murniramli

Menghargai Sejarah dan Orang

In Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan, Renungan, Serba-serbi Indonesia on Maret 30, 2007 at 7:56 am

Seorang teman baik menunjukkan buku tentang pendidikan Islam dan pesantren yang ditulis Professor Nishino dan Prof Hattori.  Bukunya sangat cantik dilengkapi dengan foto-foto kegiatan pesantren dan pengajian di Indonesia.

Saya terkagum-kagum melihatnya. Seperti yang saya tulis di blog ini tentang orang Jepang yang suka mikir njlimet, hal yang sama saya rasakan ketika membuka-buka halaman demi halaman buku baru tersebut.  Hal-hal yang sangat detil terungkap dengan sangat baik, sebagaimana buku2 karangan orang Jepang.

Membaca buku karangan orang Jepang seperti membaca buku cerita bagi saya, karena detilnya pemaparan.  Ya, tergantung bukunya juga sih, kalau buku ilmiahnya sama saja membuat kening berkerut-kerut.

Sambil melihat-lihat isi buku, kami mengobrol ngalor ngidul hingga sampai pada topik tentang sejarah.  Yuki san teman saya, juga menulis salah satu chapter tentang IQRO di Indonesia.   Yuki yang lama tinggal di Indonesia benar-benar sudah seperti orang Indonesia bagi saya. Kegigihannya mempelajari tentang IQRO membuat saya tersadar akan kehebatan orang Indonesia di bidang pengajaran Al-Quran. Dia begitu terkesan dengan fenomena belajar Al-Quran sejak dini di Indonesia, yang bagi sebagian orang Indonesia adalah hal yang wajar.

Saya pun semula tak pernah begitu terpesona dengan metode IQRO, dengan perjuangan penemunya, dengan kisah sejarah di balik movement IQRO di Indonesia, tetapi karena membaca hasil penelitian Yuki san, medengarkan ceritanya, saya menjadi sangat tertarik dengan apa itu IQRO, bahkan bertekad mendatangi dan belajar kepada orang2 yang berjasa mengembangkannya hingga kini.  IQRO saat ini tidak hanya dikenal di Indonesia tapi sudah dipakai di beberapa negara ASEAN. Suatu gerakan yang mungkin tak terdeteksi atau terasakan oleh kita yang muslim.

Yuki san begitu menggebu berharap orang Malaysia atau siapa saja yang mengadopsi sistem IQRO pun para penerbit dan pengguna yang mengambil keuntungan dari pengembangan IQRO mau belajar dan menghargai perjuangan penemunya, Bapak K.H. As`ad Humam.

Saya jadi teringat betapa kurangnya penghargaan kita, orang Indonesia kepada orang-orang seperti Pak As`ad.  Banyak sekali orang yang menemukan hal kecil tapi bermanfaat di sekitar kita, yang mengalirkan air dari gunung-gunung ke sawah, yang mengajarkan Al-Quran di surau-surau gelap yang pada akhirnya melahirkan para qari dan orang besar lainnya.

Perjalanan orang-orang penting seperti itu yang kadang tidak terekam dengan baik oleh kita, sehingga hilang begitu saja sebelum kita sempat mengambil pelajaran yang baik.  Menghargai proses sepertinya masih kurang, padahal proseslah yang bisa mengulang sejarah.

Dulu semasa kecil, saya suka sekali duduk di dekat lampu minyak, yang bisa menghitamkan wajah. Tidak sekedar duduk tapi sambil mendengarkan oom bercerita tentang bualan-bualan orang dulu.  Tentang kakek yang berjuang melawan Belanda, atau tentang dukun beranak di kampung kami yang dari tangannya telah lahir bayi sekampung ataupun cerita-cerita siluman yang tak masuk akal lainnya.  Tapi terlepas dari isi cerita, di kampung kami seperti sudah tersepakati bahwa oom tahu tentang sejarah kampung, sehingga bisa dijadikan rujukan.

Seperti halnya Yuki san, saya pun angkat jempol kepada para pejuang IQRO, juga kepada orang2 yang menemukan metode membaca Al-Quran.  Saya bahkan salut dengan orang-orang yang tak berputus asa memikirkan cara supaya semua orang Islam bisa membaca Al-Quran, menggemarinya dan mau mengamalkannya sehari-hari. Usaha seperti mereka menurut saya lebih berharga daripada orang yang berhasil membuat sesuatu yang tidak berharga menjadi segunung uang.

Iklan
  1. Indonesia belum bisa menghargai orang-orang brilian sejati. Pak K.H. As’ad Humam itulah contohnya, seorang brilian sejati (lihat komentar saya di tulisan “orang-orang brilian pulang…”).

    murni : setuju, bahkan masih banyak orang-orang yang patut didatangi u berguru, orang-orang brilian sejati di Indonesia.

  2. Barangkali inilah keuniqan & keistimewaan orang indonesia, mudah memaafkan karna daya ingatnya pendek. Berfikir sederhana, berkarya u/ masyarakat spt. pohon pisang pantang mati sebelum berbuah. warisan pemahaman pola berfikir zaman dahulu, & mulai tergerus arus paham “asing” semoga lewat media ini nilai-2 lama bisa bertahan lestari hingga kini, bahkan bertumbuh lagi.
    Ada sindiran sastra melayoe gambarkan kondisi ini dengan tepat sekali, bacalah kisah : “Roman Salah Asuhan” buah karya Marah Roesli.

    murni : saya suka sekali dengan perumpamaan yang Bapak buat :
    pohon pisang pantang mati sebelum berbuah
    Roman Salah Asuhan termasuk bacaan wajib saya ketika SMP. Maksudnya guru tidak memaksa, tapi saya yg sangat menyukai tulisan2 pujangga melayu, sehingga sering nongrong di perpus sekolah. Bahasanya cantik, santun dan berbobot. Cuma selevel siswa SMP waktu itu, membaca bagi saya hanya sekedar gemar membaca, belum bisa menarik nilai dan pesan yg disampaikan pengarang. Barangkali sy harus mengulang lagi bacaannya.

  3. Salam kenal..saya ijin kutip tulisan anda. Thanks ya..

    murni : salam kenal juga.
    Silahkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: