murniramli

Menolong itu gampang

In Islamologi, Renungan on Maret 12, 2007 at 8:04 am

Saya sengaja menulis judul di atas untuk mengingatkan saya akan kasus hari ini.  Semata untuk memberikan peringatan yang seharusnya saya ingat selalu : KALAU KAU MAU, MENOLONG ITU GAMPANG !!

Teman saya meminta tolong untuk menitipkan sementara boneka yang saya berikan kepadanya di rumah saya, padahal sementara saya harus segera berkemas pindah ke dormitori yang baru.  Saya agak mangkel juga ketika dia mengatakan tidak bisa mengambil barangnya karena akan mengirim barang pulang ke Indonesia dan ada gakkai (research meeting) di luar kota.  Respon mangkel saya muncul begitu saja, karena saya ingat teman sudah berjanji akan mengambil barang itu sebelum saya pindah, tapi karena kesibukannya dia menawar supaya barang itu saya angkut pula ke rumah baru dan nanti akan dia ambil.

Saya tidak bisa berkata apa-apa selain manyun dan berupaya menenangkan diri.  Untungnya komunikasi kami berlangsung via YM, sehingga dia tidak tahu betapa gondoknya saya.  1 menit, 5 menit berlalu dan saya belum mengiyakan permintaannya.  Saya beranjak meninggalkan layar komputer tanpa jawaban, dan mendirikan sholat dhuhur yang tertunda.

Setelah sholat, saya merenung, sebenarnya tidak ada susahnya mengangkat sekotak boneka yang tidak berat tersebut ke rumah baru, toh saya pindah dengan jasa mobil angkutan, sedangkan dia benar-benar terjepit waktunya.  Saya benar-benar egois dan mempersulit sesuatu yang mudah ! Saya langsung mengetik jawaban :”OK, barangnya saya bawa pindah. Silahkan diambil di rumah baru jika sempat”.

Maafkan saya teman karena emosi yang tak terkendali ini.

Saya sering minta tolong kepada orang lain.  Rasanya hampir setiap hari saya melakukannya.  Ada teman yang melaksanakannya dengan ikhlas, tapi ada pula yang berbelit-belit menjawab, yang biasanya saya simpulkan : Dia tidak bisa.  Karena seringnya minta tolong, kadang saya menjadi malu, saya benar-benar makhluk yang tergantung.  Bekerja di mister donut, saya selalu minta tolong diambilkan tray di lemari, karena tangan saya tak menjangkaunya.  Kalau tidak ada yang melihat, biasanya saya manjat ke atas meja adonan, tapi karena pernah kepergok dan dapat teguran saya menghentikannya.  Lalu saya usul agar dibelikan bangku kecil, supaya saya bisa memijak di atasnya untuk mengambil tray yang diletakkan tinggi-tinggi.  Permintaan ini belum dipenuhi juga, jadi saya masih minta tolong terus.

Ketika seseorang minta tolong, kadang saya terpikir : Kok, dia tidak memikirkan urusan saya sih ? Saya juga sibuk, bukan hanya dia ! Tapi ketika saya minta tolong saya lupa pada cara berpikir ini.  Sungguh amat picik !

Hari ini benar-benar berharga.

Pagi tadi saya merepotkan seorang teman untuk memaketkan barang ke kantor pos yang tidak bisa saya lakukan karena harus berangkat pagi-pagi mengajar dan akan pulang larut malam karena ada job di restoran.  Juga merepotkan dia dengan permintaan telpon kesana kemari. Mudah sekali saya minta tolong.  Atau karena teman saya itu sangat ringan membantu ornag lain ? Atau saya berada pada dilema, apakah memang harus saya minta tolong ?

Sehabis memudahkan urusan orang lain tidak ada yang berubah sebenarnya pada diri seseorang kecuali perasaan senang sudah beramal hari ini, jika orang itu menyadarinya.  Tapi terkadang sesudah menolong saya lupa mengingat ini karena emosi masih menyelubungi hati saya. Tidak baik ini !

Hati manusia memang sangat lemah dan selalu bolak balik antara mengikuti yang benar atau yang salah.  Dia gampang sekali tergoda oleh syeithan.  Ya, muqallibal quluub, tsabbit qalbii `alaa diinika` (Wahai Yang membolak balikkan hati, mantapkan hati apa kepada agamaMu).  Doa ini seharusnya terus saya panjatkan ketika hati saya mulai condong kepada kemunafikan dan ketidakpedulian. Sayangnya saya banyak lalainya daripada ingat (>_<)

Astaghfirullaahu al adziim…..manusia gampang sekali berbuat dosa, sulit sekali berbuat kebaikan ternyata ! 

Iklan
  1. Numpang nimbrung nih Mbak…
    “Ada teman yang melaksanakannya dengan ikhlas, tapi ada pula yang berbelit-belit menjawab, yang biasanya saya simpulkan : Dia tidak bisa. ”
    Hmm… Saya juga sering berpikiran sama Mbak. Biasanya kalau ada teman yang menjawab berbelit-belit, saya langsung menyimpulkan, kalau dia tidak bisa. Dan ini berlaku juga untuk pertanyaan semacam “Kenapa terlambat?” atau “Kenapa tidak datang saat kelompok membutuhkan Anda?”. Kalau jawabannya sudah menjurus ke OOT, biasanya saya langsung berhenti “menekan” dengan pertanyaan demi pertanyaan. Takut dia makin bingung dan (biasanya) tambah bohong.
    .
    Padahal, kejelekan saya juga seperti itu. Kadang kalau tidak sempat datang di rapat tim, misal karena ada hal2 yang lebih penting, saya tidak langsung bilang ke teman. Saya cenderung “mengiyakan”, namun pada akhirnya saya langgar. Jadi, mulai sekarang, biasanya kalau sudah ada janji dengan orang lain, saya langsung bilang terus terang, biar tidak mengecewakan teman.

  2. Ya betul menolong itu gampang, saking gampange sampe sering ketemu sm orang yg suka memanfaatkan mbak, kerjanya minta tolong melulu, giliran kita minta tolong balik dia ga bisa, hehehehe… tapi ya ga papa…klo lagi bisa ya bantuin aja, ntar urusan kita juga jd di mudahkan sm yg di Atas… :), enjoy dormitory baru

  3. Pramur :

    Jadi, mulai sekarang, biasanya kalau sudah ada janji dengan orang lain, saya langsung bilang terus terang, biar tidak mengecewakan teman.

    Pramur, teman yg baeek ya ….(^_^)

    Mba Evy :
    jangan2 sy termasuk org yg minta tolong mulu (>_

  4. sholat emang menjauhkan dari perbuatan keji dan munkar ya bu

    murni : bener, Pak, saya sudah membuktikannya

  5. kita ini lebih dari peminta tolong, tapi sebagai pengemis… kepada manusia atau kepada sang pencipta

    murni : duuh, Pak Urip…komentar Bapak ini membuat saya menjadi makin mengkerut…rut …rut, malu kepadaNYA

  6. Menolong itu memang gampang, lebih gampang lagi kalo ada imbalannya 🙂

    murni : imbalannya jelas ada dari Yang Mempunyai Segala Sesuatu (^_^)

  7. Menolong itu gampang, jika ada org yang menyusahkan kita anggap aja itu suatu rejeki bagi kita, tak selamanya menolong itu merugikan, suatu saat org yg kita tolong bisa jadi kita butuhkan… ya apapun itu, kita harus ikhlas, Allah pasti membalas sekecil apapun perbuatan kita, so menolonglah selagi bisa ^-^

  8. Ikutan sharing ni mba/Bapak/Ibu.
    menurut saya kalau mau memberi ya memberi saja ga usah berpikir ada imbalan atau balasanya,yang jelas tidak akan sia sia amal seseorang jika kita ikhlas.
    Insya Allah bagian kita ga akan kemana bapak/Ibu.
    tidak akan menjadi miskin orang yang hoby memberi dengan ikhlas,saya sudah membuktikanya.
    saya sering sharing juga dengan teman teman milis saya tentang kehebatan memberi/berbagi.
    kami sering di tantang oleh mentor/temen temen yang bergabung dengan milis ini.
    kami di tantang untuk menyisihkan 20 persen dari
    penghasilan kami.
    pada awalnya banyak yang merasa ragu atau saling bertanya dalam hati,masak iya sih bisa sedahsyat yang di ceritakan oleh temen2 milis.apalagi background kami adalah wiraswasta yang kadang kadang susah untuk meluangkan waktu untuk hal seperti itu.dan sering pesimis jika melihat kondisi keuangan yang kurang menentu.
    tapi belum percaya kalau belum melakukan sendiri(mungkin itu sifat dasar kebanyakan manusia).
    tapi setelah kami beraksi dengan tantangan temen2 hasilnya sungguh luar biasa,Subhanallah
    Maka dari itu marilah kita bersama sama untuk belajar Ikhlas.
    memang berat pada awalnya tapi kalau kita sudah beraksi Insya Allah segalanya akan lancar lancar saja.kuncinya Sabar,Syukur,Ikhlas,dan Istiqomah
    Anda Berani Untuk Mencoba?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: