murniramli

Tiga prinsip `mendidik` di sekolah Jepang

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Maret 13, 2007 at 7:53 am

Ada tiga kata penting yang sering sekali saya dengar ketika mendengarkan penjelasan guru-guru di Jepang saat kunjungan sekolah atau mengikuti seminar-seminar. Tiga kata itu adalah : `yutori kyouiku`(ゆとり教育)、ikiru chikara (生きる力)、dan kokoro kyouiku (心教育).

Yutori kyouiku artinya memberikan space dan waktu yang leluasa kepada anak untuk berkembang. Dengan prinsip ini, sekolah di Jepang yang semula libur hanya dua kali hari Sabtu setiap bulan, berubah menjadi 5 hari sekolah. Setiap Sabtu semua sekolah libur. Kebijakan ini pun menyebabkan 30% content pelajaran dipangkas, dan diperkenalkan course baru yaitu `Sougouteki gakusyuu jikan` (総合的学習時間)、integrated course, yang bertujuan untuk mempelajari materi yang lebih membumi. Mengapa demikian ? Karena siswa diajak untuk mengaplikasikan semua ilmu yang dipelajarinya di mata pelajaran yang lain untuk memahami fenomena alam, lingkungannya, kampungnya, dan orang-orang sekitarnya. Dengan kebijakan ini pula siswa hanya belajar materi pokok saja, sedangkan mata pelajaran yang sekunder disajikan dalam integrated course.

Yutori kyouiku mulai dipertanyakan keefektifannya saat ini karena merosotnya prestasi akademik siswa-siswa Jepang di tingkat international (PISA dan TIMMS). Orang tua pun khawatir. Karenanya tahun 2005 Kementrian Pendidikan mengeluarkan kebijakan penerapan `zenkoku gakuryoku tesuto` (全国学力テスト), yaitu test kemampuan akademik secara nasional.

Ikiru chikara artinya potensi atau kemampuan untuk hidup. Dalam bahasa kerennya disebut `zest of living`. Sekolah harus mendidik siswa yang siap berkembang, sehat jasmani, memiliki keinginan untuk hidup (ini mungkin karena banyak anak Jepang yang lebih suka bunuh diri), plus mempunyai semangat bekerjasama yang baik. Aplikasi dari prinsip ini, di sekolah-sekolah Jepang diperkenalkan kegiatan `bukatsudou` (club activities), semacam eskul di Indonesia, yang memungkinkan para siswa berkembang sesuai minatnya. Dampak negatif dari kegiatan ini, banyak siswa yang tertidur di kelas selama jam pelajaran karena kecapekan.

Kokoro kyouiku artinya pendidikan hati/kejiwaan. Anak Jepang harus bermental baja, tidak mudah putus asa, dan melakukan tindakan bunuh diri hanya karena diejek teman. Anak Jepang pun harus berkembang menjadi anak yang pemberani, dermawan, dan segala akhlak mulia lainnya. Bagaimana aplikasinya ? Di sekolah, guru harus memperhatikan kondisi satu per satu anak didik, membantu keterlambatan belajar mereka satu per satu, bekerjasama dengan orang tua. Dampak negatifnya : guru makin lama harus berada di sekolah, karena harus mengamati dan mendata plus mendiskusikan perkembangan anak didiknya dengan pejabat sekolah atau sesama guru.

  1. Bu Murni, materi pelajaran pokok buat siswa itu apa saja? Yang sekunder juga apa saja? Itu berlaku untuk semua tingkat sekolah?

    Kalau prinsip pendidikan Indonesia apa ya..? Saya lupa (atau memang belum tahu….).

    Terimakasih atas penjelasannya….

  2. `yutori kyouiku`(ゆとり教育)、ikiru chikara (生きる力)、dan kokoro kyouiku (心教育).

    Disini tampilannya kok tanda tanya ya… Itu huruf jepang ya..

  3. @Hari Sudibyo

    Iya, itu huruf Jepang. Cara nginstallnya di Windows XP:

    “go to ‘Regional and Language Options’ in the ‘Control Panel’, go to the tab ‘Languages’ and select both checkboxes in the dialog box. Click ‘Apply’. This will install ‘Arial Unicode MS’, ‘MS Mincho’ and ‘MS Gothic’ families of fonts, all of which contain the Hiragana and Katakana scripts, as well as a substantial majority of the Kanji characters used.”

    (dari Wikibooks

    Di distro-distro Linux modern seperti Ubuntu, font berbagai bahasa (termasuk Jepang) terinstall secara default :).

    murni : makasih ya Agro…hebat euy sampe ngedata kanji sebegitu banyak….blog-e ta link yo !

  4. Sepertinya di Indonesia …. Ayo mbak ndang pulang ke Indonesia wae.

    murni : saya mo pulang kalo partai gurunya sdh jadi (^_~)

  5. Mbak/Bu Murni.
    Saya dengar guru di Jepang itu dioplos atau diputer. Banyak manfaatnya tentunya. Maksimal 8 tahun di sekolah yang sama, setelah itu harus muter. Nah, pertanyaan atau mohon konfirmasi lebih lanjut, muternya itu se-kota, propinsi, atau malah “zenkoku”. Di Indonesia juga ada tampaknya aturan ini. lalu, seberapa jauh konsistensinya?

    murni : ya benar, ada sistem rotasi. Berlakunya antar prefecture. Misalnya di Nagano, kepsek SMA Tatsuno yang ada di Tatsuno shi tahun ini akan dimutasi ke SMA Nagano, tapi beliau milih tetap jadi guru di Tatsuno. Detilnya insya Allah akan saya cari infonya. Terima kasih, Pak.

  6. mudah2an di Indonesia bisa mendidik seperti itu ya, mental itu penting banget, itu rahasianya jepang bisa maju pesat ya, padahal perang dunia ke 2 ancur2an di keroyok sekutu

    murni : berdasarkan pengalaman sy ketemu dg banyak org Jepang yg ngga mau dikalahkan oleh keadaan. Kalimat yg selalu mereka ucapkan : `zettai makenai` yg kira-2 artinya : `pokoknya ga boleh kalah`. Tapi banyak juga yg milih bunuh diri kalo gagal (ini kalo merunut berita TV)

  7. Prinsip yang bagus, smoga masih ada prinsip-prinsip yang lain ?

    murni : prinsipnya masih banyak tentunya, Pak
    masih harus dipelajari (^_^)

  8. Bagus…bagus..Sugoi…boooo.Moga-moga indonesia juga menerapkan prinsip itu..AYO INDONESIA MAJU TERUSSS…jangan mundur

    yuuk… (ikut ngomporin !)

  9. Ya… saya juga nunggu kapan tu bu murni pulang ke Indonesia !
    Kalau nunggu sampai ada partai guru, jawabnya : “mungkin kalau yang jadi presiden itu berasal dari guru”.

    Jawabnya : “bisa saja, kalau seluruh guru di Indonesia bersatu dan sepakat untuk memilih presiden yang asalnya dari seorang guru”. Lho ..kok …malah ngomongin presiden…! Mimpi kali ya !

    murni : hehehe…partai guru sebenernya cuma khayalan.
    Kata partai memang cenderung bermakna politik, sedangkan mimpi saya adalah bahwa guru2 bisa berkolaborasi dlm mengembangkan penelitian pendidikan. Mungkin ga perlu bikin partai…

  10. Di negeri Jepang dikenal 3 prinsip mendidik di sekolah, senarai di Indonesia ;
    yutori kyouiku`(ゆとり教育)、= Ing ngarso sung tulodo
    ikiru chikara (生きる力)、 = Zest of Living = Ing madyo mangun karso
    dan kokoro kyouiku (心教育)= Tut wuri handayani

    Sedang di negeri Indonesia, menganut berapa prinsip ya..? sebenarnya sama juga khoq, berhubung sukanya “Ilmu Protolan” ya cukup diringkas, jadi singkat & padat, lha ya itu tertinggal satu, sedang dua lainnya dilebur entah dibuang kemana?
    Coba di ingat baik-2 :
    Falsafah Pendidikan Perguruan Taman Siswa ing Ngayogyokarto Hadiningrat, telah difikir & dinalar juga urutannya sangat mendalam oleh Ki Hadjar Dewantoro diakui oleh Depdiknas dengan logonya Tut Wuri Handayani. [asal bukan Tut Wiru Handayani, Wiru= lipatan kain jarit ibu-2] paling seneng kalau nge Tut [mbak] Wuri Handayani… bolehkan… hehehe. selamat

    Ing ngarso sung tulodo = di depan [sifat pemimpin] kasih contoh baik /tauladan buat siswa didiknya (buat diingat & untuk ditiru)

    Ing madyo mangun karso = di tengah [sifat kakak /sahabat] membangun kepercayaan diri/membim- bing tumbuhkan prakarsa siswa (belajar meniru)

    Tut wuri handayani = dibelakang [orang tua] kasih kepercayaan untuk dilaksanakan sendiri & tinggal diawasi dalam proses meniru/duplikasi
    siswa didiknya [minimal, terserah ; maksimal, zero defect]

    @Tut Wuri Handayani
    Dari ke 3 motto, diambil satu dan kebagian buntut nya lagi, ternyata membawa khasiat wal manfaat, kualitas pendidikan di Indonesia dan didalam berbagai sektor cukup mengekor saja, para anak didik/siswa/murid sekarang menjadi lebih Percaya Diri, Pemberani … kepada orang tua, Guru, Pimpinan dan selanjutnya… jadi mengikuti apa kata mereka, kan Tut Wuri Mbebayani, tapi tunduk kepada warga asing ;

    Coba mari diambil dari bagian tengah kedepan, ….

    @Ing madyo mangun karso
    Kalau gaya ajar fasilitator itu kan elastis sampai molor-mengkere/ut kemana-mana. Sebetulnya guru lebih diringankan tugas belajar mengajarnya dan mengetahui lebih detail sampai dimana penguasaan/pemahaman materi si murid atas pelajaran diberikan ; bagi si murid, mereka merasa lebih enak/luwes sosok guru lebih bersahabat sebagai teman diajak diskusi. Membangkitkan rasa percaya diri & rasa bertanggung jawab diantara murid-murid. Cocog dengan maksud Ki Hadjar Dewantoro.

    @ Ing Ngarso sung tulodho
    Tidak ada keharusan bagi seorang guru untuk dijadikan contoh perilakunya, sekarang! berbeda dengan jaman dulu. Profesi benar-benar mulia, benar-benar pahlawan ikhlas tanpa tanda jasa. [di pabrik sekolahnya calon Guru [IKIP], pelajaran budi pekerti sudah dihapuskan, mereka yang mengerti sudah sepuh-2 & banyak pada poelang ke rahmatullah, jadi terputuslah nilai/semangat/spirit Sosok Guru = di gugu lan ditiru, yang ada tinggal Wagu dan Saru? = khekhi/kaku & memalukan].
    Peminatnya [kader penerus generasi] kualitasnya juga parah, mereka terlempar/tersisa dari persaing -an keras masuk UMPTN [ujian masuk perguruan tinggi negeri].
    Motivasi jadi guru sekadar pemenuhan hajat isi perut. [gak semuanya sih, sebagian besar, iya].
    Bisa digambarkan, betapa naifnya, bila sebagai orang tua siswa, Anda minta/menuntut kualitas tinggi dari mereka [guru] untuk mengajari dan mendidik sepenuhnya putra-putri Anda dengan kualifikasi minimal setara dengan orang tuanya! Sementara Anda sendiri, tak bersedia dan biarlah orang lain yang menjadi/menjalani profesi Guru. Anda lebih memilih bidang lain yang lebih menjanjikan, baik dari segi materi maupun lainnya dan oleh karena itu Anda, berani bayar mahal!
    Ini maunya menang sendiri ora adil ya.

    Jadi tjukup dengan mengajarkan [intelektual] tanpa harus mendidik [jiwa/mental] siswanya adalah…dalih diajukan oleh pengajar professional. Mengajar sesuai target plan telah ditunaikan, gugur sudah kewajiban. Kalau mau mendidik, itu bagian dari tugas guru PMP/[budi pekerti, telah lama dihapuskan, wong gurunya sama tak pahamnya, apalagi yang bisa diajar/didikkan ke muridnya? Yang bener @guru adalah tata krama/pendidik hidup,bukan bagian profesi pelajaran guru lainnya? Jadi symbiose mutualisme… begitu kali ya

    Dan jangan lagi diributkan, jika lahir generasi-generasi baru, sekualitas tak jauh dari induk semangnya! Alias kualitas pendidikan Indonesia me-rosot/-lorot! Disini siapapun Minister monbukagakusho rasa Indonesia, tak bisa berbuat banyaklah…. Siklus melorotnya kualitas [moral] pendidikan jadi tak ada ujungnya?

    Barangkali ini terjadi di kalangan pendidikan modern/barat, sesuai dengan psikologi bebaskan anak untuk menentukan pilihannya sendiri orang tua sekadar memenuhi kewajibannya [tut wuri handayani]? ; Di kalangan pesantren, masih kuat diberlakukan pendidikan dengan gaya Ing ngarso sung tulodho. Sebagai panutan/yang dituakan, Kyai/Ajengan pimpinan pondok pesantren tentu poenya seabreg kelebihan dibanding yg lain. Kharisma dan menata perilaku sesuai tata susila berlaku amat dijaga… & jadilah murid-2 itu tunduk patuh juga hormat sekaligus sopan skaligus santun, karena ada acuan dijadikan contoh hidup!.

    Saat ini yang terjadi adalah tidak demikian, dan baru kumengerti, latar belakang alasan Minister Monbukagakusho rasa Indonesia, menyunat trilogi motto diatas menjadi tinggal satu dan yang dipilih bagian buntut bukannya nomor satu atau dua : itu
    Disebabkan oleh karena kualitas berfikir “sedemikian rupa”, secara psikologis guru “segan atau enggan” entah barangkali tidak siap untuk diajak tukar pendapat [kata bu murni fasilitator, bukan begitu ibu?] yach barangkali terlalu a lot of / ketat /strick wacana ilmunya, lebih suka melakukan komunikasi searah alias instruksi, membatasi dual komunikasi atau kerennya mau menang/dominasi sendiri.
    Atau bisa jadi, kebanyakan muatan / titipan/intervensi antar departemen, karena semua ingin berpartisipasi [cari amal jariah] mencerdaskan bangsa yang harus dijejalkan dalam yang namanya kurikulum…pendidikan untuk dimuntah/mentah- kan sang guru agar ditelan bulat-2 oleh anak didik [gak diberi kesempatan bertanya/menolak/emoh makan] pokoknya telan titik.

    Hehehe.. balada pendidikan di Indonesia
    …Gurunya puyeng… muridnya gendeng, kebanyakan ilmu ndak ada yang nyantol. Ibarat butir air hujan jatuh ke tanah gundul tak sempat meresap ke pori tanah, tak ada akar penahan.
    Jadi aliran sungai bawah tanah, tetapi tergelontor bersama butir pasir dan terjadilah banjir. Habis tak bersisa, hanyalah bencana lingkungan, sebentar lagi ditender proyekkan. Hehehehe…

    [entah harus sedih atau tertawa yang bener yang mana nih? Karna ku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi…?
    Karena pendidikan sudah menjadi komoditi ekonomi!, bukan menjernihkan hati nurani?]
    Inilah ilmu protolan, hilangkan unsur ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, ….duh gusti kapan situasi begini akan berakhir dan berubah menjadi lebih baik…..?

  11. hari ini rabu 02 Mei 2007 kaum pendidik sedang memperingati hari kelahiran tokoh guru pejuang dan pendidik indonesia alm. Ki Hadjar Dewantoro, beliau dikenal dengan 3 prinsip pendidikan yang selalu dikumandangkan dengan : [urutan jangan diubah atau disunat, hilang keutuhan & efeknya] 1. Ing ngarso sung tulodho+ 2. Ing madyo mangun karso+ 3. Tut wuri handayani Namun hingga hari ini dalam upacara sambutan Mendiknas hanya menekankan point ke tiga, tanpa upaya mengembalikan kedua potongan/ di amputasi tsb menjadi utuh di tempatnya. Mengapa, karena point 1 & 2 mengacu kepada bagaimana perilaku moral pendidik [sensei] seharusnya! ; yang dilaksanakan adalah tuntunan bgmn. murid/siswa berperilaku sopan & santun ; jadi Guru boleh berperilaku lebih leluasa, tanpa harus sungkan/takut dicontoh oleh muridnya. Keteladanan itu selalu untuk murid & bagi orang tua/guru, keteladanan itu, opsi “pilihan bebas” dijalani atau tidak, sebagai penghormatan/ penghargaan kepada yang dituakan, begitukah?

    Seandainya demikian …(kali) akan terjadi pembalikan “peran faktual” yang muda pingin cepat2 menikmati privilage kaum dewasa & yang tua ingin muda kembali. Bangsa kita ini paling ahli dalam hal mensiasati pakem/aturan, terlalu menggampangkan persoalan yang sebenarnya pelik. Sebaliknya terlalu mempersulit persoalan yang sebenarnya gampang ;

    Keinginan visi & misi pendidikan itu, bagaimana kita membentuk karakter lulusan yang Mandiri, selalu haus untuk terus maju dengan belajar setiap saat, berkarakter dan berkepribadian yang luhur sesuai ajaran para Pinisepuh. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah ilmu “katon” yang dapat dipelajari asal berkemauan & mandiri.

    lantas siapa seharusnya memberi tahu mata, telinga & otak tentang bentuk ilmu “katon”
    sudah tentu sang Guru ; Sedang membentuk karakter lulusan yang Mandiri, selalu haus untuk terus maju dengan belajar setiap saat, berkarakter dan berkepribadian yang luhur sesuai ajaran para Pinisepuh… bukan dipelajari tetapi suri tauladan yg. ikhlas dilakukan sebagai bentuk sikap gaya hidup dijalani sehari-hari. Cermin Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, pakem Ki Hadjar Dewantoro disunat & dirubah urutannya!
    Lantas kepada siapa murid kan bertanya & memandang? ….

    hayo kita baca dengan konsentrasi dan tenang jauhkan syak wasangka dan akui kalau benar demikian adanya, jika tidak betulkan klirunya
    dimana, jika dibetulkan pikiran…. lantas dibenarkan qolbu dan diyakini jiwa…. selanjutnya kerjakan & carilah jalan keluarnya sesuai apa telah dibaca dan dipelajari oleh Anda semua : OK!

  12. pada prinsipnya memang pendidikan bertujuan untuk mengembangkan tiga kemampuan yang ada pada manusia yaitu; kemampuan berfikir, kemampuan bermoral, kemampuan berbuat ,kemampuan berfikir dikembangkan dg.pemberian informasi sebanyak banyaknya, kemampuan bermoral dikembangkan dg.contoh perilaku baik oleh guru,orang tua, juga lingkungan, sedangkan kemampuan berbuat dikembangkan dg.memberikan latian-latian yang cukup disinilah peran guru menjadi penting mengingat dari ketiga aspek pengembangan itu guru sebenarnya yang punya porsi yang terbesar dan saya setuju dg.ketiga prinsip tersebut

  13. hallo, boleh minta tolong ngga? di blogku aku ngulas tentang japanese name generator? yg mo ditanyain seberapa akurat ato paling nggak bener ngga sih hasil terjemahnya? thanks ya sebelumnya! 😀

  14. […] menarik lain adalah tentang metode belajar `yutori kyouiku`(ゆとり教育) di blognya ibu murni ramli dan di blognya pak sani roy, dimana anak/pelajar tidak terlalu dibebani dengan pelajaran sehingga […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: