murniramli

Survey Gigi di sekolah-sekolah Jepang

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Maret 16, 2007 at 11:13 am

Saya sedang mengutak-atik data statistik di situs MEXT (Kementerian Pendidikan Jepang) dan ketemu dengan hasil survey kesehatan sekolah di Jepang yang diadakan sejak tahun 1985-2004.  Ada 3 hal yang disurvey yaitu :

1. Tinggi dan bobot badan siswa

2. Kerusakan gigi (jadi ingat mba Evy nih (^_~)

3. Penderita Asthma

Selain survey kesehatan, ada pula survey motorik siswa, misalnya kemampuan berlari, melompat, dan melempar bola.  Pantas saja pendidikan olah raga di Jepang benar-benar serius dikembangkan, bahkan hasilnya sudah kelihatan di pesta olimpiade.  Dulu sensei saya pernah bercerita bahwa para peneliti olah raga di fakultas pendidikan pernah mensurvey kenapa ada anak yang berlari dengan cepat dan kenapa ada anak yang tidak bisa lari cepat ? Alhasil ditemukan jawabannya, bahwa ketika berlari anak harus mengayunkan tangan supaya arah larinya lurus dan lebih melesat.

Yang menarik dari survey kesehatan itu adalah kenapa nomor 2 dan nomor 3 menjadi penting banget ? Nomor 2 sudah dijawab oleh Mba Dokter Evy yang sudah bercerita panjang lebar tentang `pentingnya senyum yang indah (tanpa gigi bolong n berkarang)`.

Berdasarkan hasil survey, anak-anak Jepang yang menderita gigi rusak pada tahun 1985 sekitar 90% lebih, lalu menurun secara bertahap, hingga pada tahun 2004, anak TK yang bermasalah dengan giginya ada 56,9% kasus, SD 70,4%, SMP 64,6% dan SMA 76,0%.  Dan perlu dicatat, penderita anak perempuan lebih banyak daripada anak laki-laki.

Saya tidak tahu sejak kapan program gosok gigi digalakkan di sekolah-sekolah Jepang, tetapi setiap kunjungan ke sekolah, sehabis lunch, pasti ada acara sikat gigi berjamaah.  Kegiatannya pun sangat menyenangkan karena memakai iringan musik, jadi bisa sampai merem-merem…ngantuk (^_^)

Sekalipun banyak teman-teman Jepang saya yang giginya lebih rusak daripada saya, tapi saya salut betul dengan kebiasaan menggosok gigi.  Saya bahkan kadang-kadang bertemu Professor Hattori di toilet, dan kami bisa ngobrol sambil sikat gigi….hehehe….ga jelas ngooong aaa…!!! (>_<)

Bukan gigi-nya saja yang penting, tapi kegiatan mendata kesehatan peserta didik adalah kewajiban mutlak pemerintah.  Selanjutnya arah/kurikulum pendidikan fisik/raga, jiwa, dan otak dikembangkan berdasarkan data-data ini.  Sayang sekali, banyak kebijakan pendidikan yang diproduksi di Indonesia tidak berdasarkan data akurat, padahal sudah banyak ahli kesehatan, ahli matematik, bahkan tukang komputer, dan tukang survey-nya yang siap dipakai.

Iklan
  1. Di Sekolah saya gak punya data kesehatan sama sekali, parah bener, gimana memulainya kalau pimpinan gak perduli.

    hmmm…susah juga kalo pemimpinnya ga begerak2 ya
    Hrs ada movement pembaharuan dr para ortu (^_^)

  2. Ya mbak, Oral hygiene dianggap penting dan mempengaruhi kesehatan secara umum, bila gigi ga sehat maka pertumbuhan secara umum juga kurang, ntar aku terusin deh di artikel , terimakasih tautannya 🙂

    murni :

    yo, mba sama-sama

  3. Trima kasih link data MEXT-nya Mbak. Saya tertarik dengan fasilitas2 fisik penunjang pendidikannya, seperti museum, perpust. dll-nya ;-). Sankou ni narimasu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: