murniramli

Orang-orang brilian pulang

In Pendidikan Indonesia, Serba-serbi Indonesia on Maret 27, 2007 at 6:05 am

Hari Sabtu tanggal 17 Maret 2007,  PPIJ Nagoya mengadakan acara suksesi kepengurusan, sekaligus updated kegiatan penyaluran bantuan kepada korban gempa di Yogyakarta, plus mendengarkan presentasi ilmiah beberapa lulusan universitas di Nagoya yang akan pulang tahun ini.

Saya tidak mengikuti acara secara lengkap, hanya sempat mendengarkan presentasi beberapa senior yang membuat saya berdecak kagum. Banyak sekali manusia Indonesia yang brilian di sini !

Hari itu ada 3 Doktor yang sempat saya dengarkan presentasinya :

1. Bpk Anto Satriyo Nugroho di bidang computer science

2. Bpk Risa Suryana di bidang engineering

3. Bpk Wisnu Jatmiko di bidang computer science

Pak Anto yang sudah 15 tahun di Jepang tidak menyampaikan banyak tentang hasil penelitiannya, tetapi lebih banyak menguraikan apa alasan kepulangannya dan memutuskan berhenti sebagai dosen di Chukyo University, salah satu universitas swasta bergengsi di Nagoya.  Pak Anto yang tampak di mata saya sebagai Bapak yang sangat berat berpisah dengan keluarga, akan meneruskan dan membangun karirnya di BPPT.  Banyak sudah hal yang dibagi Pak Anto kepada kami, beliau dan istrinya terkenal sebagai orang yang sangat padat informasi tentang Nagoya dan Jepang, terutama yang berbau-bau administrasi sebagai warga asing di Jepang.

Pak Risa meneliti tentang struktur dan morfologi permukaan silika akibat interaksi hidrokarbon dan silika tertentu.  Suatu bidang yang saya tidak begitu mudeng, tetapi kelihatannya akan sangat berkembang di masa mendatang, mengingat lapisan silika semakin banyak digunakan di Indonesia.  Pak Risa akan pulang ke institusinya, UNS, Solo. 

Satu lagi, pakar komputer sains, Pak Wisnu Jatmiko menyampaikan hasil kerjanya selama berada di Univ. Nagoya yang berkaitan dengan odor sensor.  Suatu penelitian yang menarik yang akan dapat dikembangkan luas untuk mendeteksi kebocoran gas dalam industri.  Secara iseng saya berkelakar, seandainya dapat mengembangkan odor sensor untuk memberantas korupsi, alangkah bagusnya. 

Dengan khayalan yang terlalu nonsense pula saya membayangkan kalau odor sensor itu nantinya dapat mendeteksi bau orang yang naga-naganya akan melakukan korupsi dalam masa kerjanya.  Alat digunakan saat seleksi pegawai di Depkeu, DEPAG, DIKNAS, DEPTAN atau di departemen mana saja yang tergolong berpotensi korup tinggi. Hehehe…memang saya tukang ngimpi (>_<).

Begitulah, banyak orang pintar yang akan pulang ke tanah air.  Selain mereka, ada ahli di bidang pertanian, Pak Lalu Dzulkifli, ada pakarnya clean governance, Pak Yond Rizal, ada pakar olah raga, Pak Agus Rusdiana, dan masih sederet lainnya.

Saya yakin tidak hanya dari Jepang orang-orang brilian akan pulang bulan-bulan ini, tapi dari negara lain pun akan berdatangan di Indonesia. Hanya satu kekhawatiran saya dan juga mungkin rekan-rekan yang akan pulang, bisakah kami berkembang di bumi pertiwi ? Dalam kelakarnya, Pak Risa menjawab motif permukaan silika yang didapatkannya bisa dijadikan motif batik untuk dijual di pasar klewer (^_^).  Sebenarnya beliau pun tidak yakin pengembangan penelitiannya karena ketiadaan alat di Indonesia.

Saya jadi bingung, apa sebenarnya yang seharusnya dipelajari orang-orang muda Indonesia dari negara-negara maju ? Teknologi yang tidak bisa diterapkan di Indonesia tetapi sudah merajai dunia ? Teknik rahasia yang hanya orang terpercaya yang bisa menuntutnya, tetapi Indonesia tidak membutuhkannya sekarang ini ? Ilmu-ilmu baru untuk diperkenalkan kepada para mahasiswa agar tidak kuper kelak ?

Barangkali ini hanya kebingungan saya, sedangkan rekan-rekan yang lain sudah mantap dengan ilmu yang ditekuninya.

Andaikan….

Andaikan boleh diatur agar kami yang menuntut ilmu di negeri orang ini dibebankan untuk belajar sesuatu yang nyata pengembangannya di Indonesia, sehingga sewaktu pulang nanti kami tahu betul apa fakta yang dihadapi ibu pertiwi, jika dia sakit, di mana letak penyakitnya, jika dia berjerawat, bagaimana membuat kulitnya mulus kembali.

Seperti halnya bapak burung yang terbang merantau mencari nafkah, ketika dia pulang dia tahu bahwa sarangnya harus dibangun lebih indah dari sebelum dia pergi, begitulah yang kami inginkan.  Apa daya, ketika kami pulang, penghuni sarang kami tidak siap dengan `ilmu` yang kami bawa atau `ilmu` yang kami bawa terlalu mengawang-awang.

“Banyak hal yang bisa kalian lakukan untuk Indonesia”, ya, begitu komentar awam.  Tetapi kata `banyak` itu sesuatu yang absurd, tak jelas dan tak pasti.

Pak Anto beralasan, pulang lebih cepat akan lebih cepat pula mengembangkan karir di Indonesia.  Saya justru terpikir mengembangkan karir saya di Indonesia sejak saya masih di Jepang.  Saya merasa ada yang `hilang` dari keberadaan saya di Jepang, yang seharusnya saya bina dengan baik.  Silaturahmi, link, network, kerjasama.

Saya terlalu terbuai dengan buku-buku diktat, kuliah dan penelitian-penelitian.

Jika ingin membumi, maka kenalilah orang bumi.  Jika ingin benar-benar tahu tentang sekolah, bergaullah dengan para guru, murid dan kepala sekolah.  Sekarang saya berada pada kegamangan apakah yang saya tekuni di Jepang `match` dengan kebutuhan pengembangan sekolah di tanah air.

Saya tidak termasuk orang-orang brilian itu, tetapi saya tidak ingin pulang dan bengong (>_<)

Iklan
  1. wah saya yakin akan sangat bermanfaat, bisa matching (opo to artine 🙂 ). Sampean khan ngurusi pendidikan to? yakin akan bermanfaat. makanya cepet pulang dan terus berbagi ilmu yah.

    murni : bisa matching…mosok ra ngerti, Pak…iku lo ne ono 17-an sing gedebak gedebuk trus niup trumpet keliling kota….(^_^)

  2. wah, ilmu tho nggak akan sia-sia, biar negeri ini butuh ato enggak, jadi “Welcome to Indonesia” sebarkan ilmu yg hitech, giatkan penelitian yg ilmiah biar nggak ada kesempatan korup, tanamkan kecintaan pada ilmu kepada mereka dan kami semua.

    murni : wah, pesan ini menentramkan hati para pengilmu yg ragu2 pulang (^_~)
    matur nuwun, Pak

  3. kata orang: Selain masalah dana pendidikan yang memang sangat kurang dari pemerintah. Masalah lain yang membuat pendidikan kurang “greng” adalah di pengelolaan human resources.

    Banyak yang sekolah ke luar negeri, pulang ke Indonesia pingin ilmunya dipakai, maka memaksakan mata kuliah tertentu, program tertentu, yang belum tentu dibutuhkan di Indonesia…

    Tapi kalo gak sekolah di luar, sekolah di Indonesia ya gitu-itu… Malah gak dapat ilmu sama sekali…

    Dilema memang…

    murni : krn memaksakan kurikulum itu, beberp kampus membuat PS dan jurusan baru. Mahasiswa ne sing dadi bingung (>_

  4. Orang-orang brilian tsb, baru dikatakan benar-benar brilian sejati bila mampu memanfaatkan ilmunya, dengan berbagai kelebihan atau kekurangan yang menanti, di tanah air nanti. Bila hanya brilian di tempat sekolah/kuliah, itu masih belum dunia nyata (masih ngambang, belum real). Semoga orang-orang brilian itu bisa menjadi orang-orang brilian sejati!

    murni : ini definisi `ideal` untuk kata `brilian` (^_~)

  5. Dengan fasilitas seadanya di Indonesia, dengan nawaitu pengabdian penuh InsyaAllah semua itu ada hasilnya.

    murni : benar, hasil pasti ada: apakah positif atau negatif, apakah berhasil atau gagal

  6. eh… masih ada 3 orang bilyar lagi yang ngga disebut… yang masih takut pulang 😀

    murni : maap…lupa nyebutin nama Pak Haji !!
    Denger2 nyalonin diri jadi Bupati di Cirebon ato Gubernur ya ?
    Th 2024 Cirebon mo dimekarin jadi propinsi kan ya, Pak (^_~)

  7. Andai …

    murni : alangkah nikmatnya berandai-andai…(^_^)

  8. Bagusnya pulang aja donk..bangsa ini sangat butuh kreasi orang-orang yang punya naluri, komitmen. Tidak selamanya orang blilian itu sebagai solusi. Tapi keinginan jiwa untuk berbuat dengan tulus …itu adalah yang terpenting. Tapi kalo orang brilian punya itu..wah bagus skali. Cepat pulang…

    murni : maunya sih cepet pulang, Pak. Tapi penelitiannya baru setengah jalan (>_

  9. Bisa “berenang”di 2 alam budaya, peradaban dunia, sungguh kesempatan langka & kmampuan istimewa
    harus dijaga & d ingat kembali, nawaitu melakukan itu semua untuk apa & ..siapa?
    Bila awak tak pandai mensiasati, bisa menggontjang emosi jiwa peserta & “kesulitan” diterima keberadaanya oleh orang di sekelilingnya.

    Spt. terpapar di alkisah roman “Salah Asuhan”, buat manusia, tapi bukan permasalahan dan kelebihan Rahmad-NYA buat sang Kodok & Kepiting. Jika mau berfikir, fenomena alam sekitar telah memberi inspirasi pembelajaran banyak bagi umat manusia, andai dia mengerti.
    Spt. diungkap pujangga Sutan Takdir Alisjahbana {STA} dalam karya sastranya, “Layar Terkembang belajar bersama alam”.

    Pakai saja perihbahasa ini u/mensikapi situasi.
    “Deso mowo coro, negoro mowo toto” atau
    “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”

    Insya Allah pulang dari rantau tak lagi ragu
    “bukannya gempar, tpi. bikinnya pintar
    bukan ribut mulu, tpi rebut ilmu dan rabat sikap pamer paparan konsep rendah & tinggikan satu kawasan dengan lainnya, karna semua diTJIPTAkan berpasang-2an dalam kesetimbangan. saling tergantung & tolong menolong, jadi terbuka peluang ekonomi, beramal kebaikan, bukan kesombongan.

    wah nyambung ora yo…

  10. Wah FYI sekarang saya asisten risetnya Pak Wisnu nih Mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: