegan naik sepeda (^_^)

    Senseinya bener, rumah yg strategis adlh yg deket stasiun. Bangun tidur bisa lgsg loncat ke kereta hehehe….

    Memuliakan tamu itu kebiasaan manusia (^_^)
    Ga tau kalo di kalangan bangsa kucing, belum pernah namu (^0~)

  9. Kapan ya saya bisa pindah ke-rumah…? 😦

  10. Ass.Wr.Wb
    kalo di Indonesia, yang penting bayar di muka trus mau masuk pindahan kapan, terserah yang penting akhir bulan ditagih lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: