murniramli

Topik ngobrol dengan remaja putri Jepang

In Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Maret 8, 2007 at 11:01 am

Pertengahan bulan yang lalu saya diminta menjadi asisten `Get together and talk I-nya Aichi Shukutoku University.  Universitas swasta yang memiliki 2 areal kampus di Aichi prefekture ini dikenal sebagai kampusnya `ojousama` (princess).  Ya, mahasiswanya dominan wanita, dan jangan heran jika setiap saat kita bisa melihat wanita-wanita muda Jepang dengan dandanan wah, pakaian, tas LV, kalung mutiara, plus sepatu jinjit yang keren. Kampusnya pun sangat keren dan masih baru.

Program ini diadakan setiap tahun dengan tujuan mengajak mahasiswa untuk lebih akrab dengan pemakaian bahasa Inggris.  Selama 5 hari kami berdiskusi tentang berbagai topik yang sudah ditentukan oleh koordinator.  Tahun lalu saya pun ikut kegiatan yg sama. Tahun ini Prof Chikusa Ishibashi, pengajar bahasa Inggris di sana meminta secara langsung saya terlibat dengan alasan komentar yang saya buat pada akhir acara mereka anggap sebagai masukan berharga dan diterapkan pada seminar tahun ini.  Kalau tidak salah, saya mengomentari tentang waktu,  saya usul agar diadakan di musim semi atau dingin, jangan musim panas.  Karena walaupun berasal dari negeri tropik, saya benar-benar teler dengan panas lembabnya Nagoya.  Kedua saya mengritik sesi yang tidak memberi kesempatan banyak semua peserta berbicara.  Peserta yang malu bicara harus ditriger supaya mau berbicara walaupun grammarnya tidak benar, yang penting bicara.  Karenanya saya mengusulkan perbanyak sesi diskusi kelompok, debat dengan topik yang mereka bisa tune in. 

Topik diskusi dalam program tahun ini adalah : beauty, valentine day, part time job,  butcher cafe, dan pekerja asing di Toyota.  Sebagaimana dugaan saya, topik terakhir tidak terlalu menarik bagi mereka sekalipun sudah disertai program tour ke pabrik Toyota.   Ketika berdiskusi tentang beauty, mahasiswi diminta menyampaikan apa kriteria cantik menurut mereka dan menurut oorang Jepang.  Seorang mahasiswa mengatakan cantik menurut orang Jepang adalah bermata bulat, berbibir mungil, beralis melengkung indah dan berambut panjang bergelombang. Saya langsung teringat tokoh anime ` Sailor moon dan candy-candy. Pantas saja komik Jepang selalu menggambarkan tokoh perempuannya dengan mata besar bulat berbinar-binar.  Ketika saya ajukan pertanyaan bagian mana dari tubuhmu yang kamu anggap paling menarik ? Kebanyakan menjawab mata.  Memang kebanyakan mereka bermata indah, bulat, tidak seperti yang kita suka gelarkan kepada bangsa Jepang : kaum bermata sipit.

Diskusi menarik lainnya tentang masa depan.  Kebanyakan remaja putri yang berdiskusi dengan saya sudah mempunyai pacar dan ingin segera menikah. Ini fenomena menarik karena menurut survey wanita Jepang lebih suka menunda masa pernikahannya, yang membuat kelabakan pemerintah karena jumlah penduduk muda Jepang semakin merosot.  Ketika saya tanya kenapa ingin segera menikah ? Ada yang mengatakan karena ingin segera punya anak. Wah, ini juga harus didengar oleh PM Abe.  Pemerintah Jepang sampai memasukkan pelajaran demografi kependudukan ke SD dalam bentuk ilustrasi dan simulasi bahwa Jepang sebagai negara akan hilang 10 tahunan ke depan jika jumlah bayi yang lahir nol.  Sebagian dari wanita muda ini pun kelihatannya mantap dengan model pendidikan apa yang akan mereka berikan kepada anak2nya kelak.  Secara iseng saya tanya : “Bagaimana dengan pacar kalian, apakah siap menikah ?”  Ternyata semuanya mengatakan tidak siap. Rupanya para pria muda Jepang belum PD untuk memasuki dunia keluarga.  Ini bisa dimaklumi, para lelaki di Jepang harus berkantung tebal untuk menikahi para ojousama ini, dan kelihatannya saya lebih sering melihat pria muda yang degil daripada yang rapih.

Topik lain yang menarik dibicarakan dengan remaja putri adalah fashion.  Gaya remaja putri di Jepang biasanya dicirikan dengan baju yang berlapis-lapis, kaus kaki panjang (kayak punya si Pippie) dengan warna yang ngejreng.  Kalau sudah bekerja mereka cenderung menggunakan jas hitam, tapi yang masih kuliah atau sekolah, gaya baju harus seacak mungkin.  Kalau perlu yang kancingnya lengkap, dicopotin, celana jeans yang baru dikusemin, atau saya paling `ngeri` melihat remaja pria pakai celana jeans yang melorot, dan kalau dia jalan mesti sekali-kali diangkat….takut melorot beneran. Syarat lain dalam berpakaian : baju tidak boleh diseterika, kalau bisa sekucel mungkin.  Tapi lain dengan para ojousama.  Baju-baju mereka menunjukkan kelasnya : rapih, dan elegan, warnanya biasanya hitam, putih, pink atau warna pastel.

Topik lain yang saya ngga terlalu tune in adalah restoran, cafe dan karaoke.  Saya memang kerja di restoran, tapi tidak candu dinner plus acara nomikai (minum-minum) yang sangat digemari di Jepang.  Kalau ke cafe, bisa dihitung dengan jari karena saya tidak minum kopi dan ogah duduk nyaman plus nyantai untuk sarapan atau pas tea time. Apalagi karaoke.  Ini jagonya Pak Anto.  Gadis-gadis muda Jepang senang menikmati akhir pekan dengan makan malam di restoran terkenal atau sekedar pesta kecil dengan teman.  Kalau diundang seperti ini biasanya tidak ada istilah traktir seperti di Indonesia, tapi semuanya harus bayar sama rata.

Komik juga digemari remaja putri Jepang, selain play station.  Hanya para ojousama yang saya wawancarai kelihatannya suka dengan komik-komik romantisme, bukan komik shin chan atau chibi maruko chan yang saya suka baca di Bentoman. Bentoman adalah tempat makan siang dan makan malam saya kalau lagi lembur di kampus.  Saya suka makan di situ karena murah, dan teh gandum-nya yang sangat harum dan panas…slurrrp…!  Sambil makan kadang-kadang saya baca komik yang berderet rapih di lemari buku yang sengaja disediakan untuk pengunjung. Lumayan untuk menambah kosa kata dan perbendaharaan kanji.

Saat kami membicarakan Toyota, hampir semua mahasiswa tidak berkomentar apa-apa selain mengatakan kunjungan tour menarik dan mereka terkesan.  Ketika saya ajak berdiskusi tentang manajemen Toyota, mereka tidak tahu.  Ketika saya singgung buruh Toyota yang kebanyakan orang Brazil, bagaimana sikap mereka sebagai orang Jepang dan apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu integrasi komunitas Brazil atau orang asing di Jepang, atau apa kesan mereka ketika dunia menyebut kata `Toyota` ?  Semuanya tak tertarik membahasnya.  Mereka lebih suka mendengar saya berceloteh menguraikan panjang lebar tentang kemajuan Toyota, pasar mobil dan design mobil hybridnya, serta kritik saya tentang dampak negatif Toyota terhadap warga kota Toyota.  kebetulan saya mengajar pegawai Toyota bahasa Indonesia dan suatu kali saya mendapat selebaran protes masyarakat setempat tentang Toyota.

Saya juga bukan ahli di bagian mobil, tapi saya sangat tertarik dengan manajemen, apakah itu sekolah atau perusahaan. Banyak sekali yang menarik dalam manajemen perusahaan di Jepang. Total Quality Management yang menjadi perbincangan belakangan ini pun dikembangkan oleh seorang Amerika ketika dia bekerja di perusahaan di Jepang. Toyota juga mengembangkan trik-trik yang unik plus keberhasilannya mendongkrak keberadaan GM (General Motor) sebagai produsen mobil terbesar saat ini, menurut saya menarik sekali untuk dipelajari.  Saya sampai berniat membeli buku tentang manajemen di Toyota, sayang harganya tak terjangkau.

Anyway, dalam program bahasa Inggris kali ini saya menjumpai mahasiswa yang lebih atraktif dan mau ngomong sekalipun bahasa Inggrisnya masih amburadul.  Ngobrol sebenarnya tidak perlu kaidah yang sempurna, dan tidak perlu terbebani dengan grammar yang memusingkan.  Ngobrol adalah ibarat air mengalir, yang penting paham apa yang diobrolkan.

Iklan
  1. Dari TQM sampe amburadul … akhirnya akan makin tingkatkan kualitas berbahasa 🙂

  2. Numpang nimbrung nih Mbak…
    @ dedidwitagama
    TQM paan sih Pak?

    Total Quality Management

    @ murniramli

    Peserta yang malu bicara harus ditriger supaya mau berbicara walaupun grammarnya tidak benar, yang penting bicara.

    Setuju Mbak! Fenomena semacam ini juga sering muncul di kalangan mahasiswa S1 seperti teman-teman saya Mbak. Mungkin tekanan plus kharisma yang begitu kuat dari dosen ( di samping “aura kekuasaan” (Hehehe.. ini istilah yang digelarkan pada dosen dengan suara berat, gemuk, dan berwibawa) yang begitu kentara) juga turut mempengaruhi teman2 di S1 tempat saya dalam mencoba memberanikan diri untuk berbicara.
    .
    Kalau saya sih, walau tidak bisa bahasa Jawa (yang notabene bahasa mayoritas di kampus), biasanya saya paksakan untuk bertanya, sekecil apapun sepelenya kebingungan diri. Hal ini saya latih supaya berani ngomong. Walau kadang2 logat dan dialek melayu keluar juga sehingga menyebabkan orang sekitar terheran-heran, “hebat, pake bahasa malaysia..” ^_^
    .

    Sebagaimana dugaan saya, topik terakhir tidak terlalu menarik bagi mereka sekalipun sudah disertai program tour ke pabrik Toyota.

    Aneh, justru di kampus saya, soal beginian sering jadi bahan demo Mbak…. 0_0
    .
    Sorry, OOT:
    Kalo deskripsi mahasiswi di atas untuk mayoritas mahasiswi atau untuk kampus “wah” aja Mbak? Bagaimana dengan seragam siswi SMUnya? Masih seperti sailor moon? ^_^ V

  3. Mbak Murni, daripada pergi ke cafe mendingan minum kopi di misdo. Relatif murah dan bisa nambah sepuasnya, sampai teler…he he
    okawari onegai shimasu. 🙂

  4. Pak Anto :
    besok saya baito di misdo meijo koen, Pak. lagi sale lo, siapa tahu mo jalan2 ke meijo koen, sakuranya sdh ada yg mekar….sekalian selametan pindahan rumah (sekalipun sy belum pindah hehehe…keburu Tikanya terbang (^_^))

  5. Dikirain cuman orang indonesia aja yg kemampuan bahasa inggrisya kurang. Ternyata di Jepang kayak gt? Setahu saya negara yg pendudukya banyak yg gerti english ya india.

    murni : mungkin krn bekas dijajah Inggris (^_~)

  6. waduw kemampuang english saya juga terbatas nih bu..tapi dengan baca postingan ibu ini jadi PeDe buat ngomong english di depan orang2 😀

    murni : tapi kalo baca postingannya di blog, englishnya lebih OK daripada saya lo (^_^)

  7. Kemampuan bahasa inggris mahasiswa/i jepang kurang? Saya kira tidak demikian. Teman2 saya satu angkatan sebenarnya banyak yg memiliki kemampuan lumayan (baca tulis dan listening), hanya saja untuk urusan ngobrol alias conversation mereka sangat pemalu (krn takut salah ngomong).

    Saya pernah tanya mengapa mereka kurang minat utk ngobrol dlm bhs inggris. Jawabannya: orang jepang banyak yg ikut prinsip samurai. Daripada nantinya malu karena salah, lebih baik diam saja.

    murni : ya, tdk bisa dipukul rata memang. Tetapi saya lebih sering bertemu dg mahasiswa Jepang yg kurang mampu berbahasa Inggris, lisan maupun tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: